Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Mereka berdua tahu betul betapa jeniusnya Lyly dalam urusan membaca arah pasar saham dunia.
"Coba kamu perhatikan grafik volume penjualannya di jam pertama pembukaan pasar tadi," tunjuk Jarot menggunakan dagunya ke arah layar Lyly.
Lyly secara refleks mengikuti arah pandangan Jarot dan melihat grafik yang dimaksud.
"Grafiknya stabil. Ada penurunan harga sedikit karena koreksi pasar biasa," bela Lyly mempertahankan analisisnya.
"Itu bukan koreksi pasar, Mbak Lyly. Itu aksi jual paksa dari pemegang saham mayoritas yang dilakukan lewat banyak akun kecil," jelas Jarot dengan istilah yang sangat akurat.
Mata Lyly sedikit melebar mendengar istilah teknis yang keluar dari mulut pria urakan di depannya itu.
"Mereka sengaja memecah penjualannya biar grafiknya terlihat seperti koreksi pasar normal," lanjut Jarot menjelaskan strateginya.
"Bagaimana kamu bisa menyimpulkan hal gila seperti itu hanya dari melihat layar sekilas?" bantah Lyly mulai merasa goyah.
"Karena kalau perusahaan tambang Eropa mau memperluas lahan, mereka butuh modal tunai cepat untuk menyuap pemerintah lokal," jawab Jarot dengan alasan yang sangat gelap dan realistis.
"Dan cara paling cepat dapat uang tunai tanpa ketahuan adalah dengan membuang saham mereka pelan-pelan ke investor bodoh," pungkas Jarot tersenyum tipis.
Kata-kata Jarot itu menampar ego finansial Lyly dengan sangat keras.
Lyly langsung terdiam dan menganalisis ulang semua data grafik yang ada di layarnya dengan lebih teliti.
Tak. Tak. Tak.
Jari Lyly bergerak cepat mengetikkan beberapa kode untuk memunculkan data transaksi tersembunyi dari bursa saham.
Wajah Lyly perlahan berubah menjadi pucat pasi setelah melihat hasil data yang baru saja ia buka.
"Astaga... Kamu benar," gumam Lyly dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
"Ada puluhan akun anonim dari Swiss yang terus membuang saham tambang ini secara konstan sejak pagi tadi," baca Lyly dengan tangan sedikit gemetar.
Tata dan Melly saling berpandangan dengan tatapan sangat terkejut.
Mereka tidak menyangka analisis instan dari seorang pengawal bisa mengalahkan perhitungan matematis kakak tertua mereka.
"Kalau tadi aku menekan tombol beli, aku pasti sudah rugi puluhan miliar dalam waktu kurang dari satu jam," ucap Lyly menatap Jarot dengan pandangan tidak percaya.
Jarot hanya mengangkat bahunya santai lalu mengambil satu buah pisang dari keranjang buah di tengah meja.
"Makanya, insting itu kadang lebih penting daripada deretan angka di layar komputer," kata Jarot sambil mengupas pisangnya.
Lyly langsung menutup aplikasi sahamnya dan menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya.
Rasa benci dan egonya perlahan mulai terkikis oleh rasa penasaran yang sangat besar terhadap sosok Jarot.
"Sebenarnya siapa kamu ini, Jarot? Kamu bisa bela diri tingkat tinggi, paham teknologi peretasan, dan sekarang mengerti trik kotor pasar saham," selidik Lyly menatap tajam mata Jarot.
"Aku kan sudah bilang, aku ini cuma warga biasa yang sering nongkrong di warnet dan warung kopi," bohong Jarot dengan wajah luar biasa tanpa dosa.
"Pembohong! Tidak ada orang warung kopi yang tahu soal suap pemerintah lokal Eropa," teriak Melly ikut gemas dengan jawaban Jarot.
"Ada kok, kebetulan bapak yang jualan kopi di kampungku dulu mantan agen rahasia mungkin," canda Jarot terus mengelak dengan alasan konyol.
Ketiga gadis itu hanya bisa menghela nafas panjang karena mereka tahu memaksa Jarot menjawab jujur adalah hal yang mustahil.
Namun di dalam hati mereka masing-masing, rasa kagum mulai tumbuh menggeser rasa permusuhan yang dulu ada.
Pria berpakaian murah ini seolah memiliki kunci jawaban dari semua masalah yang ada di dunia ini.
Brak.
Suara dobrakan pintu dari arah luar tiba-tiba mengejutkan mereka berempat di ruang makan.
Jarot langsung berhenti mengunyah pisangnya dan menajamkan pendengarannya.
"Ada yang memaksa masuk lewat pintu garasi samping," ucap Jarot dengan nada suara yang seketika berubah dingin.
Lyly, Tata, dan Melly langsung berdiri dari kursi mereka dengan wajah panik.
"Apakah itu orang-orang suruhan rival Mama yang kemarin?" tanya Tata bersiap mengambil posisi bertarung.
"Bukan, suara langkah kakinya terlalu berantakan untuk ukuran pembunuh bayaran," analisis Jarot dengan tenang.
Jarot bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan menuju arah dapur yang terhubung langsung dengan pintu garasi.
"Kalian bertiga tetap di sini, aku akan memeriksa siapa tamu tidak diundang kita pagi ini," perintah Jarot tanpa menoleh.
Lyly mengangguk cepat dan langsung menarik kedua adiknya untuk bersembunyi di balik meja makan besar.
Langkah Jarot tidak mengeluarkan suara sama sekali saat ia berjalan mendekati pintu penghubung garasi.
Cklek.
Pintu itu terbuka pelan dan Jarot melihat seorang pria muda berpakaian preman sedang mencoba mencongkel kotak saklar listrik.
Pria muda itu memiliki tato naga kecil di pergelangan tangannya yang sangat familiar di mata Jarot.
"Halo Mas, lagi cari kerjaan sambilan jadi tukang listrik ya?" sapa Jarot santai bersandar di kusen pintu.
Pria muda itu terlonjak kaget dan langsung mencabut sebuah pisau lipat dari saku celananya.
"Mundur kamu, anjing! Aku cuma disuruh bos buat motong kabel CCTV rumah ini!" ancam pria muda itu dengan tangan gemetar.
Jarot menghela nafas malas melihat keberanian palsu dari penjahat kelas teri di depannya.
"Bos Naga kesayanganmu itu benar-benar tidak sabaran ya rupanya," kata Jarot sambil memutar lehernya hingga berbunyi krek.
"Baguslah, aku kebetulan butuh sedikit pemanasan setelah makan nasi goreng," senyum iblis Jarot mulai mengembang.
Pria muda berpisau itu belum sadar bahwa ia baru saja membangunkan monster yang paling mengerikan di kota ini.
Dan pagi yang damai ini tampaknya akan kembali diwarnai dengan suara patahan tulang yang merdu di telinga Jarot.