NovelToon NovelToon
Dari Benci Jadi Rindu

Dari Benci Jadi Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:826
Nilai: 5
Nama Author: Aulia Cemmzz

Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perangkap Yang Gagal

Keesokan harinya, suasana di sekolah terasa sedikit lebih tenang. Namun Laras tahu, Riska dan Siska tidak akan menyerah begitu saja dengan malu yang mereka alami kemarin. Dia berusaha tetap waspada, berusaha tidak berjalan sendirian di tempat-tempat yang sepi.

Tapi takdir seakan punya rencana lain. Sore itu saat semua siswa sudah pulang, Laras kembali ke kelasnya karena meninggalkan tas yang berisi dompet dan kunci rumahnya. Dia berharap bisa mengambilnya lalu segera pergi.

Saat dia melangkah masuk ke dalam kelas dan meraih tasnya di atas meja, pintu kelas tertutup tiba-tiba di belakangnya dengan suara dentuman yang keras. Laras berbalik dengan jantung berdebar kencang. Di sana berdiri Riska dan Siska, menatapnya dengan senyum yang tidak tulus sama sekali.

"Kira-kira siapa yang akan datang menolong lu kali ini ya? Arka sudah sibuk berkemas di rumahnya, dia bahkan tidak tahu lu masih di sekolah," ucap Siska sambil menyilangkan tangan di dada, nada bicaranya terdengar penuh kemenangan.

Laras mundur perlahan sampai punggungnya menyentuh dinding belakang kelas. Dia berusaha tetap tenang meski suaranya sedikit bergetar.

"Kenapa kalian melakukan ini? Gue tidak pernah menyakiti kalian. Kalian marah karena Arka memilih gue? Itu bukan salah gue, hati tidak bisa dipaksakan."

Riska melangkah maju selangkah, wajahnya yang biasanya terlihat pendiam kini terlihat dingin dan tajam.

"Kamu pikir kamu lebih baik dari kami? Kamu pikir karena Arka membela kamu sekali, semua orang akan memuja kamu? Hari ini kami akan pastikan kamu tidak bisa lagi berhadapan dengan siapa pun. Kami sudah siapkan segalanya. Barang-barang berharga akan kami sembunyikan di tasmu, lalu kami akan memanggil guru dan menuduhmu mencurinya. Sekolah akan mengusirmu, dan Arka akan pergi dengan kebencian di hatinya saat mendengar berita buruk tentangmu."

Laras menelan ludah, matanya mencari jalan keluar. Jendela kelas menghadap ke halaman belakang yang sepi, tapi terlalu tinggi untuk dipanjat tanpa bantuan. Dia tidak punya ponsel untuk menelepon siapa pun.

Riska dan Siska mulai mendekat, satu orang menahan lengannya yang kanan, yang lain bersiap meletakkan sebuah dompet dan perhiasan kecil ke dalam tas Laras yang tergeletak di meja.

"Tolong jangan lakukan ini. Kalian akan menyesal seumur hidup kalau kalian merusak masa depan seseorang hanya karena rasa iri," mohon Laras dengan tulus, bukan karena takut pada dirinya sendiri, tapi karena dia tidak ingin mereka berdua menghancurkan masa depan mereka sendiri dengan perbuatan bodoh ini.

Tangan Riska berhenti melayang di udara saat terdengar suara langkah kaki yang cepat mendekat ke ruang kelas itu. Pintu didorong terbuka dari luar dengan kuat. Bukan guru, melainkan Arka.

Dia berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah, seakan dia berlari sejauh satu kilometer tanpa berhenti. Matanya menatap tajam ke arah Riska dan Siska yang masih menahan lengan Laras.

"Lepaskan dia," ucap Arka dengan suara rendah namun penuh tekanan yang membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.

Siska melepaskan lengan Laras dengan gemetar, sementara Riska mundur perlahan ke arah pintu sambil menunduk. Arka berjalan mendekat ke arah Laras, memeriksa wajah dan lengannya dengan cemas. Saat dia memastikan Laras tidak terluka, dia menoleh ke Riska dan Siska.

"Gue tidak akan melaporkan kalian ke pihak sekolah karena gue tahu kalian hanya tersesat emosi. Tapi ini peringatan terakhir gue. Jangan pernah dekati Laras lagi. Jangan pernah pikirkan cara jahat apa pun lagi. Kalian beruntung gue datang lebih cepat daripada yang kalian duga. Sekarang pergilah, sebelum gue berubah pikiran," ucap Arka tegas, lalu membiarkan mereka berlari keluar kelas dengan wajah pucat dan penuh rasa takut.

Setelah mereka pergi, Arka tidak langsung bertanya apa-apa. Dia hanya memeluk Laras erat sekali, seakan takut gadis itu akan hilang dalam sekejap mata. Laras baru menyadari bahwa Arka seharusnya sudah berada di rumahnya bersiap untuk keberangkatan besok pagi.

"Kenapa lu kembali ke sini, Ka? Bukannya lu harus sibuk berkemas?" tanya Laras pelan di pelukannya.

Arka melepaskan pelukannya sebentar, menatap mata Laras dalam-dalam. "Karena ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada barang apa pun di dunia ini. Perasaan gue tiba-tiba gelisah sekali saat sedang berkemas. Seakan ada yang memanggil nama gue dari sini. Ternyata intuisi gue benar. Gue tidak akan memaafkan diri sendiri kalau sesuatu yang buruk terjadi pada lu saat gue bisa mencegahnya."

Mereka berjalan keluar dari ruang kelas yang sunyi itu bersama-sama, menutup pintu dan mengunci masa-masa buruk di dalamnya.

Malam itu adalah malam terakhir mereka bertemu sebelum keberangkatan Arka, dan malam itu bukan diisi dengan air mata perpisahan, tapi dengan janji setia yang terucap di bawah langit senja yang tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!