Tidak ada manusia yang ingin gagal dalam membina rumah tangga, begitu pun aku. Ku berikan seluruh cinta ku, perasaan ku pada suami ku.
Namun semua yang ia katakan ternyata hanya iming-iming saja, tanpa ada yang menjadi nyata.
Aku hanyalah manusia biasa, dan perlahan cinta ku hilang terkikis habis oleh setiap air mata yang aku keluarkan karena kecewa. Bahkan pintu hati ku pun sudah ku tutup dengan begitu rapi untuk nya.
Lantas bagaimanakah dengan Devan? karena setelah Hanna menyerah dalam mempertahankan rumah tangga nya ia pergi dengan membawa Derren dan janin yang masih ia kandung.
Akankah Devan bahagia dengan kepergian Hanna? Atau Devan justru berubah menjadi gila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanna bukan siapa-siapa bagi Devan
Hanna terus berusaha menenangkan Derren yang tengah menangis, entah mengapa Derren terus menangis tanpa henti hingga akhirnya Hanna juga ikut menangis.
"Hanna kamu kok ikut nangis?" tanya Risa bingung.
Hanna mengusap air matanya, dan melihat Risa yang berdiri tidak jauh darinya, "Aku nggak papa Sa, tapi aku kasihan sama Derren....mungkin ada yang nggak nyaman tapi dia nggak bisa bilang," kata Hanna.
Risa mengangguk dan mengerti dengan perasaan Hanna, seorang ibu yang sempat di pisahkan dengan bayinya sendiri. Bahkan sangat sulit untuk di bayangkan bertapa Hanna begitu bersedih saat di pisahkan dengan anak yang baru di melahirkannya.
Devan yang duduk di sofa mulai mendekati Hanna, ia mencoba mengambil Derren tapi Hanna tidak memberikan nya.
Oeee... Oeee Oeee.
Derren terus menangis.
"Hanna coba kasih sama tuan Dev, mana tahu Derren bisa tenang," kata Risa.
Dengan berat hati Hanna perlahan melepaskan Derren dan kini Derren berada dalam dekapan Devan. Dan benar saja dalam sekejap bayi itu diam seketika, pelukan Devan seakan membuatnya tenang.
Clek.
Pintu terbuka, tiga orang masuk keruang tersebut. Dia adalah Sarah, Agatha Sanjaya dan juga Diana.
"Gimana keadaan Derren?" tanya Sarah, ia kemudian mengambil alih Derren dari pelukan Devan.
"Sudah lebih baik Ma," kata Devan, sambil ia melihat Derren yang berada dalam pelukan Sarah.
Sarah adalah Oma dari Derren, dan ia sangat menyayangi Derren dengan sepenuh hati. Karena Derren adalah anak kandung dari Devan, hingga Sarah memiliki hati begitu besar untuk Derren.
"Cucu Opa," Agatha memegang dahi Derren, dan ia merasa lebih baik. Hingga Sarah dan Agatha membawa Derren duduk di sofa, namun begitu hati-hati karena kaki Derren terpasang selang infus.
"Cucu Oma, baik banget sih?" Sarah mengecup pipi Derren dengan gemas, pipi cabi Derren sungguh sangat lucu sekali.
Mata Agatha melihat Hanna, kemudian ia bertanya, "Kau yang membawa cucu ku ke rumah sakit ini?"
Hanna menggangguk, "I.....iya tuan," kata Hanna dengan suara pelan.
"Em....." Agatha mengangguk, "Tapi aku belum pernah melihat mu sebenarnya..." kata Agatha lagi. Karena sebelumnya memang bukan Hanna pengasuh Derren.
"Dia orang baru Pa, dia juga sekaligus Ibu asi untuk Derren," jawab Diana.
Diana menjawab dengan cepat, karena ia tidak mau kalau Hanna malah salah menjawab. Apa lagi kalau sampai Hanna berani cari perhatian pada mertuanya, itu akan membuat Hanna besar kepala menurut Diana. Hingga ia tidak ingin membuat peluang sedikit pun untuk Hanna.
"Iya," Agatha mengangguk mengerti, "Tapi kelihatannya kamu cukup menyayangi cucu saya ya," kata Agatha lagi, ia dapat merasakan bertapa Hanna begitu tulus pada Derren, "Lucunya kamu lebih perhatian pada Derren," kemudian Agatha menatap Diana yang berdiri di samping Devan, "Dari pada Mamanya," lanjut Agatha.
Deg.
Diana merasa Agatha begitu menyeramkan, bahkan sampai membuat nya jantungan.
"Papa!" Sarah tidak mau nantinya Diana malah disudutkan, hingga ia berusaha melindungi Diana, "Tadi pagi Diana itu tidak enak badan, terus Hanna takut Derren kenapa-kenapa makanya dia bawa Derren ke rumah sakit ini," jelas Sarah.
Agatha menatap Hanna, kemudian menatap Diana, "Iya Mama benar, mana ada ibu yang tidak menyayangi anaknya....tapi dulu Papa ingat waktu Mama sakit dan Devan sakit Mama dengan cepat membawa Devan ke rumah sakit, tanpa perduli keadaan Mama...." kata Agatha lagi.
Diana hanya tersenyum kecut, ia ingin sekali meremas Hanna. Karena ini semua terjadi karena Hanna, 'Dia pikir bisa ngalahin aku,' batin Diana menatap Hanna remeh.
"Diana," Sarah mengalihkan pembicaraan, hingga ia memanggil Diana.
"Iya Ma?" jawab Diana.
"Ambil Derren," Sarah memberikan Derren pada Diana.
"Sayang anak Mama," kata Diana setelah Derren berpindah tangan padanya, namun hal yang tidak di sangka justru terjadi. Derren menangis, dengan begitu kencang.
OEEE OEEE OEEE.
"Sayang, kamu kenapa?" kata Diana sambil menggerak-gerakkan Derren agar bayi itu tenang, "Derren, ada apa?" Diana terus berusaha menenangkan Derren, namun tidak bisa karena Derren terus menangis.
Hanna tidak tega melihat Derren lama-lama menangis, ia mendekati Diana dan meminta Derren di berikan padanya.
"Sayang," Hanna membawa Derren pada ranjang, ia memunggungi semuanya dan memberikan asi pada Derren. Hingga Derren tidak lagi menangis dalam sekejap.
"Aneh sekali ya, Mamanya Diana, tapi pengasuhnya jauh lebih di butuhkan Derren," kata Agatha tersenyum, "Ayo kita pulang Ma," kata Agatha pada Sarah.
"Iya Pa," Sarah tidak ingin membuat keadaan menjadi kacau, ia lebih memilih pergi bersama dengan suaminya, "Devan, Diana, Mama sama Papa pulang duluan ya," pamit Sarah dan ia menyusul Agatha yang sudah keluar.
Diana langsung mendekati Hanna yang sedang menyusui Derren, "Heh....kamu senang kan aku di katakan seperti tadi!" kesal Diana.
"Maaf Nyonya, tapi saya sama sekali tidak mengerti," jawab Hanna dengan suara pelan, sambil ia membaringkan Derren di atas ranjang. Karena Derren sudah kembali tertidur lelap.
"Alah," Diana menarik Hanna untuk menjauh dari Derren, "Enggak usah pura-pura, ingat ya Hanna.....kamu itu nggak sebanding dengan kami, kamu itu cuman orang rendahan! Jadi tidak perlu bermimpi terlalu tinggi!" tegas Diana.
"Iya," Hanna mengangguk, ia merasa tidak ada yang salah dengan orang susah. Tapi kenapa Diana harus menghinanya, tanpa Diana ingatkan pun ia tahu siapa dirinya.
"Bagus kalau kamu tahu!" kata Diana lagi.
"Diana sudahlah, tidak perlu memperpanjang keadaan...." kata Devan, ia tidak ingin tidur Derren terganggu dan kembali menangis.
Diana menatap Devan, "Sayang katakan padanya kalau dia itu tidak ada artinya bagi mu!" pinta Diana, ia benar-benar ingin membuat Hanna mengerti jika tidak ada tempat di hati Devan untuk Hanna. Apa lagi untuk masuk di kelurga Sanjaya.
"Apa itu penting?" tanya Devan.
"Sayang ayolah, cepat katakan agar dia tidak besar kepala karena Papa tadi memujinya!" pinta Diana lagi.
"Iya," jawab Devan.
"Iya apa?" kata Diana yang tidak puas dengan jawaban Devan.
"Dia memang bukan siapa-siapa dan tidak ada artinya sama sekali," jelas Devan dengan baik.
"Kau dengar kan?" Diana tersenyum miring, dan ia merasa bangga, "Kau bukan siapa-siapa! Jadi jangan berbangga diri!"
"Iya Nyonya saya mengerti," Hanna menunduk, walaupun sudah tidak ada lagi cinta di hatinya untuk Devan, tapi rasanya masih begitu menyesakkan dada. Andai saja ia bisa membawa Derren, ia pasti memilih pergi. Sebab Hanna berada di tempat itu hannya karena Derren.
Hanna segera keluar dari ruang itu, ia ingin mencari udara segar. Untuk menenangkan sedikit perasaannya, sambil ia menuju Mushola dan sholat asar.