NovelToon NovelToon
Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

​“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”

Maizara​ merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.

​Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 : Peta Strategi Menuju Seoul

Pagi di Jakarta menyambutku dengan ritme kerja yang begitu cepat dan penuh gairah profesional. Sudah tiga hari aku menetap di rumah orang tua Dimas dan bergabung secara resmi di kantor pusat Arjowibowo Group. Hari ini adalah hari besar pembukaan rapat pleno strategi pemasaran untuk lini produk terbaru kami. K-Sambal Fusion, yaitu saus olahan yang memadukan keotentikan pedas rempah Nusantara dengan cita rasa saus fermented gochujang khas Korea.

Di dalam ruang rapat eksekutif berlantai marmer dengan papan tulis kaca raksasa dan layar proyektor interaktif, Tim Garuda sudah berkumpul lengkap. Ada Sonya selaku kepala tim, Juno sebagai asisten, dan Rudi di bagian konsep visual. Di ujung meja mahoni, Dimas duduk dengan kemeja putih tergulung hingga siku, berdampingan dengan Vino yang memegang tablet analisis data.

Sebagai pemimpin tim kreatif pemasaran yang dikirim langsung dari agensi Jogja, aku berdiri di depan layar proyektor dengan penunjuk laser di tangan.

"Terima kasih semuanya," buka suara utamaku dengan nada mantap, meninggalkan sejenak keraguan pribadi di luar ruangan ini. "Hari ini aku ingin memaparkan draf komprehensif mengenai strategi pemasaran K-Sambal Fusion sebelum kita secara resmi meluncurkan riset pasar dan ekspansi ke Seoul."

Dimas menatapku lurus. Pendar rasa bangga dan fokus tajam terpancar dari mata hitam pekatnya, memberiku dorongan energi yang luar biasa.

"Silakan, Mei. Kita ingin mendengar pendekatan kreatif yang membedakan produk ini dari kompetitor impor di luar sana," potong Dimas tenang, suaranya sarat wibawa seorang CEO.

Aku menekan tombol pada remot penunjuk laser, menampilkan papan konsep (moodboard) visual di layar utama.

"Produk saus kita ini unik," jelasku seraya menunjuk grafik komposisi bahan. "Komposisi resminya menggabungkan teknik fermentasi gochujang Korea dengan ekstraksi cabai rawit merah dan terasi bakar otentik khas Indonesia. Tantangan terbesar kita di pasar lokal maupun pasar Seoul nanti adalah persepsi rasa. Banyak konsumen menganggap saus impor terlalu manis, sementara saus lokal terlalu menyengat."

Sonya menegakkan posisi duduknya, membuka buku catatannya. "Lalu pendekatan visual dan branding seperti apa yang kita pakai, Mbak Mei?"

"Pendekatan kita adalah Cultural Crossover Persilangan Budaya yang Elegan," jawabku penuh keyakinan. "Kita tidak menjual sekadar saus kemasan botol. Kita menjual lifestyle dan petualangan rasa. Untuk pasar media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube Shorts, kita akan meluncurkan kampanye berantai dengan tagar utama #RasaDuaDunia."

Rudi, yang bertanggung jawab atas desain visual, memiringkan kepalanya tertarik. "Bisa diperjelas konsep konten videonya, Mbak?"

"Tentu, Rudi," balasku cepat. "Kita akan membuat seri video pendek bergaya sinematik food photography. Seri pertama menceritakan koki muda di Seoul yang bereksperimen mencampur saus kita ke atas tteokbokki dan chimaek (ayam goreng Korea), sementara seri kedua menampilkan kuliner jalanan Jakarta seperti martabak telur dan bakso yang dicocol dengan saus yang sama. Fokusnya ada pada tekstur saus yang kental, kilatan warna merah alami, dan efek renyah saat gigitan pertama."

Vino bersiul pelan, mengangguk-angguk setuju. "Menarik. Secara visual itu sangat menjual di TikTok dan Instagram Reels. Bagaimana dengan strategi iklan berbayar dan influencer marketing-nya?"

"Untuk strategi iklan digital (digital ads)," lanjutku sambil menggeser salinan data demografi di layar, "kita membagi target audiens menjadi dua segmen utama. Segmen A adalah Gen Z dan Milenial pencinta K-Pop serta K-Drama rentang usia 18 sampai 28 tahun. Untuk segmen ini, kita gunakan platform TikTok Ads dan kerja sama dengan food vlogger ternama yang rutin mengulas makanan Korea."

Aku menarik napas sejenak, melirik ke arah Dimas yang sedang tekun mencatat di tabletnya.

"Sementara Segmen B," lanjutku, "adalah para ibu muda dan pencinta kuliner praktis rentang usia 29 sampai 42 tahun. Untuk segmen ini, kita optimalkan Meta Ads (Facebook dan Instagram) serta Google Performance Max dengan penekanan pada kemudahan memasak di rumah. Kita akan membagikan resep digital gratis berupa e-booklet '10 Menit Masak Enak ala Korea-Nusantara' setiap kali mereka membeli dua botol saus di toko resmi e-commerce kita."

Juno, yang bertugas menghitung estimasi anggaran dan lalu lintas digital, langsung mengetik cepat di laptopnya.

"Mbak Mei, kalau kita jalankan konversi iklan dengan retargeting otomatis di TikTok dan Shopee Live, estimasi click-through rate (CTR) kita bisa naik hingga tiga belas persen di bulan pertama!" seru Juno bersemangat.

"Betul, Juno," timpalku. "Dan yang paling krusial adalah keterlibatan brand ambassador. Aku menyarankan kita tidak langsung memakai artis papan atas yang biayanya melambung tinggi. Kita gunakan strategi micro-influencer seeding. Kita kirimkan kemasan khusus K-Sambal Fusion berbentuk kotak peti kayu elegan kepada lima puluh micro-foodie di Indonesia dan lima belas food creator di Seoul."

"Tunggu, Mei," sela Dimas. Suara beratnya seketika membuat seluruh isi ruangan hening. Pria jangkung itu menyandarkan punggung di kursinya, menatapku dengan pandangan kritis yang tajam. "Bagaimana kamu memastikan lima belas food creator di Seoul itu mau mengulas produk kita secara tulus tanpa terkesan seperti iklan buatan?"

Aku tersenyum tipis, sudah mengantisipasi pertanyaan mendalam dari sang CEO.

"Itulah alasan kenapa riset lapangan secara langsung ke Seoul menjadi sangat penting, Mas Dimas," jawabku tegas, menatap matanya tanpa rasa gentar. "Kita tidak bisa hanya mengandalkan data sekunder atau agensi perantara di Korea. Karakter konsumen kuliner di Seoul sangat dinamis dan sensitif terhadap keaslian rasa."

Vino menepuk mejanya pelan, matanya berbinar gembira. "Nah! Ini dia poin yang dari kemarin aku mau usulkan ke kamu, Dim!"

Dimas memiringkan kepalanya sedikit, menatap Vino lalu kembali menatapku. "Lanjutkan, Mei. Apa wacana riset lapangan yang kamu rencanakan di Seoul nanti?"

Aku menekan remot penunjuk laser lagi, menampilkan peta wilayah Gangnam, Hongdae, dan Myeongdong di Seoul.

"Rencananya, aku bersama Tim Garuda didampingi Mas Vino dan Mas Dimas akan melakukan field research atau riset lapangan langsung ke Seoul selama dua minggu," paparku terstruktur. "Agenda utama kita ada tiga pilar. Pertama, riset kompetitor langsung di supermarket besar seperti Lotte Mart dan Emart untuk melihat penempatan produk serta harga pasaran."

"Pilar kedua?" tanya Dimas, mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Pilar kedua adalah uji rasa pasar (Focus Group Discussion) dengan mengundang warga lokal Seoul dari berbagai kalangan di sebuah kafe tersewa di daerah Hongdae. Kita akan menguji tingkat toleransi pedas mereka terhadap formulasi rempah Nusantara kita," lanjutku. "Dan pilar ketiga adalah bertemu secara tatap muka dengan perwakilan agensi kreatif lokal di Seoul untuk mengamankan kerja sama dengan lima belas food creator yang tadi aku sebutkan."

Sonya tampak sangat antusias mendengar pemaparan itu. "Wah, kalau kita turun langsung ke Myeongdong dan Hongdae, kita bisa sekalian ambil stok video dokumenter asli untuk bahan promosi resmi saat grand launching nanti!"

"Tepat sekali, Mbak Sonya," jawabku mengangguk setuju. "Konten yang diambil langsung dari jalanan kota Seoul akan memberikan nilai keandalan (authenticity) yang sangat tinggi di mata konsumen Indonesia."

Ruang rapat mendadak hening selama beberapa saat. Semua mata kini tertuju pada Dimas Arjowibowo, menunggu keputusan final dari pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan ini.

Dimas meletakkan penanya di atas meja. Pria berambut gondrong itu berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja rapat, lalu berhenti di sebelah layar proyektor tepat di samping tempatku berdiri.

Aroma parfum woody-citrus miliknya yang khas menyerbu indra penciumanku. Pria itu menatap slide presentasi di layar, lalu memutar tubuhnya menatap seluruh anggota Tim Garuda.

"Presentasi yang sangat matang, terstruktur, dan berani," puji Dimas dengan nada suara rendah penuh kepuasan. "Saya terkesan dengan pemetaan media sosial dan efisiensi anggaran yang diajukan oleh Mei."

Sonya, Juno, dan Rudi seketika menghela napas lega, diiringi senyuman lebar di wajah mereka.

"Jadi, wacana riset ke Seoul diizinkan, Pak Bos?" goda Vino sambil terkekeh santai.

Dimas melirik sahabatnya itu, lalu menatapku dengan pendar hangat yang tersembunyi di balik raut wajah profesionalnya.

"Bukan cuma diizinkan, Vin," tegas Dimas. "Tolong atur jadwal penerbangan dan penginapan untuk Tim Garuda, kamu, dan saya ke Seoul untuk bulan depan. Kita pastikan riset lapangan ini berjalan sempurna."

"Siap, Bos!" sahut Juno dan Rudi serentak penuh semangat.

"Baiklah, rapat pleno hari ini selesai. Masing-masing divisi bisa mulai mengeksekusi draf konten media sosial dan persiapan sampel produk untuk pengujian laboratorium sore ini," pimpin Dimas menutup diskusi.

Tim Garuda mulai merapikan berkas dan laptop mereka, lalu berpamitan keluar dari ruang rapat satu per satu dengan wajah berbinar puas. Vino sempat memberikan jempol padaku sebelum melangkah keluar, menyisakan aku dan Dimas berdua di dalam ruangan berpendingin udara yang luas itu.

Aku menghela napas panjang, mematikan layar proyektor, dan merapikan kertas-kertas kerja di atas meja. Rasa lega yang luar biasa membuncah di dalam dadaku. Perjuangan dan kerja kerasku menyusun draf strategi ini hingga larut malam terbayar tuntas.

Sebuah langkah kaki pelan mendekatiku dari belakang.

Sebelum aku sempat memutar tubuhku, dua lengan tegap berbalut kemeja putih bergulung melingkar dengan sangat lembut di pinggangku dari belakang. Dimas menyandarkan dagunya di bahuku, menghirup aroma wangi rambutku yang terurai.

"Mas Dimas..." bisikku kaget, refleks memegangi lengannya yang mendekapku erat. "Ini masih di ruang rapat kantor, lho."

Dimas terkekeh rendah suara tawa yang sangat halus dan hangat di dekat telingaku.

"Ruang rapat ini sudah kosong, calon istriku," bisik Dimas manja, sebuah sisi langka dari sang CEO yang hanya diperlihatkan padaku.

"Kamu hebat sekali tadi. Cara kamu memaparkan strategi media sosial dan rencana riset ke Seoul benar-benar membuat saya bangga."

Pipiku seketika membakar hebat mendapat pujian tulus itu. Aku memutar tubuhku di dalam dekapannya, menghadap lurus pada wajah tampannya yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahku.

"Aku cuma berusaha profesional, Mas," balasku malu-malu, jemariku merapikan tatanan kemejanya di bagian dada. "Aku ingin membuktikan bahwa aku berada di sini karena kemampuanku, bukan cuma karena status perjodohan kita."

Dimas menatap mata beningku dalam-dalam, lalu jemari tangannya yang hangat terangkat mengelus pelan pipiku.

"Kemampuanmu tidak pernah saya ragukan sejak hari pertama kita bertemu di coffee shop itu, Mei," tutur Dimas lembut, suaranya sarat akan rasa kagum. "Kamu cerdas, tegas, dan punya visi yang luar biasa. Perusahaan saya sangat beruntung memiliki staf ahli sepertimu... dan saya jauh lebih beruntung karena sebentar lagi kamu akan jadi pendamping hidup saya."

Desiran manis menjalar ke seluruh aliran darahku mendengar perkataan tulusnya. Tidak ada lagi keraguan atau bayangan kecanggungan di antara kami.

"Jadi..." bisik Dimas dengan senyuman miringnya yang tampan, menundukkan kepalanya sedikit mendekati wajahku, "...siap untuk menjelajahi kota Seoul dan membesarkan bisnis kita bersama-sama?"

Aku menatap tepat ke dalam manik mata hitam milik calon suamiku ini. Senyuman paling manis dan mantap terkembang di bibirku.

"Sangat siap, Mas Dimas," jawabku mantap.

Dimas tersenyum hangat, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut yang penuh rasa hormat dan kasih sayang tepat di keningku. Di dalam ruang rapat Arjowibowo Group hari ini, fondasi profesionalisme dan benih-benih cinta yang tulus makin mengakar kuat, siap membawa kami terbang melintasi batas negara menuju masa depan yang cerah bersama.

1
Mia Camelia
lanjut thor😁
Adira🍓
Sedang menyalakan kembang api Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Belum apa^ mo jadi benalu si Kar ini 🤮🤮🤮
Adira🍓
Kartika bukan mantannya Dimas kan 🤔
NinLugas: mantan ena2😄
total 1 replies
Adira🍓
Tapi x ini aq tak setuju dengan keputusan kau Dim 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Pelajaran apa Romo??? menggugurkan janin???🤪🤪 nambah dosa iy 🤣🤣🤣
Adira🍓
Tapi janin itu tak punya dosa apa^ 😔 apa salahnya lahirkan sja nanti biar Mei dan keluarganya yg besarkan... dan Alya bisa fokus dengan masa depannya lagi 🤪🤪🤪
NinLugas: kita lihat aja nnti kk
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 adam lugu dpet alya pemain🤣 s kayaknya sering gugurin bayi si alya ini😒
NinLugas: hmm by pertama kak 😄✌️
total 1 replies
Adira🍓
Bisa y Adam yg diperkosa Alya yg hamil 🤣🤣🤣🤣🤣 cek dulu Dam, x aja itu bukan anakmu,,, Alya kan dah lihai, psti dah sering celap-celup 🤪🤪
NinLugas: 🤭🤭🤭 kasihan Adam
total 1 replies
Adira🍓
Es batunya udah meleleh Mi,,, udah dikasih jatah soalnya 🤣🤣🤣🤣
NinLugas: 😄😄😄😄 hahah ssttt
total 3 replies
Adira🍓
Sekarang kapanpun dimanapun bisa cap cip cup y Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Tumben bab ini agak rancu Thor tulisannya,,,, bagian atasnya banyak yg disekat^ gtu...
NinLugas: iy eh lupa KLO dari word bnyak Sekat KLO SDH d publish dsni
total 1 replies
Adira🍓
Masih formal aja si Dimas 😜
Adira🍓
Jebollah keperawanan anak orang 🤣🤣 btw sudah berapa wanita yang Dimas jebol perawannya 🤔
NinLugas: 😄😄😄 rahasia
total 1 replies
Adira🍓
Pada akhirnya Dimas yg pegang kendali 🤪🤪
falea sezi
😒kecewa ternyataa dimas cm ngincar perawan🤣🤣🤣 pasti abis ne di tinggalin🤭
NinLugas: hmm...gmn ya 😄✌️✌️
total 1 replies
falea sezi
tunangan uda minta ngeweee... 🤣🤣 yg bner ada dimass elu uda sering nyelup pcr pcr elu jd ketagihan lah si calon istri mu ini perawan darah keraton perawan itu barang di jaga sakral😓
NinLugas: ✌️✌️✌️ sabar2 kak🤭
total 1 replies
falea sezi
curiga pasti alya wanita jalang
NinLugas: bisa jadi kak🤣
total 1 replies
falea sezi
dimas melepas perjaka ma mbk psk apa pacar ya🤭
NinLugas: nnti ketahuan wkwk
total 1 replies
falea sezi
ya gk perjaka denggg🤣 nasib Mei dpet bekas
NinLugas: apes dia wkwk 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!