Sebuah kecelakaan besar membuat hidup Ajeng berubah total. Karena sebuah balas budi dan intrik dari keluarga Demian dan Mahesa dia harus menikah dengan Raka, laki-laki yang diselamatkannya dengan seorang anak kecil.
Ajeng harus terjebak dalam konflik keluarga kaya. Kehadiran Ajeng membuatnya harus menjadi seorang mama untuk anak kecil yang dia selamatkan.
Apakah Ajeng bisa menemukan kebahagiaan dengan menjadi Mama anak itu. Atau dia justru terperangkap masalah dan konflik keluarga kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van Theglang Town, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama kali melihatnya
Tiin tiiinnn...
Suara klakson berbunyi membuat Ajeng nampak tergesa-gesa mengajak Gea yang sudah sejak pagi buta antusias hendak ikut bersekolah. Seragam TK nya nampak menggemaskan dipakai Gea yang cantik dan imut itu. Ajeng memakai baju kebesarannya seorang guru TK. Sebuah baju safari berwarna biru muda dengan rok di bawah lutut. Rambutnya yang panjang dia kuncir kuda.
Buru-Buru Ajeng menuntun Gea masuk ke mobil karena Pak Udin dari tadi sudah mengklaksonnya berkali-kali. Dan Ajeng baru tahu kalau yang membunyikan klakson bukanlah Pak Udin. Tapi Carla. Dia sudah duduk di kursi penumpang di depan. Ya mau tidak mau Carla memang harus berangkat bareng dengan Ajeng. Sebenarnya Pak Udin adalah supir khusus Carla, namun karena Ajeng tidak diperbolehkan naik angkotan umum. Ibu Rika meminta Pak Udin mengantar mereka berdua selama Ajeng belum punya supir. Karena Ajeng memang belum bisa menyetir mobil. Kalau saja Ajeng bisa menyetir, mungkin Ibu Rika sudah menyuruhnya membawa salah satu mobil di garasi rumahnya.
"Kamu sekolah di SMA mana Carla?" tanya Ajeng berniat untuk akrab. Tapi sebenarnya dia juga sungkan karena Carla semenjak bertemu tidak menampilkan wajah bersahabat.
"Kepo banget sih loe?" jawab Carla jutek.
"Oh maksud kakak kan kalau tahu sekolahnya, bisa kita atur siapa dulu yang diantar," sambung Ajeng mencoba menahan rasa gregetnya pada Carla.
"SMA Victory," jawab Carla pada akhirnya.
'Oh, kalau begitu Pak Udin antar Carla dulu ke sekolahnya, kebetulan juga arah nya sama dengan TK tempat saya mengajar." Ajeng pun mencoba mengambil alih perintah pada Pak Udin.
"Baik Non." Pak Udin pun tersenyum riang menerima perintah Ajeng.
Carla yang tidak mau bertele-tele dan berbasa basi dengan Ajeng. Dia memilih ponselnya kemudian menutup telinganya dengan headphone. Ajeng pun cukup sadar dan tahu diri. Sepertinya tidak akan mudah untuknya bisa akur dengan Carla.
~ ~ ~ ~ ~ ~
Ajeng disambut dengan penuh kehangatan oleh Ibu Zahra, Kepala Sekolahnya serta 3 orang guru yang lainnya. Bu Elis, Bu Nelly dan Bu Barkah.
"Kita semua kangen sama Bu Ajeng, anak-anak di kelas juga nanyain terus," kata Bu Nelly. Bu Nelly adalah guru Kelas B yang sudah mengajar di TK Kasih Bunda selama lima tahun.
"Bahkan Bu Ajeng ditanyai Pak Amin noh, langganan Mie Ayam depan sana," ucap Bu Barkah mengingatkan Ajeng akan Mie Ayam Pak Amin yang sering mengenyangkan perutnya di kala lapar setelah mengajar.
"Anak-anak sering nanya, kapan ya Bu Ajeng ngajar lagi, kangen dongengnya," sambung Bu Elis namun mata nya tertuju pada Gea. Gea sedikit malu dan terus berlindung di lengan Ajeng.
Ajeng pun tersenyum mendengar semuanya.Meskipun dia disini hanya guru bantu, tapi mereka semua memperlakukannya dengan baik. Karena kuliahnya saja belum selesai, bisa mengajar di sebuah TK yang sudah sebagus dan sebesar ini. Membuat Ajeng bersyukur. Kelak dia kalau sudah lulus kuliah. Bu Zahra sudah berniat menjadikannya guru tetap dan guru kelas di sini.
"Tapi ngomong-ngomong Bu, ini anak siapa?" tanya Bu Zahra. Mungkin pertanyaan itu sejak dari tadi ingin dia tanyakan pada Ajeng.
"Ini Gea, dia keponakan calon suami saya," jawab Ajeng membuat semua guru-guru itu kaget dengan informasi itu. Karena jangankan calon suami. Pacar saja seingat mereka Ajeng tak pernah cerita.
"Sebentar lagi kamu mau menikah?" tanya Bu Barkah yang sebenarnya mereka berdua punya status yang sama. Yaitu JombA. Jomblo Akut. Di antara semuanya yang sudah menikah.
"Rencananya bulan depan," jawab Ajeng malu-malu membuat langsung mengucapkan selamat.
"Yah aku ditinggal married dong," kata Bu Barkah dengan raut muka berpura-pura sedih.
"Tenang saja Bu, hilal jodoh ibu pasti sebentar lagi muncul." Kata Bu Nelly mencoba menghiburnya.
Semuanya pun tertawa menanggapinya. Sementara Gea yang mulai tidak betah dengan percakapan mereka mulai bosan.
"Mah, Gea pingin mayin di yuay." Ucapan Gea pun sontak membuat semua bengong dan berusaha memaknai ucapan Gea barusan.
"Ng, i-tu, nanti saya ceritakan perihal Gea ya." Ajeng menangkap sinyal keanehan yang dipancarkan oleh mereka.
Ajeng pun permisi untuk masuk ke kelas bersiap-siap mengajar. Dia pun mengajak Bu Barkah ke kelas.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
Pulang sekolah Ajeng dan Gea dijemput kembali oleh Pak Udin. Dan kembali ke rumah dengan capek. Tadi di sekolah anak-anak menagih janji padanya untuk mendongeng. Tentu saja ini membuat tenggorokan Ajeng sedikit sakit dan serak. Maklum hari ini dia terlalu banyak mengeluarkan berbagai macam suara untuk mendongeng. Karena dengan begitu anak-anak menjadi senang dan tertarik.
Sampai di rumah dengan keadaan lelah. Ajeng dihadang oleh Raka yang sepertinya dari tadi menunggu kepulangannya.
"Kamu lama banget sih?" tanya Raka.
"Emang kenapa sih?" Ajeng malah balik nanya.
"Aku dari tadi nungguin, bosan."
'Siapa suruh nungguin," sahut Ajeng cuek dan langsung menuju kamar bersama Gea dan menutup pintu kamarnya.
Raka semakin dibuat kesal karena Ajeng malah mengacuhkannya. Lalu dia pun menerobos masuk kamar Ajeng. Ajeng yang lupa mengunci pintu berteriak histeris. Karena pada saat Raka masuk dia sedang membuka bajunya. Hanya menyisakan satu baju dalamannya. Tapi tetap saja Ajeng membuat keributan di kamarnya. Raka yang memang untuk berjalan pun susah karena memakai kruk tampak panik karena mendengar Ajeng berteriak. Kakinya malah terantuk kaki kruknya dan membuat dia malah terjatuh terjerembab di kamar Ajeng. Dia pun mengaduh kesakitan dan berteriak-teriak kalau kakinya sakit.
Ajeng yang melihat Raka terjatuh tentu saja dia pun kaget dan reflek langsung menghampiri Raka yang terjatuh tadi. Dan segera membantu Raka yang terjatuh dengan kondisi kaki yang terlipat dan tangannya mencoba menopang badanya agar tidak terlalu membebani kakinya yang dalam keadaan terlipat itu. Ajeng mencoba membangunkan Raka dan lupa kalau dia dalam posisi setengah polos.
Dia baru sadar setelah Raka berhasil berdiri. Dia melihat wajah Raka yang memerah dengan mata terbuka lebar melihat pemandangan indah dari tubuh polos Ajeng yang hanya dibalut kaos dalam tipis namun bayangan kedua benda yang menonjol itu membuat saliva Raka sedikit menetes. Ajeng sadar lalu dengan gerak reflek juga dia langsung menampar pipi Raka.
"Kau sengaja ya, cari kesempatan?" tanya Ajeng kemudian segera menyomot baju yang tadi habis dipakai.
Raka kemudian memegang pipinya yang ditampar sambil meringis kesakitan. Namun tidak tampak wajah penyesalan darinya.
"Suruh siapa kamu tidak kunci pintunya," jawab Raka bela diri.
"Cih, kamu yang main selonong saja tanpa mengetuk pintu dulu," sewot Ajeng yang merasakan malu karena Raka sudah melihat tubuhnya.
"Lain kali kalau mau buka baju, cek dulu pintunya dikunci apa belum. Tapi ngomong-ngomong boleh juga ya punyamu?" kata Raka disusul dengan suara tawa khasnya itu.
"Apa, dasar om-om otak mesum." Ajeng merasa marah dilecehkan.
"Lho, tidak usah malu. Lagipula kamu kan calon istriku. Jangan kasar-kasar ngomongnya."
"Biar pun calon, tapi tentu saja kamu belum sah melihatnya."
"Lho, itu kan tidak disengaja." Raka masih membela diri.
'Tapi tetap saja jangan ngomong dan komentar tentang itu, aku juga yang sudah lihat punya kamu, tidak berkomentar apap...." Ajeng langsung menutup mulutnya karena keceplosan. Raka yang mendengar itu langsung kaget.
'Apa, kapan kau....?" tanya Raka kaget campur tak percaya. Namun dia langsung ingat kejadian kamar mandi waktu dulu.
Ajeng pun menutup mukanya karena malu. Dia ketahuan kalau dulu dia sempat melihat "area" terlarang itu. Raka pun merasakan malu juga. Ternyata Ajeng malah melihat pusakanya terlebih dahulu.
Bersambung....
Tinggalkan cinta dan dukunganmu untuk author dengan like, komen, dan vote
mungkin dengan raka jujur di awal ajeng akan mengerti tidak salah paham begini