NovelToon NovelToon
ME | Possessive BadBoy

ME | Possessive BadBoy

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Fantasi Isekai / Nikahmuda
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Smarrr

Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.

Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

"Baby masih sore ini loh, masa udah tarik selimut aja sih?" rengek Jay menghampiri Nadia.

"Mau ngapain lo?" Nadia menahan badan Jay agar tak dekat - dekat denganya.

"Mau bo nen, bo bo ne n en." Jay bersuara layaknya ia benar-benar ingin di manja.

Nadia tak menyangka jika Jay akan bertingkah layaknya bayi pada dirinya. " Jay lo itu udah gede, apaa sih ne n en, lo kira PD gue keluar air," kata Nadia menyelimuti badanya sampai ke leher.

Jay cemberut dan itu membuat Nadia semakin ilfil, "Tidur di tempat lo sendiri!" tegas Nadia dan langsung berbaring memunggungi Jay.

Dan bukan Jay jika dirinya tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, cowo itu dengan mudahnya membalikan badan Nadia dan kini menghadap ke arahnya.

"Hah...." Nadia terkejut karena kini dengan mudahnya juga Nadia sudah berada di pangkuan Jayden.

"Gue bilang pengen nen baby," bisik Jay di telingan Nadia.

"Enggakl!!" Nadia ingin turun tapi Jay menahan pinggul Nadia.

"....." desis Jay saat ia merasa ada ge se kan di bawah sana, membuat sesuatu yang tadinya tidur jadi bangun.

"Bangun kan, lo sih nggak mau diem, padahal gue cuma mau nen doang," kedua tangan Nadia berpeegang pada bahu Jay.

Nadia betul meraskan sesuatu yang tegang di bawah sana. Bahkan nafasnya seolah tercekat karena merasa punyanya juga ikut berdenyut, entah itu apa, karena Nadia baru merasakan hal tersebut saat bersama Jay.

sayu. "Boleh?" tanya jay dengan tatapan yang sudah

Nadia menelan ludahnya kasar, "Nen itu?"

tanya Nadia memastikan bahwa apa yang ia pikirkan tidaklah salah.

Jay mengangguk, netranya melirik kesuatu di hadapanya dengan ukuran yang sama besarnya, sebenarya tak besar tapi tak juga kecil.

"Hem....?" Nadia mengangguk pelan, walau ragu, tapi tak di pungkiri olehnya bahwa Jay kini adalah suaminya.

"Ini gue beneran bolehin dia? nggak apa- apa kan? dia juga suami gue sekarang, entah apa juga yang ada di otak gue sekarang, anehnya gue seolah pengen dia sen tuh," gumam Nadia dalam hati.

Perlahan Jay menyingkap kaos yang Nadia kenakan, terasa jelas bahwa kini Nadia mencengkeram bahu Jay dengan erat.

"Gue janji ini nggak akan sakit," bisik Jay yang mampu membuat Nadia kembali merinding.

Jay menarik tengkuk leher Nadia, dan mulai menghujaninya dengan sebuah ci uaman yang membuat badan Nadia bergerak karena gelisah.

"Mhh...."Jay merasa di bawah sana semakin sem pit dan men jepit.

"Gila, ini beneran gila, gue bahkan nggak bisa kontrol badan gue lagi," gumam Nadia dalam hatinya merutuki dirinya sendiri karena kalah dengan Jay.

Bibir Jay semakin turun, dan itu membuat badan nadia terus bergerak, Jay menarik sudut bibirnya karena merasa berhasil membawa Nadia ke dalam hidupnya.

Jemari tangan Jay mulai menjelahi di area bukit kembar itu dengan perlahan, Nadia menutup matanya. ia merasakan sen sasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Perutnya bagaikan banyak kupu-kupu berterbangan di dalam sana, rasa gel tapi juga ada geleyaran aneh melingkupi perasaannya kali ini.

Bahkan jemari Nadia mulai merambat menyisir rambut Jayden dan sedikit menja mbak saat ia merasa 'Ohh.. shit."

Apa lagi ketika Li dah Jay mulai bermain di buliran kecil berwarna merah jambu itu, Jay melakukan putaran pada li dahnya dan itu membuat buliran itu kini tegak dan timbul, menandakan bahwa sang empu bisa merasakan sensasi yang ia berikan.

Nafas Nadia tersenggal, ia menatap mata Jay tak kalah sayu, " Please stop," pinta Nadia dengan nafas yang naik turun.

"Why stop? didn't you want it,?'" bisik Jay membuat Nadia semakin tak kuat.

"Tapi gue belum siap sekarang, please gue mohon," rengek Nadia dan Jay langsung memeluknya. Menenggelamkan kepalanya di antara dua bukit itu.

"Lo mau tidur kan?" tanya jay mendongakan kepalanya.

Nadia mengangguk pelan, "Lo mau kemana?" tanya Nadia

"Gue temenin sampai lo tidur, habis itu gue keluar bentar," jawabnya lembut.

"Tapi gue takut kalau sendiri di rumah, apa lagi kan rumah lo gede banget."

Jay menarik sudut bibirnya, ia merasa bahagia jika saat ini Nadia bergantung pada dirinya.

"Bentar doang Baby, lagian di rumah ada mba di bawah sana, sama ada penjaga, nggak perlu takut ya," ucap Jay begitu lembut, Jay menggendong badan Nadia ala koala ke atas tempat tidur.

Meletakan dan menyelimuti, juga menemani Nadia sampai tertidur.

Jay memeluk Nadia dari belakang dan saat merasa Nadia sudah benar - benar terlelap, jay bangkit dan segera merapikan dirinya dengan setelan Jas berwarna hitam.

Cowok itu seketika berubah seperti pria dewasa dengan pakaian formalnya. Ia menyalakan mesim mobilnya dan melajukan ke arah dimana ia sudah berjanji akan bertemu dengan seseorang.

Tak lama kemudian mobil Jay berhenti di sebua area gedung yang menjulang tinggi. MJC, ya itulah nama gedung tersebut dengan singkatan MAHENDRA JAYA COMPENY.

Jay melangkah masuk ke dalam dengan langkah yang tegas dan pasti, tak ada sirat ketakutan atau hal sebagainya.

Sampainya di ruangan dimana Jodi Mahendra sudah menunggu di sana.

"Mana janji yang kamu ucapkan waktu itu?

kamu bahkan masih bersantai," ucap Jodi tanpa basa basi.

"Buru- buru banget ya? pengen banget gue langsung tanda tangan? tapi anda lupa kalau umur saya belum genap 27tahun, tahun ini saya masih berumur 26tahun, PAPA! apakah anda lupa dengan tanggal lahir anak anda sendiri?''cibir Jay yang sengaja memancing amarah Jodi

"Kamu benar-benar pintar memainkan emosi orang Nak, ya aku harus mengakui itu, kamu mempunya kecerdikan di antara saudara kamu yang lain," mendengar hal itu, hati Jay memanas, ia paling tak suka mendengar Jodi menyebut saudaranya yang lain.

"Jika tidak ada hal penting lagi, saya pergi," Jay beranjak pergi, tapi tiba-tiba saat ia akan keluar ia di hadang oleh beberapa orang berpakaian serba hitam.

"Apa ini bagian dari rencana mu?" tanya Jay menoleh ke arah Jodi.

"Aku ingin kamu menandatanganinya sekarang juga! apa bedanya dengan umur 26 atau 27tahun? itu hanyalah angka Jayden Mahendra! kamu harus ingat bahwa nama belakang mu masih memakai nama keluarga besar Mahendra!"

Jay menyeringai, ia benar-benar merasa hanya sebagai alat untuk keluarga Mahendra. "Bagaimana jika saya tidak mau tuan Jodi Mahendra yang terhormat?!" desis Jay dengan tatapan mencibir.

"Maka tanggunglah akibatnya." Jodi memberikan interuksi pada anak buahnya untuk meklakukan aksi mereka.

Netra Jay langsung melirik ke arah segerombolan orang berpakaian hitam itu, yang ternyata mereka dengan cepat memebrikan sera ngan pada Jay. ada yang membawa tongkat dan juga ada yang membawa rantai.

"Apa kalian pecu ndang? beraninya membawa sen jata. lawan aku dengan tangan kosong jika kalian berani," cibir jay dengan menaikan satu alisnya.

Hingga akhirnya serangan demi seragan mereka kerahkan ke Jay yang seorag diri, dan Jodi malah menikmati apa yang kini ada di depann matanya.

"Benar - benar pshyco!" desis Jay dengan juga menghindari serangan yang bertubi tubi mereka arahkan ke arah Jay.

Tak di pungkiri bahwa beberapa kali Jay sempat mendapatkan puk ulan dari rantai atau tongkat yang tak bisa ia hindari. Yang akhirnya membuat punggung Jay sedikit berdarah dan lebab.

"Masih ingin bertahan?" cibir Jodi menyeri ngai.

Dengan sudut bibir yang sudah sedikit sobek, dan nafas Jay yang terengah karena harus melawan banyak orang, tapi Jay tak tumbang begitu saja. ia berajalan ke arah Jodi, mengambil kertas tersebut dan dengan perlahan cowok itu menyobeknya.

"Jangan harap!" kini Jay yang menyeri ngai, membuat emosi Jodi semakin membara dan menitah anak buahnya untuk segera menuntaskan Jayden.

Tapi saat itu. Jay seolah mendapatkan kekuatan, dengan mudahnya ia melawan walau badanya saat in sudah terluka parah.

Semua anak buah jodi tumbah di tangan jayden dengan mudahnya malam itu, tanganya berlu mur da rah, dan Jay kembali berjalan ke arah Jodi dengan yang tengah duduk santai di kursi kebesaranya.

"Maaf membuat Tuan kecewa," ucap Jay membalikan badanya dan berlalu pergi dri ruangan tersebut.

Dengan langkah yang sedkit gontai karena menahan sakit, Jay akhirnya bisa masuk ke dalam mobilnya dan mulai menghidupkan mesinya.

"Anak itu benar - benar tidak bisa di anggap remeh," gumam Jodi menghisap rokok dan mematikanya dengan kasar.

.

 .

.

.

.

"Eughh...." Nadia menggeliat, dan ternyata hari sudah pagi, tapi ia tak menemukan jay di sampingnya.

"Tumben banget udah bangun, atau jangan-jangan dia belum balik dari semalam?" monolog Nadia.

Nadia berjalan ke arah balkon, guna mencari keberadaan Jayden, tapi tak juga ia temukan ia juga beralih ke arah kamar mandi, tapi usahaanya juga sia - sia, karena Jayden tak ada di dalam sana juga.

"Gue di tinggal gitu? masa dia udah berangkat sekolah sih? ini kan masih pagi banget," ocehnya seorang diri.

Kala Nadia baru saja membuka pintu kamar, tiba-tiba Jay berdiri di sana.

"Aaaa...!!!!!''' teriak Nadia karena kaget. Yang membuat Nadia kaget adalah wajah Jay yang begitu pucat, seeprti orang yang sedang sakit.

"Lo sakit? muka lo kok pucet?" tanya Nadia khawatir.

Jay memeluk Nadia, mencium harum wangi khas Nadia yang selalu ia rindukan.

"Lo baik- baik aja kan?" tanya Nadia cemas.

"Hari ini jangan masuk sekolah dulu ya, gue sakit, gue nggak mau kalau lo masuk seolah sendirian, nanti yang ada nanti lo balikan lagi sama cowok dekil itu."

"Lagi sakit juga masih aja ngehina orang lain," decak Nadia masih tak terima jika Kevin di kata oleh Jay.

"Gue nggak suka lo belain cowok lain selain gue, apa lagi sampai perhatian gitu, jangan sampe gue, mmm..." Nadia membungkan mulut Jay dengan telapak tanganya.

"Kalau lagi sakit tuh diem, jangan banyak omong."ketus Nadia menuntut Jay ke tempat tidur.

"Awww... sakit Baby," bibir Jay terlihat kering dan pucat.

"Semalam lo pergi kemana sih? pulang pulang kok sakit? habis di gebukin sama orang emang?" tanya Nadia mencoba mengambil ponselnya dan akan menghubungin dokter.

"Mau ngapain?" cegah Jay menggeser tombol merah.

"Telepon dokter lah, kan lo lagi sakit, gue nggak bisa ngobatin soalnya."

"Ambil kotak P3k di laci nakas, lo aja yang ngobatin gue, nggak perlu manggil dokter, gue lebih suka lo yang nyentuh badan gue."

Nadia merasa heran, tapi ia juga menurut dan mengambil kotak p3k yang Jay katakan.

"Apanya yang mau di obatin?" tanya Nadia

bingung karena tak ada obat yang bisa Jay minum di dalam sana.

"Ambil antiseptik dan perban," kata jay lalu cowok itu membuka kemeja yang ia pakai.

Betapa kagetnya Nadia saat melihat luka di punggung Jay yang begitu ngeri saat di lihat.

"Lo habis berantem ya? mau sok preman lo? atau mau jadi jagoan?" oceh Nadia mengomel.

"Jangan di omelin sayang, gue lagi sakit, bantu gue obatin aja, oke." ucapnya parau dan serak.

Nadia yang kesal pun menjadi tak tega, melihat bagaimana wajah Jay yang tampan begitu pucat dan juga luka yang menyayat hatinya.

"Aww... pelan- pelan sayang, yang ada luka gue tambah gede kalau lo ngobatinya kaya gitu." decih Jaykarena benar sakit.

"Lagian siapa suruh gue ngobatin lo, udah gue bilang juga kalau gue itu nggak bisa ngobati," dumel Nadia tapi akhirnya ia mengoleskan salep ke luka jay dengan pelan.

"Lo habis ngapain sih anjir?" tanya Nadia yang masih kesal.

Jay mulai bangun dari tengkurapnya saat Nadia akan melilitkan perban ke badan cowok itu.

"Lo nangis? lo nangisin gue?" tanya Jay saat melihat air mata memupuk di mata Nadia.

"Nggak usah kegeeran!"ketus Nadia megusap air matanya kasar.

Jay menarik sudut bibirnya, ia tak menyangka jika dengan ia terluka ia bisa melihat pemandangan bagaimana Nadia menangis karena dirinya.

"Gue baik - baik aja kok sayang," Jay megusap sisa - sia air yang mengalir ke pipi chuby Nadia.

Cup. bahkan Jay sempat- sempatnya mengecup mata Nadia sekilas.

"Bisa bisanya lo ya lagi begini juga."

jay terkekeh saat melihat ikatan Pita di akhir perban di badanya.

"Bi bir gue kering sayang," Kata Jay menarik lengan Nadia.

"Siram pake air kalau mau basah," ketus Nadia merapikan kotak p3k-nya.

"Sadis banget sih, suami lagi sakit juga, bukanya di sayang malah di omel terus."

Nadia yang diam saja membuat Jay menatap istrinya dengan dalam.

Dan Nadia mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Mela bahwa dirinya hari ini tida bisa masuk sekolah.

"ljinin gue, gue nggak bisa masuk sekolah hari ini karena ada urgent," - kirim pesan ke Mela dari Nadia.

"Habis ngapain?" tanya Jayden.

"Ijin nggak masuk."

"Ngapain harus ijin sayang, lo kan istri gue sekarang"

"Emangnya sekolahan tahu kalau gue istri lo? lagian gue masih pengen sekolah, makanya gue harus minta ijin."

"Lo itu adalah istri pemilik sekolahan itu, jadi lo nggak perlu minta ijin," kata Jay yang langsung menarik badan Nadia agar terbaring.

"Maksud lo?" tanpa menjelaskan terlebih dahulu, Jay mendaratkan bib birnya di bi bir Nadia.

"Basahin bib bir gue," desis Jay dan memberikan lu ma tan.

hah... hah.. hah... "Manis, gue suka," bisik Jay dan akan kembali men cium Nadia. Tapi dengan cepat Nadia menahanya.

"Lo lagi sakit anjir, tau begini mending gue masuk sekolah."

Jay terkekeh,"lya sorry, habis nggak tahan sayang, pengen udah lama, walaupun gue lagi sakit begini gue masih kuat kok buat minum beberapa wedang ronde."

1
S.Marrr
Halloweeww gGuysss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!