NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Jam menunjukkan pukul lima pagi ketika raungan sirene mobil ambulans perlahan memelan dan berhenti tepat di halaman depan rumah Raka.

Langit subuh yang masih menyimpan sisa-sisa kegelapan menggantung kelabu, menyelimuti kediaman yang mendadak terasa begitu dingin dan hampa.

Di pelataran rumah, Papa Devandra sudah berdiri menunggu bersama beberapa anggota keluarga Raka.

Dewi yang merupakan seorang anak yatim piatu tak memiliki keluarga inti, sehingga hanya tampak beberapa kerabat jauh dan tetangga terdekat yang datang melayat dengan raut duka di wajah mereka.

Para petugas ambulans dibantu warga perlahan mengusung peti jenazah Dewi masuk ke dalam rumah, menempatkannya di tengah ruang tamu yang luas.

Tempat itu telah disiapkan untuk prosesi pelepasan dan salat jenazah sebelum diberangkatkan ke pemakaman.

Namun, sebelum prosesi salat jenazah dimulai, Raka mendekati ayahnya.

Wajahnya pucat PASI, dengan lingkaran hitam memar di bawah matanya yang sembap.

"Pa, Raka mau bicara sebentar," ucap Raka dengan suara serak, nyaris tak bertenaga.

Devandra menatap putranya dengan tatapan penuh rasa iba.

Ia merangkul bahu Raka dan menuntunnya duduk di sofa ruang tamu yang sedikit menjauh dari kerumunan pelayat.

"Ada apa, Raka? Katakan pada Papa," tanya Devandra pelan namun penuh perhatian.

Raka mengepalkan jemarinya kuat-kuat di atas pangkuan, mencoba menahan gejolak emosi yang kembali mencabik dadanya.

Pria itu menarik napas panjang yang amat berat sebelum akhirnya bersuara.

"Sebelum Dewi mengembuskan napas terakhirnya di ICU, dia menyampaikan keinginan terakhirnya, Pa," bisik Raka dengan suara bergetar.

Devandra mengerutkan kening, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir putranya dengan saksama.

"Dewi memohon dengan sangat agar Raka menikahi Gladys, sahabatnya," lanjut Raka.

Tatapannya tertuju lurus pada sosok Gladys yang duduk terkulai di kursi roda tak jauh dari sana, tampak begitu rapuh dan dipenuhi isak tangis yang tertahan.

"Di depan Dewi, Raka sudah berjanji akan mengabulkan permintaan itu. Raka ingin menunaikan janji terakhir Raka pada Dewi, Pa."

Devandra terdiam sejenak. Pengakuan itu menghantamnya dengan rasa terkejut, namun melihat kesungguhan dan duka yang begitu mendalam di mata sang putra, ia memahami betapa besarnya arti janji tersebut bagi Raka.

Devandra menepuk-nepuk bahu Raka dengan lembut, memberikan dukungan tanpa syarat di tengah badai duka yang sedang menimpa hidup anaknya.

Devandra menatap putranya dalam-dalam. Kendati keputusan ini terasa mendadak dan tak lazim dilakukan di tengah suasana duka, ia memahami bahwa bagi Raka, menunaikan janji kepada almarhumah istrinya adalah sebuah keharusan yang tak bisa ditunda.

"Baiklah kalau begitu, Raka. Kamu menikah sekarang," ucap Papa Devandra mantap, memberikan restu serta ketegasan seorang ayah.

Raka menganggukkan kepalanya pelan, menyetujui keputusan tersebut tanpa ragu.

Papa Devandra segera bangkit dan melangkah menuju penghulu yang memang sudah hadir di rumah duka untuk memimpin doa dan prosesi keberangkatan jenazah. Di sudut ruang tamu yang tenang, Devandra menjelaskan situasi darurat serta amanah terakhir dari almarhumah Dewi secara singkat namun jelas.

Penghulu mendengarkan dengan saksama, lalu menganggukkan kepalanya mengerti.

"Baiklah, kita lakukan acara akad nikah sekarang," ujar Pak Penghulu bijak, memahami kondisi darurat dan nilai sebuah wasiat di detik-detik terakhir kehidupan.

Pengumuman mendadak itu seketika membuat suasana di ruang tamu menjadi hening mencekam.

Semua tamu, kerabat, dan tetangga yang hadir hanya terdiam membisu.

Tidak ada riuh kebahagiaan, tidak ada senyum suka cita; yang ada hanyalah tatapan haru dan kebingungan yang tertahan di tengah gulungan duka.

Sari perlahan mendorong kursi roda yang diduduki Gladys menuju bagian depan ruang tamu, tepat di dekat peti jenazah Dewi.

Tubuh Gladys masih sangat lemas, wajahnya pucat pasi bagai tanpa darah.

Pandangan mata Gladys terus tertuju kaku pada peti mati kayu berpelitur gelap tempat sahabat terbaiknya kini terbaring kaku.

Hatinya hancur berkeping-keping, tak menyangka akad nikah yang pernah ia impikan sejak dulu harus terjadi di samping jasad wanita yang paling ia sayangi.

Raka duduk di hadapan Pak Penghulu. Suasana di dalam ruangan begitu sunyi, hanya terisi oleh gema detak jarum jam dan isak tangis samar.

Pak Penghulu mengulurkan tangan dan menjabat erat jemari Raka.

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Raka Pratama bin Devandra, dengan Gladys Anastasia binti Robert, dengan mas kawin uang tunai sebesar dua puluh juta rupiah dibayar tunai."

Raka menarik napas panjang, menahan gemuruh emosi yang mencabik dadanya, lalu menjawab dengan suara lantang dan tegas dalam satu tarikan napas:

"Saya terima nikah dan kawinnya Gladys Anastasia binti Robert dengan mas kawin dua puluh juta rupiah dibayar tunai!"

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"SAH!" sahut Papa Devandra dan para saksi secara serentak.

Sah.

Satu kata itu mengudara, mengunci takdir Gladys dan Raka dalam ikatan pernikahan yang sah di mata agama dan hukum—sebuah ikatan tanpa rasa cinta, yang lahir dari kepedihan dan janji manis di balik linangan air mata.

Gladys hanya bisa mematung di atas kursi rodanya. Begitu kata "Sah!" bergaung memenuhi ruang tamu yang dingin, air matanya menetes makin deras membasahi pipi yang pucat pasi.

Pandangannya terpaku kaku pada foto Dewi yang bersandar di depan peti mati kayu berpelitur gelap—foto sahabatnya yang tengah tersenyum manis dengan binar mata penuh kehidupan, sangat bertolak belakang dengan kenyataan pahit di hadapannya.

Dewi, aku sudah menepati janjiku, bisik Gladys menjerit dalam hati. Dada terasa sesak bagai dihantam bongkahan batu besar.

Selesai akad nikah yang berlangsung singkat dan penuh duka itu, Pak Penghulu segera memimpin persiapan salat jenazah. Para pelayat, kerabat, dan warga mulai berdiri merapatkan barisan di belakang peti mati Dewi.

Melihat kondisi Gladys yang makin lemas dan tak berdaya ditimpa syok bertubi-tubi, Sari memegang lembut bahu sahabatnya.

"Gladys, kita ke mobil dulu ya? Kamu butuh udara segar sambil menunggu mereka selesai menyolatkan jenasah Dewi," bisik Sari penuh rasa iba.

Gladys tidak menjawab, hanya mengangguk lemah. Sari perlahan mendorong kursi roda Gladys keluar menerobos kerumunan pelayat yang menatap mereka dengan tatapan campuran antara haru dan prihatin.

Sari membantu Gladys berpindah duduk ke dalam mobil Raka yang terparkir di halaman depan, lalu setia menemaninya di samping.

Tak lama kemudian, pintu depan rumah terbuka lebar.

Peti mati Dewi digotong keluar oleh beberapa pria, diiringi isak tangis samar dan lantunan doa yang menggema pelan di udara subuh yang dingin.

Peti kayu itu dimasukkan dengan hati-hati ke dalam mobil ambulans jenazah.

Raka berjalan keluar paling akhir. Garis wajahnya tampak begitu tegas namun rapuh, menyimppan kehampaan yang luar biasa. Setelah berpamitan singkat pada Papa Devandra yang akan menyusul dengan mobil lain, Raka melangkah mantap menuju mobilnya.

Ceklek.

Pintu pengemudi terbuka. Raka masuk dan duduk di balik kemudi.

Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, bahkan tidak memalingkan wajahnya untuk menatap Gladys yang duduk menunduk di sampingnya.

Mesin mobil dinyalakan. Raka perlahan melajukan kendaraannya, mengekor tepat di belakang mobil ambulans yang membawa jasad istrinya menuju Pemakaman Umum.

Di sepanjang perjalanan, atmosfer di dalam kabin mobil begitu mencekam dan dingin.

Suara dengung mesin dan rintik gerimis yang membasahi kaca depan menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar.

Gladys menatap kosong ke luar jendela, sementara Raka mencengkeram kemudi dengan jemari yang memutih.

Dua insan yang baru saja disatukan dalam ikatan suci pernikahan itu tenggelam dalam kesenyapan masing-masing, terpisah oleh jurang duka dan bayang-bayang kenangan akan wanita yang sama-sama mereka cintai.

1
nining cahyaningrum
akur jelas cerita bagud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!