NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Beberapa hari kemudian, perut Nara mulai menunjukkan perubahan kecil. Tidak mencolok, tapi cukup untuk membuat orang-orang yang terbiasa mengamati diam-diam mulai menaruh perhatian.

Awalnya hanya tatapan, namun lama-lama mereka menaruh curiga.

Tatapan ibu-ibu yang berhenti menyapu lebih lama saat Nara lewat. Tatapan nenek-nenek yang tersenyum terlalu penuh arti. mereka tidak ada yang bertanya. juga tidak ada yang menunjuk. Tapi mata-mata itu berbicara.

Nara bisa merasakannya. Di desa, orang jarang mengucapkan sesuatu secara langsung. Mereka memilih mengamati, lalu menunggu.

  "Lama-lama aku tidak bisa terus berdiam seperti ini," gumamnya pelan. "Keberadaan anakku pada akhirnya akan dipertanyakan," ujar Nara pada diri sendiri.

☘️☘️☘️☘️☘️

Suatu pagi, Nara membantu Mbah Narsih menyiram bunga di depan rumah. Air mengalir dari ember, membasahi tanah yang mulai mengering.

“Ndoro…” suara seorang ibu terdengar dari seberang jalan.

Nara menoleh. Seorang perempuan paruh baya tersenyum ramah sambil membawa keranjang sayur.

“Iya, Bu?”

Ibu itu melirik perut Nara sekilas. Hanya sekilas. Tapi cukup.

“Sampeyan kok saiki gampang kesel, nggih?” tanyanya ringan.

(Kamu sekarang cepat capek, ya?)

Nara tersenyum kecil. “Mungkin belum biasa di desa.”

“Oh…” ibu itu mengangguk pelan. “Kulo pikir, sampeyan lagi isi.”

(Saya kira kamu lagi hamil.)

Kalimat itu meluncur tanpa nada menghakimi. Bahkan terdengar seperti dugaan biasa.

Tapi jantung Nara berdegup keras. Ia tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak mau, tapi karena dadanya mendadak sempit.

“Doakan saja sehat, Bu,” ucapnya akhirnya.

Ibu itu tersenyum lebih lebar. “Inggih. Wong meteng kudu dijogo.”

(Iya. Orang hamil harus dijaga.)

Lalu ia pergi begitu saja. Tanpa pertanyaan lanjutan. Tanpa tuntutan penjelasan, mungkin diam lebih baik, dari pada menyinggung perasaan orang, namun meskipun begitu Nara berdiri mematung. Tangan yang memegang gayung terasa dingin.

 Seolah takut, jika suatu saat masyarakat desa akan menghakiminya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Siang itu, Nara duduk di kamar. Jendela terbuka, angin masuk pelan. Ia memeluk bantal, menatap kosong ke depan. Pertanyaan itu akhirnya datang.

Bukan dengan nada keras. Bukan dengan cibiran. Tapi justru itu yang membuatnya lebih berat.

“Siapa ayahnya?”

Pertanyaan itu belum diucapkan. Tapi Nara tahu, cepat atau lambat, ia akan terdengar, dadanya bergetar. Bukan karena malu. Bukan karena takut dinilai. Melainkan karena ia takut… tidak tahu harus berdiri di mana.

Ia memikirkan Albi. Kalimatnya terlintas lagi.

Aku bisa berdiri di sampingmu jika dunia bertanya siapa ayahnya.

Nara menutup mata, tiba-tiba rasa takut itu betah bentuk, bukan takut pada warga, tapi takut jika suatu hari nanti Albi tidak ada, dan firasat itu benar-benar menganggu pikirannya.

  "Astaga! Aku tidak boleh berpikir seperti itu, Albi harus hidup lebih lama lagi, karena ia sudah janji akan menjaga anakku," ucap Nara terdengar egois tapi hanya Albi yang saat ini ia inginkan untuk menemaninya nanti.

☘️☘️☘️☘️☘️

Sore hari, Albi pulang membawa sayur dari kebun belakang. Ia meletakkannya di dapur, lalu menoleh saat melihat Nara duduk diam di ruang tengah.

“Kamu kenapa?” tanyanya.

Nara menggeleng cepat. “Nggak apa-apa.”

Albi tidak memaksa. Ia duduk berjarak, menunggu Nara mengungkapkan sesuatu yang tertahan di bibirnya sejak ia datang.

Dan beberapa detik berlalu, akhirnya suara Nara memecahkan keheningan.

“Bi…” suara Nara nyaris berbisik. “Kalau nanti orang-orang tanya…”

Albi langsung menoleh. Tatapannya tenang, siap. “Tanya apa?”

Nara menelan ludah. “Tentang… anak ini.”

Albi mengangguk pelan. Tidak terkejut. “Kita jawab pelan juga,” katanya. “Nggak perlu buru-buru.”

“Kalau mereka nanya kamu siapa?”

Albi tersenyum kecil. “Aku Albi.”

Bukan jawaban yang Nara harapkan. Tapi justru itu yang membuat dadanya terasa hangat.

“Dan soal ayahnya?” lanjut Nara, hampir tak terdengar.

Albi menatapnya lurus. “Kalau kamu belum siap, aku diam.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, tegas namun lembut. “Tapi kalau kamu butuh aku bicara… aku ada.”

Nara menunduk. Air mata jatuh satu, lalu berhenti. Ia tidak menangis terisak. Hanya satu air mata, cukup.

"Kamu bersedia?" tanya Nara memastikan.

"Kapanpun kau minta aku bersedia, dan masalah surat-surat di balai desa kemarin sudah aku urus.

“Terima kasih,” ucapnya.

Albi mengangguk. Tidak berkata apa-apa lagi, namun kesiapannya sudah matang untuk memutuskan menjadi pelindung bagi anak yang bukan darahnya.

"Dia hadir memang bukan dari darahku, tapi ketahuilah, sejak pertama kamu menginjakkan kaki di rumah ini, aku sudah membuat keputusan sendiri sebelum kau minta," tutur Albi.

Sementara Nara kembali membelai perutnya. Ia belum tahu bagaimana masa depan akan terbentuk. Ia belum tahu berapa lama Albi akan benar-benar ada.

Tapi untuk saat ini, ia tahu satu hal. Ketika dunia mulai bertanya pelan, ia tidak lagi berdiri sendirian.

Dan justru di sanalah, ketakutannya tumbuh bukan karena pertanyaan orang lain, melainkan karena ia mulai menggantungkan rasa aman pada seseorang yang sejak awal tidak pernah menjanjikan apa pun.

☘️☘️☘️☘️☘️

Malam itu, di dalam kamarnya. Nara membuka map tipis yang selalu ia simpan di dasar tas, perlahan ia mulai mengambil surat yang dilapisi amplop putih itu.

Di dalamnya, terlipat rapi beberapa lembar kertas yang tidak pernah ia baca ulang, tapi selalu ia pastikan ada.

Salinan putusan cerai.

Nama mereka masih tercetak jelas di sana ia dan Ardan dengan tanggal yang menandai akhir dari sesuatu yang pernah ia jaga terlalu erat, dan harus berakhir dengan putusan surat pengadilan.

Ia mulai menghempaskan nafas perlahan, mencoba untuk mengusir pikiran yang mengenai masa lalu, perjuangannya sudah selesai bersama Ardan, mungkin jodohnya sudah habis, hingga ia benar-benar membuat keputusan yang benar-benar tidak mau melibatkan pria itu.

"Semuanya sudah selesai. Resmi. Tidak ada ikatan hukum yang tersisa." gumamnya pelan

Yang belum benar-benar usai hanyalah sisa rasa bersalah yang kadang muncul, dan kebiasaan lama untuk merasa takut tanpa sebab.

Ia sudah bercerai secara sah sebelum meninggalkan kota, kertas-kertas itu masih tersimpan rapi, meski jarang disentuh.”

Nara menutup kembali map itu.

Ia tidak sedang lari dari siapa pun. Ia hanya sedang memulai hidup baru, di tempat yang tidak menuntut penjelasan berulang.

Bersambung…

Malam semoga suka ya

Kasih komen dong kak biar rame

1
Sugiharti Rusli
bahkan di mata teman" nya sosok Arbani sangat berbeda yah, sepertinya ada unsur pola asuh kedua ortunya yah,,,
Sugiharti Rusli
kalo dalam pendidikan Parenting sekarang, apa yang Arbani rasakan dia tidak nengalami yang namanya 'Fatherless' bersama Albi,,,
Sugiharti Rusli
apa nanti kalo Albi pergi, sang putra akan memendam rasa kehilangan akan sosok sang ayah yah, mengingat Albi sudah jadi sosok pahlawan bagi dirinya,,,
Sugiharti Rusli
dan Arbani tuh menunjukannya bukan dengan hal" yang besar, tapi hal kecil yang sangat menyentuh yah😔😔😔
Sugiharti Rusli
meski usianya masih kanak", cintanya sebagai anak sangat tulus kepada ayahnya yang dia tahu sangat menyayanginya sejak bayi,,,
Sugiharti Rusli
sejatinya apa yang kamu tanam ke Arbani, itulah hasil yang kamu petik sekarang Bi,,,
Sugiharti Rusli
ada keperluan apa yah si Ardan berada di kota yang sama dengan tempat tinggal Nara sekarang,,,
Sugiharti Rusli
dan secara tidak sengaja mereka bertemu di jalan dan bertabrakan secara tidak sengaja, tanpa tahu hubungan darah diantara mereka,,,
Sugiharti Rusli
kalo dipikir-pikir kenapa nama putra Nara diberi nama Arbani yah, meski Albi berawalan A, tapi nama Arbani justru lebih dekat ke nama sang ayah kandung Ardan
Sugiharti Rusli
bagi Nara juga ada kekhawatiran yang sama dengan apa yang dialaminya dahulu yah, tapi putranya tidak kehilangan sosok ayah dalam diri Albi,,,
Sugiharti Rusli
Arbani bukan hanya khawatir dengan sang ayah yah, tapi dia juga coba buat tegar dengan kondisinya sekarang,,,
Sugiharti Rusli
tapi kalo takdir harus memisahkan mereka, semoga Arbani selalu mengenang hal baik dari sang ayah yah💞💞💞
Sugiharti Rusli
karena selama ini Albi sudah sangat baik memainkan perannya menjaga Nara dan sang putra dengan baik,,,
Sugiharti Rusli
entah apa nanti Arbani akan kuat menanggung kesedihan bila sang ayah harus kembali😪😪😪
Sugiharti Rusli
memang takdir tidak pernah salah mempertemukan mereka jadi ayah dab anak yah selama ini,,,
Sugiharti Rusli
ah nyesek bacanya ini, karena begitu tulus kasih yang Albi berikan selama ini, membuat sang putra juga melakukan yang sama,,,
Sugiharti Rusli
meski sekarang ada sosok Arbani sang putra yang juga jadi pelipur lagi baginya dulu sih,,,
Sugiharti Rusli
entah apa nanti Nara akan kuat, karena sekali lagi dia harus kehilangan orang yang perlahan dia cintai setulus hati,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya apa yang mereka rasakan hampir menemui titik akhir bagi seorang Albi tuk membersamai mereka yah😪😪
Sugiharti Rusli
berarti apa yang dulu janjinya saat Nara hamil Arbani benar ditepati sampai sekarang dan mereka bisa saling menyaya ngi satu sama lain,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!