NovelToon NovelToon
Curriculum Of Death (Rahasia Di Balik Dinding Sekolah)

Curriculum Of Death (Rahasia Di Balik Dinding Sekolah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Mata Batin
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: Z. F. Werr

Tiga dekade tersimpan rapi, rahasia kelam SMA Bhakti Mulia akhirnya meminta bayaran.

Tepat tengah malam, dentang lonceng kuno ke-13 bergema. Gerbang sekolah terkunci gaib, sinyal ponsel lenyap, dan enam murid—Revan, Anya, Bima, Sasha, Dika, dan Nisa—terjebak di dalam labirin maut berdarah.

Sebuah kotak hitam kuno terkuak, menyisakan enam simbol aneh yang persis dengan tanda lahir mereka, beserta pesan berdarah:

"Selesaikan Kurikulum Maut ini sebelum fajar, atau jadilah bagian dari dinding sekolah untuk selamanya!"

ATURAN BERTAHAN HIDUP:
1. Jangan pernah berpencar.
2. Selesaikan teka-teki sebelum jam pasir habis.
3. Jangan percayai apa yang kamu lihat, entitas bisa meniru wujud temanmu!

Mampukah mereka selamat dari dosa besar tahun 1996?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Z. F. Werr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 - Koridor Rahasia di Balik Panti Asuhan

​Suara tepukan tangan Direktur Utama yang bergemuruh di dalam foyer panti asuhan itu masih menyisakan dengung yang tidak menyenangkan di telinga Revan dan kawan-kawannya. Pria paruh baya berjas rapi dengan kacamata berbingkai emas tersebut tersenyum penuh kemenangan, sementara puluhan anak asuh berseragam putih abu-abu di sekeliling mereka tetap berdiri kaku bagaikan patung bernyawa.

​"Kalian pikir menghancurkan Sektor 00 di Graha Sentosa berarti memutus rantai kurikulum ini?" Direktur Utama itu melangkah maju perlahan, sepatu pantofelnya berketukan nyaring di atas lantai marmer. "Kalian naif. Graha Sentosa itu hanya cabang percobaan generasi tua. Pusat sesungguhnya dari seluruh jaringan pendidikan maut ini berada tepat di balik panti asuhan ini."

​Revan mengepalkan tinjunya erat-erat, menatap tajam ke arah pria paruh baya tersebut tanpa gentar sedikit pun. "Apa maksudmu? Di mana anak-anak itu disembunyikan?"

​Direktur Utama tertawa kecil, sebuah suara tawa yang terdengar dingin dan merendahkan. Ia mengangkat tangan kanannya, menjentikkan jarinya satu kali.

​Ceklek... clack...

​Tiba-tiba, dinding besar berukir lemari buku antik di ujung ruangan foyer bergeser perlahan ke samping, mengeluarkan suara derit besi berat yang bergesekan dengan lantai rahasia. Di balik dinding kayu tersebut, tersingkap sebuah lorong gelap panjang yang diterangi pendar lampu neon biru redup—sebuah jalan tersembunyi yang langsung mengarah ke dalam kompleks bangunan bawah tanah berarsitektur modern mirip sekolah berasrama elit.

​"Selamat datang di SMA Asrama Elit Sektor 01," ucap Direktur Utama dengan nada menyeringai. "Tempat di mana ratusan siswa berbakat dari seluruh penjuru negeri dididik secara khusus di balik dinding kedap suara, dipersiapkan untuk menjadi wadah abadi bagi para pendiri kurikulum."

​Sebelum Revan sempat melangkah maju untuk menghadang, Direktur Utama berbalik badan dan melangkah mundur memasuki lorong rahasia tersebut, disusul oleh puluhan anak asuh berseragam yang bergerak serempak bagaikan boneka yang dikendalikan benang gaib.

​"Hei, tunggu!" seru Bima, hendak berlari mengejar.

​"Jangan gegabah, Bim!" cegah Revan, merentangkan satu tangannya untuk menahan Bima. "Kita nggak tahu jebakan apa saja yang ada di dalam lorong itu. Kita harus masuk dengan formasi rapat."

​Anya melangkah mendekati Revan, wajahnya tampak siaga penuh sementara pergelangan tangan kanannya mulai memancarkan pendar cahaya perak samar. "Energi di dalam lorong itu pekat banget, Revan. Mirip seperti atmosfer di Sektor 00, tapi jauh lebih terstruktur."

​Sasha, yang sejak tadi memegangi kepalanya karena hantaman penglihatan gaib yang terus mendera, menarik napas dalam-dalam. "Di balik dinding lorong itu... indraku nangkep suara ratusan siswa yang terjebak di dalam kelas-kelas asrama. Mereka dipaksa menghafalkan aturan kurikulum setiap malam tanpa pernah diizinkan tidur."

​Nisa membuka layar tabletnya, memindai frekuensi sinyal yang terpancar dari balik dinding rahasia tersebut. "Sinyal enkripsinya kuat banget, tapi aku bisa coba bypass sistem keamanannya dari sini. Intinya, kita harus masuk ke dalam kalau mau ngebongkar pusat kendali utama mereka."

​"Kalau begitu, tidak ada pilihan lain," tegas Revan, menatap kelima sahabatnya satu persatu dengan penuh keyakinan. "Kita masuk ke dalam dinding sekolah itu. Kita selamatkan anak-anak di sana, dan kita hancurkan Sektor 01 sampai tuntas."

​Tanpa membuang waktu lagi, keenam remaja itu melangkah melewati ambang pintu rahasia, memasuki koridor panjang di balik panti asuhan yang langsung menelan mereka ke dalam keheningan mencekam SMA Asrama Elit Sektor 01.

​Beberapa menit kemudian di dalam koridor asrama...

​Suasana di dalam kompleks bawah tanah tersebut ternyata jauh lebih luas dari perkiraan mereka. Di sebelah kiri dan kanan lorong, terdapat deretan pintu kelas berlabel khusus: Kelas Manipulasi Psikis, Kelas Doktrin Darah, hingga Laboratorium Inang Sektor. Dinding di sepanjang koridor terbuat dari beton tebal setebal satu meter yang dilapisi peredam suara khusus, membuat suasana di dalam terasa sangat sunyi, seolah dunia di luar tidak pernah ada.

​Dika berjalan di barisan tengah sambil memegang gawai pelacak sinyal yang layarnya berkedip-kedip cepat. "Sumpah, arsitektur sekolah ini gila banget. Siapa yang mendesain tempat kayak gini di bawah tanah? Ini murni penjara berkedok fasilitas pendidikan!"

​"Bukan cuma penjara, Dik," sahut Nisa yang berjalan tepat di belakang Dika, matanya fokus menatap layar tablet. "Dari data arsitektur yang berhasil aku retak barusan, sekolah ini dirancang langsung oleh arsitek yang sama dengan yang merancang SMA Graha Sentosa pada tahun 1996. Artinya, tempat ini sudah beroperasi secara ilegal selama puluhan tahun tanpa terendus aparat."

​Tiba-tiba, langkah Bima yang berada di barisan depan terhenti mendadak. Pemuda berbadan atletis itu mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar teman-temannya di belakang ikut berhenti.

​"Ada apa, Bim?" bisik Revan, segera mendekat ke sisi Bima.

​Bima menunjuk ke arah ujung koridor yang berbelok ke kiri. Di sana, tergantung sebuah papan penunjuk arah berikon lambang kurikulum, namun di bawahnya terpampang sebuah pintu besi tebal tertutup rapat yang dijaga oleh dua sosok bayangan bertopeng besi hitam—penjaga gerbang inang yang memegang senjata kejut listrik bertegangan tinggi.

​"Dua orang penjaga di depan pintu utama blok asrama utama," bisik Bima pelan, otot-otot di tangannya mulai menegang bersiap menghadapi perkelahian. "Gimana cara kita lewat tanpa bikin keributan?"

​Revan menyipitkan matanya, mengamati pola patroli kedua penjaga bertopeng tersebut. "Dika, Nisa, kalian cari terminal kontrol listrik terdekat buat matikan lampu di koridor ini. Sasha, fokuskan indramu buat deteksi kalau ada bala bantuan lain yang datang dari arah belakang. Biar aku, Anya, sama Bima yang beresin dua penjaga itu dalam sekali serang."

​"Setuju!" jawab Bima menyeringai tipis, memutar bahunya untuk pemanasan.

​Dika dan Nisa segera bergerak cepat menyusuri celah pintu utilitas di sisi kanan koridor untuk mencari panel listrik, sementara Sasha memejamkan mata, memperkuat konsentrasi indra keenamnya di tengah remang-remang lampu koridor.

​Revan menoleh ke arah Anya. Gadis itu mengangguk mantap, membiarkan pendar cahaya perak dari Kunci Perak di pergelangan tangannya menyala lembut, siap menciptakan perisai pelindung jika situasi mendadak kacau.

​"Sekarang!" bisik Revan.

​Dalam satu gerakan kilat, Revan dan Bima melesat maju menembus kegelapan koridor. Dua penjaga bertopeng besi itu bahkan belum sempat mengangkat senjata kejut mereka ketika Bima menerjang salah satunya dengan bantingan bahu yang telak, sementara Revan melayangkan tendangan keras yang menghantam helm pelindung penjaga kedua hingga tersungkur pingsan seketika di lantai beton.

​Bruk! Bruk!

​Kedua penjaga itu tumbang tanpa sempat membunyikan alarm peringatan.

​Dika dan Nisa keluar dari ruang utilitas sambil mengacungkan jempol, tanda lampu koridor utama berhasil dipadamkan total. Suasana di dalam lorong asrama kini benar-benar gelap gulita, menyisakan pendar cahaya perak dari pergelangan tangan Anya dan sorot mata tajam Revan yang menatap lurus ke arah pintu besi blok asrama utama.

​"Kerja bagus semuanya," puji Revan. Ia melangkah maju, memegang gagang pintu besi tebal tersebut. "Di balik pintu ini... pusat kendali Sektor 01 menanti kita."

​[CATATAN AUTHOR]

Terima kasih sudah membaca Bab 24! Petualangan Revan dan kawan-kawan di balik dinding SMA Asrama Elit Sektor 01 baru saja dimulai! Jangan lupa klik tombol Favorit/Rak Buku, tinggalkan komentar terbaik kalian, dan beri rating bintang 5 ya! Sampai jumpa di Bab 25!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!