WARNING...!! SIAPKAN KOMENTAR TERPEDAS KALIAN YA😁
Novel ini di angkat dari kisah nyata mungkin pada awalnya si pihak perempuan bisa di bilang bodoh, kalau penasaran yuk lanjut baca kalau gak skip aja ya😁
"Tidak, bukan aku yang memulai. Kau yang lebih dulu mengkhianati ku. Lalu kenapa sekarang kau merasa paling tersakiti?" Winda menatap wajah suaminya dengan sesak di dadanya.
"Maafkan aku, aku khilaf. Tapi, kenapa kau malah berselingkuh dari ku?"
Lelaki yang tidak memiliki perasaan ini dengan entengnya melontarkan pertanyaan yang membuat Winda tertawa geli.
Bukan kesalahan Winda berselingkuh, sejak mereka menjalin hubungan di saat kuliah, Tama lah yang sudah mengkhianatinya terlebih dahulu.
Memaafkan berulang kali, begitu seterusnya hingga mereka menikah. Hati Winda benar-benar patah, wanita ini membalas pengkhianat suaminya. Mempertahankan rumah tangga demi nama baik masing-masing dari keluarga mereka. Linda dan Tama, hidup dalam kemunafikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
"Hati ku sudah patah dan terbiasa dengan kebusukan mu seperti itu Tama. Jadi, bukan salahku jika aku berselingkuh dari mu," gumam Winda membuat Tama tak bisa berkutik lagi.
"Ini, rekaman ini bohong!" Tama masih tidak mau mengakuinya.
"Sudahlah bohong, masih tidak mengakui juga. Kau ini sebenarnya lelaki jenis apa hah?" Winda geram. Hendak marah percuma saja, hatinya sudah lelah.
"A....i.....u......!"
"Berhenti bicara, kita selesaikan ini semua di hadapan keluarga kita," ujar Winda yang bergegas mengambil tas kemudian pergi ke rumah orangtuanya.
Dengan bukti yang ada, Winda bisa berharap jika kedua orangtuanya bisa berpikir lagi. Saat ini yang di harapkan Winda hanya berpisah dari Tama, tidak lebih.
Dengan menggunakan mobil yang berbeda, Tama menyusul istrinya. Hatinya berkecamuk, Tama tidak ingin berpisah dari Winda.
Di rumah Anwar, Winda langsung menunjukkan rekaman tersebut pada sang papah. Hati Winda berdebar kencang, berharap jika Anwar berubah pikiran.
Tak berapa lama Tama juga datang dengan orangtuanya secara bersamaan. Ternyata Winda sudah mengirimkan rekaman tersebut pada orangtua Tama.
"Setelah melahirkan, aku minta cerai dari Tama!" ucap Winda dengan tegasnya.
"Tidak, Tama tidak ingin bercerai dari Winda!" Tama menentang.
"Ingat pak Anwar, jika Tama dan Winda sampai bercerai. Kau harus bertanggung jawab. Jangan lupa kan jasa ku!" ketus Herman.
"Ini kan hanya masalah kecil, kenapa harus di besarkan?" mamah Tama angkat bicara, sungguh setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya menyakitkan.
"Maaf mbak, kau bilang ini hanya masalah sepele?" Weni menyela, "anak laki-laki mu, suami dari anak ku sudah tidur dengan perempuan lain dan kau hanya menganggapnya masalah sepele?"
"Wajar jika anak laki-laki itu nakal. Mungkin saja Tama khilaf!" mamah Tama terus membela anaknya, membuat Winda sangat muak di buatnya.
"Di mana hati kalian hah?" sentak Winda yang sudah kehilangan kesabaran.
"Dia, dia sudah tidur dengan banyak wanita dan itu semua kalian bilang wajar," suara Winda terdengar bergetar, "kalian benar-benar gila...!" ucap Winda kemudian pergi begitu saja.
Si bodoh Tama mengejar Winda, entah penjelasan seperti apa lagi yang akan di berikan nantinya. Winda pergi entah kemana, di rumah tidak ada bahkan ponselnya saja mati.
Tama teringat Tania, pria ini malah datang ke rumah Tania.
"Kenapa ada rekaman seperti itu hah? kau pasti sudah menjebak ku?"
Tama emosi.
"Tama, kita sama-sama menikmatinya. Kenapa kau jadi marah dengan ku hah?" Tania bersikap santai.
"Jangan-jangan kau sendiri yang mengirim rekaman tersebut pada Winda. Jawab aku Tania!"
Wajah Tama memerah, tidak terima dengan jebakan yang di buat Tania.
"Mulai sekarang, jangan pernah lagi hubungi aku atau temui aku lagi," ujar Tama membuat Tania tertawa.
"Berani mengancam ku, akan ku sebar video itu. Kau dan keluarga mu akan malu. Kau pikir aku bodoh kah?"
"Sebenarnya, apa yang kau cari selama ini hah?"
"Tama,...Tama,...perempuan mana sih yang gak mau sama kamu. Sudah tampan, anak orang kaya lagi. Aku juga mau jadi istri mu, meskipun istri kedua!"
"Gila,...perempuan gila!" umpat Tama kemudian pergi.
Tania melipat kedua tanganya, tersenyum puas sudah mengikat Tama kedalam hidupnya.
Sementara itu, Winda yang sedang menenangkan diri di salah satu hotel hanya bisa menangisi nasib hidupnya.
Winda tidak ingin bertemu dengan siapa pun termasuk sang mamah yang memintanya untuk bertemu. Mau bagaimana lagi, Weni tidak punya kuasa untuk melawan suaminya.
Seharian berada di hotel, perut Winda terasa sangat lapar. Wanita ini turun ke loby untuk mengambil makanan yang sengaja ia pesan secara online.
Buk,....
Makanan yang di bawa Winda jatuh dan berhamburan. Seorang pria menabraknya tanpa sengaja.
"Aduh mbak, maaf ya...!" ucap pria tersebut.
"Duh, gimana mas. Aku sangat lapar, makanan jatuh dan sudah kotor. Tanggung jawab dong!" wajah Winda kesal.
"Iya, aku akan tanggung jawab. Kebetulan aku belum makan sejak siang, bagaimana kalau kita mencari cafe atau restoran dekat sini."
Huft,...
Winda tidak punya pilihan, perutnya sudah sangat lapar. Mau tidak mau ia menerima ajakan dari pria tersebut.
Di restoran, Winda bingung ingin makan apa.
"Mau pesan yang mana?" tanya Pria tersebut.
"Yang sehat aja mas, aku sedang hamil...!" ujar Winda berkata jujur jika dirinya sedang hamil.
"Oh, mbaknya lagi hamil toh. Suaminya mana?"
Mata Winda mendelik, menatap tajam ke arah pria tersebut.
"Gak usah tanya suami ku. Laki-laki semua bajingan!" jawab Winda yang kembali emosi.
"Aduh mbak, kon ngeri gini ya...?"
Bolak balik memilih menu akhirnya Winda memesan satu makan juga. Winda dan pria yang bernama Jimmy itu berkenalan. Jimmy suka bercanda, membuat Winda merasa terhibur di buatnya. Setidaknya Winda bisa melupakan sejenak rasa sakit atas perlakuan semua keluarganya.
Jujur saja, Winda tidak memiliki teman wanita yang bisa di ajak bicara. Rania, setelah wisuda ia juga sudah kembali ke kotanya.
"Ya udah mbak, untuk beberapa hari ini mbaknya tenangkan pikiran aja dulu. Kamu bebas menginap di hotel milik ku itu. Gratis, hitung-hitung sebagai permintaan maaf ku lah," tutur Jimmy.
"Hotel itu milik mu?" tanya Winda tidak percaya.
"Iya mbak, maklum warisan orangtua!" jawab Jimmy dengan tawanya.
Mungkin baru saja mereka kenal, tapi Winda dan Jimmy terlihat akrab. Jimmy pandai membawa diri, suka mengajak Winda bicara.
Selesai makan, mereka kembali ke hotel. Winda masih tidak percaya jika hotel tersebut milik Jimmy. Tapi, setelah Jimmy mengembalikan uang Winda yang baru saja ia minta pada resepsionis, Winda langsung percaya.
"Kalau butuh sesuatu hubungi aku ya!" ujar Jimmy sebelum pergi.
"Makasih loh mas!"
Winda kembali ke kamar, merebahkan diri yang lelah. Bukan hanya fisiknya saja yang lelah, tapi hati dan pikirannya juga lelah.
Membiarkan ponselnya berdering, sudah sejak siang Winda mengacuhkan panggilan telpon dan pesan dari suaminya.
"Udah deh Tama, gak usah di bikin ribet gitu. Nanti juga pulang sendiri...!" ujar mamah Tama yang tidak memilik hati.
"Winda sedang hamil mah, kalau dia kenapa-kenapa bagaimana?"
"Itu kan resiko dia. Lagian jadi istri kok egois banget, gak mau memaafkan suami sendiri."
"Kalian ini sudah sangat keterlaluan!" ucap Cindy, adik Tama, "mamah dan kakak harus ingat kalau kalian masih punya anak dan adik perempuan. Kalau aku yang di perlakukan seperti itu bagaimana?" tanya Cindy membuat mamah dan kakaknya terdiam.
"Masuk kamar sana, tahu apa kamu urusan orang dewasa!" kesal mamah Tama.
"Ingat mah, mamah itu perempuan dan seorang ibu. Masa iya mamah gak punya hati melihat perempuan lain di perlakukan seperti ini. Jangan mentang-mentang mas Tama anak mamah, jadi seenaknya membela!" kata Cindy yang sudah sangat geram dengan sikap kakak dan kedua orangtuanya.
hajar terus win 🤣🤣🤣
niat hati baca novel untuk melepas penat , eh yang ada malah bertambah bahkan max level lagi