NovelToon NovelToon
Kurebut Istri yang Ia Kurung

Kurebut Istri yang Ia Kurung

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Isabel Coração

Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.

Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.

Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.

Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.

Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

POV: Amelia

Aku kembali ke Jakarta dengan penerbangan kilat karena Bi Ningsih menelepon bilang Nenek Dina memburuk, dengan suara yang sudah kupelajari untuk ditakuti.

Panti Wreda Recanto, tempat Nenek dirawat, tenang, berjendela besar, berbau obat bercampur kopi encer. Kutemukan nenekku di ranjang, lebih kecil setiap kali kukunjungi, rambut putihnya berhamburan di bantal, tangan berurat menggeletak di atas seprai. Hari itu dia jernih, sesuatu yang langka sejak stroke, dan jernihnya sekarang membuatku lebih takut daripada bingungnya, karena rahasia-rahasia itu lolos justru saat dia jernih.

"Lia," katanya, tersenyum, senyum yang miring sebelah akibat sisa stroke. "Orang jauhku."

"Kenapa Nenek memanggilku begitu?"

"Karena kamu tidak lahir untuk muat di rumah kontrakan, Nak." Dia menggenggam tanganku, lemah. "Kamu terlalu cantik, terlalu halus untuk lahir dari Nenek. Dari dulu. Sejak bayi. Kamu datang ke sini sudah lain."

"Nenek ada-ada saja."

Aku tertawa, tapi mencatat. Sudah lama aku mulai memegang buku kecil untuk menyimpan potongan-potongan kalimat yang lolos darinya di antara tidurnya. Ada yang igauan penyakit, mencampur nama, waktu, orang mati dengan orang hidup. Ada yang berbau kebenaran sampai bulu kudukku berdiri, sesuatu yang disimpan terlalu lama lolos lewat celah.

"Bayiku bagaimana?" tanyanya, menatap perutku yang sudah besar.

"Kuat, Nek. Dia sering menendang. Keras kepala seperti aku."

"Pirang, yang ini." Dia memejamkan mata, tersenyum. "Pirang seperti kamu waktu datang."

"Aku tidak pirang, Nek."

"Bukan?" Dahinya berkerut bingung, gelombang ingatannya pasang surut. "Ah. Benar. Kamu menggelap, seiring waktu, rambutmu jadi cokelat. Tapi waktu kamu datang ke sini, Nak, waktu kamu diletakkan di pelukan Nenek, kamu terang. Terang dan bermata terang. Terang seperti..." dia berhenti, matanya jauh, di waktu yang bukan waktu itu, "seperti ibunya."

"Ibu siapa, Nek? Nenek bicara soal ibuku?"

Tiba-tiba dia meremas tanganku, dengan kekuatan yang tak cocok untuk tubuhnya, kekuatan orang yang harus mengatakan sesuatu sebelum gelombang menyapu lagi.

"Dulu ada penukaran, Lia." Suaranya turun, jadi hampir bisikan. "Suatu hari Nenek ceritakan dengan benar, kalau Nenek sudah punya tenaga. Kamu bukan dari tempat yang kamu kira. Kamu dari jauh. Jauh sekali. Dari tempat orang kaya, orang besar. Dan ada orangmu, orang berdarah sama denganmu, yang tak pernah tahu kamu ada. Yang menangisimu tanpa tahu kamu hidup."

"Nek, Nenek bicara apa? Penukaran apa? Orang siapa?"

"Kamu anak dari..."

Kantuk membawanya di tengah kata. Kepalanya terkulai sedikit di bantal, napasnya jadi dalam dan teratur, dan tangannya melepas tasbih yang selalu dia pegang, yang jatuh ke lantai dengan denting butir.

Aku membungkuk untuk memungutnya, jantung berpacu karena kalimat yang setengah. Tapi tangan lain mendahuluiku. Tangan yang kukenal, dengan butir tasbih melilit jarinya.

"Fariz." Aku berdiri, kaget, jantungku melompat dengan cara lain. "Kamu di Surabaya. Kemarin aku meninggalkanmu di Surabaya."

"Iya." Dia menyerahkan tasbih nenekku dengan hati-hati. "Bi Ningsih mengabariku bahwa kamu berangkat tergesa, sendirian, dan nenekmu memburuk. Aku ambil penerbangan pertama. Rasanya tidak benar membiarkanmu melewati ini sendirian."

"Kamu dari Surabaya ke Jakarta hanya untuk..."

"Hanya supaya kamu tidak sendirian di sini. Itu saja."

Kupandangi dia, tasbih nenekku di tangan, perempuan yang membesarkanku tertidur di ranjang dengan rahasia di mulutnya, dan sebuah kalimat setengah tergantung di udara di antara kami, "kamu anak dari...".

"Dia mengatakan hal aneh lagi," kataku pelan, supaya tak membangunkan Nenek. "Bahwa dulu ada penukaran. Bahwa aku bukan dari tempat yang kukira. Bahwa aku dari jauh, dari orang besar. Dia mengulang itu, Fariz, setiap kali jernih. Selalu nyaris menceritakan sesuatu dan kantuk membawanya. Setiap kali."

Dia memandang nenekku yang tertidur, lalu aku, dan ada sesuatu di wajahnya yang tak bisa kubaca, antara kepedulian dan kekhawatiran yang lebih dalam.

"Menurutmu itu igauan?" tanyaku. "Hal dari penyakit?"

"Menurutku," katanya pelan, memilih kata, "orang yang seumur hidup menyimpan rahasia tidak mengarang rahasia itu dari ketiadaan, bahkan saat sakit. Penyakit melepas apa yang dikunci oleh kesehatan. Dia tidak sedang mengarang, Lia. Dia sedang membiarkannya lolos."

Aku duduk di kursi di samping ranjang, lelah sampai ke jiwa. Dia menarik kursi lain dan duduk di sebelahku tanpa berkata apa-apa, hanya tinggal, caranya hadir tanpa membebani.

"Aku takut," kataku, setelah beberapa lama. "Takut dia pergi dengan cerita yang separuh itu. Takut aku tak akan pernah tahu aku siapa sebenarnya. Dan takut juga, sebaliknya, kalau aku tahu. Entah mana yang lebih buruk."

Dia menggenggam tanganku, di atas tasbih.

"Apa pun itu," katanya, "kamu tidak akan menemukannya sendirian. Itu kujanjikan. Aku di sini. Aku akan di sini ketika kamu tahu."

Kami berdua di sana, diam, mendengar napas nenekku, buku kecil berisi kalimat-kalimat serpihan di pangkuanku, dan di luar sore Jakarta turun pelan-pelan di atas kota.

Aku tak tahu seberapa besar yang coba disampaikan nenekku. Aku hanya tahu perempuan yang membesarkanku sedang padam perlahan, dan di dalam dirinya tinggal sebuah kebenaran tentang aku yang bahkan aku tak tahu, kebenaran yang dia perjuangkan dengan keras kepala untuk dia serahkan padaku sebelum pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!