Di balik suami yang posesif, menyimpan sebuah rahasia besar!
Alan akan selalu melempar benda-benda yang terdekat dengannya ketika ia kecewa dengan Nesa, ia memang tidak pernah memukul istrinya—pria itu akan menumpahkan kekesalannya pada barang-barang di rumahnya.
Nesa sebenarnya tidak tahan lagi, tapi hanya demi Ribi—putri semata wayangnya dirinya bersabar menghadapi perangai buruk suaminya yang tempra mental. Tapi bencana itu datang, saat Nesa mengetahui jika sang suami tidur dengan wanita lain hanya satu kalimat yang terucap.
"Mari kita cerai!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi wu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 13
Terima Kasih karena sudah meninggalkan jejak setelah membaca. Jangan lupa vote, ya. Agar salah nikah cepat naik.
Selamat Membaca, semoga suka.
tencu,
Novi Wu
_________________
Kukira cintaku akan subur seiring perjalanan pernikahan kita yang tidak sebentar, tapi kau membunuh perasaanku sedikit-demi sedikit dengan perangaimu yang buruk.
***
Nesa terdiam sesaat, ketika temannya menanyakan keberadaan suaminya, namun saat mulutnya hendak menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba—
"Komandan!" Seorang polisi yang sepertinya bawahan Adnan menghampirinya seperti ingin melaporkan sesuatu.
"Gimana, Ji?" Adnan bertanya serius kepada bawahannya yang memiliki name tag Aji Santoso tersebut.
"Aman, Ndan. Saya sudah menyisir semua tempat," jawabnya dengan sikap tegap dan begitu tegas.
"Bagus! Aku sebentar lagi akan kembali ke Markas, kamu duluan saja, Ji!" perintahnya.
"Siap, Komandan!" serunya, lalu pergi.
Kini Adnan kembali menatap Nesa, ia tersenyum. "Nes, kayanya aku harus balik ke Markas, urusanku sudah beres. Boleh minta kontakmu?" tanya Adnan penuh harap.
"Boleh, Nan." Nesa membuka ponselnya memberikan nomor kontak pada Adnan.
"Terima kasih, ya. Nanti aku Calling-calling," ucapnya sembari berlalu.
Nesa hanya tersenyum, dan ikut melambaikan tangan ketika Adnan melambaikan tangan lebih dulu padanya.
"Sopo Mbak?(Siapa, Mbak?)" Salma muncur tiba-tiba, dan membuat Nesa terkesiap karena kaget.
"Astagfirullah!" Nesa reflek memegang dadanya sendiri ketika Adik bontotnya sudah ada di sebelahnya dan juga menatap lekat pada Adnan yang mulai menjauh.
"Siapa? Cek guantenge puol!" ucapnya berdecak kagum.
"Kepo!" Selma mengusap wajah adiknya agar ia berhenti menatap Adnan, lalu pergi menghampiri Ribi untuk ikut senam bersamanya.
Sebenarnya dulu Adnan hampir tidak pernah berbicara kepadanya, entah mengapa pria itu selalu menyebutnya gula jawa pahit, yang Nesa sendiri tidak tahu apa artinya. Ketika Adnan menggodanya, dia hanya diam enggan menjawab bahkan berkomentar, ataupun marah pada temannya itu. Karena ia tahu—jika Adnan terkenal murid paling badung—dulu. Belum lagi ia juga pindah ke Jakarta setelah kenaikan kelas, jadi Nesa benar-benar tidak memiliki kenangan baik dengan Adnan Rahardian. Bisa dibilang buruk, malah.
Tapi anehnya dengan mudah Adnan malah mengenalinya lebih dulu, tadi. Sungguh aneh memang. Seolah lelaki itu menyimpan kenangan baiknya bersama Nesa.
***
"Nesa ... aku kangen, aku pengen kembali sama kamu." Suara rintihan terdengar dari mulut Alan, ia tampak mengigau sembari tertidur, bibirnya begitu pucat.
Sejak datang ke Semarang memang Adnan merasa badannya aneh, dan tidak enak. Ia tampak sedikit merasa demam, mual dan muncul ruam di kulitnya.
Dengan lemas ia menyambar ponsel di nakas, kemudian dengan bersusah payah lelaki itu mencari kontak istrinya di dalam gawai miliknya, untuk menghubungi wanita yang telah enam tahun dia nikahi itu.
"Hallo ...." Terdengar suara istrinya menjawab panggilannya dengan suara lembut.
"Nes–Nesa ... aku sakit, Nes. Kamu bisa ke sini nggak?" pintanya dengan suara bergetar.
"Aku nggak bisa, Mas. Bapak juga pasti nggak setuju," jawab Nesa dengan nada penuh penekanan.
"Please! Nes. Kumohon," pintanya lagi.
Namun, setelah kalimat itu—suara panggilan terputus menyesakkan hati Alan, yang memang sedang benar-benar sakit. Ia tidak memiliki siapa-siapa di kota ini, kecuali Nesa. Jadi hanya istrinya-lah harapan terakhirnya. Tapi karena ulahnya sendiri, membuat wanita yang memang paling mengerti akan dirinya, kini pergi menjauh selama-lamanya.
Sementara itu Nesa yang baru saja mendapat panggilan dari Alan, langsung keluar kamar. Dirinya mendapati Ayah dan Ibunya sedang duduk santai di depan televisi. Dengan perasaan campur aduk, Nesa duduk mendekati keduanya.
"Pak ... Buk." Suara Nesa membuat keduanya menengok secara bersamaan.
"Apa, Nduk?" Ibunya menyaut terlebih dahulu.
"Mhhh ...." Nesa tampak ragu mengutarakan kata-katanya.
"Apa?" Kini bapaknya bisa dengan mudah menangkap gelagat aneh anaknya.
"Mas Alan sakit, Pak, Buk," ucap Nesa, membunuh rasa tidak enaknya pada orang tuanya.
"Sakit apa?" tanya sang Ayah, pria paruh baya itu kelihatan malas, ketika sang putri bercerita tentang menantunya.
"Nggak tau, Pak. Makanya Nesa mau ke sana, di hotel tempat mas Alan nginep."
"Nggak usah!" celetuk sang ibu tidak setuju.
"Tapi, Buk—"
"Kamu mau, setelah kamu ke sana, kamu nggak balik lagi? Suamimu tempramental begitu." Eriawan tidak setuju dengan permintaan Nesa, dan berkata pada anaknya jika tidak perlu mempercayai apa yang dikatakan lelaki itu.
suka bgt
mudah2 Han author nya GX lama2 up ny