NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Perjodohan / Tamat
Popularitas:491.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rifa Mukherjee

Ini adalah kisah seorang pria bernama Ahmad Ranvir Al Ghazali. Anak tunggal seorang Kepala Desa sekaligus tuan tanah ini di beri nama alias, sebut saja Paijo. Bukan tanpa alasan, melainkan sering sakit-sakitan saat usianya baru menginjak satu tahun. Mungkin tidak kuat di beri nama sebagus itu, jadi mau tidak mau orang tuanya memberikan nama kecil itu.

Saat usianya menginjak dua puluh lima tahun Ayahnya bersikeras menjodohkannya dengan seorang gadis cantik anak dari pemilik Toko Emas Terbesar di Kabupaten Kendal.

"Apa menikah? Dengan gadis itu? Aku bahkan sudah melihatnya sejak dia masih kecil dan ingusan. Dia sangat manja dan cerewet. Demi tanah Ayah luasnya dari ujung Barat ke Timur. Aku menolak perjodohan ini!"

😤😤😤😤

"Apa menikah? Dengan Paijo? Apa tidak ada pria lain yang lebih tampan dan punya nama keren daripada dia. Aku TIDAK MAU!!!

"Heh, aku memang tidak tampan, tapi aku Paijo adalah pria yang berkharismatik! CATAT!

Selanjutnya, kita simak perjalanan mereka. Akankah mereka berjodoh???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Mukherjee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12: Nyenyak Sampai Pagi

Hari ini Paijo akan mengunjungi kakeknya untuk yang ketiga kalinya. Setahun merantau sebagai tangan kanan pemilik pabrik kayu, membuat Paijo harus meluangkan waktunya hanya untuk mengunjungi sang kakek. Bukan sok sibuk tapi dia memang sibuk. Berangkat petang pulang petang. Dari hari Senin ke Senin lagi. Dia nyaris tidak punya hari libur. Minggu juga termasuk hari kerjaannya.

Di tengah perjalanan menuju rumah sang kakek, tenggorokan tiba-tiba minta dialiri air. Dia berhenti di salah satu minimarket terdekat.

Ahhh... segar sekali minuman ini,

Paijo meneguk habis satu botol minuman dingin dengan cita rasa jeruk. Pandangan matanya tertuju saat pintu kaca terbuka dan seorang gadis cantik yang dia kenali berjalan masuk kearah salah satu rak yang berjajar. Iya, dia Saras.

Wajahnya yang manis terlihat menggemaskan, saat menimbang akan mengambil bantalan pembalut yang kemasan berwarna biru atau pink. Bibirnya umik-umik tidak jelas. Namun tak lama kemudian dia lebih memilih kemasan yang berwarna biru gelap dengan tulisan night wings, nyenyak sampai pagi. Saras langsung beranjak ke kasir untuk membayar. Paijo masih mengamati dari jauh.

Saat akan keluar, Saras terlihat menerima telpon. Satu tangan kirinya menenteng bantalan pembalut tanpa kantong plastik. Harusnya dia sudah tahu jika sekarang ini banyak minimarket yang sudah tidak menyediakan kantong plastik, apa dia tidak malu menenteng barang seperti itu tanpa di samarkan? Sedangkan satu lengannya menyepit dompet panjang di celah ketiaknya dan satu tangannya lagi menempelkan ponsel di telinga.

Huh dasar rempong!

Dari arah timur Paijo melihat sebuah sepeda motor melaju kencang, alih-alih mengambil jalur kanan dia malah kearah kiri, padahal jelas ada angkot yang akan menepi kearah Saras. Sial! Paijo berlari.

Bimmmmmmmm.......!!!

Saras hampir saja terserempet sepeda motor.

"Agggghhhhh.....!!!!"

Tubuh Saras limbung, Paijo menarik dari belakang dengan kuat.

Gubrakkkkkk....!

Sekuat tenaga Paijo menahan keseimbangan namun tak bisa. Mereka berdua terjatuh terlentang di atas aspal jalan yang panas. Saras masih untung, tubuhnya berada di atas tubuh Paijo.

"Auchhh... selalu saja merepotkan. Apa kamu tidak bisa menjaga diri dengan baik, hah?"

Saras melongo...

Bukanya segera bangkit dia malah terlihat seperti orang kebingungan.

Paijo? Apa ini benar Paijo? atau genderuwo yang menyerupai Paijo? Kenapa dia muncul lagi?

Orang-orang yang melihat mengerubungi mereka. Sedangkan sepeda motor sialan itu tentu memilih kabur.

"Heh Saraswati! sampai kapan kamu tiduran diatas tubuh 'ku, Woi!!!'

Saras terperanjat kaget. Melihat mereka berdua yang nampak baik-baik saja orang-orang malah menyoraki.

"Bagun mas dan mbak! Jangan tiduran di pinggir jalan, bahaya! Huuuuuuu..." Mereka membubarkan diri kemudian.

Saras bangkit dan nampak kikuk. "Eh... maaf."

Paijo mencoba ikut bangkit. "Auchhh...!"

Dia meringis merasakan sakit pada lengan kiri dan pantatnya. Dua bagian tubuh itu yang sontak mencium aspal terlebih dulu saat dia terjengkang menahan berat badan Saras.

"Eh... apa ada yang luka?" Saras panik, dia meneliti tubuh Paijo dan bibirnya terbuka syok saat melihat darah bercampur butiran pasir di siku kiri Paijo.

"Tangan kamu! tangan kamu berdarah!"

"Sudahlah tidak apa-apa. Hanya luka kecil. Sialan itu motor sudah kabur!"

Saras merasa berhutang nyawa sekarang, jika tidak ada Paijo mungkin dia yang terluka terserempet sepeda motor tadi.

"Luka kecil apa? ini berdarah. Tunggu, aku belikan kapas dan obat merah sebentar!"

"Heh, tidak usah. Bantu aku berdiri saja. Sepertinya tulang ekor 'ku yang terluka."

"Kamu harus tanggung jawab jika aku buta atau lumpuh karena ini!"

Ahh... dia memang Paijo. Bukan genderuwo. Dengar bukan, dia mulai menjengkelkan saat bicara. Lagipula mana ada genderuwo nonggol di siang hari.

Saras menurut, dia membantu memapah Paijo saat berjalan.

Sialan! Kenapa hatiku merasa berdebar saat dekat begini dengan gadis cengeng ini.

Tubuhnya cungkring, tapi sangat berat. Kebanyakan dosa mungkin. Kenapa dia menatapku seperti itu. Menakutkan saja! ~ Saras

"Pelan-pelan! duduk di sini."

"Tunggu! aku harus membersihkan lukamu dulu. Aku tidak mau terlihat tidak bertanggung jawab."

Saras menghilang di balik pintu. Tak lama kemudian dia muncul dengan sebungkus kapas, air mineral dingin dan obat merah.

"Kemarikan tangan kamu!"

Paijo menjulurkan lengannya, andai tadi dia tidak mencopot jaket saat membeli minum. Mungkin saat menolong Saras tadi sikunya akan aman. Pelan-pelan Saras mengguyur air dingin itu ke siku Paijo yang terluka, agar luka itu bersih dari butiran pasir yang menempel di sana. Baru kemudian dia menyeka luka itu dengan kapas. Paijo terus memperhatikan wajah Saras.

Saat diam ternyata dia sangat manis.

"Auch...! bisa pelan tidak!"

Saras sedikit menekan saat menyeka luka itu, "Bisa tidak, jangan memandangi 'ku seperti itu? bikin merinding tau!"

"Aku biasa saja, jangan geer!"

Saras melirik Paijo sekilas dan diam lagi menekuni aktivitasnya yang sedang memberikan pertolongan pertama itu. Setelah di rasa bersih, baru kemudian dia meneteskan obat merah.

"Yeah... sudah selesai. Hanya kebarut aspal, mungkin beberapa hari saja sudah kering. Tapi terimakasih banya sudah menolong 'ku."

"Bagaimana apa aku masih perlu membawa 'mu kedokter? atau mau ke tukang urut? barangkali pinggang kamu terseleo?"

"Tidak perlu, kamu sudah bisa mengucapkan terimakasih saja, aku sudah bersyukur!"

"Memangnya aku tidak setahu diri itu?

Saras berdecak kesal. Bagaimana nasib terus saja mempertemukannya dengan Paijo. Jika dia di takdirkan nyaris terserempet tadi, tidak bisakah tukang parkir berompi orange itu saja yang menolongnya. Dia yang sedari tadi terus berdiri di depan toko, kenapa malah Paijo yang sejak kapan keberadaannya dia tidak tahu.

"Bisa pulang tidak? Apa aku harus mengantarmu pulang?"

****

Krik... krik...krik...!!!

Wajah Paijo malu setengah mati saat dia di paksa duduk di belakang tubuh Saras. Membonceng dengan tangan memegang bantalan pembalut dan dompet panjang milik Saraswati.

"Heh, apa kamu benar-benar bisa mengendarai motor ini!"

"Tenang saja, aku pernah belajar motor koplingan kayak gini. Kalau saja Abah mengijinkan, aku pasti lebih memilih meminta motor yang seperti ini. Keren!"

"Kamu pegangan saja, oke?"

Pegangan apa? pegangan pinggul kamu? apa boleh? bagaimana caranya? Sial! mana bisa, jelas-jelas kedua tanganku memegang barang sialan ini.

"Siap? let's to the go!"

Saras memasukan gigi sedikit kasar, tubuh Paijo tersentak kebelakang. "Heh, yang bener Saraswati! Aku belum mau mati sebelum kaya!"

"Diamlah!" Saras nampak masih canggung mengoperasikan motor bertengki yang memilik suara knalpot berisik itu. Motor itu melaju kekanan dan kekiri tidak seimbang.

Paijo berharap mereka tidak terjatuh untuk kedua kalinya. "Heh, heh, lihat depan!"

"jangan terlalu kekanan!"

"Awas! pelan-pelan ada orang yang mau menyebrang!"

"Aku lihat, aku lihat! berisik ah!"

Saras yang sudah lama tidak mengendarai motor cowok yang bersuara berisik seperti pemiliknya itu merasa tertantang. Dia tertawa senang dan puas saat pelan-pelan bisa menguasainya lagi.

"You see, aku bisa! Hahaha..."

Melaju dengan kencang membelah jalan raya, entah mengapa keduanya terlihat bahagia. Walaupun kebahagiaan keduanya jelas berbeda. Saras yang bahagia karena bisa mengendarai motor impiannya. Dan Paijo yang merasa bahagia sekaligus merasa bodoh karena bisa berdebar hanya karena mencium bau harum rambut Saras yang tertiup angin.

Kenapa ini? kenapa aku terus berdebar sepanjang jalan? sepertinya 'nyenyak sampai pagi' hanya berlaku pada tulisan di kemasan pembalut ini. Aku tidak yakin bisa tidur nyenyak sampai pagi setelah ini. Ya Tuhan...

***

"Ternyata rumah Cak Sam di daerah sini?"

"Aku baru tahu."

Saras membuka helem Paijo yang dia pakai tadi, dan mencantolkan helem itu di spion kanan motor. "Aku langsung pulang saja."

"Sebentar, bawa sini dompet 'ku. Aku persen taksi online aja. Lebih aman."

Saras sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Paijo seperti orang bodoh yang berdiri memeluk bantalan pembalut Saras.

"Eh... itu dia taksinya, aku pulang. Terimakasih sudah membantu 'ku tadi."

"Emm... aku juga terima kasih sudah diantar."

Saras tersenyum tipis. "Kalau begitu aku pulang sekarang,"

"Iya, pulang sana!" ucap Paijo dengan tatapan mengusir.

"Iya, kembalikan itu!" Saras menunjuk pembalut di pelukan Paijo. Paijo terperanjat dan cepat-cepat menyerahkan barang luknut itu.

"Sepertinya senang sekali memegang itu!" Saras menahan senyum setengah mengejek.

Wajah Paijo seketika terasa panas, malu.

SIALAN!

Saras meninggalkan Paijo dengan senyum tersungging sepanjang langkahnya menuju taksi.

Paijo lucu juga, hehe...

Lalalala....

bersambung...

.

.

.

.

like dan komen,

suwun😘

1
zeus
Laah.. Kok sdh tamat
zeus
Emg riilnya gitu sich.. Susah klo watek(Bukannya g Bisa)
Kenyataanya di sekitar kita emg gitu, org klo sdh bebal y susah berubah...
zeus
Kok bagong ya sirik...
Punya camry nyinyir punya motor butut Dia ribut...
Syaitonirrojim emg..
zeus
Paijo anak kandung serasa anak tiri.. 😂😂😂😂
zeus
Paijo kaget g tuch kira2?
zeus
😂😂😂
Lambene kubro Jan Joss tenan
zeus
Msh g sadar2 juga si bagong
Emg klo mati hartanya ngaruh?
zeus
Lbh suka bagong g sadar2 spe akhir hayatnya..
zeus
😂😅
zeus
So tutik(untune metu sitik) ini emg bener2 yah jd orang
zeus
Ceritanya lumayan bagus tp spt yg sdh2 di NT itu kdg yg bagus sedikit pemirsanya yg ecek2 dan murahan mlh bnyk peminatnya,...
Aneh memang...
Jd g heran bnyk author berkelas yg mandek g nglanjutin karyanya
zeus
G usah peduli Kan tetangga kamar jo
Aduk terus
zeus
G usah nunggu restu bagong Kan Dia sendiri yg bilang ga ngakui anak
Minta ja restu Umi nya saras
zeus
Kita santet online so bagong
zeus
Etdah.. Udh di kasih mlh ngatai ireng tur Ora bagus..
zeus
PHK itu udh kyk kumpul an emak2 arisan saja..
zeus
Jos jo
Orang Tua model an bagong emang mesti di gitu in..
zeus
Orang Tua model bagong ini msh bnyk hidup di Jmn ini...
zeus
Bambang...
zeus
😂
Saras ini meski di gitu in tetep ja kocaknya keluar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!