NovelToon NovelToon
Ketika Restu Jadi Penghalang

Ketika Restu Jadi Penghalang

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:45k
Nilai: 5
Nama Author: Muliana95

Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.

Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.

Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di kerjai Malik

Kini, Nadia berada di dalam kamarnya. Dia menatap jauh ke depan. Di gelapnya malam, bahkan, bulan saja seakan malu memancarkan sinarnya.

Tak ada bintang disana. Seolah bintang pun, ikut merasakan kegundahan hatinya. Maka dari itu, dia lebih aman bersembunyi. Sama sepertinya.

Nadia menghela napas berat. Ingin dia berlari sejauh mungkin. Tapi kemana? Bahkan, dia tak punya pengangan apa-apa. Karena selama ini, semua kebutuhannya di tanggung oleh ayahnya.

Dia hanya memegangi uang, jika Bagas lah, yang memberikannya uang jajan.

Bagas ... Lelaki yang sebentar lagi menjadi istri orang, bahkan enggan pergi dari pikirannya.

"Kenapa kamu tega?" gumam Nadia, menatap langit, seolah ada Bagas di sana.

...✨✨✨...

Pagi harinya, Nadia merasakan kram di perut bawahnya. Dia langsung ke dapur, mencari ibunya.

Disana, Hesti terlihat sedang menumis kangkung.

"Bu, boleh minta pembalut? Punya ku habis,"

"Kamu ini, masak gak ada persiapan apa-apa sih," cibir Hesti, dengan tangan memegang spatula.

"Punya ibu juga habis ... Nih, uangnya. Kamu belikan yang pack besar, agar sisanya bisa untuk ibu," Hesti menyerahkan selembar uang berwarna biru.

"Aku yang beli?" Nadia mengambil uang, ragu.

"Ya, siapa lagi? Ayahmu? Atau kamu berharap ibu yang membelinya?" Hesti bertanya dengan tangan di pinggannya.

Nadia langsung berbalik arah. Mungkin sekarang ibunya lupa, kalo dia di larang keluar rumah.

Dengan tergesa-gesa Nadia keluar. Kali ini, tujuan utamanya bukan membeli pembalut. Dia akan ke rumah Bagas, bertemu dengan lelaki itu. Seraya meminta penjelasan tentang hubungan mereka.

Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Seolah Tuhan juga sangat menyayanginya.

Bagas, lelaki itu terlihat tak jauh dari rumahnya.

Tatapan keduanya bertemu. Nadia, semakin mempercepat langkahnya.

"Bang ..." sapa Nadia lirih.

Bagas ikut menatap. Tatapan itu masih sama, dan Nadia yakin, jika cinta Bagas ada. Bahkan, sama besar, seperti sebelumnya.

"Kabar itu, apakah benar?" tanya Nadia, dengan nada bergetar.

Bagas diam, namun sedetik kemudian dia buka suara. "Iya, ini aku mau ke rumah pak rt. Mau mengajukan berkas, di KUA," jatung Nadia berdetak dua kali lebih cepat.

Walaupun dia sudah menduga. Namun, mendengarnya langsung ternyata dia belum siap.

"Lalu, bagaimana dengaku?" tanya Nadia tercekat.

"Kita sudah usai Nadia, hubungan kita sudah usai, setelah lamaran ku, yang terakhir kalinya,"

Nadia memejamkan matanya. "Tapi kamu bohong bang, cintamu masih untukku. Dan matamu tidak bisa membohonginya,"

"Maaf, aku harus pergi ..." Bagas memalingkan wajahnya. Karena apa yang di katakan Nadia ialah kebenarannya. Dan dia benci itu, benci ketika melihat kerapuhan di mata mantan kekasihnya.

Nadia mematung, menatap lelaki yang semakin jauh, dengan langkah yang terlihat buru-buru.

Dengan tubuh lesu, Nadia berjalan untuk membeli keperluannya.

...✨✨✨...

Di persimpangan, setelah memastikan Nadia tak kelihatan. Bagas berhenti.

Dia meremas dadanya. Sakit. Sangat sakit.

"Apa yang harus aku lakukan Tuhan, apakah aku harus mundur?" Bagas menatap, berkas yang telah di siapkan orang tuanya dengan semangat.

Senyum orang tuanya, wajah malu-malu Safira dan juga wajah ketiga kakaknya mulai bermain dipikirannya.

"Bagaimana dengan Safira, jika kamu membatalkan pernikahan ini?" sebuah suara menusuk telinganya.

"Kamu harus mementingkan kebahagian mu sendiri Bagas," suara lainnya memberi interupsi.

Bagas menggelengkan kepalanya.

Berharap, dia dapat mengusir segala pikiran yang mengusik relung hatinya.

"Bismillah, demi Ibu dan Ayah ... Aku serahkan semua padamu Allah,"

Setelah sedikit berbincang dengan rt. Bagas kembali pulang. Tidak, bukan pulang. Dia lebih memilih berjalan ke sawah, guna melihat padinya yang hampir bisa di panen.

Biasanya, ketika masa panen tiba. Bagas, selalu menyerahkan uang untuk Nadia. Agar sang pacar bisa membeli apapun yang dia suka.

Tapi kali ini berbeda. Hasil panen, akan di gunakan untuk membeli aneka seserahan pada Safira.

Di tempat lain, atas perintah Malik. Kamar milik Safira di renovasi. Dulu, kamar itu setengah permanen. Kali ini, di ubah jadi beton.

"Ini terlalu berlebihan bang," keluh Safira, menatap aneka bahan bagunan yang ada di depan rumahnya.

"Berlebihan dimana? Kita telah menerima uang pemberian calon mertuamu," balas Malik, melirik Safira sekilas.

"Iya, tapi ..."

"Tapi apa? Jangan bilang kamu mau korupsi uang itu ya Ra," Malik menatap tajam ke arah Safira.

"Bukan itu bang,"

"Jadi apa? Mereka mempercayai abang loh, Ra. Dan ini, kerja pertama abang setelah kecelakaan itu. Dan abang, akan mengerjakan seperti apa, yang ibu Hayati minta,"

Iya, memang Hayati menyuruh Malik merenovasi kamar.

Tapi, yang terjadi sekarang bukan hanya merenovasi. Tapi membangun ulang. Bahkan, ada kamar mandi di sana.

Safira memijit pelipisnya. Ketakutannya hanya satu. Dia gak mau adik-adiknya merasa cemburu. Nanti, suatu hari nanti.

Pandangan Safira kini beralih, ketika ponselnya bergetar. Disana, sebuah pesan dari Bagas masuk ke wa-nya.

"Aku baru saja menyerahkan berkas ke rt untuk di tanda tangani. Nanti sore, aku akan mengantarkan berkas ini padamu,"

Jantung Safira berdetak, dia memang belum mencintai Bagas. Tapi, kedatangan lelaki itu, cukup membuatnya takut. Ralat, lebih tepatnya gugup.

Sore pun datang, bersama kegugupan yang tak dapat, Safira sembunyikan.

Kini, Safira yang sudah mandi, menyambut kedatangan Bagas.

Tak lama, suara motor yang membuat Safira gempa di tempat terdengar. Lelaki yang memakai kaos putih itu, turun dari sepeda motornya.

Sesaat, dia melihat tumpukan bahan bagunan di depan rumah Safira.

"Luas kamarnya berapa?" tanya Bagas, sama Malik.

"4x4 bang," sahut Malik. Dia sedang mengikat besi.

"Abang kerja juga?"

"Hanya bantu-bantu, aku terlalu bersemangat," kekeh Malik, seraya menyapu keringat di dahinya.

"Biarkan mereka yang kerja. Abang istirahat saja," pinta Bagas, menatap empat orang yang ada disana.

Kini, Bagas beralih menatap Safira. Dia menilainya dengan menatap dari ujung kepala hingga kaki.

Gadis itu terlalu pemalu. Bahkan, dia lebih memilih menunduk dari pada menatapnya.

"Ehem ..." Bagas berdehem pelan. Kini, langkahnya mendekati Safira, yang berdiri di teras rumahnya.

"Kita ke rumah sakit? Cek kesehatan?"

"Eh ..." Safira terperanjat. Bagaimana lelaki itu tahu, jika ia belum melampirkan surat kesehatan.

"Bang Malik yang memberitahuku," Bagas, menggaruk pipinya, yang tak gatal. "Katanya, kamu tidak bisa mengendarai sepeda motor," kini suara Bagas lirih.

Muka Safira memerah. Dia memiringkan kepalanya. Seolah menatap Malik dengan api yang berkobar di matanya.

"Fitnah macam apa itu bang, bahkan aku yang membawa mu kemana-mana," batin Safira menjerit.

Ingin rasanya dia melempari Malik, dengan batu-bata itu.

1
yrputri
bagas bijaksana ini, calon suami yang baim💪
yrputri
semangat🤭
Mega Siregar
udah, ama Safira aja
Aquarius97 🕊️
ey Bagas, masih baru ya ga boleh di jenguk dulu 🤣
Aquarius97 🕊️
ngaca dong Bu hestiiiiiiiii🙄
Mingyu gf😘
bagus nadia, semoga kamu juga segera mendapatkan laki laki yang baik
Mingyu gf😘
/Sob/
Mingyu gf😘
Bagas safira terlalu polos untuk di sakiti🥺jadi tolong jaga hatinya
Aquarius97 🕊️
Halah halahh... tuman mulutmu Nurul minta di sambelin yaa
Aquarius97 🕊️
Alhamdulillah Ya Allah... rumor mandul Safira terpatahkan...
Cimol krispy
Wah udah tamat.
bahagia selalu buat Bagas dan Safira.
juga buat Wandi dan Nadia.
terimakasih author telah menyajikan cerita yang relate dengan kehidupan sehari² tapi tetap keren dan bernyawa.
Cimol krispy
Duuh siapa yang iris bawang di sini, perih sampai ke mata🤭
Cimol krispy
Berarti bisa jadi Nadia memang jodoh terbaikmu wandi
Mega Siregar
orang tua nadia memang belagu, matre/Smug/
Aquarius97 🕊️
terimakasih kak othor.. sudah mengizinkan Safira mengandung 🤭🤭🤭
Aquarius97 🕊️
harusnya kamu jangan menuruti permintaan kedua orangtua mu nad.. setidaknya pikirkan bahwa kamu juga perempuan, bagaimana jika kamu yg di posisi Safira?
Aquarius97 🕊️
fiuuuuuhhhh kukira Safira nggak tahu eheheh
Mega Siregar
kalau kamu benar-benar cinta ama bagas, nad...
kenapa kamu gak tinggalkan aja kedua orang tuamu, hah? 😤
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
berkah banget episode kali ini. Safira kyk dpt berkah dimana2. bahagianya nular ke ortu, dan ketemu Nadia jg tu cewek mau ngedoain dia dan anaknya di dlm perut 😭🤌❤️❤️❤️❤️
Cimol krispy
nggak kebayang, pas nyampe rumah tau2 orangtuanya udah dikafani. dua2nya lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!