Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan Terakhir
Ruang sidang itu dingin dan membosankan. Bukan dramatis, melainkan selayaknya kantor—bau kertas lama, lemari arsip logam, dan kipas angin yang berputar malas di langit-langit. Bangku kayu berderit tiap kali seseorang mengubah posisi duduk.
Ravindra duduk di kursi tergugat, punggungnya lurus tapi bahunya tegang. Tangannya saling mengunci, lalu terlepas, lalu mengunci lagi.
Beberapa kali matanya bergerak ke sisi kanan ruangan—tempat Tafana duduk. Ia datang rapi. Terlalu cantik untuk sekadar menghadiri sidang cerai.
Gaunnya jatuh bersih mengikuti tubuh, potongannya sederhana tapi jelas mahal. Warnanya kelabu dewasa, tidak mencolok, seperti pilihan seseorang yang tahu persis ingin dilihat seperti apa. Rambutnya ditata rapi, wajahnya dipoles tipis, sekadar menegaskan fitur tanpa berusaha mencuri perhatian. Posturnya tegak. Tidak ada gelagat gugup, tidak ada tangan yang meremas tas.
Ravindra menelan ludah. Selama ini, ia jarang melihat Tafana seperti ini. Bukan karena Tafana tidak bisa tampil. Tapi karena ia tidak pernah membawanya ke mana pun yang membutuhkan penampilan serapi itu. Makan malam di luar, hangout berkeliling mall, bahkan di acara pertemuan kantor pria itu selalu datang sendiri, selalu beralasan Tafana lebih nyaman di rumah.
Kini ia sadar: bukan Tafana yang senang di rumah. Ia yang tidak pernah memberi kesempatan perempuan itu untuk beraktivitas keluar bersama.
Penyesalan itu datang tanpa romantisasi. Tidak hangat. Tidak manis. Justru berat, karena terlalu masuk akal.
Hakim masuk. Semua berdiri.
Sidang berjalan singkat, administratif. Pertanyaan standar. Nada datar.
“Saudari Tafana,” kata hakim, “apakah Anda mengajukan gugatan ini tanpa paksaan?”
“Iya,” jawab Tafana. Suaranya tenang. Tidak tinggi, tidak gemetar. Satu kata, selesai.
Ravindra dipanggil bicara. Ia membersihkan tenggorokan sebelum menjawab. Kalimatnya sedikit tersendat, seolah ia terlalu banyak berpikir sebelum setiap kata keluar. Hakim mengangguk, mencatat, lalu menjelaskan tahapan berikutnya.
Sidang ditunda. Formalitas selesai.
Ketukan palu terdengar biasa saja. Tidak ada klimaks. Justru itu yang menyakitkan.
Orang-orang mulai berdiri, mengemasi berkas.
Tafana bangkit lebih dulu. Ketika ia melangkah melewati Ravindra, sesuatu di dalam diri Ravindra bergerak lebih cepat dari pikirannya.
Tangannya terangkat dan menahan pergelangan tangan Tafana. Tidak kasar ataupun kuat, hanya mengejutkan.
Tafana refleks menegang, hampir menepis. Tatapannya naik perlahan, dingin, tapi tidak marah berlebihan.
“Ada apa?” tanyanya datar.
“Aku mau bicara sebentar aja,” kata Ravindra cepat. “Penting.”
Beberapa detik menggantung. Tafana menarik napas, panjang. Bukan napas orang yang kalah, tapi napas orang yang sedang memutuskan apakah sebuah pintu perlu ditutup dengan benar atau dibiarkan terbanting.
“Okay,” katanya akhirnya. “Di kafe dekat sini aja.”
-oOo-
Kafe itu tidak jauh. Tidak romantis. Meja kecil, kursi kayu, suara mesin kopi bercampur obrolan orang-orang yang tidak peduli pada drama siapa pun. Mereka duduk berhadapan.
“Apa lagi?” Tafana bertanya. Nada suaranya benar-benar dingin. Bukan marah. Lebih seperti… tuntas.
Ravindra terdiam sesaat. “Aku… sepertinya kualat, Taf.”
“Kualat?” Tafana mengernyit. “Kualat gimana?”
“Ucapanmu waktu itu,” katanya pelan. “Katamu, kamu harap semesta nggak akan merestui hubunganku dengan Yunika.” Ia menghela napas. “Sejak itu, setiap mau bertemu Yunika, semuanya berantakan. Ada aja halangan mendadak. Seolah semesta tidak setuju kami bersama..”
“Jadi sekarang kamu menuduh aku mengutuk?” Ada kilat tersinggung di mata Tafana.
“Bukan,” Ravindra cepat menyela. “Maaf. Maksudku… aku cuma mau minta maaf ke kamu. Tolong maafkan sikapku dan Yunika yang banyak menyakitimu. Aku tahu kami salah.”
Ia menatap Tafana lurus-lurus. “Aku merasa, kalau kamu memaafkan aku, mungkin… semesta juga akan berhenti marah."
Tafana terdiam lama. Jari-jarinya mengetuk cangkir perlahan.
“Ada syaratnya,” katanya akhirnya, menyeringai tipis.
Ravindra menelan ludah. “Apa?”
“Kamu harus carikan aku pasangan pengganti,” ucap Tafana tenang. “Yang lebih baik dari kamu. Agar orang nggak memandang aku dengan tatapan kasihan.”
Ravindra terpaku. “Apa?”
“Nggak mau usaha?” Tafana memiringkan kepala. “Atau maafku memang nggak sepadan?”
Ia menghela napas berat. “Baik. Aku usahakan.”
Lalu ragu sejenak. “Tapi… tolong. Keluarga kita nggak perlu tahu dulu soal proses perceraian ini. Jangan dulu tersebar.”
Tafana mengangguk singkat. “Aku mengerti.”
“Oh, satu lagi,” Ravindra menambahkan. “Jangan blokir nomorku.”
Tafana mengernyit, lalu terkekeh kecil. “Oh. Iya. Aku bahkan lupa soal itu.”
-oOo-
Lorong rumah sakit itu terlalu terang untuk pagi yang mendung. Lampu putih memantul di lantai mengilap, menciptakan kesan steril yang membuat Ravindra merasa kecil. Ia duduk di kursi tunggu, jasnya rapi, jam mahal melingkar di pergelangan tangan. Tampilan seorang pria yang tampak utuh, meski kepalanya penuh kegaduhan.
Ia datang bukan karena cedera, bukan pula cek rutin. Ada hal yang lebih memalukan untuk diakui: tubuhnya tak merespons Yunika. Bukan sekali. Bukan dua kali. Ia ingin tahu apakah ini masalah medis atau sekadar hukuman psikologis yang telat datang.
Ponselnya menyala di tangan. Tanpa sadar, jarinya membuka situs kencan. Ia menutupnya lagi, lalu membuka daftar kontak. Nama-nama bermunculan—rekan bisnis, kolega lama, mitra proyek. Beberapa sudah mapan, reputasi bersih, hidup tertata. Masih lajang.
Ia membayangkan Tafana berdiri di samping mereka, dan kepalanya menilai dengan ukuran yang kaku: setara, pantas, bisa dibanggakan. Anehnya, tak satu pun terasa tepat.
“Ravindra?”
Ia menoleh. Seorang pria berdiri di hadapannya, mengenakan jas dokter, rambut tersisir rapi, wajah bersih dengan senyum yang nyaris santai.
“Hei, ke sini kok nggak bilang-bilang?” kata pria itu. “Mau periksa apa?”
“Reon?” Ravindra bangkit setengah berdiri. “Aku cuma mau periksa… kesuburanku… mungkin.”
Reon berkedip, jelas terkejut. “Loh, kamu sudah menikah?”
“Aku malah sudah cerai,” Ravindra mendengus berat.
Ekspresi Reon berubah lagi—kali ini lebih hati-hati, seperti seseorang yang baru membuka halaman buku yang tak disangka isinya. “Oh.”
Mereka terdiam sejenak. Ravindra mengamati Reon dengan sudut mata. Dokter itu tampak tampan dan tenang, tidak sombong dengan statusnya sendiri. Kariernya jelas, keluarganya terpandang. Tidak ada aura pamer. Justru itu yang membuatnya terasa aman.
“Reon,” kata Ravindra tiba-tiba, suaranya cepat seolah takut terlupakan. “Kamu single, kan?”
“I-iya,” jawab Reon. “Aku duda, sih. Kenapa?”
“Aku mau perkenalkan kamu dengan seorang perempuan,” ujar Ravindra, lalu mengangkat ponselnya. “Orangnya baik. Ini.”
Ia menunjukkan foto Tafana—potret sederhana, cahaya alami, senyum tipis yang tidak dibuat-buat.
Reon menatap layar itu lebih lama dari semestinya. Senyumnya perlahan muncul, tipis, seperti rahasia yang menemukan tempatnya. Sorot matanya berubah—terasa kerinduan yang sudah lama ada, tapi baru sekarang diberi nama.
Reon mengangguk pelan. “Boleh deh,” katanya akhirnya. “Aku mau.”
Ravindra mengembuskan napas, tak sadar ia menahannya sejak tadi. Di lorong yang dingin itu, sebuah keputusan kecil terasa seperti pintu yang baru saja terbuka, entah ke mana.
-oOo-
Lobi rumah sakit sore itu ramai, tapi satu suara kecil memotong semuanya.
“Ayah!”
Reon menoleh tepat saat sebuah tubuh mungil berlari ke arahnya, rambut panjangnya berkibar sebelum akhirnya menabrak perutnya dan memeluk erat.
Reon refleks menunduk, menahan tawa sambil merangkul putrinya.
“Kamu berani ya,” katanya sambil mengusap kepala anak itu. “Kayaknya cuma kamu anak kecil yang jemput ayahnya. Terbalik.”
Anak perempuan itu mendongak, wajahnya berseri, dagunya terangkat bangga. “Aku kan udah gede.”
“Gede dari mana?” Reon mencubit pipinya pelan.
“Tadi aku juga ketemu Opa,” katanya cepat, seolah menyampaikan prestasi besar. “Opa yang di lantai atas itu. Yang fotonya gede.”
Reon terkekeh. “Iya, Opa direktur. Terus?”
“Dia bilang aku cantik, tapi aku nggak boleh banyak makan manis. Nanti cantiknya ilang,” jawabnya mantap.
“Pinter,” sahut Reon sambil mengangguk serius, lalu mencondongkan badan. “Tapi Opa lagi sibuk. Kita aja pulang duluan, yuk.”
Anak itu mengangguk, lalu melirik ke arah sopir yang berdiri sopan tak jauh dari mereka. “Om Ardi nunggu dari tadi.”
“Iya, ayah tahu.” Reon menggenggam tangan kecil itu. “Maaf ya, ayah kelamaan.”
“Gapapa,” katanya ringan. “Aku kan jemput.”
Reon tersenyum, senyum yang lembut dan penuh. Di tengah lobi yang dingin dan sibuk momen itu terasa hangat, seperti rumah yang berjalan pelan menuju pintu keluar.
batu kali kau dapatkan