NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:630.1k
Nilai: 4.5
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 07 - Suami Yang Bisa Memasak

Arga baru benar-benar melihat cara Safira bekerja saat ia datang menjemputnya sore itu.

Perempuan itu duduk di lantai workshop, dikelilingi potongan kain, jarum pentul, penggaris pola, dan catatan ukuran pelanggan. Rambutnya diikat asal, lengan bajunya digulung, dan di pipinya ada bekas kapur jahit tipis.

Ia terlihat lelah.

Tapi matanya hidup.

"Sebentar lagi," kata Safira tanpa mengangkat wajah. "Aku tinggal menyelesaikan bagian manset."

Arga berdiri di dekat pintu. "Saya tidak buru-buru."

"Kamu pulang kerja jam segini?"

"Iya."

"Proyekmu tidak jauh?"

"Tidak terlalu."

Kali ini Bima tidak ada untuk menertawakan kebohongan itu. Untung saja. Kalau ada, mungkin Safira akan makin curiga.

Arga melihat sekeliling. Workshop itu kecil, tapi semua benda berada di tempat yang masuk akal. Satu rak khusus kain pelanggan, satu rak untuk kain pribadi, kotak kancing diberi label, benang disusun berdasarkan warna. Di dinding ada kalender kerja dengan tulisan tangan Safira yang rapi.

Lelaki yang terbiasa masuk ruang rapat puluhan lantai di atas Jakarta itu mendadak merasa ruangan kecil ini lebih jujur daripada banyak kantor mewah yang pernah ia datangi.

"Kamu belum makan siang?"

Tangan Safira berhenti.

"Sudah."

Arga menatap tempat sampah kecil di bawah meja. Hanya ada bungkus roti dan gelas kopi plastik.

"Roti bukan makan siang."

"Kalau dimakan jam makan siang, namanya makan siang."

"Logika yang berbahaya."

Safira akhirnya menoleh. "Mas Arga, jangan cerewet. Aku tinggal sedikit."

Mas Arga.

Panggilan itu sederhana, tetapi Arga menyukainya lebih dari yang ia perkirakan.

Ia tidak mengganggu lagi. Ia mengambil kursi kecil, duduk di sudut, dan membuka ponsel. Ada puluhan pesan masuk dari kantor. Direktur keuangan meminta persetujuan. Legal menunggu arahan soal akuisisi lahan. Sekretarisnya bertanya apakah ia akan hadir di rapat daring pukul tujuh.

Arga membalas singkat.

`Tunda tiga puluh menit.`

Setelah itu ia mematikan notifikasi.

Safira selesai hampir setengah jam kemudian. Ia mengangkat kebaya hijau sage dari meja, memeriksa jahitan, lalu tersenyum puas.

"Cantik," kata Arga.

Safira menoleh. "Kamu bahkan belum melihat detailnya."

"Saya melihat wajahmu saat melihatnya."

Safira terdiam. Lalu ia cepat-cepat menggantung kebaya itu di manekin.

"Ayo pulang."

"Saya kira kamu mau menjelaskan detailnya."

"Tidak jadi."

"Kenapa?"

"Karena kamu bicara aneh."

Arga tidak menahan senyum.

Di perjalanan pulang, hujan turun. Bandung sore itu macet, wiper mobil tua bergerak malas, dan lampu kendaraan memantul di jalan basah. Safira memeluk tas di pangkuan, sesekali melihat hujan di luar.

"Kamu lapar?" tanya Arga.

"Sedikit."

"Mau makan di luar?"

Safira berpikir. "Kalau makan di luar, uang keluar."

"Kalau masak, tenaga keluar."

"Tenagaku masih ada."

"Tapi uang saya juga masih ada."

Safira menoleh. "Kamu bilang kerja proyek biasa."

"Pekerja proyek juga punya uang makan."

"Hemat itu baik."

"Menyiksa diri bukan hemat."

Safira memutar mata. "Kamu kalau menasihati wajahnya datar sekali."

"Agar terlihat meyakinkan."

Akhirnya mereka mampir ke pasar kecil dekat kompleks. Safira turun dengan payung, Arga mengikuti. Ia memilih ayam, sayur, cabai, tomat, dan tahu. Arga memperhatikan caranya menawar. Tidak kasar, tidak malu, tetapi tegas.

"Mbak, cabainya naik. Jangan sadis nawar," kata pedagang.

Safira tersenyum. "Saya tidak sadis, Bu. Saya cuma pengantin baru yang harus hemat."

Pedagang langsung tertawa. "Suaminya ganteng begini pasti bisa bayarin."

Arga menjawab sebelum Safira, "Tetap harus hemat, Bu. Istri saya yang mengatur."

Safira hampir menjatuhkan tomat.

Pedagang tertawa lebih keras. "Wah, suami nurut. Bagus itu, Mbak. Dipertahankan."

Safira tidak menjawab sampai mereka kembali ke mobil.

"Kenapa diam?" tanya Arga.

"Kamu suka sekali membuat orang salah paham."

"Salah paham apa?"

"Seolah kita pasangan sungguhan."

Arga menyalakan mesin, lalu menatapnya sekilas.

"Kita memang pasangan sungguhan. Akad kita sah."

"Maksudku..."

"Perasaan?"

Safira menutup mulut.

Arga tidak mengejar. Ia mengemudi pelan melewati hujan.

Di rumah, Safira bersiap memasak. Ia sudah mengikat apron ketika Arga mengambil talenan.

"Aku saja."

"Kita bagi."

"Kamu bisa potong bawang?"

Arga mengambil pisau, mengiris bawang merah dengan gerakan rapi.

Safira menatap.

"Kamu benar-benar bisa."

"Saya sudah bilang."

"Aku kira bisa versi laki-laki yang bilang bisa tapi hasilnya dapur hancur."

"Itu bukan bisa. Itu percaya diri tanpa bukti."

Safira tertawa.

Arga berhenti mengiris sepersekian detik.

Ia baru pertama kali mendengar tawa Safira lepas seperti itu. Tidak besar, tidak berlebihan, tetapi bersih. Seperti bunyi kaca kecil yang diketuk pelan.

"Kenapa lihat begitu?" tanya Safira.

"Tidak apa-apa."

Mereka memasak ayam kecap, tumis kangkung, dan tahu goreng. Safira memberi instruksi, Arga mengikuti. Sesekali ia salah mengambil bumbu, Safira menegur. Sesekali Safira terlalu dekat dengan minyak panas, Arga menarik lengannya.

"Hati-hati."

"Aku sudah biasa."

"Biasa bukan berarti kebal."

Kalimat itu membuat Safira diam sebentar.

Ia sering menggunakan kata `biasa` untuk semua hal yang sebenarnya menyakitkan.

Biasa dimarahi.

Biasa tidak makan tepat waktu.

Biasa mengalah.

Biasa dianggap kuat.

Arga meletakkan spatula. "Maaf. Saya bicara terlalu..."

"Tidak." Safira menggeleng. "Kamu benar."

Makan malam mereka sederhana. Tapi bagi Safira, rasanya berbeda karena ia tidak memasak sendirian, tidak makan sisa setelah semua orang selesai, dan tidak perlu berdiri untuk mengambilkan air setiap kali seseorang hanya menggerakkan gelas.

Arga mengambil nasi sendiri.

Arga menuang air sendiri.

Arga bahkan mencuci wajan setelah makan.

Safira berdiri di pintu dapur, tidak tahu harus melakukan apa dengan rasa aneh di dadanya.

"Mas Arga."

"Hm?"

"Di rumahmu, semua laki-laki memang begini?"

"Papa saya iya. Saya diajari begitu."

"Kamu tidak merasa itu menurunkan harga diri?"

Arga menoleh, alisnya sedikit naik.

"Harga diri saya tidak selemah itu sampai jatuh hanya karena mencuci wajan."

Safira menunduk, tersenyum kecil.

Malam itu, setelah Arga masuk kamar sebelah untuk rapat daring, Safira duduk di lantai kamar utama membuka laptop. Namun bukannya bekerja, ia malah melihat pintu.

Suara Arga terdengar samar dari kamar sebelah. Bahasa Indonesianya berubah lebih formal. Kadang ia menyebut angka besar, kadang menyebut laporan, kadang diam lama.

Safira mengerutkan kening.

Pekerja proyek biasa bicara seperti itu?

Ia ingin bertanya.

Tapi belum sempat, ponselnya bergetar.

Pesan dari Rania.

`Nikmati dulu masa manisnya. Nanti kalau uang habis, kamu juga akan sadar cinta dan nasi goreng tidak cukup.`

Safira membaca pesan itu, lalu menghapusnya.

Ia menatap cincin di jarinya.

Entah kenapa, kalimat Rania tidak lagi menusuk sedalam dulu.

Mungkin karena hari ini, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang mencuci wajan bersamanya.

Dan hal sesederhana itu terasa lebih berharga daripada semua tas mahal yang pernah Rania pamerkan.

Sebelum tidur, Safira membuka lemari dapur sekali lagi. Bukan karena ada yang perlu diperiksa, tetapi karena ia masih belum terbiasa melihat dapur yang tidak memanggilnya seperti tugas.

Di rak paling atas, Arga menyusun bumbu sesuai label yang ia tulis. Ketumbar. Lada. Garam. Gula. Kaldu. Semuanya rapi, tetapi tidak kaku. Di samping kompor, ia menemukan lap baru yang tadi mereka beli di pasar. Arga langsung mencucinya sebelum dipakai, katanya kain baru sering menyimpan debu toko.

Hal kecil.

Terlalu kecil untuk dijadikan alasan jatuh hati.

Tapi Safira menyadari sesuatu: rasa aman tidak selalu datang dalam bentuk janji besar. Kadang ia datang sebagai laki-laki yang tidak membiarkan minyak panas dibiarkan di kompor, yang tahu panci harus direndam sebelum dicuci, yang tidak tertawa saat ia menghitung harga cabai.

Di kamar, Arga sudah mematikan lampu sisi kanannya.

"Kenapa belum tidur?" tanyanya.

"Aku cuma cek dapur."

"Dapurnya aman?"

"Aman."

"Kamu?"

Safira terdiam di ambang pintu.

Pertanyaan itu terlalu sederhana, tetapi tidak ada orang di rumah Santoso yang pernah bertanya begitu setelah ia selesai bekerja.

"Aku juga," jawabnya pelan.

Arga mengangguk. Tidak menuntut penjelasan.

Safira masuk ke kamar dengan langkah lebih ringan.

Di meja kecil, ponselnya menyala. Ada pesan dari Bu Maya yang mengirim foto klien memakai kebaya hijau sage.

`Klienku suka sekali. Katanya nanti mau rekomendasikan kamu ke temannya.`

Safira menatap foto itu lama. Kebaya buatannya melekat indah di tubuh orang lain, berdiri di bawah lampu hangat, terlihat jauh lebih mewah daripada saat tergantung di workshop kecil.

"Ada kabar baik?" tanya Arga dari ranjang.

Safira mengangguk. "Karyaku dipakai orang dan terlihat bagus."

"Memang bagus."

Ia tersenyum sambil mematikan layar.

Hari itu melelahkan, tetapi untuk pertama kalinya, lelahnya tidak terasa sia-sia.

1
Maria Tri Rahayu
kemungkinan maya bukan anan dimas dong
Maria Tri Rahayu
berarti safira anaknya ratih
Mimin Rosmini
mulai sekarang jadilah dirimu sendiri ya safa
Mimin Rosmini
arga berasal dari keluarga baik.tidak seperti keluarga safira yg toxic
Maria Tri Rahayu
sebaiknya Arga jujur soal dirinya pada safira
Mimin Rosmini
safira sayang ..berdoa dan berusaha itu tugas seorang muslim.. hasilnya Allah yg menentukan..sabar ya safa sayang
Mimin Rosmini
ini keluarga toxic banget ya
Mimin Rosmini
sebetulnya .safira anak kandung atau siapa?ko bisa diperlakukan seperti ke anak tiri?
Mimin Rosmini
yah ..belum apa apa sudah menilai orang hanya tampilan luarnya saja
Maria Tri Rahayu
menikah 3 bulan blm ketemu keluarga suaminya
Maria Tri Rahayu
suami istri apa- apa harus bayar patungan, safira sikapnya kaku pada suaminya.
Rosdianah Rosi
kok tiba2 hamil 😄pegang tangan sj TDK 💪
Rosdianah Rosi
kembali ke Bambang outhor🙏
Komang Indrayani
kok jadi kakak ya? bukannya rayhan pamannya? kakak ibunya. rafi adik ibunya?
Tismar Khadijah
nama ayahnya kok jd nama mantan🤭
Tismar Khadijah
tinggal dikontrakan apa apart y🤭
Tismar Khadijah
autohor kurang konsisten, bentar safa berhijab eh besoknya rambut diiket🤭
Shaa Erahh
kenapa bapa nya dimas jadinya.kan dimas tu mantan safira calon rania sekarang..bapa nya bambang sentoso...
Adinda Rahmadinah
keren
wahida nurusshobah
/Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!