NovelToon NovelToon
Ning Abigail

Ning Abigail

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:11
Nilai: 5
Nama Author: blue_era

Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kudus, Ziarah, dan Pertemuan dengan Gus Deren

[Keesokan paginya, Bijel melakukan perjalanan menuju Kudus, Jawa Tengah. Di sana, ia berharap bisa menenangkan diri dan mencari petunjuk jawaban dari semua masalahnya. Sesampainya di Kudus, ia berziarah. Setelah selesai berziarah, ia berfoto-foto sebentar di Menara Kudus sambil menenangkan diri di sana.]

(Di Menara Kudus)

[Bijel berdiri di dekat Menara Kudus, memandang sekeliling dengan tatapan kosong. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, membawa serta aroma dupa dan bunga dari makam-makam di sekitarnya. Ia mencoba untuk merenungkan semua yang terjadi dalam hidupnya, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menghantuinya.]

[2 jam lamanya ia merenungkan semua masalahnya di Kudus mencari jawaban, lalu bijel ketemu Gus deren (kakak sepupunya ( cucu dr saudara dari Abah yai Hamdan) kakak dr Gus Faiq sepupunya). gus deren sudah tau semuanya, ia sudah diberitahu Faiq, setelah bertemu bijel, ia mengajak bijel pulang ke rumahnya. bijel beristirahat sebentar di rumah Gus deren (kakak sepupunya). Gus deren chat Faiq adiknya, ia memberi tahu kalau bijel ada di rumahnya dan sekarang sedang istirahat.]

[Setelah dua jam lamanya merenungkan semua masalahnya di Kudus, mencari jawaban, Bijel bertemu dengan Gus Deren (kakak sepupunya, cucu dari saudara Abah Yai Hamdan, dan kakak dari Gus Faiq). Gus Deren sudah mengetahui semuanya karena sudah diberitahu oleh Faiq. Setelah bertemu Bijel, ia mengajak Bijel pulang ke rumahnya. Bijel beristirahat sebentar di rumah Gus Deren. Gus Deren mengirim pesan kepada Faiq, adiknya, memberitahu bahwa Bijel ada di rumahnya dan sedang beristirahat.]

(Di Rumah Gus Deren)

Gus Deren: (dengan nada lembut) "Bijel, kamu pasti lelah. Istirahatlah dulu. Jangan pikirkan apapun."

Bijel: (dengan nada lemas) "Terima kasih, Gus."

Gus Deren: "Faiq sudah cerita semuanya. Kamu jangan khawatir, kami semua ada di sini untukmu."

(Gus Deren mengirim pesan kepada Faiq melalui WA)

Gus Deren: "Faiq, Bijel ada di rumahku. Dia sedang istirahat."

Gus Faiq: "Alhamdulillah, Gus. Terima kasih sudah menjaganya. Kabari aku kalau ada apa-apa."

[Setelah tiga jam lamanya Bijel beristirahat di rumah Gus Deren, akhirnya ia pamit untuk pulang ke Malang. Setelah Bijel berangkat, Gus Deren mengirim pesan kepada Faiq bahwa Bijel sudah dalam perjalanan menuju Malang, dan baru saja berangkat.]

(Di Rumah Gus Deren)

Bijel: (dengan nada lebih tenang) "Gus, terima kasih banyak sudah menampung saya. Saya sudah merasa lebih baik. Saya harus segera kembali ke Malang."

Gus Deren: "Kamu yakin sudah siap? Jangan memaksakan diri kalau kamu masih belum siap."

Bijel: "Saya harus menghadapi semuanya, Gus. Saya tidak bisa terus lari dari masalah."

Gus Deren: "Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan. Jangan lupa istirahat kalau kamu merasa lelah."

Bijel: "Iya, Gus. Terima kasih banyak."

(Gus Deren mengirim pesan kepada Faiq melalui WA)

Gus Deren: "Faiq, Bijel sudah berangkat ke Malang. Baru saja berangkat."

Gus Faiq: "Baik, Gus. Terima kasih banyak sudah menjaganya. Aku akan memberitahu yang lain."

[Bijel kembali ke Malang dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Pertemuannya dengan Gus Deren dan ziarahnya di Kudus telah memberikan sedikit kedamaian dalam hatinya. Ia tahu bahwa perjalanan yang ia hadapi masih panjang, namun ia bertekad untuk menghadapinya dengan tegar dan kuat.]

(Bijel berbicara sendiri di dalam mobil)

Bijel: "Kudus... Malang... Apa yang sebenarnya aku cari? Kenapa semua ini harus terjadi padaku?"

(Bijel berhenti di sebuah warung kopi di pinggir jalan)

Ibu Warung: "Mbak, mau pesan apa?"

Bijel: (dengan nada lelah) "Kopi hitam satu, Bu. Terima kasih."

Ibu Warung: "Mbaknya dari mana ini? Jauh amat kelihatannya."

Bijel: "Dari Kudus, Bu. Mau pulang ke Malang."

Ibu Warung: "Wah, jauh sekali. Hati-hati ya, Mbak. Istirahat yang cukup biar selamat sampai tujuan."

Bijel: "Iya, Bu. Terima kasih."

(Setelah minum kopi, Bijel melanjutkan perjalanan. Ia menerima telepon dari Gus Faiq)

Gus Faiq: (melalui telepon) "Bijel, kamu sudah sampai mana?"

Bijel: "Masih di jalan, Mas. Sebentar lagi sampai Malang."

Gus Faiq: "Hati-hati ya. Jangan ngebut. Kalau capek, istirahat dulu."

Bijel: "Iya, Mas. Terima kasih sudah khawatir."

Gus Faiq: "Kami semua di sini mendoakanmu. Semoga kamu selamat sampai tujuan."

Bijel: "Iya, Mas. Assalamualaikum."

Gus Faiq: "Waalaikumsalam."

[Bijel melanjutkan perjalanannya dengan hati yang sedikit lebih ringan. Ia merasa sedikit lebih tenang karena tahu ada orang-orang yang menyayanginya dan menunggunya di rumah.]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!