"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 | FAJAR DI BAWAH MENARA EIFFEL
"Kita di mana?!" bentak Aleeza begitu helikopter mendarat mulus di atas helipad sebuah gedung pencakar langit yang asing.
Setelah tertidur selama hampir dua jam akibat kelelahan yang luar biasa di dalam kabin helikopter, Aleeza terbangun dan mendapati dirinya sudah terdampar di tempat antah berantah bersama sang billionaire iblis!
"El Oso—arrgh, maksudku Austin Vanderbilt, aku tanya kita ada di mana?!" ulang Aleeza kesal karena Austin hanya tersenyum tenang dan membantunya turun dari helikopter.
Begitu menapakkan kaki di landasan, Aleeza melihat enam orang pria berjas hitam berjajar rapi membungkuk hormat menyambut mereka. Langit masih tampak gelap gulita, namun area pendaratan disorot lampu sorot terang benderang. Austin mengucapkan beberapa patah kata dalam bahasa Prancis yang sama sekali tidak dipahami Aleeza.
Dan di detik berikutnya KLEK! Lampu-lampu sorot di atas gedung itu mendadak dimatikan secara serentak, membuat sekeliling mereka jatuh dalam kegelapan pekat.
"Apa yang kau rencanakan, hah? Mau membunuhku lalu membuang mayatku ke laut?!" cemas Aleeza merinding, mundur perlahan.
"Diamlah. Jika kau terus berisik, aku akan memanggilmu anak kucing liar, bastard," balas Austin mengejek dengan suara berbisik yang menggoda.
"Diam ! Jika aku kucing liar, maka kau anjing liar, el basardo!" balas Aleeza tak mau kalah.
Austin tertawa pelan. "Wow, jadi setelah beruang, aku memiliki panggilan sayang baru bernada 'anjing'?"
Aleeza mendengus panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya yang mendadak menggila di tengah kegelapan. "Kita ada di mana?" ulangnya dingin.
"Aku sudah bilang sebelumnya kita akan sarapan."
"Sarapan katamu?!" Aleeza kembali memekik geram. "Matahari saja belum kelihatan, dan kau bicara soal sarapan di tempat gila ini?!"
Tanpa diduga, Austin tiba-tiba bergeser cepat dari sampingnya. Pria itu melingkarkan kedua lengan kokohnya dari belakang, mendekap erat tubuh Aleeza ke dalam pelukannya.
"Matahari sudah muncul. Lihatlah ke sana," bisik Austin lembut tepat di samping telinga Aleeza.
Aleeza tertegun. Napasnya tercekat.
Di ujung cakrawala timur sana, bias cahaya keemasan Perlahan-lahan merekah, mengusir kegelapan malam dan menyinari langit kota Paris yang mulai tampak dari ketinggian. Dari atas gedung pencakar langit itu, pemandangan kota berpadu indah dengan pendar cahaya matahari fajar.
Dan tepat di hadapan mereka, berdiri megah ikon dunia yang paling terkenal: Menara Eiffel!
Aleeza membelalak tak percaya. Paris?! Dalam waktu kurang dari tiga jam, pria ini membawanya terbang melintasi perbatasan negara hanya untuk sarapan di Paris?!
"G-Gorgeous " gumam Aleeza tanpa sadar, terpesona oleh pemandangan di depannya.
Melihat Aleeza terbuai, Austin mengeratkan pelukannya dan berbisik mesra: "Good morning, Mi Amor."
Seketika kesadaran Aleeza kembali. Ia buru-buru melepaskan diri dari pelukan Austin, membalikkan badan dengan wajah memerah menahan malu sekaligus marah.
"Kenapa kau memelukku?!" protes Aleeza salah tingkah.
"Kenapa baru memprotes sekarang? Bukankah sebelumnya kau tidak keberatan?" balas
Austin tenang, menyunggingkan senyum miring paling menyebalkan.
"Diam, Senor Sombong!" maki Aleeza, menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir debaran jantungnya yang terasa kian tak normal.
Ini tidak boleh terjadi! Aku tidak boleh jatuh pada pesona pria brengsek ini! batin Aleeza memperingatkan dirinya sendiri. Ingatannya langsung melayang pada Julian pria rapuh yang menunggunya di vila Madrid, pria yang telah mengorbankan masa depannya untuk Aleeza. Julian adalah pahlawannya, bukan pangeran arogan berdarah Spanyol di hadapannya ini
"Aku tidak tahu kita ada di mana, tapi yang jelas aku ingin pulang sekarang!" tegas Aleeza menatap tajam.
"Belum, kita belum mau pulang. Aku lapar dan aku ingin sarapan," jawab Austin santai.
"Kau bisa makan apa pun di rumah, BASTARD! Aku ingin pulang, SEKARANG!"
Dada Aleeza naik turun menahan amarah yang mendidih. Namun, alih-alih marah, Austin justru menarik tangan Aleeza dengan paksa, membimbingnya turun menuju restoran penthouse eksklusif di lantai bawah gedung tersebut.
Di dalam restoran mewah berstandar bintang lima yang menghadap langsung ke arah Menara Eiffel, Aleeza melipat tangan di dada dengan wajah masam.
"Bagus! Artinya kita bisa pulang sekarang. Kau akan mengantarkanku pulang, SEKARANG!" tukas Aleeza ketus.
Austin tertawa pelan, menuangkan kopi hangat ke cangkirnya. "Tidak bisa, Aleeza. Aku ingin memakan masakan Prancis, dan aku akan memakannya langsung di Prancis, dibuat oleh orang Prancis asli bukan oleh koki rumahan di Spanyol yang terlalu mainstream."
Aleeza melongo ngeri. "Kau tidak sedang serius membawaku ke Prancis hari ini, kan?"
"Jadi, kau belum menyadari ada Menara Eiffel di sana?" sindir Austin telak.
Aleeza menepuk keningnya sendiri, merasa menjadi wanita paling bodoh di dunia karena baru menyadari fakta tersebut. Ia menatap pria di depannya dengan kilat permusuhan yang menyala-nyala.
"Baik, kita akan sarapan," ujar Aleeza tajam, menarik piringnya mendekat. "Tapi jangan harap aku akan membiarkanmu menyentuhku lagi, Mr. Vanderbilt!"
Austin menatap Aleeza lekat-lekat, senyuman tipis terukir di bibirnya. "Kenapa? Apa karena kau sudah memiliki kekasih di sana?"
Pertanyaan telak itu membuat Aleeza tersedak ludahnya sendiri. Sebelum Aleeza sempat menjawab, Austin sudah bangkit dari duduknya, melangkah mendekat, lalu mendaratkan ciuman singkat dan lembut tepat di bibir Aleeza!
Aleeza membeku total, otaknya mendadak konslet.
"Manis." bisik Austin santai setelah melepaskan ciumannya, lalu kembali duduk di kursi dan melanjutkan sarapannya tanpa dosa.
"Kau boleh menyantap makananmu, Mi Amor. Tapi setelah ini kita akan mulai babak baru permainan kita di kota ini."
Aleeza meraba bibirnya yang terasa panas, menatap sang billionaire dengan amarah dan debaran yang bercampur aduk menjadi satu di bawah langit pagi Paris!
▪️▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!