NovelToon NovelToon
Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Ketos
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: nalana lalasya

• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.

• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Perlindungan dan Pilihan Rahasia

Pintu kaca buram ruang rapat utama yayasan tertutup dengan suara klik yang pelan di belakang Eca. Eca berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor lantai tiga yang kini sudah kembali sunyi senyap. Kaki mungilnya yang terbungkus kaus kaki putih terasa lemas, seolah semua sisa energinya baru saja diperas habis di dalam ruangan dingin tadi. Dia sengaja berjalan lebih cepat, meninggalkan Angkasa yang masih membereskan beberapa berkas meja di dalam ruang rapat. Eca hanya ingin segera kembali ke kelasnya, menenggelamkan wajahnya di meja, dan melupakan kegilaan politik sekolah ini.

Namun baru saja Eca berbelok di koridor sepi dekat deretan laboratorium biologi tua, sebuah langkah kaki yang tegas dari arah depan menghentikan pergerakannya.

Eca mendongak, dan jantungnya langsung mencelos seketika. Di depan pintu lab yang tertutup, Reno Aliansyah sedang berdiri menyandarkan punggungnya ke dinding dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku almamater OSIS-nya. Wajah tampan Reno yang biasanya selalu dihiasi senyuman ramah dan menenangkan, kini tampak datar, serius, dan memancarkan kekecewaan yang sangat mendalam. Sepasang mata cerdas cowok itu langsung mengunci tepat ke arah kacamata bulat tebal Eca.

"Bisa kita bicara sebentar, Alesya? Cuma lima menit," ucap Reno dengan suara baritonnya yang terdengar dingin, berbeda dengan nada lembutnya saat di kelas tadi istirahat.

Eca menghentikan langkahnya, memeluk erat-erat laptop perak milik Angkasa di dadanya sebagai tameng pertahanan diri. Dia menelan ludah dengan susah payah. "Kak Reno... sori soal yang di dalam ruang rapat tadi. Aku nggak bermaksud buat—"

"Kenapa lo malah bantuin Angkasa, Alesya?" potong Reno cepat, melangkah maju dua langkah mendekati Eca. Tatapan matanya menuntut jawaban yang jujur. "Tadi pagi di kelas, gue udah nawarin bantuan yang sangat adil buat lo. Gue bisa pastiin kartu pelajar lama lo balik dengan aman tanpa ada yang tahu rahasia lo, asal lo mau kerja sama buat ngasih celah anggaran Angkasa. Tapi di dalam tadi... lo justru jadi penyelamat dia. Lo mutusin buat berdiri di pihak cowok arogan yang udah nindas lo."

Eca menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap ujung sepatu putihnya sendiri dengan perasaan bersalah yang berkecamuk di dada. "Gue terpaksa, Kak," bisik Eca dengan suara aslinya yang pelan namun penuh ketekanan. "Lo nggak tahu apa yang dia ancem ke gue di ruang OSIS sebelum rapat dimulai. Angkasa... dia nggak cuma ngancem mau sebarin foto asli gue ke mading sekolah besok pagi."

Reno mengernyitkan dahinya, tatapannya sedikit melunak melihat ketakutan yang nyata di mata Eca. "Dia ngancem apa lagi?"

"Dia ngancem mau nyabut beasiswa pindahan gue di sekolah ini sebelum matahari terbenam hari ini kalau anggaran itu sampai gagal disahkan," ucap Eca lirih, setitik air mata kekesalan hampir saja lolos dari sudut matanya. "Gue butuh beasiswa itu, Kak. Keluarga gue lagi ada masalah keuangan setelah kekacauan di sekolah lama gue. Gue nggak bisa egois dan biarin masa depan sekolah gue hancur cuma demi ngambil kartu pelajar itu balik dengan cara instan. Gue terpaksa menangin dia."

Reno tertegun mendengar penjelasan jujur dari Eca. Kekecewaan di wajah Wakil Ketua OSIS itu perlahan memudar, digantikan oleh rasa empati dan amarah baru yang tertuju pada kelicikan sahabat sekaligus rivalnya. "Gila... Angkasa bener-bener udah kelewatan. Dia manfaatin situasi tersulit lo buat jadiin lo tameng pribadi dia."

Reno maju satu langkah lagi, mengikis jarak di antara mereka hingga dia bisa melihat dengan jelas mata Eca di balik lensa tebal. Dia mengulurkan tangan kanan, berniat untuk menepuk pundak Eca dengan maksud menguatkan gadis itu. "Kalau gitu, lo nggak usah takut lagi sekarang. Gue tetep bakal—"

SET!

Sebelum jemari tangan Reno sempat menyentuh seragam Eca, sebuah tangan besar dengan gerakan secepat kilat menyambar pergelangan tangan Reno di udara, mencengkeramnya dengan sangat kuat dan bertenaga hingga terdengar suara gesekan kain yang tajam.

Eca tersentak kaget dan refleks mundur satu langkah ke belakang.

Angkasa Argantara Mahendra entah sejak kapan sudah berdiri kokoh di samping mereka. Wajah tampan cowok itu tampak mengeras sempurna dengan rahang yang mengetat rapat. Sepasang mata elangnya berkilat penuh amarah yang sangat pekat, sedingin es kutub namun membakar di saat yang sama. Angkasa melangkah maju, memposisikan tubuh jangkungnya tepat di depan Eca, menghalangi pandangan Reno sepenuhnya dari gadis itu. Tindakan protektif yang sangat spontan dan tidak terduga dari sang penguasa sekolah.

"Gue udah pernah bilang sama lo di kelas tadi kan, Reno?" desis Angkasa dengan suara yang sangat rendah, berat, dan penuh dengan nada ancaman yang berbahaya. Dia melepaskan cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Reno dengan satu sentakan kasar. "Jauhkan tangan kotor lo dari asisten pribadi gue. Dan berhenti buat nemuin dia secara sembunyi-sembunyi di belakang gue."

Reno menarik kembali tangannya, memperbaiki posisi almamaternya yang sedikit kusut akibat cengkeraman Angkasa, lalu menatap rivalnya itu dengan senyuman sinis yang menantang. "Lo takut, Angkasa? Lo takut kalau asisten pilihan lo ini akhirnya sadar kalau dia lagi diperbudak sama iblis kayak lo, terus dia milih buat pindah ke pihak gue?"

Angkasa mendengus hambar, sebuah tawa meremehkan terukir di bibir tipisnya. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, berdiri menjulang tinggi dengan aura dominasi yang mutlak. "Dia nggak bakal ke mana-mana. Dia tahu betul apa konsekuensinya kalau berani melangkah keluar dari garis yang udah gue buat. Jadi, simpan rencana busuk lo buat jatuhin gue lewat dia, karena itu nggak bakal pernah berhasil."

Angkasa membalikkan tubuhnya, menatap lekat-lekat ke arah Eca yang berdiri kaku di belakang punggungnya. Tatapan mata elangnya melembut sedikit, namun nadanya tetap terdengar mutlak tak terbantahkan. "Bawa laptop gue balik ke ruang OSIS sekarang, Alesya. Tunggu gue di sana sampai bel pulang sekolah bunyi. Jangan berani-berani bicara satu patah kata pun lagi sama cwo ini kalau lo masih sayang sama beasiswa lo."

Eca melirik Reno sekilas yang memberikan anggukan pelan seolah memintanya mengalah dulu, lalu dia menatap Angkasa yang matanya kembali berkilat tajam memantau setiap gerakannya. Tanpa menjawab sepatah kata pun, Eca langsung memeluk laptop perak itu erat-erat, memutar tubuhnya, dan berlari cepat menuruni anak tangga menuju lantai satu untuk mengamankan diri di ruang OSIS.

Melihat kepergian Eca, Reno kembali menatap Angkasa dengan pandangan penuh teka-teki. "Lo bisa ngancem beasiswanya buat sekarang, Angkasa. Tapi lo nggak bisa ngiket dia selamanya dengan cara paksa kayak gitu. Suatu saat, lo bakal nyesel kalau dia bener-bener pergi dari hidup lo karena kelakuan egois lo ini."

Angkasa tidak menyahut. Dia hanya menatap Reno dengan pandangan sedingin es selama beberapa detik, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi menyusuri koridor sepi untuk menyusul Eca ke ruang OSIS.

Sementara itu, di lantai satu, Eca baru saja menutup pintu ruang OSIS dengan rapat. Dia mendudukkan tubuhnya di kursi kerja kebesaran Angkasa dengan napas yang memburu. Kepalanya terasa pening memikirkan posisinya yang kini resmi terjebak di antara perlindungan posesif yang berbahaya dari Angkasa dan tawaran rahasia yang menggiurkan dari Reno.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!