NovelToon NovelToon
Balerina 2025

Balerina 2025

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:783
Nilai: 5
Nama Author: Banggultom Gultom

Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 Nama yang Tidak Disebut

Bau besi, minyak mesin, dan udara lembap bercampur memenuhi ruang bawah tanah BALLERINA MURDERER. Bau itu tidak pernah benar-benar hilang, seolah telah menyatu dengan dinding beton dan lantai dingin yang memantulkan langkah siapa pun yang masuk. Lampu-lampu putih menggantung rendah, memancarkan cahaya keras tanpa belas kasihan.

Bella Shofie berdiri di tengah ruang briefing.

Tubuhnya tegap, bahunya lurus, namun ada ketegangan yang tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan. Wajahnya kaku, rahangnya mengeras, dan matanya tajam seperti bilah pisau yang baru diasah. Ia baru kembali, namun tidak membawa laporan. Tidak membawa permintaan. Ia membawa sesuatu yang lain.

Di hadapannya, Madam Doss duduk tenang di balik meja logam yang dingin. Posisi duduknya sempurna, punggung lurus, tangan terlipat rapi di atas meja. Ekspresinya tidak berubah, seolah apa pun yang akan diletakkan Bella di hadapannya tidak akan cukup untuk mengguncang dunia yang telah ia bangun selama puluhan tahun.

Bella tidak berkata apa pun.

Ia mengangkat tangannya dan melemparkan sebuah bungkusan plastik hitam ke atas meja.

Benda itu meluncur, berputar satu kali, lalu berhenti tepat di depan Madam Doss.

Plastik hitam.

Madam Doss menatap bungkusan itu lama. Sangat lama. Ia tidak menyentuhnya. Tidak juga bertanya. Seolah ia sudah tahu apa yang tersembunyi di balik lapisan plastik itu, atau setidaknya sudah menduga bahwa apa pun isinya bukan sekadar benda biasa.

Perlahan, Madam Doss meraih bungkusan itu.

Ia membukanya dengan gerakan tenang, nyaris lembut, lalu berhenti sejenak ketika isinya terlihat jelas.

Sebuah tangan terpotong.

Kulitnya pucat, jarinya kaku, dan di pergelangan tangan kanannya tertera sebuah tanda hitam berbentuk huruf X. Tanda itu jelas, tegas, dan tidak dibuat sembarangan. Seolah ditanamkan sebagai identitas, bukan sekadar simbol.

Ruangan menjadi hening.

Tidak ada suara mesin. Tidak ada dengungan listrik. Bahkan udara terasa berhenti bergerak.

“Tujuh tahun,” ucap Bella akhirnya.

Suaranya rendah, tertahan, namun bergetar tipis seperti senar yang ditarik terlalu kencang.

“Ayahku dibunuh oleh seseorang dengan tanda ini.”

Madam Doss menatap tangan itu sekali lagi. Tatapannya tajam, penuh perhitungan. Kemudian, ia menutup kembali bungkusan plastik hitam itu dan mendorongnya sedikit menjauh.

“Kau tidak seharusnya membawa ini ke sini,” katanya pelan.

Nada suaranya tidak menghakimi, tetapi juga tidak menghibur.

“Aku tidak membawa dendam,” jawab Bella.

“Aku membawa bukti.”

Madam Doss menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak Bella mengenalnya, ada sesuatu yang muncul di wajah wanita itu selain ketenangan dingin. Kewaspadaan. Mungkin juga sedikit kekhawatiran.

“Tanda X itu,” katanya akhirnya, “bukan milik pembunuh biasa.”

Bella melangkah lebih dekat, jarak mereka kini hanya dipisahkan meja logam.

“Siapa mereka?”

Madam Doss mengangkat wajahnya dan menatap mata Bella lurus-lurus. Tatapan itu tajam, seolah mencoba menilai seberapa jauh Bella benar-benar siap melangkah.

“Gagashit.”

Nama itu jatuh seperti batu ke lantai.

Tidak ada penjelasan langsung. Tidak ada tambahan.

“Aliansi lama,” lanjut Madam Doss setelah jeda singkat.

“Sangat lama. Mereka ada sebelum banyak jaringan dunia bawah terbentuk. Mereka tidak tinggal di kota. Tidak tunduk pada hukum apa pun, bahkan hukum dunia bawah.”

Bella menunggu. Ia tahu, memotong sekarang hanya akan membuat informasi itu terhenti.

“Markas mereka berada di Gunung Salak,” ucap Madam Doss perlahan.

“Tempat dengan salju paling lebat, paling sunyi. Wilayah tertutup. Tidak ada yang berani masuk ke sana tanpa undangan.”

“Kenapa?” tanya Bella.

Madam Doss berdiri dari kursinya. Bunyi gesekan logam terdengar jelas di ruangan hening itu.

“Karena mereka tidak bisa disebut manusia,” katanya dingin.

“Mereka membunuh dengan cara yang tidak wajar. Tubuh bukan sekadar target, tetapi komoditas. Organ-organ dipisahkan, dijual ke luar negeri. Jiwa dianggap sisa yang tidak bernilai.”

Bella mengepalkan tangan. Otot-otot di lengannya menegang.

“Kenapa tidak ada aliansi yang menyentuh mereka?”

Madam Doss menatapnya lama.

“Karena yang mencoba,” katanya pelan, “tidak pernah kembali.”

Kata-kata itu menggantung di udara.

Bella terdiam.

Informasi itu besar, berbahaya, dan seharusnya cukup untuk membuat siapa pun mundur. Namun bagi Bella, semua itu justru terasa seperti potongan puzzle yang akhirnya menemukan tempatnya.

“Ini belum cukup,” kata Bella.

“Aku butuh peta. Jalur. Cara masuk.”

Madam Doss menggeleng pelan.

“Di sini aku berhenti,” katanya tegas.

“Jika kau melangkah lebih jauh, ini bukan lagi latihan. Bukan lagi misi. Ini bukan bagian dari BALLERINA MURDERER.”

Bella menatapnya tanpa berkedip.

“Ini hidupku.”

Madam Doss tidak menjawab.

Bella berbalik dan pergi.

Langkahnya bergema di lorong bawah tanah, meninggalkan bau minyak dan besi di belakangnya.

Gedung pencucian uang milik Marchel Jolio berdiri megah di tengah kota. Dari luar, ia terlihat seperti perusahaan legal kelas atas. Dinding kaca bersih, lantai marmer mengilap, penjagaan profesional. Namun di balik semua itu, tempat ini dikenal sebagai meja judi terbesar dunia bawah.

Judi uang.

Judi kekuasaan.

Judi nyawa manusia.

Bella melangkah masuk tanpa ragu.

Marchel Jolio duduk di balik meja besar, jasnya rapi, dasinya sempurna. Wajahnya tenang, sama seperti pertama kali Bella bertemu dengannya bertahun-tahun lalu. Pria itu selalu terlihat seolah tidak pernah terkejut oleh apa pun.

Ia tersenyum tipis saat melihat Bella.

“Kau telah menjadi jati dirimu,” ucapnya.

“Silakan duduk.”

Bella tetap berdiri.

“Aku mencari Gunung Gagashit,” katanya tanpa basa-basi.

Senyum Marchel memudar sedikit. Hanya sedikit, tetapi cukup untuk ditangkap mata yang terlatih.

Ia menekan sebuah tombol kecil di meja.

“Masuk,” katanya singkat.

Pintu di sisi ruangan terbuka.

Seorang asisten perempuan tua masuk perlahan. Rambutnya putih seluruhnya, disanggul rapi. Wajahnya keriput, kulitnya pucat, namun matanya tajam dan hidup. Penampilannya mengingatkan Bella pada Madam Doss. Dingin. Tanpa emosi. Seolah waktu tidak lagi berjalan baginya.

“Atas nama siapa?” tanya perempuan itu dengan suara serak.

Marchel tidak menoleh.

“Berikan informasi tentang Gunung Gagashit.”

Perempuan tua itu mengangguk sekali.

Ia berjalan ke sudut ruangan dan menekan beberapa tombol pada sebuah mesin berbentuk pipa logam yang tertanam di dinding. Mesin itu berdengung pelan, bergetar dari dalam, seolah sesuatu sedang diproses jauh di balik lapisan besi.

Beberapa detik kemudian—

Srak.

Sebuah gulungan kertas tua keluar dari celah mesin.

Asisten itu mengambilnya dan meletakkannya di atas meja.

Peta.

Detail jalur pegunungan.

Titik-titik hitam tanpa keterangan.

Simbol-simbol asing yang tidak tercantum dalam legenda apa pun.

Bella menatapnya tanpa berkedip.

“Ini bukan peta untuk bertahan hidup,” kata Marchel pelan.

“Ini peta untuk tidak ditemukan.”

Bella menggulung kertas itu dengan hati-hati.

“Kenapa kau membantuku?” tanyanya.

Marchel menatapnya lama, seolah menimbang sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan.

“Karena dunia bawah selalu berutang pada masa depan,” jawabnya akhirnya.

“Dan kau adalah masa depan yang berbahaya.”

Bella berdiri.

Tidak ada ucapan terima kasih.

Tidak ada janji.

Ia berbalik dan melangkah pergi, membawa satu-satunya petunjuk menuju sumber kegelapan yang telah membentuk hidupnya sejak kecil.

Di luar gedung, udara malam terasa lebih dingin.

Gunung Salak.

Gagashit.

Tanda X.

Bella Shofie tahu satu hal pasti.

Ia tidak lagi berjalan menuju jawaban.

Ia berjalan menuju sarang.

Dan apa pun yang menunggunya di sana, tidak akan lagi bisa bersembunyi di balik salju dan nama.

...Bersambung ~...

1
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus author🐼💪
☠' Kana Aulia '⃝🌸
mampir kak
beforeme.G: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!