"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Adrian Mulai Menghafal Jadwal Sekolah Lala
Baru saja ia hendak mematikan mesin mobil di depan hotel, sebuah panggilan video masuk dari telepon genggam Lala yang menunjukkan wajah ayahnya dengan latar belakang parkiran rumah sakit. Adrian tersentak hingga tangannya secara tidak sengaja menyenggol klakson mobil yang berbunyi sangat nyaring di kesunyian malam. Ia menatap layar yang menyala itu dengan perasaan seperti seorang terdakwa yang tertangkap basah sedang menyembunyikan barang bukti kejahatan.
"Matikan suaranya, Lala, atau ayahmu akan melacak lokasi kita melalui gelombang suara ini!" bisik Adrian dengan wajah yang sangat tegang.
"Tenang Dokter, aku akan berpura-pura sedang berada di rumah teman untuk mengerjakan tugas kelompok yang sangat membosankan," sahut Lala sambil dengan santai menggeser tombol hijau pada layarnya.
Adrian segera menarik napas sedalam-dalamnya dan berusaha memasang ekspresi wajah paling netral yang pernah ia miliki sebagai seorang profesional medis. Ia bersembunyi di balik sandaran kursi pengemudi agar tidak tertangkap oleh lensa kamera yang sedang dipegang oleh Lala dengan tangan gemetar. Keringat dingin mulai mengalir dari pelipis Adrian saat mendengar suara berat sang polisi yang terdengar sangat menggelegar melalui pelantang suara.
"Lala, kenapa latar belakang kamu sangat gelap dan kenapa Ayah mendengar suara klakson mobil yang sangat keras?" tanya polisi itu dengan nada penuh kecurigaan.
"Ini karena lampu di rumah temanku sedang mati, Ayah, dan klakson itu berasal dari tukang bakul tahu bulat yang sedang lewat," jawab Lala dengan akting yang sangat meyakinkan.
Adrian memutar bola matanya karena merasa alasan Lala sangat tidak masuk akal sehat bagi seorang polisi yang sudah terbiasa menangani kasus penipuan. Pria itu menyadari bahwa ia tidak bisa terus bersembunyi seperti ini sementara integritasnya sebagai dokter sedang berada di ujung tanduk. Ia mulai menyusun rencana cadangan dengan cara menghafal setiap jadwal kegiatan Lala agar kejadian memalukan seperti ini tidak terulang kembali di masa depan.
"Ayah akan menjemput kamu sekarang juga, berikan alamat rumah teman kamu itu secara lengkap!" perintah polisi itu dengan suara yang tidak bisa dibantah.
"Sinyal di sini sangat buruk Ayah, aku akan pulang sendiri naik kendaraan umum sepuluh menit lagi, janji!" seru Lala lalu segera memutuskan sambungan video tersebut.
Lala mengembuskan napas lega dan langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil dengan senyum kemenangan yang sangat lebar. Adrian justru merasa sebaliknya, ia merasa dunianya kini sedang dikepung oleh kekacauan yang diciptakan oleh logika alay milik gadis sekolah menengah atas tersebut. Ia mengambil buku catatan kecil dari saku jasnya dan mulai menuliskan sesuatu dengan sangat serius di bawah lampu kabin mobil.
"Pukul tujuh pagi masuk kelas, pukul dua siang pulang sekolah, dan pukul empat sore dilarang keras berada di sekitar rumah sakit," gumam Adrian sambil mencatat jadwal Lala.
"Dokter sedang menulis surat cinta untukku atau sedang menghafal jadwal kencan rahasia kita?" goda Lala sambil mencoba mengintip catatan tersebut.
Adrian segera menutup bukunya dan menatap Lala dengan tatapan yang sangat tajam seolah sedang melakukan pemeriksaan laboratorium yang sangat teliti. Ia harus memastikan bahwa mulai besok, ia tahu persis di mana posisi Lala berada agar ia bisa menghindar sejauh-jauhnya. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, Adrian tahu bahwa menghafal jadwal itu adalah cara terselubung untuk memastikan keselamatan sang gadis kompor.
"Ini adalah jadwal karantina mandiri untuk kamu, jika kamu melanggar satu detik saja, saya akan melaporkan kamu sendiri ke kantor polisi!" ancam Adrian.
"Dokter sangat perhatian sampai-sampai jadwal upacara bendera dan jam istirahatku pun dicatat dengan sangat detail," sahut Lala dengan nada manja yang membuat Adrian merinding.
Adrian mengalihkan pandangannya ke arah jalanan yang mulai sepi sambil merenungkan bagaimana hidupnya berubah drastis dalam waktu singkat. Seorang dokter bedah yang biasanya hanya berkutat dengan pisau bedah dan literatur medis, kini harus menjadi pengintai jadwal sekolah seorang remaja. Ia merasa benturan dua dunia ini mulai mengikis sisi kaku dari kepribadiannya secara perlahan-lahan tanpa ia sadari sepenuhnya.
"Turun sekarang, kerabat saya sudah menunggu di lobi hotel untuk mengantar kamu ke kamar yang paling aman," perintah Adrian setelah melihat seorang wanita paruh baya melambaikan tangan.
"Terima kasih Dokter Sayang, jangan lupa mimpikan aku dalam tidur malam Dokter yang dingin itu," ucap Lala sambil melompat keluar dari mobil dengan riang.
Adrian hanya bisa diam terpaku sambil melihat punggung Lala yang menghilang di balik pintu kaca hotel yang sangat megah. Ia menghidupkan mesin mobilnya dan berkendara pulang dengan pikiran yang masih dipenuhi oleh angka-angka jam sekolah dan lokasi tempat bimbingan belajar Lala. Tanpa ia sadari, ia mulai bersenandung kecil mengikuti irama lagu populer yang sering diputar oleh Lala di telepon genggamnya saat mereka sedang berdebat.
"Apa yang baru saja saya lakukan? Saya benar-benar sudah tertular virus kegilaan anak itu," keluh Adrian sambil memukul kemudi mobilnya dengan pelan.
Keesokan harinya, Adrian tiba di rumah sakit lebih awal dari biasanya dan langsung memeriksa kalender meja kerjanya dengan sangat teliti. Ia menandai jam-jam krusial di mana Lala kemungkinan besar akan muncul kembali dengan aksi ugal-ugalan yang baru. Namun, saat ia sedang asyik menandai kalender, pintu ruangannya terbuka dan memunculkan sosok pria muda yang memakai seragam olahraga sekolah yang sangat familiar.
Pria muda itu adalah kapten tim bola basket sekolah Lala yang datang membawa kotak makan siang dan bertanya dengan nada menantang apakah Dokter Adrian adalah pacar baru dari gadis yang ia sukai.