Diusir ke jalanan di tengah badai hujan bersama sepasang anak kembarnya yang menangis kelaparan, hidup Jiang Muchen hancur berkeping-keping saat istrinya memilih pergi demi gemerlap harta seorang tuan muda kaya.
Namun, tepat ketika keputusasaan nyaris menelan kewarasannya, "Sistem Ayah Super Tajir" tiba-tiba aktif, mengubah takdirnya dalam semalam dengan menjanjikan kekayaan tak terhingga hanya lewat satu syarat mutlak: membahagiakan anak-anaknya.
Kini, dengan kekuatan finansial yang perlahan mampu menggenggam ekonomi seluruh Kota Jiangcheng, Jiang Muchen bersumpah untuk membangun surga dunia bagi putra-putrinya, Zihan dan Ziyue, sembari memastikan siapa pun yang pernah menginjak-injak harga diri keluarganya... terutama sang mantan istri akan berlutut dalam penyesalan yang terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Tepat pukul dua belas siang, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom berwarna hitam mengkilap memasuki gerbang utama Vila Raja. Kepala Pelayan Chen melangkah turun dari kursi kemudi, membukakan pintu belakang dengan sangat hormat.
Dari dalam mobil, Ziyue melompat turun dengan riang, disusul oleh Zihan yang melangkah dengan tenang.
"Ayah! Ziyue pulang!"
Suara nyaring Ziyue menggema hingga ke ruang tamu utama. Gadis kecil itu berlari menaiki tangga pualam, mencari keberadaan pahlawan supernya. Di ruang makan yang luas, Jiang Muchen sudah duduk di ujung meja kayu eboni panjang, menanti kedatangan dua permata hatinya.
"Kemarilah, Tuan Putri. Bagaimana sekolahmu hari ini?" sapa Jiang Muchen sambil merentangkan tangannya.
Ziyue langsung berhambur ke pelukan ayahnya. Jiang Muchen mengangkat putrinya dan mendudukkannya di kursi khusus yang sudah disiapkan. Zihan menyusul dari belakang, memberikan salam kecil kepada ayahnya sebelum duduk di kursinya sendiri dengan punggung tegak.
Namun, perhatian Ziyue segera beralih saat melihat seorang wanita cantik melangkah keluar dari arah dapur, membawa sebuah nampan berisi puding stroberi berukuran besar.
"Bibi Su yang cantik!" seru Ziyue dengan mata berbinar-binar.
Su Qingxue tersenyum sangat manis. Wajahnya yang biasanya memancarkan aura dingin seorang eksekutif kini benar-benar terlihat seperti seorang ibu muda yang penuh kelembutan. Berkat Ekstrak Vitalitas Dewa yang diberikan Jiang Muchen pagi tadi, Su Qingxue tidak terlihat lelah sama sekali. Kulitnya bersinar, dan energinya penuh.
"Halo, Ziyue sayang. Bibi mendengar Ziyue suka makanan manis, jadi Bibi meminta koki untuk membuatkan puding stroberi spesial ini. Apakah Ziyue mau mencobanya setelah makan siang?" tawar Su Qingxue sambil meletakkan puding itu di tengah meja.
"Mau! Ziyue mau makan banyak sekali!"
Zihan menatap puding itu sejenak, lalu menatap Su Qingxue.
"Terima kasih, Bibi Su. Nanti Zihan akan memastikan Ziyue memakan sayurnya dulu sebelum memakan puding itu," ucap bocah empat tahun itu dengan nada serius yang membuat orang dewasa di ruangan itu tertawa pelan.
Makan siang keluarga itu berlangsung dengan sangat hangat. Meja makan dipenuhi oleh berbagai hidangan kelas atas, mulai dari sup sarang burung walet, daging wagyu panggang, hingga ikan laut kukus dengan saus rahasia. Semuanya dimasak dengan sempurna oleh koki pribadi Vila Raja.
Selama makan, Su Qingxue dengan telaten membantu menyuapkan makanan ke piring Ziyue, membersihkan sudut bibir gadis kecil itu dengan serbet, dan sesekali mengajak Zihan mengobrol tentang buku yang dia baca. Jiang Muchen hanya duduk diam memperhatikan pemandangan di depannya.
"Ini adalah pemandangan yang pantas dipertahankan dengan nyawa," gumam Jiang Muchen dalam hati. Dia melihat Ziyue tertawa lepas, Zihan yang makan dengan lahap meski mencoba terlihat keren, dan Su Qingxue yang tampak begitu menyatu dengan keluarganya. Su Qingxue mungkin belum menyadarinya, tapi di mata para pelayan Vila Raja, wanita itu sudah dianggap sebagai nyonya rumah.
Setelah makan siang selesai, Ziyue menarik tangan Su Qingxue untuk pergi ke ruang bermain, ingin memamerkan boneka beruang raksasa barunya. Su Qingxue tentu saja menurut dengan senang hati, meninggalkan Jiang Muchen dan Zihan di ruang makan.
Jiang Muchen menatap putranya.
"Zihan, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Ayah perhatikan kau terus menatap ke arah ruang kerja Ayah sejak tadi."
Zihan meletakkan serbetnya. Mata jernihnya menatap langsung ke mata ayahnya.
"Ayah, Zihan melihat layar komputer Ayah menyala saat Zihan lewat tadi. Ada banyak huruf dan angka berwarna hijau yang mengalir ke bawah. Itu bukan bahasa biasa, kan, Ayah? Itu terlihat seperti... sebuah instruksi tersembunyi."
Jiang Muchen mengangkat alisnya. Komputernya memang sengaja dibiarkan menyala untuk memonitor pergerakan sisa-sisa aset Grup Zhao, dan layar itu menampilkan baris kode peretasan tingkat lanjut. Fakta bahwa Zihan yang baru berusia empat tahun bisa mengenali bahwa itu adalah 'instruksi tersembunyi' dan bukan sekadar huruf acak, membuktikan bahwa IQ bocah ini benar-benar di luar nalar.
"Ikut Ayah," ucap Jiang Muchen.
Dia membawa Zihan masuk ke dalam ruang kerja. Di atas meja, layar laptop raksasa masih menampilkan aliran kode enkripsi.
Jiang Muchen mengangkat Zihan dan mendudukkannya di kursi kebesaran miliknya.
"Kau tahu apa ini, Nak?" tanya Jiang Muchen sambil menunjuk layar.
"Ini seperti bahasa yang digunakan untuk berbicara dengan mesin. Jika kita memberikan urutan angka yang benar, mesin akan melakukan apa saja yang kita minta. Apakah Zihan benar?" jawab Zihan dengan polos.
"Tepat sekali. Ini disebut kode pemrograman. Apa yang Ayah lakukan di sini adalah mencari celah di dalam dinding yang dibangun oleh orang lain, lalu mengambil informasi dari dalam sana. Ini seperti bermain bongkar pasang blok bangunan, hanya saja bloknya berupa angka dan logika."
Zihan menatap layar itu lekat-lekat. Matanya mengikuti aliran kode yang bergerak sangat cepat. Orang dewasa normal akan pusing hanya dengan melihatnya selama lima detik, namun mata Zihan justru memancarkan kilauan antusias.
"Di baris itu... ada pola yang berulang, Ayah. Angka nol dan satu, lalu huruf A dan B. Mereka terus berulang setiap sepuluh baris. Kalau Zihan mengubah angka nol menjadi dua, apakah dindingnya akan terbuka?" Zihan menunjuk sebuah baris spesifik di sudut layar.
Jiang Muchen menahan napasnya sejenak. Keterampilan Peretasan Tingkat Dewa di kepalanya mengonfirmasi bahwa baris yang ditunjuk Zihan adalah celah utama dari protokol keamanan dasar yang sedang berjalan. Bocah ini tidak hanya melihat pola, dia secara naluriah memahami arsitektur di baliknya.
Jiang Muchen tersenyum bangga. Dia mengusap puncak kepala putranya.
"Zihan, Ayah punya sebuah permainan untukmu. Ayah akan mengajarimu dasar-dasar bahasa mesin ini. Jika kau bisa memahaminya, suatu hari nanti kau bisa membangun istana di dalam dunia digital yang tidak bisa dihancurkan oleh siapa pun."
"Zihan mau, Ayah! Zihan ingin belajar membangun istana itu!" jawab Zihan bersemangat, sifat kekanak-anakannya akhirnya muncul ketika dihadapkan pada rasa ingin tahu yang besar.
Siang itu, di dalam ruang kerja yang tenang, seorang ayah yang merupakan dewa peretas dunia mulai menurunkan secuil pengetahuannya kepada putra jeniusnya. Tanpa Jiang Muchen sadari, momen sederhana ini adalah titik awal lahirnya seorang kaisar siber masa depan yang akan membuat seluruh badan intelijen global gemetar ketakutan.
Sementara kedamaian menyelimuti Vila Raja, sebuah badai yang jauh lebih besar dan lebih gelap sedang berkumpul di tempat yang berjarak ribuan kilometer dari Jiangcheng.
Ibukota Negara, Jingdu. Kota metropolitan raksasa yang menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi seluruh negeri. Di kota ini, nilai triliunan Yuan berpindah tangan setiap harinya, dan nyawa manusia seringkali hanya dianggap sebagai angka di atas kertas laporan.
Di pusat kota Jingdu, menjulang sebuah gedung pencakar langit setinggi seratus lantai. Ini adalah Markas Besar Konsorsium Gu, sebuah entitas bisnis raksasa yang menguasai berbagai sektor mulai dari energi, telekomunikasi, hingga perbankan internasional. Keluarga Gu adalah salah satu naga sejati ibukota, keluarga kuno yang memiliki sejarah panjang dan kekuasaan absolut.
Di lantai teratas, di dalam ruang pertemuan yang dindingnya dilapisi emas murni dan kaca anti peluru, duduk seorang pria tua dengan rambut putih yang disisir rapi ke belakang. Pria itu adalah Gu Xuantian, Patriark Keluarga Gu. Auranya sangat menekan, memancarkan wibawa seseorang yang terbiasa menentukan hidup matinya ribuan orang hanya dengan satu lambaian tangan.