Marsya Arcelia Dealova, gadis cantik mahasiswi tingkat akhir yang dijodohkan dengan laki-laki pilihan dua keluarga.
Yang mana, calon suaminya itu adalah sahabat dari pacarnya.
Bagaimana Marsya akan menjani pernikahan itu? Mampukah dia berdiri diantara dua laki-laki, suami dan pacarnya?
Selamat datang di cerita ketiga ku, doain ya semoga cerita ini nggak gantung seperti yang udah udah😄
Dukung aku yaa
Selamat membaca~~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah NH2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rebutan Permen
Siang itu, atas izin Kyle, Marsya kerumah sakit untuk menjenguk Erik, dia ingin mengetahui keadaan kekasihnya itu. Izin itu tidak Marsya dapatkan dengan mudah, tentu banyak sekali larangan yang Kyle berikan untuknya. Selain tidak boleh ada sentuhan fisik yang berlebih, Marsya juga dilarang memberi perhatian mendalam untuk Erik. Marsya harus memperlakukan Erik selayaknya teman biasa, bukan kekasih.
Entah Marsya bisa melakukannya atau tidak, akan dia coba. Karena Marsya sadar kalau dia tidak bisa selamanya menjalin dua hubungan seperti ini. Marsya harus melepaskan salah satunya dan hubungannya dengan Erik yang menjadi pilihannya. Sebab Marsya juga berpikir, hubungannya dengan Erik belum terlalu jauh dan belum mencapai jenjang serius. Marsya akan mencari waktu yang tepat untuk mengakhiri hubungan itu.
Sedikit lagi langkahnya tiba diruangan Erik, Marsya melihat Leo berdiri persis didepan pintunya. Gerak-gerik Leo yang terlihat seperti mengintip, membuat Marsya buru-buru menghampirinya. Tanpa bersuara, Marsya menarik-narik tangan Leo, Leo pun menyadari kedatangannya dan meminta Marsya untuk tidak bicara terlalu kencang. Dengan sedikit berbisik, Leo mengatakan kalau ada seorang perempuan yang bersama Erik didalam sana. Dan Leo pun membiarkan Marsya untuk melihatnya sendiri.
"Itu kan cewek yang waktu itu ada dirumah Erik?"
Ya, Marsya tidak salah lihat dan tidak lupa kalau dia pernah bertemu perempuan itu saat datang mencari Erik kerumahnya. Perempuan bernama Via, anak dari teman ibunda Erik, Erik sudah jelaskan itu semua sewaktu menyelesaikan kesalah-pahamannya dengan Marsya. Tetapi sekarang, satu hal yang tidak Marsya tahu, untuk apa Via datang kesini? Apa Erik yang memintanya datang? Padahal kedatangannya kesini adalah permintaan Erik sendiri. Tidak disangka sudah ada Via yang lebih dulu menemaninya, perempuan itu terlihat begitu perhatian dan lihai mengurus Erik.
"Aku mau masuk" Marsya ingin menerobos, dia menyingkirkan Leo yang berdiri dekat pintu. Namun Leo berhasil menahan tangannya
"Ngapain? Jangan"
"Erik yang minta aku datang, tapi dia malah sama cewek lain?"
"Kalau Erik sama cewek lain, tandanya dia nggak butuh lo disini. Ya, kan?"
Marsya terdiam, ucapan Leo ada benarnya dan membuatnya sadar. Sudah ada Via bersamanya, apakah Erik masih membutuhkan dirinya? Erik tidak menjauh saat Via membantunya duduk, Erik tidak menolak saat Via menyuapinya makan. Ya, sepertinya memang Via yang Erik butuhkan.
Akhirnya Marsya memilih pergi. Bersama Leo, keduanya berjalan meninggalkan koridor, menjauh dari ruangan Erik. Sekilas Leo menoleh, menatap Marsya yang bungkam seribu bahasa, Leo menebak seperti ada sesuatu yang Marsya pikirkan. Mungkin kah Marsya memikirkan Erik yang sedang bersama Via?
Dengan hati-hati Leo bertanya tentang Via kepada Marsya, karena selama berteman dekat dengan Erik, dia tidak pernah melihat Via ada disekitar sahabatnya itu. Marsya jawab apa yang dia ketahui tentang Via, dan itu membuat sedikit paham karena dia masih tidak mengerti mengapa Erik terlihat dekat dengan perempuan itu.
"Ngomong-ngomong suami galak lo kemana? Dia ngebolehin lo kesini?
"Iya, dia yang drop aku kesini terus lanjut ke bengkel"
"Bengkel mulu. Ayo, gue antar lo kesana biar itu orang nggak ngurus kerjaan mulu"
"Hahaha, ya udah, ayo"
Belum lama tiba dibengkel, bahkan belum sempat memegang pekerjaan, Kyle dikejutkan dengan kedatangan Marsya bersama Leo. Kyle sedikit bingung, bukah kah dia sudah mengantar istrinya menemui Erik dirumah sakit? Apa yang terjadi disana sampai Marsya kembali begitu cepat? Sahabatnya itu juga tampak sumringah karena telah mengantarkan Marsya untuknya.
"Jangan ngurus kerjaan terus lah, bro. Ingat istri, nanti diambil orang baru tau rasa lo" Ucapan Leo membuat Kyle memicingkan matanya, "Ngapain ngeliatin gue kayak gitu? Gue udah antar Marsya kesini, minimal mobil gue service gratis, lah"
Kyle membuang nafas panjang dengan mata terpejam, ada saja permintaan sahabatnya ini, tidak bisa ditebak.
"Suruh orang parkirin mobil lo" Jawab Kyle sambil melirik satu tempat parkir yang masih kosong.
"Apa? Serius, bro?"
"Hm" Kyle mengiyakan permintaan Leo dengan memberikan satu kali perawatan menyeluruh secara gratis untuk mobilnya. Ya, biarkan saja, Leo adalah teman baiknya, membuat Leo senang tidak ada salahnya. Dan untuk Leo, ini sangat menguntungkan, sebab dia tidak perlu mengeluarkan biaya sepersen pun. Dengan gembira Leo segera menyuruh montir untuk mengurus mobilnya. Mengenai Marsya dan Kyle, dia tidak peduli lagi, Leo hanya bersemangat dengan mobilnya. Dia biarkan Kyle pergi membawa Marsya kedalam ruang kerjanya.
"Sini" Kyle mendudukkan Marsya disofa, dia rapihkan anak rambut Marsya ke belakang telinga dan mengusap lembut pipinya,
"Kenapa pulang? Nggak jadi nemenin Erik?"
"Udah ada Via disana"
"Via? Siapa?"
"Cewek yang waktu itu kita lihat dirumah Erik"
"Oh, pacarnya Erik juga?"
"Aku...nggak tau dia siapanya Erik" Marsya terdiam, pertanyaan Kyle membuatnya jadi berfikir tentang hubungan Erik dengan Via. Mungkin kah Erik memang memiliki hubungan dengan Via? Bukan hanya Marsya yang menduga, Leo pun juga berpikiran yang sama. Leo yang lebih dulu melihat Erik bersama Via dan menurut penglihatan Leo tadi mereka berdua memang terlihat sangat dekat.
"Cemburu? Hm?"
"Siapa yang cemburu? Enggak kok" Marsya mencoba meyakinkan dirinya, gelengan kepalanya cukup kencang membuat Kyle tertawa kecil,
"Oh? Bukannya Marsya ini cinta banget sama pacarnya?"
"Kyle?"
"Hehe, bercanda" Kyle menarik Marsya kepelukannya, tidak bermaksud mengejek, Kyle hanya sedikit menggoda Marsya. Kyle mengerti, bisa saja Marsya sedang menyembunyikan rasa cemburunya. Tetapi disini bukan hanya Marsya yang cemburu, Kyle pun merasakan hal yang sama. Dia cemburu karena Marsya masih memenuhi permintaan Erik untuk menemuinya, dan kondisi Erik yang sedang tidak baik memperkuat alasan Marsya untuk menemui Erik disana. Entah kapan semua ini akan berakhir, Kyle hanya ingin Marsya fokus pada dirinya, bukan pada laki-laki lain.
"Sya?"
"Iya?"
"Kapan lo bisa sayang dan cinta sama gue?"
Sesaat Marsya terdiam, dia ingin memberikan jawaban yang tidak menyakiti Kyle dan tidak membuatnya merasa sedih,
"Pelan-pelan ya, Kyle. Nggak apa-apa kan?"
"Hm, ya" Kyle tersenyum tipis, jawaban Marsya tidak membuatnya puas, tetapi setidaknya Marsya akan mencoba membuka hati untuknya. Tidak masalah, perlahan tapi pasti, rasa sayang dan cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Dengan begitu Marsya akan benar-benar menjadi miliknya yang seutuhnya.
Hampir dua jam lamanya Leo menunggu dibengkel mobil Kyle. Memang, perawatan mobil secara menyeluruh memerlukan waktu yang cukup lama. Tetapi disana Leo sama sekali tidak merasa bosan, ada Kyle yang menemaninya. Kyle juga menjamu Leo dengan beberapa makanan dan minuman yang sengaja dia beli, bahkan Kyle belikan sahabatnya itu seporsi makan siang yang langsung ludes dalam sekejap. Leo merasa sangat puas, Kyle selalu memperlakukannya begitu baik.
Keduanya masih berbincang santai sejak tadi. Sementara Marsya, dia tidur pulas diruang kerja Kyle, memang siang itu Marsya merasa sangat mengantuk sehingga Kyle memintanya untuk tidur lebih dulu, akan dia bangunkan Marsya saat mereka akan pulang kerumah nanti.
"Mas, maaf mengganggu, mobilnya sudah selesai" Ucap seorang montir saat menghampiri Kyle dan Leo. Keduanya pun bangun dan memeriksa sebelum Leo pergi meninggalkan bengkel.
"Thanks, bro, lo emang kawan gue yang terbaik sepanjang sejarah" Ucap Leo sambil merangkul Kyle, "Gue makin suka sama lo"
"Apa?"
"Eh? Maksud gue makin respect sama lo. Udah lah, thank you pokoknya"
"Gue mau lanjut ke kafe, jangan lupa nanti ajak Marsya kesana, gue kasih free buat Marsya"
"Buat gue?"
"Ya elah, lo beli kafenya juga mampu ngapain gratisan, hahaha"
Sepeninggal Leo, Kyle kembali ke ruang kerjanya. Ternyata Marsya sudah bangun dan sudah menghabiskan sekotak coklat dilanjut memakan beberapa permen yang tersimpan disana. Kyle membuang nafas panjang sambil menggelengkan-gelengkan kepalanya, Marsya sangat suka makanan manis. Padahal makanan manis mudah membuatnya batuk dan sakit gigi. Kyle masih ingat betul beberapa minggu sebelum pernikahan, Marsya mengeluh sakit gigi karena terlalu banyak memakan coklat dan permen.
Dan tidak hanya itu, sebelumnya saat dikampus dia cukup sering melihat Marsya dengan keadaan sedang sakit gigi. Sepertinya Kyle tidak bisa berdiam diri, dia harus menghentikan atau setidaknya membuat Marsya mengurangi kebiasaannya itu. Dia rapihkan bungkus permen yang berserakan dan meminta Marsya memuntahkan permen yang ada didalam mulutnya.
"Nggak mau, ini tuh enak tau!"
"Marsya? Buang permennya, udah kebanyakan nanti giginya sakit"
"Nggak mau, nggak ma- hmph" Kyle membungkam Marsya, lidahnya bekerja keras membuka mulut Marsya dan mengeluarkan permen itu dari dalam mulutnya. Marsya memukul-mukul dada Kyle, meminta suaminya itu untuk melepaskannya namun gagal, Kyle justru memeluknya dan memperdalam ciuman mereka, bukan, memperdalam usahanya untuk mengambil permen itu dari Marsya. Dan yap, berhasil, dengan bangga Kyle menjulurkan lidahnya dan menunjukkan permen berwarna merah itu pada Marsya.
"Balikin permen aku"
"Nggak mau"
"Kyle? Balikin"
"Ya udah, ambil sendiri"
"Okay!"
Cup!
...•••••...
To be continued
Dahh bubar bubarrr jangan ganggu orang yg lagi rebutan permennn beli sendiri lah klean jgn minta sama Kyle😓
Yukk yg suka ceritanya jangan lupa klik love, subscribe dan komeeennn yaaa
Dukung teruss biar aku semangat update💕❤️