keringat dingin membasahi sekujur tubuh intan. sudah kali keberapa intan muntah, sampai tak ada lagi yang bisa di muntahkan. morning sick ini benar benar menguras energinya. intan menselonjorkan kakinya di dalam kamar mandinya yang luas. sembari merenubgi nasibnya. baru menikah dua bulan dan ia sudah hamil. siapa yang tidak bahagia jika mendapat keberuntungan itu. tapi tidak bagi intan, gadis itu masih terlalu muda untuk mendapat karunia dan pengkhianatan di saat yang sama. suaminya pergi setelah malam pertama dan mengirimkan surat cerai keesokan harinya.
hendrayan, orang kepercayaan papanya. ternyata menikahinya hanya untuk mencampakkannya. demi balas dendam pada papanya yang telah mencampakkan ibu rayan sampai berada di rumahsakit jiwa.
sekarang sudah ada calon anak di rahimnya, yang harus di jaganya.tak peduli meski papanya memaksa menggugurkannya karena tidak mau keturunannya berdarah daging hendrayan. intan harus kuat menjaga buah hatinya dan berharap cukup nasib buruk yang menimpanya bukan anaknya. dan mulailah 39 minggu perjuangan seorang ibu yang menguras air mata dan emosi.
akankah rayan kembali ke pelukan intan dan melupakan balas dendamnya ataukah ia menutup mata demi cerita yang salah tentang masalalu ibunya dan pak wibowo yang membutakan mata hatinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aslolimanis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terimakasih
🌺🌺🌺
Intan mengelus perutnya yang membuncit, bayi kembarnya merespon sentuhan ibunya dengan menendang-nendang pelan. Intan tersenyum senang. Meskipun senang, tak urung kesedihan merayap dihatinya. Mengingat kehamilannya telah memasuki bulan kesembilan, Intan begitu ingin bertemu Rayan untuk terakhir kali sebelum ia melahirkan. Hatinya amat rindu. Tak perlulah perjumpaan yang mengharu biru, Intan hanya ingin melihatnya saja. Intan menghela nafas, keinginannya terasa mustahil baginya.
Intan berjalan keluar dari kamarnya. Pandangannya tertuju pada keramaian di lapangan, nampak Alan sedang memotong rambut anak-anak lelaki. Sedangkan anak anak perempuan berceloteh riang dibawah naungan pohon tak jauh dari situ. Sesekali anak lelaki yang sedang mengantri itu menjahili gadis-gadis yang sedang bermain sehingga menimbulkan kegaduhan.
"Ade Veri, jangan jahil!" Tegur Intan pada bocah lelaki yang berperawakan kurus yang sedang menimpuki anak anak perempuan dengan kerikil dan pura-pura tidak melakukannya.
Melihat Bu Intan memergokinya, Veri lantas tersenyum malu.
"Nanti Veri dipotong plontos saja Pak Alan," goda Intan, yang langsung di sambut huuu oleh para gadis.
"Jangan pak Guru, nanti kalau upacara kepalanya jadi panas," kata Veri memohon. Alan hanya tersenyum dan menyuruh Veri mendekat dan berjanji akan memotong rambutnya dengan style yang paling keren.
Karena hari sudah menjelang malam. anak anak membubarkan diri untuk mandi. Sedangkan Intan masih menunggui Alan menyelesaikan memotong rambut Veri.
"Tidak pergi mandi?" Tanya Alan pada Intan setelah Alan selesai memotong rambut Veri. "Atau mau potong rambut sekalian?" gurau Alan.
Tak disangka ternyata Intan mengangguk. Alan sedikit terkejut.
"Aku tidak ahli memotong rambut gadis-gadis" aku Alan.
"Aku ingin rambut pendek, potong saja pendek," jawab Intan sembari duduk di depan Alan, di tempat yang ditinggalkan Veri.
Mau tak mau Alan mulai mengerjakan rambut Intan. Rambutnya yang panjang dan lurus sungguh amat disayangkan jika harus dipotong.
"Yakin nih, rambutnya indah, loh"
Intan mengangguk.
"Sudah lama ingin rambut pendek, ada seseorang yang ingin kutemui, dan orang itu benci dengan rambut panjang"
"Siapakah?" tanya Alan penasaran.
"Seseorang, aku juga tidak terlalu mengenalnya. Hanya saja aku ingin bertemu dengannya sebelum aku lahiran."
Alan manggut- manggut sambil terus menggunting. Sebenarnya Alan harus menahan diri untuk tidak mencium tengkuk Intan yang terpampang di depannya. Aroma sampo yang harum dan kedekatan keduanya membuat Alan sedikit susah fokus. Alan pindah ke samping Intan, untuk merapikan bagian samping. Namun Alan terhenyak, ia sampai harus berhenti sejenak karena terpaku, ia terpesona betapa Intan sangat cantik dari dekat, kulitnya mulus seperti kulit bayi, bulu matanya lentik, hidungnya kecil dan manis. Alan menghela nafas menyadarkan diri dan meneruskan pekerjaannya.
🌺🌺🌺
"Maaf ya dek, Mas Eka tidak bisa menemani persalinanmu. Sepertinya Papa tahu kalau Mas masih membantumu sehingga Papa mengirim Mas Eka perjalanan bisnis ke luar negeri," kata Mas Eka sambil tertunduk lesu. Eka menyempatkan mengunjungi adiknya sebelum perjalanan bisnisnya dimulai.
"Gak papa kok Mas Eka, Mas Eka sudah sangat baik padaku. Oia bagaimana kabar Mama?"
"Mama baik, sudah lebih tenang ketika Mama tahu kalau Mas Eka masih berhubungan dengan Intan. Mama sangat ingin bertemu, cuma ya tahu sendiri Papa kayak gimana"
"Nanti Mas kirim alamat praktek dokter Ria, dia sepupu Damar, teman waktu Mas kuliah dulu. Karena rumahsakit tempat praktik dokter Ria lebih dekat dari panti, lebih baik sama dokter Ria, biar Mas Eka bisa memantau juga, apalagi kehamilan kembarmu bisa beresiko. Mas akan mempercepat jadwal pekerjaan Mas, jadi Mas bisa pulang lebih cepat dan langsung mengunjungimu" janji Mas Eka.
"Aku juga nyaman kok sama dokter Ria. Jadi doakan yang terbaik ya, Mas. Semoga semua dilancarkan dan semua mendapatkan kesehatan" Ucap Intan sambil memeluk Kakaknya. Mas Eka sudha harus pergi ke bandara mengejar pesawat. Mas Eka datang kesini di sela kesibukannya yang banyak.
Eka balik memeluk adiknya, ia berharap akan datang kebahagiaan untuk adiknya.
Setelah kepergian Mas Eka, Intan melanjutkan berkemas-kemas. Dalam hatinya, ia amat berterimakasih atas bantuan Mas Eka. Ternyata selama ini Bu Ela masih berkomunikasi dengan Mas Eka. Jadi, Mas Eka tahu semua keadaannya selama ini, hanya saja memilih membantunya diam-diam.
🌺🌺🌺
Ini nih yg sering aku temui di novel2,wanita udah di campakkan masih mau balik lagi. Ku kira cerita ini beda dengan yg lain. 😑
kan anehhhh 🤦🏻♀️🤦🏻♀️🤦🏻♀️