Nama Cahaya Mirwa Pelangi, biasa dipanggil Pelangi usia 20 tahun, seorang gadis yang bekerja di Satuan Polisi Pamong Praja, hidupnya nampak aneh karena dihadapkan oleh tuan muda yang kaya raya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon viole, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Zarow berangkat ke kantornya pagi ini dengan wajah yang agak kusut, semalaman ia tak tidur karena memikirkan Pelangi yang tak menerima lamarannya, ia mulai mencerna sedikit demi sedikit kata-kata ayahnya tentang pria idaman yang Pelangi ingin kan untuk menjadi calon suaminya.
Memang secara materi Zarow mampu membahagiakan Pelangi dengan segala macam bentuk kebahagiaan duniawi tetapi ia tak bisa membimbing Pelangi untuk memperdalam agamanya, mengingat ia hanyalah seseorang muslim tetapi hanyalah sebatas identitas di KTPnya.
Zarow masih tak mengerti mengapa ada orang seperti Pelangi di dunia ini yang tak tergiur dengan kekayaan, tak silau dengan kemewahan, apa pentingnya agama dalam kehidupan jika agama tak membuat seseorang bisa hidup layak pikirnya.
" jalan pak " Zarow yang sudah berada didalam mobilnya menyuruh pak Handoko untuk segera menyalakan mesin mobilnya.
" baik tuan " pak Handoko mulai menyalakan mesin mobilnya, mobil berjalan menjauh secara perlahan dari kediaman rumah tuan Yonso.
Pak Handoko sedari tadi hanya memperhatikan tuan mudanya dari arah kaca depan, tuan muda Zarow nampak terlihat sangat kacau pagi ini, wajahnya terlihat nampak tak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Entah ada persoalan apa yang sedang ia alami kali ini pikir pak Handoko.
" pak menurut bapak apa pentingnya agama di hidup kita? " Zarow mulai membuka suaranya.
Mendengar pertanyaan tuan mudanya pak Handoko kembali melihat kearah tuan mudanya dari kaca spion yang berada diatasnya, sedikit melirik lalu kembali fokus melihat ke depan.
" menurut saya agama itu penting banget tuan muda buat hidup kita, agama itu merupakan pedoman hidup dan juga tolok ukur yang mengatur tingkah laku penganutnya dalam kehidupan sehari-hari, karena baik atau tidaknya tindakan seseorang tergantung pada seberapa taat dan seberapa dalam penghayatan terhadap agama yang diyakini "
Zarow menatap kearah luar masih mencerna kata-kata pak Handoko, selama ini ia cukup baik bahkan baginya ia tak pernah melakukan sesuatu tindakan yang buruk, meskipun ia memang tak pernah mengerjakan sholat & ibadah lainnya.
" menurut bapak apa wajar seorang gadis menginginkan seorang pria pendamping hidupnya yang agamanya baik & tak mempermasalahkan tentang hartanya? "
" wajar tuan, karena menikah berarti mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup tidak hanya untuk satu-dua hari saja bahkan untuk seumur hidup, jadi wajar seseorang sangat berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup serta menimbang anjuran-anjuran agama dalam memilih pasangan hidupnya , seperti misalnya taat pada allah & rasulnya " pak Handoko menjelaskan panjang lebar.
Terkadang seorang wanita yang sudah berhijrah tak memandang seorang pria dari seberapa kekayaan yang ia miliki untuk menjadi calon suaminya, seorang wanita yang telah berhijrah hanya menginginkan pria yang taat dalam agamanya agar bisa membimbingnya dengan baik, itulah yang coba di jelaskan oleh pak Handoko saat ini.
" memang harta gak penting pak? "
Ia masih penasaran mengapa harta menjadi tak berarti bagi seorang wanita yang mementingkan agamanya saat memilih calon suaminya.
" harta itu cuman nilai plus tuan muda " pak Handoko tersenyum.
" maksudnya? " singkat Zarow
" yang terutama agamanya baik, tetapi jika selain taat dalam agama seorang pria tersebut tampan & kaya, maka tampan & kaya merupakan nilai plus lainnya "
Zarow hanya menganggukan kepalanya, masih tetap tak mengerti, karena hanya Pelangi satu-satunya gadis yang menurutnya pikirannya tak wajar.
Setelah hampir satu jam berkendara akhirnya mobil miliknya menepi juga tepat di depan perusahaan miliknya, Zarow kemudian keluar dari mobil miliknya & berjalan masuk kedalam kantornya menuju ruangannya.
Saat berada di ruangannya ia terkejut melihat seorang wanita berambut seatas bahu telah duduk manis di kursi kerja miliknya, wanita tersebut adalah wanita yang kemarin menemaninya bersenang-senang.
" hallo sayang " sapa wanita tersebut.
Wanita tersebut bergelayutan ditangan Zarow, Zarow nampak jengah dengan wanita yang bergelayutan ditangannya saat ini, tak ada satu wanita pun yang telah bersamanya berani kembali lagi mendatangi dirinya karena Zarow tak akan pernah mau bersama dengan wanita yang telah bersamanya dihari sebelumnya.
Zarow mencoba melepaskan tangannya dari wanita tersebut yang bahkan ia tak tau siapa namanya meskipun selama beberapa jam kemarin ia bersenang-senang dengan wanita tersebut. Zarow menepiskan tangannya & berjalan menjauh dari wanita tersebut.
" sayang " kata wanita tersebut akan mendekat kearah Zarow
" stop, berhenti disitu " dengan nada tinggi Zarow akhirnya mengeluarkan suaranya.
Zarow benar-benar semakin kesal kali ini, amarahnya tak bisa terbendung lagi, berani-beraninya wanita ****** tersebut menyentuhnya batinnya.
" siapa yang sudah ijinin lo masuk kedalam ruangan gue? " Zarow bertanya.
" beib kenapa kamu marah-marah sih, kamu lupa sama aku?, kita kemarin kan seneng-seneng berdua " kata wanita tersebut.
" buat apa lo datang kesini?, bukannya kemarin lo udah gue kasih cek, apa masih kurang? " Tegas Zarow.
Setiap wanita yang pernah bersamanya pasti telah ia berikan sejumlah uang agara tak datang menemuinya lagi & selama ini memang tak ada yang berani datang kembali untuk menemuinya.
" emang kamu gak kangen sama aku?, aku kangen sama kamu, makanya aku kesini lagi buat nyenengin kamu " kata wanita tersebut mulai mendekati Zarow yang telah duduk di kursi kerjanya.
Zarow mengambil gagang telponnya untuk menghubungi sekertaris nya, ia akan menanyakan kepada sekertaris nya siapa yang berani mengizinkan wanita ****** tersebut masuk kedalam ruangannya.
" hallo pak Amar tolong datang ke ruangan saya " tanpa mendengarkan jawaban pak Amar ia langsung menutup panggilan tersebut.
Pagi-pagi sekali Adriana memaksa menerobos ruangan Zarow karena ia yakin jika Zarow tak akan menolak kedatangannya kali ini mengingat betapa manisnya kemarin Zarow memperlakukan dirinya, ia akan merayu Zarow & akan berusaha mendapatkan Zarow.
Zarow merupakan pria kaya raya yang harus ia jerat sehingga ia berpikir untuk mengajak Zarow berhubungan kembali sperti kemarin & membuat dirinya hamil anak Zarow agar Zarow mau menikahi dirinya & kemudian ia akan menjadi nyonya Zarow, istri dari pengusaha terkaya di Indonesia.
Saat ini yang ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya ia mendapatkan sejumlah uang dengan mudah dari Zarow, mengingat segampang itu ia mendapatkan sejumlah uang dengan nominal yang lumayan besar kemarin.
Tak disangka bukannya mendapatkan sambutan yang manis justru Zarow nampak tak suka dengan kedatangannya, tetapi Adriana tak memperdulikan hal itu baginya ini adalah sebuah tantangan untuknya.
Tok....tok...tok....
" masuk " Zarow mempersilahkan orang di balik pintu luar ruangannya masuk.
Pak Amar kemudian masuk kedalam ruangan tuan muda Zarow setelah diperbolehkan oleh bosnya untuk masuk, pak Amar agak berpikir kali ini apalagi tugas yang akan diberikan bosnya kepadanya.
Saat berada didalam ruangan ia amat sangat terkejut karena melihat seorang wanita yang telah berdiri disebelah tuan muda Zarow, tak seperti biasanya bosnya membawa seorang wanita kekantor seperti saat ini apalagi sampai membawanya kedalam ruangannya.
Pak Amar tapi sangat aneh melihat raut wajah tuan Zarow yang sepertinya nampak tak suka dengan kehadiran wanita tersebut, tatapan mata tuan muda Zarow saat ini menggambarkan kemarahan.
" astaghfirullah jangan-jangan ada salah lagi nih " batin pak Amar.
Pak Amar berjalan mendekat kearah sudut meja tuan muda Zarow tempat ia biasa berdiri saat menunggu perintah dari tuan muda Zarow.
" pak Amar siapa yang boleh kan perempuan ini masuk ke kantor kita?, apalagi masuk ke ruangan saya? " Zarow mulai membuka suaranya.
Sebagai bawahan Zarow yakin jika tak ada yang tak tau dengan setiap aturan yang telah ia buat, ia tak pernah mau mengulang-ngulang setiap kata-kata yang telah ia ucapkan, cukup sekali ia mengucapkan & ia ingin karyawannya mengerti.
Seperti aturan yang ia buat jika ia tak ingin di temui oleh wanita mana pun di kantornya kecuali ibu & adik perempuannya, jadi ia berharap karyawannya akan mengerti, tetapi kali ini ia benar-benar dibuat marah karena bisa satu wanita lolos masuk di kantornya bahkan masuk kedalam ruangannya.
Mendengar tuan muda yang sangat marah mempertanyakan perihal wanita yang berdiri tepat disebelah bosnya tersebut pak Amar jadi terkejut, bahkan ia tak melihat kapan wanita tersebut masuk kedalam ruangan tuan muda Zarow.
" maaf pak Zarow saya benar-benar tidak tau pak, bahkan saya juga tak melihat kapan nona ini masuk kedalam ruangan ini " kata pak Amar jujur.
Zarow menatap serius kearah pak Amar, sudah sedari tadi malam pikirannya amat sangat kacau & tak karuan sekarang justru amarahnya semakin bertambah karena karyawannya sembarangan mengizinkan seorang wanita masuk kedalam ruangannya.
" pecat resepsionis yang sudah bekerja di pintu loby, pecat juga semua sekuriti yang berjaga pagi ini, saya tidak akan mentolerir setiap pelanggaran & tolong bawa wanita ****** ini jauh-jauh dari saya, seret dia keluar dari kantor kita " perintah Zarow tegas.
Dengan senyumnya yang menyeringai Adriana menatap kearah Zarow, ia semakin tertarik dengan Zarow, pria dewasa yang berwajah tampan yang berada dihadapannya ini harus menjadi miliknya pikirnya.
" oke sayang mungkin aku datang di waktu yang kurang tepat, tapi lain kali kamu pasti gak akan nolak aku, jangan sebut aku Adriana kalo aku gak bisa taklukan kamu " kata Adriana dalam hati.
" mbak, saya harap mbaknya dengar apa kata bos saya, mohon kerja samanya mbak silahkan keluar karena saya tak ingin melakukan kekerasan apalagi terhadap wanita " pak Amar meminta baik-baik agar wanita tersebut keluar.
" oke saya keluar " kata Adriana menurut.
Adriana berjalan santai menuju arah luar mengikuti sekertaris tuan muda Zarow untuk keluar dari ruangan tersebut.
" mbak tolong lain kali jangan datang lagi kesini, pak Zarow gak suka kalo ada perempuan masuk sembarangan ke kantornya apalagi ke ruangannya " pak Amar memberitahu wanita tersebut.
Adriana tak menjawab kata-kata sekertaris tuan muda Zarow, ia malah pergi nyelonong keluar begitu saja.
" cowok sombong, apa lo lupa gimana kita kemarin menghabiskan waktu berdua, bisa-bisanya lo perlakuin gue kaya gini, it's ok beib, tunggu tanggal mainnya, bukan Adriana namanya kalo gak bisa dapetin lo, kalo gue gak bisa dapetin lo berati gak juga buat orang lain " batin adriana dalam hati.
**********
Di tempat lain jam 11.00 siang
Saat ini tak ada kegiatan diluar kantor sehingga Pelangi & kru yang tergabung menjadi anggota Dalmas bisa bersantai di kantor, belakangan ini memang Satuan Pamong Praja yang tergabung menjadi anggota Dalmas memang disibukan dengan kegiatan di luar kantor.
Pelangi duduk bersama Doni didepan meja kerja miliknya sambil mengobrol, Pelangi meminta saran kepada teman baiknya perihal lamaran yang datang kepadanya, ia masih ragu harus maju melanjutkan pinangan yang datang padanya atau ia harus mundur & menolak pinangan yang datang.
" jadi gimana Don? " tanya Pelangi setelah bercerita.
Doni melihat kearah Pelangi, saat ini Pelangi bingung dengan pinangan yang datang kepadanya, dia sangat bingung harus menjawab apa, Pelangi tak mengatakan siapa pria yang datang melamarnya, ia hanya mengatakan ada seseorang pria yang menyuruh kedua orangtuanya untuk datang melamarnya.
Doni benar-benar tak menyangka di jaman secanggih seperti ini Pelangi masih berpikir untuk menikah dengan seseorang tanpa mengenal seperti apa pria tersebut, jika Pelangi menerima pinangan tersebut lalu bagaimana dengan Aldo, atau mungkin Aldo lah yang datang melamar Pelangi pikir Doni.
" gimana sama latar belakang keluarganya, apa dia dari keluarga baik-baik? " tanya Doni.
Pelangi melihat kearah Doni yang sudah serius menatap kearahnya juga, sejauh ini yang ia tau keluarga Zarow sangat baik, bahkan kedua orangtuanya & adiknya menerimanya dengan baik.
" baik Don, baik banget " jawab Pelangi singkat.
" lo udah kenal baik sama keluarganya? " tanya Doni lagi.
" kenal baik sih enggak, tapi sejauh ini yang gue tau emang keluarganya tuh baik " jawab Pelangi.
Mendengar penjelasan Pelangi ia yakin jika orang tua Aldo lah yang datang melamar dirinya kemaren, Doni tersenyum kearah Pelangi.
" udah sih terima aja, lagian lo juga udah kenal baik kan " jawab Doni sambil tersenyum.
" jadi gue harus terima Don? " tanya Pelangi sekali lagi.
Doni hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum, ia pikir Pelangi & Aldo sudah cukup lama menjalin hubungan & sudah cukup mengenal satu sama lain dengan baik, jadi sudah sepatutnya mereka berdua selangkah lebih maju dari sekarang & segera menikah.
" sudah terima aja, jangan terlalu banyak mikir " kata Doni sambil tersenyum, kembali meyakinkan Pelangi.
Pelangi menganggukan kepalanya sambil tersenyum mendengar jawaban Doni, ia masih tak yakin harus menerima pinangan Zarow, saat ini justru Doni dengan yakin mengatakan ia harus menerima pinangan tersebut.
" Don tolong lo jangan bilang dulu ya sama siapa-siapa tentang masalah gue " kata Pelangi tak ingin teman sekantornya tau tentang dirinya.
" iya, tenang aja gue bakal simpen semua baik-baik sampe hari H, yang jelas gue berharap lo bakal terima lamaran itu " kata Doni sambil tersenyum.
Ia mengerti mengapa Pelangi tak ingin teman sekantornya tau jika ia baru saja dilamar oleh keluarga Aldo, meskipun kabar ini sangat ditunggu-tunggu oleh teman sekantor mereka yang selama ini mendukung hubungan Pelangi & Aldo.
" makasih ya Don " kata Pelangi singkat.
" ok "
Pelangi berusaha meyakinkan hatinya untuk apa yang ia harus putuskan kali ini, karena ini bukanlah hal yang gampang untuk diputuskan begitu saja baginya.
" bismillahirrahmanirrahim " kata Pelangi dalam hati sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.