Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Aris dan ibunya
Begitu pintu depan menutup dan suara mobil Pak Baskoro menghilang di ujung jalan, rumah yang tadi dipenuhi aroma bunga mawar dan kue mahal tiba-tiba menjadi sunyi—sunyi yang mencekam, seperti sebelum badai mengamuk.
Aris berdiri di tengah ruang tamu, wajahnya memerah seperti batu bara yang siap meledak. Napasnya memburu, tangannya mengepal kuat, urat-urat di lehernya menonjol seperti akar pohon yang mau copot dari tanah. Ia menatap meja tempat Kirana meletakkan map cokelat itu,sekarang terbuka, memperlihatkan surat cerai dan salinan foto bukti—seperti menatap mayat yang menolak dikubur.
“Dasar… dasar… PEREMPUAN NERAKA!” Aris akhirnya meledak. Ia menendang meja kecil di samping sofa hingga terguling, vas bunga mahal yang tadi dipamerkan sebagai simbol “kelas” jatuh berantakan, serpihan kaca berserakan di lantai marmer.
Bu Widya, yang sejak tadi duduk mematung di sofa, kini berdiri sambil menjerit histeris. “Dasar perempuan tidak tahu diri ! Dia berani?! Dia beraninya sama kita?! Aris! Tangkap dia! Kejar! Jangan biarkan dia kabur bawa nama keluarga kita!”
“Nama keluarga kita?!” Aris menjerit balik, menatap ibunya dengan mata menyala. “Dia baru saja menghancurkan karierku, Bu! Proyek itu nilainya miliaran! Dan sekarang pak Baskoro pergi! Karena… karena… KARENA ISTRIKU YANG NGGAK TAHU DIRI ITU!”
Bu Widya menggigit bibirnya, wajahnya yang biasanya angkuh kini berkerut oleh amarah dan ketakutan. “Aku sudah bilang, Ris! Dari awal aku bilang, jangan nikahi perempuan desa! Mereka itu bodoh, keras kepala, dan nggak tahu tempat! Tapi kamu nggak dengar! Katanya kasihan… katanya mau kasih dia kesempatan… Lihat sekarang! Dia balas kasihanmu dengan penghinaan!”
Aris berjalan mondar-mandir seperti singa yang dikurung. “Dia gila! Dia pikir dia siapa? Istri sah? HA! Aku nikah sama dia cuma biar Ibu berhenti nangis minta cucu! Aku kira dia bakal nurut terus! Diam kayak tikus! Tapi sekarang dia berani naik panggung di depan tamuku?!”
Ia berhenti, lalu menatap piring-piring kue yang masih utuh di meja. Dengan gerakan kasar, ia menyapu semuanya ke lantai. “SEMUA RUSAK KARENA DIA! SEMUA!”
Bu Widya menghampiri anaknya, suaranya bergetar: “Aris, ini bukan cuma soal proyek. Ini soal reputasi. Tetangga pasti dengar. Media sosial pasti heboh. Kamu tahu kan, kalau Baskoro itu dekat sama wartawan? Besok-besok berita ‘pengusaha muda terlibat skandal dengan istri sah yang diabaikan’ bakal viral!”
Aris terdiam. Wajahnya berubah dari marah menjadi pucat ketakutan. Ia tidak takut pada Kirana—ia takut pada penilaian dunia. Takut kehilangan topengnya.
“Kita harus tutup mulut dia,” desis Aris pelan, matanya menyipit penuh rencana kotor. “Kita bikin dia jadi gila. Kita sebarkan kabar kalau dia stres, depresi, nggak waras. Biar semua orang percaya dia bohong.”
Bu Widya mengangguk cepat. “Ya! Aku akan panggil wartawan lokal. Aku akan bilang dia kabur bawa uang simpananku! Aku akan katakan dia selingkuh duluan! Kita bangun narasi bahwa KITA yang jadi korban!”
Tapi sebelum mereka sempat merancang lebih jauh, Aris tiba-tiba teringat sesuatu. Ia berlari ke kamar tidur utama, membongkar laci meja rias, menggeledah lemari, bahkan mengangkat kasur.
“Apa yang kamu cari?!” teriak Bu Widya.
“Dompetku! Uang tunai lima juta! Tadi masih ada!”
Ia mengacak-acak seluruh kamar, lalu menemukan dompetnya di bawah bantal—tapi uangnya hilang. Hanya tersisa dua lembar seratus ribu.
“DIA CURI UANGKU!” Aris mengaum seperti binatang terluka. “Dia berani ambil uangku sebelum pergi!”
Bu Widya segera mengambil ponselnya. “Aku akan laporkan dia ke polisi! Pencurian! Penipuan! Kami akan hancurkan hidupnya sampai dia minta ampun!”
Namun, Aris berhenti. Ia menatap ponsel ibunya, lalu tertawa—tapi tawa itu pahit, hampa. “Tunggu… kalau kita laporkan… dia akan bongkar semua ke polisi. Foto di kafe. Bukti transfer ke selingkuhannya. Rekaman suara waktu aku marahin dia… Dia pasti sudah simpan semuanya.”
Bu Widya membeku. “Jadi… artinya kita nggak bisa apa-apa?”
Aris jatuh duduk di lantai, kepalanya menunduk. “Dia menang, Bu…” gumamnya pelan, suaranya pecah. “Dia menang… karena dia nggak takut kehilangan apa-apa. Tapi aku… aku takut kehilangan SEMUANYA.”
Bu Widya tidak terima. Ia berdiri tegak, wajahnya kembali galak. “Tidak! Kita tidak kalah! Kita masih punya kekuasaan! Kita akan bikin dia nggak bisa hidup di kota ini! Aku akan sebar ke tetangga, ke warung, ke pasar—bahwa Kirana itu pelacur yang kabur bawa uang suami! Aku akan bikin orang-orang menolak menyewa rumah ke dia! Aku akan pastikan Gio nggak bisa masuk sekolah di sini!”
Aris mengangkat wajahnya. Matanya kini penuh kebencian yang dingin. “Kalau dia kembali ke desa… biar saja. Tapi jangan pernah… jangan pernah berani muncul lagi di hadapanku.”
Bu Widya menghela napas lega. “Bagus. Sekarang, kita rapikan rumah ini. Buang semua yang berbau dia. Baju-bajunya, mainan Gio, bahkan foto-fotonya. Aku nggak mau ada sisa ‘kotoran’ itu di rumah kita!”
Mereka mulai membersihkan ruang tamu—bukan dengan sapu, tapi dengan amarah. Vas bunga diinjak, taplak meja disobek, bunga-bunga segar dilempar ke selokan.
Tapi di tengah kebencian itu, ada rasa takut yang tak bisa mereka sembunyikan.
Karena untuk pertama kalinya, mereka tahu: Kirana bukan lagi perempuan yang bisa diinjak.
Ia baru saja menunjukkan bahwa kehinaan yang mereka berikan selama ini justru menjadi bahan bakar baginya untuk bangkit.
Dan yang paling menyakitkan bagi Aris bukan kehilangan proyek, bukan malu di depan tamu—tapi menyadari bahwa selama ini, dialah yang sebenarnya lemah.
Ia membutuhkan topeng. Ia takut pada kejujuran. Ia takut pada istri yang akhirnya berani bicara.
Bu Widya, sementara itu, duduk di kursi makan, menatap meja kosong tempat tadi ayam goreng mentega disajikan. Ia mengingat wajah Kirana yang diam, yang menunduk, yang selalu mengiyakan.
“Kenapa… kenapa dia tiba-tiba berubah?” bisiknya.
Aris tidak menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela, ke jalan tempat Kirana berjalan pergi bersama Gio.
Angin berhembus pelan. Daun-daun berguguran.
Dan di hati Aris, ada suara kecil yang berbisik: ("Aku kehilangan sesuatu yang tak bisa kugantikan.)"
Tapi ia mengubur suara itu dalam amarah. Karena mengakui kesalahan berarti mengakui kelemahan.
Dan seorang Aris tidak boleh lemah.
Namun, di balik kemarahan dan hinaan yang mereka lempar satu sama lain sepanjang sore itu—tentang betapa bodoh, jahat, dan tidak tahu dirinya Kirana—ada satu hal yang tak bisa mereka hapus:
(Dia pergi dengan kepala tegak.)
Dan mereka… tetap tinggal dalam rumah yang megah, tapi kosong.
Kosong dari cinta.
Kosong dari harga diri.
Kosong dari kebenaran.
Dan itu, jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan uang.
Namun yang Aris dan ibunya tidak ketahui ,kalau Kirana belum pergi dari rumah itu sepenuhnya ,dia hanya keluar untuk menenangkan diri sementara ,dan membeli susu untuk Gio ,serta perlengkapan lain untuk gio ,dan kalau kirana angkat kaki dari rumah Aris dan ibunya ,dia punya stock untuk kebutuhan Gio ,sehingga dia tidak merasa khawatir gio bakalan kelaparan .