NovelToon NovelToon
Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:587.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.

Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.

Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.

Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zivana 26

Pak Heru meletakkan ijazah Zivana dengan raut ragu. "Mbak Zivana ini lulusan Sarjana Manajemen... tapi kenapa melamar jadi OB di sini? Pekerjaan ini cuma bersihkan ruangan, cuci piring bos, angkat barang, dan menyapu toilet. Apa tidak salah lamaran?"

"Tidak salah, Pak," jawab Zivana jujur tanpa ragu sedikit pun.

"Saya sangat butuh pekerjaan ini untuk menyambung hidup."

Pak Heru mendecih pelan, menyandarkan punggungnya. "Mbak, orang berpendidikan tinggi biasanya cuma bertahan seminggu di posisi ini. Begitu kena tegur atasan atau disuruh-suruh staf biasa, langsung kena mental lalu kabur. Kami butuh orang yang tahan banting, bukan yang cuma pelarian sementara."

Atmosfer ruangan terasa menekan. Namun alih-alih ciut atau tersinggung, mata Zivana justru memancarkan ketegaran yang luar biasa.

"Pak Heru," potong Zivana penuh penekanan, suaranya jernih dan mantap.

"Saya mungkin berpendidikan, tapi saya tidak punya gengsi. Hidup sudah menempal saya dengan krisis yang jauh lebih keras daripada sekadar menyapu lantai atau menerima teguran orang."

Zivana menatap lurus mata Pak Heru.

"Saya jamin, saya akan datang paling pagi, membersihkan setiap sudut ruangan tanpa cela, dan menjalankan semua tugas operasional dengan disiplin tinggi. Jika Bapak mencari orang yang hanya bekerja asal-asalan, itu bukan saya. Tapi jika Bapak butuh pekerja yang jujur, cekatan, dan tahan banting, saya siap dinilai dari hasil kerja saya."

Hening menguasai ruangan selama beberapa detik. Pak Heru memperhatikan ketegasan di raut wajah Zivana, tak ada kesombongan, hanya ada kesungguhan yang murni.

Pak Heru perlahan menutup map lamaran itu, lalu menyunggingkan senyum tipis penuh rasa hormat.

"Bagus. Sorot matamu tidak bohong, Mbak," ucap Pak Heru pelan.

"Dunia kerja butuh orang yang mau merendah untuk bangkit. Saya pegang janjimu."

Pak Heru mengulurkan tangannya melintasi meja. "Selamat bergabung. Ambil seragammu di bagian logistik, masa percobaanmu dimulai besok pagi jam enam."

Zivana tertegun. Senyum haru dan rasa lega yang luar biasa perlahan terukir di wajahnya saat ia membalas genggaman tangan calon atasannya itu. Ia keluar dari gedung dengan langkah mantap, siap menata kembali puing-puing hidupnya dari tingkatan paling bawah, demi kehormatan dan kebebasan jiwanya sendiri.

Begitu resmi diterima, Zivana langsung ditempatkan di lantai sepuluh, zona paling eksklusif dan paling ditakuti oleh seluruh karyawan PT Mahardika Group. Lantai khusus pimpinan ini terkenal dengan standar operasional yang sangat ketat, dikuasai oleh seorang Direktur Utama muda bernama Melvin Baskara Mahardika, yang dikenal sangat perfeksionis, dingin, kejam dalam menilai kesalahan, dan tidak menoleransi sedikit pun kelalaian sekecil debu.

Pagi itu, hari pertama Zivana bertugas. Jam baru menunjukkan pukul 06.15 WIB. Mengenakan seragam Office Girl berwarna biru muda dengan rambut yang dicepol rapi tanpa sehelai pun lepas, Zivana melangkah keluar dari lift khusus. Udara di lantai sepuluh terasa begitu menekan, hening, dingin, dan beraroma kayu jati mewah.

Di ujung koridor, berdiri seorang pria paruh baya berjas rapi, Pak Hendra, kepala pengawas lantai pimpinan dengan wajah kaku.

"Kamu OB baru itu?" tanya Pak Hendra tanpa senyum.

"Dengar baik-baik, Zivana. Lantai ini bukan tempat main-main. Di sini ada Bapak Melvin, CEO kita. Beliau orangnya sangat perfeksionis. Kalau beliau lihat ada satu sidik jari saja di kaca jendela, atau sudut ruangan berdebu, kamu langsung didepak hari ini juga. Paham?"

"Paham, Pak," jawab Zivana tenang, mempertahankan postur tubuhnya yang tegak tanpa menunjukkan rasa gentar.

"Bagus. Ruang kerja utama Pak Melvin di ujung koridor. Pastikan steril sebelum beliau datang jam tujuh."

Zivana mendorong troli pembersihnya dengan langkah pasti. Sesampainya di depan pintu kayu jati besar, ia mengetuk pelan sebelum masuk.

Ruangan itu sangat luas, didominasi warna monokrom elegan dengan jendela kaca raksasa yang langsung menghadap ke langit kota Yogyakarta. Zivana langsung bekerja dengan efisiensi tinggi. Ia membersihkan setiap inci meja kerja, merapikan tumpukan dokumen tanpa sedikit pun mengubah urutan prioritasnya, hingga menyeka kaca jendela hingga berkilau tanpa noda.

Tepat pukul 06.55 WIB, suara langkah kaki tegas terdengar mendekat dari koridor luar.

Ceklek.

Pintu terbuka lebar. Sosok Melvin melangkah masuk. Pria muda berusia awal tiga puluhan itu mengenakan setelan jas hitam pas badan dengan dasi senada. Wajahnya tampan namun memancarkan aura es yang membekukan, dingin, tajam, dan tanpa ekspresi. Melvin melempar tas kerjanya di atas sofa, lalu melangkah menuju meja kerjanya.

Namun, langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Sepasang mata tajam Melvin menyipit dingin. Ia melihat sosok wanita berseragam Office Girl berdiri tegak di dekat rak buku dengan troli pembersih, memandangnya tanpa rasa takut.

Melvin melangkah mendekati meja kerjanya. Pria itu menyentuh permukaan meja dengan ujung jarinya, lalu memeriksa tumpukan dokumen yang tertata rapi di sisinya.

"Siapa yang menyuruhmu merapikan dokumen di meja saya?" suara Melvin meluncur berat, rendah, dan menusuk dingin tanpa ampun.

Zivana menunduk hormat sejenak, lalu menjawab dengan suara jernih dan tenang.

"Saya, Pak Melvin. Maaf jika saya lancang. Tapi saya melihat tumpukan laporan riset pasar dan kontrak investor itu sedikit berantakan. Saya menyusunnya berdasarkan tingkat urgensi dan tenggat waktu agar memudahkan Bapak membaca pagi ini."

Melvin berbalik. Tatapan mata tajam bagai elang itu menembus tepat ke mata Zivana. Alih-alih terpesona atau melunak, rahang Melvin justru mengeras.

"Siapa nama kamu?" tanya Melvin dingin.

"Zivana, Pak."

"Dengar, Zivana," desis Melvin tajam, melangkah mendekat perlahan dengan aura intimidasi yang kuat.

"Di ruangan ini, tugasmu hanya membersihkan debu, mengepel lantai, dan membuang sampah. Kamu tidak dibayar untuk berpikir, dan pasti tidak dibayar untuk menyentuh dokumen privasi saya. Mengerti?!"

Atmosfer ruangan mendadak membeku. Tekanan udara di sekitar Melvin terasa begitu mencekam.

Namun, alih-alih ciut atau menunduk ketakutan seperti pegawai lain yang sering menangis di hadapannya, Zivana justru mengangkat dagunya perlahan. Ia menatap lurus mata dingin sang CEO muda tanpa keraguan sedikit pun.

"Saya mengerti aturan perusahaan, Pak Melvin," jawab Zivana mantap, suaranya sama sekali tidak bergetar.

"Tapi saya juga tahu bahwa efisiensi dimulai dari kerapian data. Jika Bapak menganggap inisiatif saya sebuah pelanggaran, saya minta maaf. Tapi saya pastikan, kebersihan dan ketepatan kerja saya di lantai ini tidak akan pernah mengecewakan."

Melvin tertegun sepersekian detik. Pria muda itu belum pernah mendapati seorang petugas kebersihan atau bahkan staf manajerial sekalipun yang berani menatap matanya dan membalas argumennya dengan ketenangan setinggi itu.

Sudut bibir Melvin terangkat sebelah, membentuk senyuman sinis yang dingin.

"Berani juga lidahmu, Office Girl," geram Melvin pelan.

"Kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan di lantai saya dengan mulut lancangmu itu. Sekarang, keluar dari ruangan saya."

Zivana sedikit membungkuk hormat, lalu mendorong trolinya berjalan keluar dengan langkah anggun dan kepala tegak. Di balik punggungnya, Melvin berdiri mematung di depan meja kerjanya, menatap pintu yang tertutup rapat dengan mata menyipit, menyimpan rasa penasaran asing terhadap wanita asing berseragam biru muda yang baru saja menantang dinginnya otoritas seorang Melvin Baskara.

1
Rehaan Aamir
Laaahh Koq Jd Almarhumah Tiba2...Bukanya Siska Ntu Emak Kandungnya Melvin Ya????...Apa Bkln Ada Plot Twist Lagi????...
Katherina Ajawaila
itu sebab akibat gembel sja belagu korupsi uang kantor ngk kira" SMP 500 M, fi mana untung nya. ngj mikir itu keringat orgtua. tau nya enak aja. kalian itu bukan darah Hadinata ada pada kalian, tau diri numpak Merck 😎
Katherina Ajawaila
msk in aja k prodeo, ngk usah malu biar masing" punya rasa tanggung jawab 🤫
Katherina Ajawaila
kel, ngk jelas masing" kesenangan baru katain istri nya Melvin dia, janda rasa gadis kalau kamu Clarisa gadis pasti. rasa janda 🤭
Katherina Ajawaila
Zivana, encee otak nya tau ja sistem yg ada celah biar koruptor merajalela 😳
Katherina Ajawaila
Nunjak Clarisa sm Jason dan Siska, jelas" ngk ikatan darah bukan rendah hati, ini nunjak mau Kuasain, bagus ngk msk prodeo kalau ngk jd gembel 🤑
Rehaan Aamir
Dua2 Nya Pada BEGOOOOOOO...Yg Laki Gk Mau Jujuuuurrr Yg Perempuan Juga Knp Gk Lgsg Nanya Aja K Intinya Biar Gk Ada Salah Faham....
Katherina Ajawaila
telat Aidil bego, ngomong kaya sama org idiot ulang" 😎
Katherina Ajawaila
keren lah rencana nya semoga berjalan lancar biar tau diri Clarissa dan Jason sampah masyarakat yg numpang beken /Gosh/
Katherina Ajawaila
mantap calon suami yg posesif🤭
Katherina Ajawaila
jgn" kira tipe yg seperti Melvin ini yg bahaya, diam" menghanyutkan, senggol bacok ya kan🤫
Katherina Ajawaila
Aidil ko bodok kebanyak kena daging basi sih jd bego masa ngk bisa tuntut balik anak kandung di siksa. jd gemes liat Aidil 🤭
Katherina Ajawaila
kasihan anak ya biar ngk lahir dr rahim bunda tapi merasakan ksh sayang fi urus sm bunda. sedih juga /Puke/
Ds Phone
semua habis kena kaut
Katherina Ajawaila
Khaisar lebih punya prinsip dr pd papa nya yg hanya fi ksh kiss luluh, menjijikan. bekas_:org diluar sana udh mgk kepalai jd artis makanya balik lg, Aidil bego 🤑
Ds Phone
tahu matah masa pakai duit tak ingat duia
Katherina Ajawaila
Sivana hrs berani kalau sayang anak dia jgn liat Aidil., liat aja anak" yg merasa asing dgn ibunya, ngk brani bicara, terus terang sm Aidil, yg jd bodok" di atur Stela 🤑
Katherina Ajawaila
Ziva bego lg du tanya bukan jawab kalau kamu liat smuanya biar tau diri Aidil. ngk usah pakai ngumpat" jd ngk sakit hati sendiri, ngapain di pendem ntar jd penyakit 😎
Katherina Ajawaila
urusan nya buat bsk, lucu Aidil. bicaranya di telp ngj etis bener, toh mah plng kerja bicara lah di rmh. boleh jadi CEO di kantor pimpin perusahan tapi utk atas anin istri yg ngk jelas ngk bisa tegas, pret lah /Toasted/
Katherina Ajawaila
untung " blm di ambil perawan mu Ziva, rugi amat kalau punya suami plin plan, mmg nya bola pimpong🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!