"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Siang itu, sebuah kafe yang cukup ramai, menjadi tempat pertemuan Jena dan Budi. Budi baru saja duduk ketika Jena langsung menyodorkan segelas es kopi ke hadapannya. Senyumnya begitu lebar, membuat Budi sedikit mengerutkan kening.
“Vanila latte, kesukaan kamu."
Budi memperhatikan minuman di hadapannya. "Emang sejak kapan aku suka vanilla latte?"
"Enggak ya?" Jena menutup mulut dengan telapak tangan, terkekeh pelan. "Ya udah, mau pesen apa, aku yang traktir."
"Tumben kamu baik?"
Jena nyengir. "Emang biasanya aku gak baik?" Ia mendorong buku menu ke arah Budi. "Buruan pilih, nanti aku panggilin pelayan."
"Enggak usah deh, ini aja." Budi mengaduk es vanila lattenya lalu menyeruput sedikit.
"Gak mau pesen makanan? Pesen yang banyak juga boleh. Mau bawa pulang juga boleh."
Budi makin curiga melihat Jena yang menjadi sangat baik seperti ini. “Sebenarnya, kamu mau ngomong apa sih?"
Jena tersenyum kaku, jemarinya menyelipkan rambut ke belakang telinga kanan lalu kiri. “Aku punya pekerjaan buat kamu.”
Seketika, firasat Budi langsung tidak enak. “Pekerjaan?”
“Iya.” Jena justru mengambil sedotan dan mengaduk minumannya dengan tenang.
Biasanya, kerjaan dari Jena selalu aneh-aneh, dan kali ini, Budi merasa jika pekerjaan yang ditawarkan pasti juga aneh. "Pekerjaan apa?"
“Nanti juga kamu tahu.”
Budi menatapnya curiga. “Kenapa harus nanti?”
“Karena aku mau tahu dulu kamu mau atau nggak.”
Budi menyandarkan tubuhnya ke kursi. Beberapa hari yang lalu, dia dijebak dengan pekerjaan yang tanpa diberi tahu terlebih dahulu, sekarang ia harus lebih waspada.
Jena tertawa kecil melihat ekspresi waspada Budi. "Tenang, kerjaannya gampang."
Budi menghela nafas berat. "Selalunya, kamu kalau ngasih kerjaan aneh-aneh. Jadi sekarang, aku harus tahu dulu sebelum ngeiyain."
“Yang penting aku gak pernah merugikan kamu kan? Kamu selalu aku bayar. Kalau yang kemarin itu gratis, kamu sendiri yang minta."
Budi menghitung dalam hati beberapa pekerjaan yang diberikan Jena. Awalnya pura-pura jadi pacar, pura-pura menjadi CEO. Lalu pura-pura jadi calon suami. Dan sekarang, kira-kira apa lagi. Gak disuruh pura-pura jadi suamikan?
"Gimana Bud, mau gak? Tenang saja, yang ini mudah. Dan gajinya gede."
"Gede?"
Jena mengangguk. “Gajinya sepuluh juta sebulan.”
Budi yang tadinya santai langsung menegakkan tubuh. “Sepuluh juta?”
Jena mengangguk.
“Sebulan.”
Sekali lagi Jena mengangguk.
"Berarti, kerjaanya lebih dari sebulan? Berbulan-bulan gitu?"
“Minimal tiga bulan. Tapi bisa sampai lima bulan, tergantung sikon."
Budi terdiam, matanya menyipit, menatap Jena curiga. “Bukan pekerjaan haramkan? Bukan kriminalitas? Kurir obat terlarang, atau pencucian uang?”
Jena terkekeh. "Kalau pencucian uang, bukan lagi 10 juta Bud, tapi 10 M, atau 10 kilo emas."
“Jadi pekerjaan apa?”
“Nanti.”
Budi mengusap wajahnya. “Kenapa setiap kali kamu ngajak aku kerja, detail pekerjaannya selalu dirahasiakan? Mencurigakan tahu gak?"
Jena hanya terkekeh.
Budi menatap gadis itu lama. Ada sesuatu dalam tatapan Jena yang membuatnya yakin bahwa pekerjaan ini tidak sesederhana yang dikatakannya.
“Aku mau tahu dulu pekerjaannya.”
Jena menggeleng. “Mau atau nggak?”
“Jena...”
“Mau atau enggak?"
“Jelasin dulu."
Jena kembali menyerang dengan jurus andalannya. “Dulu kamu sendiri yang bilang, kalau aku butuh sesuatu, aku boleh menghubungi kamu.”
Budi langsung tahu ke mana arah pembicaraan ini. “Jangan mulai menyudutkanku."
“Sekarang aku butuh bantuan kamu, Bud. Please, mau ya." Jena mengiba.
Budi menghela napas panjang. Ia benar-benar tidak suka berada dalam posisi seperti ini. Jena selalu punya cara untuk membuatnya merasa bersalah kalau menolak. Akhirnya Budi mengangkat kedua tangannya, menyerah.
“Ya sudah.”
Senyum Jena langsung mengembang. “Deal?” Ia mengulurkan tangan ke arah Budi.
“Deal. Tapi kalau pekerjaannya aneh-aneh, aku mundur.”
"Gak bisa gitu dong. Kalau udah deal ya deal."
Budi menatap Budi penuh selidik. "Aku gak sedang mau kamu jebakkan, Jen?"
"Budi...aku gak punya waktu lama, harus kembali ke kantor."
Budi garuk-garuk kepala.
“Deal.” Jena kembali mengulurkan tangan ke arah Budi.
Budi menyerah, ia akhirnya menjabat tangan Jena. Meski pekerjaan dari Jena selalu aneh-aneh, setidaknya ia bahagia bisa ada kesempatan untuk terus bertemu gadis itu. "Deal."
Jena hanya tersenyum.
Budi masih menatap Jena dengan penuh curiga. “Jadi... pekerjaan apa?”
“Minggu depan kamu datang ke rumahku.”
“Untuk apa lagi, Jen?" Budi memutar kedua bola matanya malas. "Bukannya kemarin udah ya, sampai kamu ditampar Papa kamu. Lalu sekarang untuk apa lagi, mana sampai berbulan-bulan? Mau jadi tukang kebun di rumah kamu?"
"Masa cowok cakep jadi tukang kebun sih." Jena tersenyum menggoda.
"Jen, stop!" Budi tak suka Jena menggodanya seperti itu. "Cepetan jelasin."
"E..." Jena menggigit bibir bawah, jemarinya saling meremat. Ia sudah membayangkan ekspresi Budi, laki-laki itu pasti syok. "Bud, nikah sama aku yuk!"
Budi langsung membeku. Dengan bibir yang sedikit terbuka, ia berkedip beberapa kali. Dunia seperti tiba-tiba senyap, tak ada suara apapun kecuali ucapan Jena barusan yang terus bergema.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sekarang di kasih kesempatan tidak akan di sia sia kan ,,,batasnya jam 7. Jena Budiman akan berubah jadi pangeran makanya jangan bermain dengan Pria niat baik
😄👍
pernikahan bukan permainan...