NovelToon NovelToon
SATU ATAP SERIBU DUSTA

SATU ATAP SERIBU DUSTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.

​Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.

​Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.

​Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU ATAP SERIBU DUSTA

​

​

​Langit sore di ibu kota berangsur berubah jingga, memantulkan kilau kemerahan yang menembus dinding kaca gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Waktu menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit ketika Nesa menutup laptop terakhir di atas meja kerjanya. Hari ini benar-benar menguras energi secara fisik maupun mental; mulai dari tumpukan laporan penjualan bulanan yang menuntut ketelitian tinggi, hingga ketegangan insiden kecil di ruang rapat antara asisten setianya, Bila, dan sang kakak kandung, Sasya, yang sempat membuat kepalanya berdenyut nyeri.

​Namun, begitu bayangan suaminya melintas di kepala, segala penat dan beban pekerjaan itu seolah luruh seketika.

​Ponsel di atas meja bergetar pelan, menampilkan sebuah pesan singkat dari Dika: "Aku sudah di basement, Sayang. Jangan terburu-buru, ada malaikat kecil di dalam perutmu yang harus dijaga dengan baik."

​Senyuman manis langsung terbit di bibir Nesa. Hatinya menghangat, merasakan keteduhan yang luar biasa setiap kali membaca perhatian kecil dari suaminya itu. Dika tidak pernah berubah di matanya. Sejak masa-masa sulit mereka merintis hubungan dari nol, berjuang bersama di tengah keterbatasan, hingga kini berdiri kokoh di jajaran direksi perusahaan kosmetik ternama, pria itu tetaplah sosok tempat pulang yang paling nyaman dan bisa diandalkan.

​Nesa membereskan tas kerjanya, mengenakan mantel luar berwarna pastel untuk melindungi tubuhnya yang mulai berbadan dua, lalu melangkah keluar ruangan. Setibanya di area basement parkir VIP, sebuah mobil SUV hitam mewah terparkir rapi. Pintu kemudi terbuka, dan sosok Dika keluar dengan setelan jas kantor yang sedikit longgar di bagian kerah, menampilkan aura pria mapan yang begitu memesona.

​Melihat Nesa berjalan mendekat, Dika langsung menyambutnya dengan senyuman paling teduh di dunia. Pria itu tidak langsung membukakan pintu, melainkan melangkah cepat menghampiri istrinya, merentangkan tangan untuk memeluk bahu Nesa dengan sangat hati-hati.

​"Capek ya, CEO muda?" bisik Dika lembut tepat di samping telinga Nesa, mengecup sekilas puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.

​"Lumayan, Mas. Hari ini urusan kantor agak padat, ditambah tadi sempat ada sedikit drama kecil di ruangan antara Bila dan Kak Sasya," keluh Nesa manja, membiarkan tubuhnya bersandar di dada bidang suaminya, menikmati detik-detik rasa lelahnya menguap tersapu kehangatan pelukan itu.

​Dika tertawa kecil, suara baritonnya terdengar menenangkan. Ia merenggangkan pelukan itu sejenak, lalu menangkup kedua pipi Nesa dengan telapak tangannya yang hangat. Ibu jarinya mengusap pelan tulang pipi sang istri. "Drama apa lagi? Hmm? Cerita sama Mas sambil jalan masuk mobil ya. Di luar mulai dingin, tidak baik untuk kesehatan kamu dan calon anak kita."

​Dengan sangat protektif, Dika membukakan pintu mobil untuk Nesa, memastikan istrinya duduk dengan nyaman di kursi penumpang depan, lalu memasangkan sabuk pengaman secara perlahan seolah Nesa adalah benda paling rapuh dan berharga di muka bumi.

​Setelah mobil melaju meninggalkan area gedung perkantoran dan bergabung dengan padatnya arus lalu lintas ibu kota yang mulai merayap, Dika melakukan satu kebiasaan kecil yang paling disukai Nesa. Tangan kanan Dika yang semula memegang kemudi berpindah, meraih jemari tangan kiri Nesa, lalu menggenggamnya erat-erat di atas konsol tengah mobil. Jari-jari mereka saling bertaut, membiarkan kehangatan kulit itu menjalar ke seluruh tubuh Nesa.

​Sepanjang perjalanan pulang, tangan itu tidak pernah lepas. Dika sesekali mengusap punggung tangan Nesa dengan ibu jarinya, sementara pandangannya tetap fokus menyetir di tengah kemerlap lampu jalanan kota. Perlakuan sederhana namun konsisten itu selalu berhasil membuat Nesa merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.

​"Tadi Kak Sasya sempat ke ruanganku sebelum jam pulang kantor," ujar Nesa memecah keheningan di dalam kabin mobil yang diiringi alunan musik instrumental lembut. "Dia bilang persiapan peluncuran produk Glow Series akhir bulan ini sudah hampir rampung seratus persen, tapi ada beberapa hal yang sempat dia perdebatkan dengan tim pemasaran."

​Dika melirik sekilas ke arah istrinya, lalu tersenyum tipis. Di balik sorot matanya yang tampak tenang, ada kalkulasi cepat yang berputar di kepala pria itu. "Sasya memang kalau sudah pegang pekerjaan promosi selalu ambisius. Tapi kamu tidak perlu terlalu pusing memikirkannya, fokus saja pada kesehatan kandunganmu, ya. Biar urusan kantor yang berat-berat jadi tanggung jawabku dan tim."

​"Iya, Mas. Aku tahu," jawab Nesa lembut, lalu menoleh menatap profil wajah suaminya dari samping. Garis rahang yang tegas, hidung mancung, serta tatapan mata yang tenang membuat Nesa kembali meresapi dalam-dalam rasa cintanya yang begitu besar kepada pria di sampingnya ini.

​Jujur di lubuk hatinya paling dalam, Nesa sangat mencintai Dika. Di tengah kerasnya dunia bisnis kecantikan yang penuh dengan intrik, persaingan, dan kepalsuan, Dika adalah satu-satunya benteng pertahanan yang paling tulus baginya. Selama bertahun-tahun hidup bersama, tidak pernah sekalipun Nesa melihat gelagat atau perubahan sikap yang mencurigakan dari suaminya itu. Dika selalu memperlakukannya seperti ratu penuh perhatian, penyabar, dan selalu ada di setiap masa sulit Nesa.

​Mobil yang mereka kendarai akhirnya berbelok memasuki gerbang perumahan elite tempat tinggal mereka. Setelah memarkirkan kendaraan di garasi luas rumah minimalis modern berlantai dua milik mereka, Dika kembali bergerak cepat. Pria itu keluar lebih dulu, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk Nesa sembari mengulurkan tangannya.

​Nesa menyambut uluran tangan itu dengan senyuman lebar, turun dari mobil dengan bantuan Dika yang langsung merangkul pinggangnya posesif namun lembut.

​Mereka melangkah bersama memasuki teras rumah yang diterangi lampu temaram. Sebelum membuka pintu utama, Dika menghentikan langkahnya sejenak, menatap Nesa lekat-lekat dengan sorot mata penuh perhatian.

​"Oh iya, Sayang..." ucap Dika tiba-tiba, merapikan beberapa helai rambut Nesa yang sedikit berantakan tertiup angin malam. "Sebelum kita masuk ke dalam, mau mampir beli sesuatu dulu di luar? Atau ada makanan tertentu yang tiba-tiba kamu pengen makan? Mangga muda? Atau kue keju kesukaanmu? Bilang saja sama Mas, nanti Mas carikan."

​Nesa menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tulus. Ia menyandarkan kepalanya di dada Dika, mendengarkan detak jantung suaminya yang berirama tenang. "Enggak ada, Mas. Aku lagi nggak pengen apa-apa kok. Pulang ke rumah, istirahat di pelukan kamu kayak gini aja udah lebih dari cukup buat aku."

​Dika tersenyum lebar, mencium lembut dahi Nesa agak lama. "Baiklah kalau begitu. Kalau nanti malam tiba-tiba kamu ngidam yang aneh-aneh, jangan sungkan bangunkan Mas, ya."

​"Iya, suami tercinta," balas Nesa manis.

​Dika membuka pintu rumah, dan keduanya melangkah masuk ke dalam hunian yang hangat dan nyaman itu. Nesa merasa hidupnya saat ini benar-benar sempurna memiliki perusahaan yang sukses, keluarga yang ia sayangi, serta seorang suami yang begitu mencintai dan menjaganya tanpa batas.

​Namun, di dalam dunia korporat yang kejam, ketenangan sering kali hanyalah selimut tipis yang menutupi bara di bawahnya.

​Suasana malam di dalam kamar utama rumah minimalis modern milik Nesa dan Dika terasa begitu tenang. Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian tidur yang longgar dan nyaman, Nesa melangkah keluar dari kamar mandi sambil membawa handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang setengah basah. Di luar jendela kamar, lampu-lampu taman berkilau menembus kaca, memantulkan bayangan remang-remang yang menenangkan.

​Dika sudah duduk terlebih dahulu di tepi ranjang king-size mereka. Pria itu baru saja meletakkan ponsel pintarnya di atas nakas sebelah tempat tidur begitu mendengar langkah kaki istrinya mendekat. Di hadapan Dika, dua cangkir teh kamomil hangat mengepulkan uap tipis, menyebarkan aroma herbal yang menenangkan saraf.

​Nesa berjalan mendekat, lalu duduk di sisi ranjang tepat di samping suaminya. Dika dengan sigap mengambil handuk dari tangan Nesa, menggantikan tugas istrinya dengan lembut. Pria itu mulai mengusap-usap helai rambut Nesa yang basah secara telaten, gerakan penuh kasih yang selalu berhasil membuat bahu Nesa yang kaku akibat seharian bekerja menjadi rileks seketika.

​"Biar Mas yang keringkan rambutmu, Sayang. Nanti kamu masuk angin kalau tidur dengan rambut basah," ucap Dika dengan nada suara yang begitu lembut, memancarkan kehangatan seorang suami idaman.

​Nesa tersenyum tipis, menikmati setiap sentuhan tangan suaminya di kepalanya. Ia menyandarkan tubuhnya sejenak ke dada bidang Dika, memejamkan mata untuk meresapi ketenangan malam itu. Namun, di balik kehangatan tersebut, sebuah ganjalan kecil yang sempat ia pikirkan di mobil tiba-tiba berkelebat kembali di benaknya, mengusik ketenangan yang baru saja ia rasakan.

​Nesa bukanlah perempuan yang bodoh atau sepenuhnya pasif; insting bisnis dan kepekaannya sebagai pimpinan tertinggi kadang menangkap detail-detail kecil yang tidak biasa. Ingatannya kembali berputar pada kejadian di kantor siang tadi saat perdebatan panas antara Bila dan Sasya terjadi di ruangannya, disusul kepergian Sasya secara terburu-buru.

​Nesa membuka matanya perlahan. Ia mengangkat kepalanya sedikit untuk menatap wajah Dika dari dekat, mencoba membaca ekspresi suaminya di bawah temaram lampu tidur.

​"Mas..." panggil Nesa dengan nada suara yang sedikit berubah, menyiratkan keraguan yang tertahan.

​Dika menghentikan gerakan tangannya sejenak, lalu menunduk menatap mata istrinya dengan sorot penuh perhatian. "Ada apa, Hmm? Kenapa tiba-tiba mukanya serius begitu? Ada hal lain lagi yang bikin pikiranmu terbeban di kantor?" tanya Dika, mengusap pelan pipi Nesa dengan ibu jarinya.

​Nesa menggigit bibirnya sejenak, merangkai kata-kata agar tidak terdengar seperti sedang menuduh, namun rasa penasarannya terlalu besar untuk dipendam begitu saja. Sebagai CEO, ia terbiasa mencari kejelasan atas setiap kejanggalan.

​"Sebenarnya... tadi siang, setelah kejadian Bila menyindir Kak Sasya di ruanganku, Kak Sasya sempat menemuimu di ruang kerja direksi, kan?" tanya Nesa hati-hati, memperhatikan setiap perubahan mikroskopis di wajah suaminya.

​Mendengar pertanyaan itu, Dika tidak langsung menjawab. Untuk sepersekian detik, manik mata pria itu berkedip kaku, menyembunyikan kilatan kecil yang berbahaya di baliknya. Namun, dengan kecepatan luar biasa yang terlatih dari kebiasaannya bermuka dua, Dika berhasil menguasai ekspresinya kembali. Senyuman tipis dan tenang langsung terukir di bibirnya.

​"Oh... soal itu," jawab Dika dengan nada santai, seolah hal tersebut bukanlah sesuatu yang luar biasa penting. "Iya, tadi siang Sasya memang sempat mampir sebentar ke ruanganku sebelum meeting logistik dimulai. Dia sedikit mengeluhkan insiden siang tadi di ruanganmu."

​Meskipun Dika menanggapinya dengan sangat tenang, ada secercah rasa janggal yang tiba-tiba berkelebat di lubuk hati Nesa. Rasanya sedikit... ganjil. Kenapa Sasya harus langsung menemui Dika untuk mengadu setelah bersitegang dengan Bila di ruangan CEO? Mengapa bukan langsung pulang atau membahasnya secara profesional dengan Nesa selaku atasan langsung? Hubungan profesional di kantor seharusnya diselesaikan di ranah manajemen, bukan dibawa ke ranah pribadi suami dari adiknya sendiri.

​Nesa terdiam, keningnya berkerut tipis. Pikirannya mulai menerka-nerka, merasakan ada sesuatu yang kurang pas dari alur penjelasan tersebut.

​Melihat gelagat istrinya yang terdiam dan tampak merenung curiga, Dika bergerak cepat untuk memadamkan api kecil sebelum membesar. Pria itu meletakkan handuk kecil ke atas meja, lalu memegang kedua pundak Nesa dengan mantap. Ia menatap lurus ke dalam mata Nesa dengan tatapan yang memancarkan kejujuran dan ketulusan tingkat tinggi sebuah akting panggung yang begitu sempurna.

​"Hei, kamu lagi mikirin yang macam-macam, ya?" suara Dika terdengar lembut, menyadarkan Nesa dari lamunannya yang mulai liar. "Jangan berpikir yang tidak-tidak, Sayang. Sasya memang sempat cerita, dia merasa kesal karena harga dirinya dijatuhkan oleh asistenmu di depan umum. Tapi, bukan berarti Mas membenarkan sikapnya, lho."

​Nesa mengerjap, menatap suaminya dengan penuh tanya. "Maksud kamu...?"

​Dika menghela napas pelan, lalu menggelengkan kepalanya dengan bijak, seolah ia adalah penengah paling netral di dunia ini. "Mas tahu betul bagaimana watak Sasya. Dia itu kadang memang egois, sensitif, dan gengsinya tinggi. Tadi siang, saat dia mengadu ke ruangan Mas, Mas langsung menegurnya, Nes. Mas bilang ke dia kalau apa yang dikatakan Bila ada benarnya juga bahwa dia tidak boleh bersikap semena-mena kepada karyawan, apalagi di hadapan staf kantormu sendiri."

​Mendengar penjelasan itu, mata Nesa membelalak kecil. Rasa terkejut bercampur lega mendadak bergemuruh di dadanya, menghapus keraguan yang sempat singgah.

​"Kamu... menegur Kak Sasya, Mas?" tanya Nesa tidak percaya.

​"Tentu saja," jawab Dika mantap, memasang wajah serius namun penuh keadilan. "Mas tidak pernah membela siapa pun secara membabi buta, Nes. Kalau Sasya salah, Mas akan tegur dia sebagai iparnya. Sebaliknya, Mas juga tidak menyalahkan kamu ataupun asistenmu atas perdebatan tadi. Mas paham posisi kamu sebagai CEO itu sangat sulit harus adil ke karyawan, tapi di sisi lain juga harus menjaga perasaan kakak kandung sendiri."

​Dika meraih tangan Nesa, lalu menggenggamnya erat-erat dengan penuh kehangatan. "Mas cuma ingin kamu tenang, fokus sama kehamilanmu, dan jangan biarkan hal-hal kecil seperti ini merusak kesehatanmu. Mas selalu ada di pihakmu, Nes. Apapun yang terjadi di luar sana."

​Mendengar kata-kata manis, penuh dukungan, dan pembelaan yang begitu objektif dari suaminya, segala kecurigaan tipis yang sempat mampir di benak Nesa seketika buyar tak bersisa. Es batu di hatinya yang sempat mencurigai hubungan Sasya dan Dika meleleh sepenuhnya oleh kehangatan ucapan sang suami.

"Bagaimana bisa aku berpikiran buruk tentang Dika?." batin Nesa dalam hati, merasa sangat bersalah karena sempat menaruh curiga pada pria sebaik dan seadil suaminya itu. Dika begitu pengertian dan selalu bisa diandalkan dalam situasi apapun.

​Nesa akhirnya tersenyum lebar. Ia menerjang maju, memeluk erat leher Dika dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya dengan penuh rasa cinta dan kepercayaan yang teramat sangat. "Makasih ya, Mas... Makasih karena selalu mengerti aku dan bersikap seadil itu," bisik Nesa tulus.

​Dika membalas pelukan itu dengan erat, mengusap punggung istrinya dengan penuh kelembutan. Namun, di balik pelukan hangat dan senyuman penuh kasih yang ia tunjukkan kepada Nesa, sudut bibir Dika ditarik ke atas membentuk sebuah seringai tipis yang sangat dingin sebuah seringai kemenangan seorang manipulator ulung yang berhasil memadamkan kecurigaan sang istri dalam sekali sentakan psikologis.

​Di luar sana, malam semakin larut. Nesa berjalan dengan mata tertutup rapat menuju perangkap yang dirajut rapi oleh dua orang terdekatnya di bawah satu atap yang sama. Sementara itu, di balik layar, Dika dan Sasya terus mematangkan rencana busuk mereka, bersiap merampas segalanya dari tangan perempuan yang paling mereka khianati.

​

1
fatmiatun sahono
sy komen ya....pdhal di upload aja itu surat ancaman di media gosip seperti PD saat wkt makan siang rame gosip nya. nah surta ancaman itu akan rame klo di upload dg narasi ancaman pertama seru ne....
fatmiatun sahono
maaf emang sdh cerai ya Dika sama Nisa...apa sy ada yg kelewat ya...baca nya..
Mundri Astuti
kebiasaan dimanja si Sasa ...tapi dimana" mang Sasa cuma buat pelengkap bumbu 🤭
stela aza
bukan anak kandungnya x itu s nesa masa dr kecil sampai dewasa masih di beda bedakan 🤦
Sya Haron
Di bab 19 syasya dan dika sudah dijatuhi hukuman. Bila waktunya syasya dilepaskan?
blcak areng: Hay kak terima kasih ya revisi dari Kamu nya🙏🙏🙏.. maaf ya aku sedikit sibuk di dunia rl jadi beberapa kali mlh bikin kesalah 🙏🙏
total 1 replies
Agunk Setyawan
othornya lagi ngantuk kali ya🤣🤣🙏
blcak areng: udah di revisi ya kak
total 1 replies
Zhafran Althaf
waittt bentar bentar bukannya Dika udah di penjara yaaaa kok ini muncul lagi
Dewi Rahmawati
bagus ceritanya up terus kk 💪
Mundri Astuti
obatnya nesa nich
stela aza
kelamaan bertindak
Zhafran Althaf
aku hadierrrr kakak
Zhafran Althaf: kak
karyamu yang tamu di atap orang tuaku kamu hapus ta kak kok aku cari ga ada
total 2 replies
Zhafran Althaf
hallo Kaka aku hadirrrr😍
blcak areng: yeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee mksh Kakak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!