Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Joshua -No 10 Yg Pensiun Umur 23 Karena Cedera & Buka Sekolah Bola Gratis
Joshua umur 23 tahun sudah pensiun.
Kenapa pensiun ? ACL. Putus. Waktu main untuk Sulut United Liga 2 lawan Persipal Palu. Di menit ke 87 , dia coba tendangan Pisang Raja seperti Bima. Lututnya bunyi krek.
Operasi di Manado gagal. Tidak ada uang untuk operasi kedua di Jakarta seperti Bapak Bima. Dokter berkata "Sudah tidak bisa jadi pemain bola profesional lagi."
Joshua sekarang jualan es kelapa di depan Stadion Klabat. Pakai kruk. Kaki kiri masih bengkok. Tidak ada yang kenal dia lagi. Dulu anak - anak minta foto dengannya. Sekarang anak - anak minta es kelapa tambah gula.
Anak Joshua , Ronald , umur 10 tahun , yang dikasih sepatu Specs Lightspeed no 40 kebesaran sama Bima , sekarang yang jadi harapan Joshua.
Bima pulang bulan Desember , melihat Joshua jualan es kelapa. Bima kaget.
"Joshua ?"
Joshua malu. Tutup gerobak.
"Bima..."
Dua mantan rival diam di depan stadion yang dulu jadi teman seleksi di Manado United.
Bima berkata "Kau kenapa jualan di sini ?"
Joshua menjawab dengan suara kecil "Aku habis cedera , tidak ada klub yang mau. Uang habis untuk operasi. Istri minta cerai. Ronald ikut aku."
Bima lihat kruk Joshua.
"ACL ?"
Joshua mengangguk. "Putus. Mau operasi kedua tidak ada uang. Rp 70 juta."
Bima tidak kasih uang secara langsung. Bima ingat perkataannya Yudi "Jangan kasih sepatu , kasih bola plastik."
Bima berkata "Aku ada perahu di depan rumah. Sinar Bima. Sudah jadi museum. Tidak dipakai melaut. Kau pakai saja."
Joshua bingung "Untuk apa ? Jualan es kelapa di atas perahu ?"
"Bukan. Untuk sekolah bola. Kau kan no 10. Kau lebih jago teknik daripada aku. Aku cuma bisa tendang keras. Kau bisa ajar anak - anak Tikala teknik yang benar. Aku biayai. Rp 3 juta per bulan. Untuk jadi pelatih dan es kelapa gratis untuk anak - anak setelah latihan."
Joshua menangis. Di depan gerobak es kelapa , pakai kruk , umur 23 tahun , menangis.
"Aku malu , Bima. Dulu aku pernah hina sepatu pinjamanmu. Sekarang aku mau pakai perahumu."
Bima peluk Joshua. Kaki Joshua yang cedera bergetar.
"Dulu kau hina aku karena aku anak Tuminting. Sekarang aku butuh kau untuk mengajar anak Tuminting."
Minggu depannya , Sekolah Bola milik Joshua sudah buka. Bukan di Tikala , tapi di atas Sinar Bima yang ada di depan rumah Bima. Anak - anak latihan teknik di atas perahu yang tidak digunakan melaut. Lucu. Tapi Joshua ajar dengan serius.
"Lihat , kaki tumpu harus begini. Bukan seperti Bima yang kakinya miring - miring. Haha."
Anak - anak tertawa. Ronald yang ada di depan , pakai sepatu no 40 kebesaran , bangga karena bapaknya menjadi pelatih.
Yudi datang. Yudi kan pelatih lari pagi. Joshua pelatih teknik. Dua pelatih tanpa lisensi.
Yudi berkata ke Joshua "Jo , kita bagi tugas. Aku ajar jatuh , kau ajar gol."
Joshua menjawab "Aku melakukan tendangan pisang raja yang gagal dan bikin aku jadi pensiun."
Suatu sore , Bima video call dari Glasgow. Melihat latihan di atas Sinar Bima melalui via video.
Bima melihat Joshua pakai kruk tapi tetap tendang bola pakai kaki kanan , ajar Ronald.
Bima berkata "Joshua , bulan depan ada operasi ACL gratis dari dokter tim Celtic. Aku sudah daftarkan kau. Tiket pesawat aku belikan. Kau operasi di Skotlandia."
Joshua kaget. Hpnya hampir jatuh ke lumpur.
"Di Skotlandia ?"
"Iya. Supaya kau bisa berjalan lagi tanpa kruk. Supaya Ronald melihat bapaknya tidak pakai kruk lagi."
Joshua menangis lagi. Kali ini di atas Sinar Bima , di depan 12 anak.
Ronald bertanya "Bapak kenapa menangis ?"
Joshua menjawab "Bapak tidak menangis. Bapak kena asap ikan."
Padahal tidak ada ikan. Cuma ada Sinar Bima yang sudah jadi kelas bola.
Malamnya , Joshua tulis di dinding Sinar Bima pakai cat putih dengan tulisan besar
SEKOLAH BOLA JOSHUA No 10 - GRATIS UNTUK ANAK TUMINTING - JANGAN TAKUT CEDERA , TAKUTLAH TIDAK PERNAH COBA TENDANGAN PISANG RAJA*
Di bawahnya , dia tulis dengan tulisan kecil
Dulu saya no 10 yang sombong. Sekarang saya no 10 yang pakai kruk. Tapi tetap no 10.
Bima di Glasgow , melihat foto tulisan itu yang dikirim oleh Yudi , menangis. Kedua kalinya dalam seminggu ini.
Dia balas di grup WhatsApp Tikala
"Tugas kita bukan menjadi pemain hebat. Tugas kita menjadi perahu untuk orang lain. Sinar Bima sudah selesai melaut , sekarang mengajarkan melaut."
#####################################
Cukup sampai di sini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like dan hadiahnya
Happy reading