Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28 Nasib Derita Istri pekerja kuli bangun
Suara Burhan yang parau namun bergetar menahan amarah membuat suasana kamar rawat seketika hening pada malam itu. Ibu Ratna dan Mbak Maya terkejut, tak menyangka Burhan yang selama ini dikenal pendiam dan selalu menurut pada keluarga, sanggup melayangkan teguran sekeras itu kepada saudara kandung nya
"Burhan... kamu sudah bangun, Nak?" tanya Ibu Ratna, mencoba melembutkan suaranya. "Ibu ini cuma mau memastikan uangmu aman. Kamu kan sedang sakit, Anisa ini masih muda, takutnya keliru mengelola uang sebanyak itu." ucap ibu kepada burhan
Burhan menghela napas panjang, menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca. Rasa nyeri di dadanya akibat kecelakaan kerja kalah sakit dibanding rasa kecewa atas sikap keluarga kandungnya sendiri kepada Burhan.
"Bu... Mbak Maya..." Burhan menatap mereka bergantian. "Saat aku terbaring kritis di ICU, saat Anisa kebingungan mencari pinjaman ke sana-sini untuk beli obat dan bayar DP rumah sakit, ke mana kalian? Kenapa baru sekarang kalian datang, saat mendengar ada uang kompensasi?
" kalian juga tahu Anisa baru 3 hari pasca melahirkan kalian tak datang " ucap Burhan kepada MBK Maya.
Mbak Maya tersentak, wajahnya merah padam. "Lho, Burhan! Kamu kok ngomongnya begitu? Kami kan juga punya urusan! Lagipula kamu itu adikku, dan Ibu ini orang tua kandungmu. Wajar kalau kami peduli kepada mu " ucap maya kepada burhan
"Peduli pada Burhan, atau peduli pada uangnya, Mbak?" potong Burhan tanpa ragu, berbicara to the poin aja " ucap Burhan kembali kepada Maya.
Anisa yang berdiri di samping tempat tidur memegang lembut lengan Burhan, mencoba menenangkan suaminya agar tidak emosi yang bisa mengganggu proses penyembuhan. "Mas, sudah... jangan terlalu emosi, nanti lukamu sakit lagi. Gimana cepat sembuh dan bisa menggendong anak kita " ucap Anis kepada Burhan dengan nada penyemangat.
Namun, Burhan menggenggam erat tangan Anisa, seolah ingin menunjukkan kepada semua orang di ruangan itu di mana keberpihakannya mendukung istri tercinta nya.
"Uang santunan itu hak Anisa dan anakku," tegas Burhan, menatap tajam ke arah Mbak Maya. "Uang itu kompensasi karena aku tidak bisa bekerja sebagai kuli bangunan selama berbulan-bulan ke depan.
Tulang rusukku retak, kakiku belum bisa dipakai menopang beban berat. Uang itu untuk makan kami, biaya untuk gizi bayi saya dan pengobatan rawat jalan.
Tidak ada satu rupiah pun yang boleh diganggu gugat oleh keluarga saya" ucap Burhan dengan tegas
Ibu Ratna mengelus dadanya, berakting seolah terzalimi. "Gusti Allah... Burhan, kamu tega sekali membentak Ibu demi perempuan ini? Kamu sudah lupa siapa yang membesarkan kamu?
" ucap ibu Burhan dengan nada sedih dan menangis
"Burhan tidak lupa, Bu," sahut Burhan lirih, suaranya melunak namun tetap penuh ketegasan. "Burhan selalu ingat Ibu. Tapi Anisa adalah istri Burhan. Dia yang mendampingi Burhan di saat-saat paling sulit, yang tidak tidur semalaman menunggui Burhan, yang rela dihina orang demi mencari bantuan.
Kalau Ibu dan Mbak Maya datang hanya untuk meributkan uang ini, lebih baik kalian pulang saja buat apa kalian disini.
"Bagus ya! Kamu sudah berubah sekarang, Burhan! Awas ya, kalau nanti kamu kesusahan lagi, jangan pernah datang mengemis pada kami!" teriak Mbak Maya gusar.
Ia langsung menarik tangan Ibu Ratna untuk keluar dari kamar ruang rawat dimana Burhan dirawat.
Ibu Ratna memandang Burhan dengan tatapan dingin sebelum akhirnya melangkah pergi melintasi pintu kamar yang dibanting pelan oleh Mbak Maya.
Ruangan kembali hening. Anisa tak mampu menahan air matanya lagi. Ia duduk di tepi ranjang dan menyembunyikan wajahnya di balik jemari sambil memberi asi pada bayi nya.
Selama ini, ia selalu mengalah dan menelan pahitnya perlakuan keluarga mertua, tetapi pembelaan Burhan hari ini membuat seluruh beban di dadanya luruh dan dapat dukungan semangat juang yang tinggi dalam kehidupan kini dan masa yang akan datang.
"Mas... maafkan aku, karena aku hubunganmu dengan Ibu jadi tegang," bisik Anisa terisak kepada burhan
Burhan merengkuh kepala istrinya pelan. "Tidak, Nisa. Kamu tidak salah. Justru Mas yang minta maaf. Selama ini Mas terlalu lemah melindungi kamu dari mereka.
Mulai hari ini, Mas tidak akan biarkan siapa pun menginjak-injak kamu lagi, sekalipun itu keluargaku sendiri." ucap Burhan kepada Anisa
Di balik dinding kamar menyadari satu hal: penderitaannya sebagai istri kueli bangunan mungkin belum sepenuhnya usai, tetapi selama sang suami berdiri tegap menjadi pelindungnya, tak ada cobaan yang tak sanggup mereka lalui bersama.
lalu Anisa meletakkan anak yang masih balita ketempat keranjang tidur, lalu menuju ke tempat Burhan dirawat.
" mas Burhan makan ya ? Tanya Anisa kepada Burhan
" iya nisa " jawab Burhan
" ya nie nisa suapin tapi setelah itu minum obat mas ya " ucap Anisa kepada burhan