Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Ssst.
Seorang pemuda berambut berantakan meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.
Cakra sedang berjongkok di depan pintu kamar Lula dengan wajah mengendap-endap seperti pencuri.
Lula yang baru saja selesai mandi menatap kakaknya itu dengan kepala miring kebingungan.
"Kak Cakra sedang main petak umpet ya?" tanya Lula dengan suara pelan mengikuti gaya kakaknya.
Cakra segera menarik tangan kecil adiknya dan membawanya menjauh dari ruang tengah.
"Bukan petak umpet, kita mau kabur lewat pintu garasi belakang," bisik Cakra dengan mata melirik ke kanan dan kiri.
"Kalau Kak Adrian atau Dewa melihat kita, mereka pasti akan ikut dan merusak rencanaku."
Lula semakin bingung namun dia tetap menurut saat Cakra memakaikan sepatu kets merah ke kakinya.
"Kita mau pergi ke mana Kak? Ke tempat kakek bunga lagi?" tanya Lula polos.
Cakra langsung mendengus kesal mendengar pertanyaan itu.
"Tentu saja tidak, tempat itu terlalu membosankan untuk anak seusiamu," jawab Cakra meremehkan.
"Hari ini Kakak akan membawamu ke taman hiburan paling besar di Jakarta," pamer Cakra dengan senyum lebar.
Mata Lula langsung berbinar sangat terang mendengar kata taman hiburan.
Dia sering melihat tempat seperti itu di televisi tapi belum pernah ke sana seumur hidupnya.
"Lula mau naik kuda-kudaan yang bisa berputar itu Kak!" seru Lula kegirangan.
Ssttt.
Cakra kembali menyuruh Lula diam dan segera menggendong adiknya itu berlari menuju garasi.
Beruntung suasana rumah sedang sepi karena Arini sedang tidur siang dan Baskoro ada di ruang kerja.
Cakra menyuruh seorang sopir untuk segera mengeluarkan mobil van tanpa menyalakan klakson.
Brum.
Mobil van hitam itu berhasil keluar dari pekarangan rumah Ayodhya dengan sangat mulus tanpa ketahuan siapapun.
Di dalam mobil, Cakra tertawa penuh kemenangan sambil memegang sekaleng minuman soda.
"Akhirnya aku bisa jalan-jalan berdua saja denganmu tanpa gangguan tiga monster itu," ucap Cakra bangga.
"Nanti kita main semua wahana sampai puas, Kakak yang akan bayar semuanya," janjinya dengan gaya bos besar.
Lula bertepuk tangan heboh menyambut janji manis dari kakak ketiganya itu.
Perjalanan menuju taman hiburan memakan waktu sekitar satu jam karena jalanan Jakarta cukup padat di akhir pekan.
Sesampainya di sana, suara musik yang sangat riang langsung menyambut telinga mereka dari arah gerbang masuk.
Banyak badut berkostum hewan yang membagikan balon warna-warni kepada anak-anak.
Lula menarik-narik ujung kemeja Cakra dengan sangat antusias.
"Kak Cakra lihat, ada beruang besar bisa jalan!" tunjuk Lula ke arah badut beruang di dekat loket tiket.
Cakra tertawa dan langsung membelikan tiket masuk VIP agar mereka tidak perlu mengantri panjang.
"Itu cuma orang pakai kostum Lula, ayo kita masuk dan cari wahana yang paling seru," ajak Cakra.
Mereka berdua berjalan masuk dan langsung disambut oleh pemandangan kastil raksasa di tengah taman.
Lula berlari kecil ke sana kemari karena bingung mau mencoba mainan yang mana dulu.
"Kita naik mobil senggol dulu ya, biar kau tahu betapa hebatnya Kakak menyetir," ajak Cakra percaya diri.
Mereka berdua naik ke dalam wahana bom-bom car berwarna merah terang.
Lula duduk di sebelah Cakra sambil memakai sabuk pengaman dengan sangat kencang.
Tet.
Suara bel berbunyi tanda permainan dimulai dan mobil mereka langsung melaju kencang.
Brak.
Cakra menabrak mobil anak lain dengan sangat keras dari arah samping.
"Awas minggir semua, pembalap jalanan mau lewat!" teriak Cakra dengan sangat heboh.
Lula tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit karena mobil mereka terus menabrak dan ditabrak orang lain.
"Kak Cakra nyetirnya nabrak terus, kata Kak Dewa kalau nabrak nanti ditilang polisi," ledek Lula di sela tawanya.
Cakra memutar kemudi dengan gaya sok profesional meski akhirnya menabrak pagar pembatas lagi.
"Ini namanya seni menyetir, Dewa mana paham soal seni," balas Cakra tidak mau kalah.
Setelah puas bermain bom-bom car, mereka berjalan membeli permen kapas berwarna merah muda yang sangat besar.
Permen kapas itu ukurannya bahkan lebih besar dari kepala Lula.
Nyam.
Lula menggigit permen kapas itu dan wajahnya langsung celemotan oleh gula yang lengket.
Cakra dengan telaten mengelap pipi adiknya
menggunakan tisu basah yang dia bawa di saku.
"Kau makannya seperti anak kucing kelaparan saja," goda Cakra sambil tersenyum hangat.
Lula hanya tersenyum memamerkan gigi kecilnya yang sedikit berlepotan gula.
"Lula senang sekali hari ini, taman hiburan lebih seru dari lihat tanaman," ucap Lula jujur.
Hati Cakra langsung berbunga-bunga merasa menang telak dari Bastian.
"Nah, sekarang sebagai penutup, kita akan naik bianglala raksasa itu," tunjuk Cakra ke arah ujung taman.
Di sana berdiri sebuah kincir ria yang sangat besar dan tinggi menyentuh awan.
Lula mendongak menatap bianglala itu dengan sedikit rasa takut karena ukurannya yang menjulang.
"Tinggi sekali Kak Cakra, nanti kalau jatuh bagaimana?" tanya Lula ragu-ragu.
Cakra langsung menggandeng tangan adiknya dan menepuk dadanya sendiri dengan bangga.
"Tenang saja, kan ada Kakak di sini, Kakak akan melindungimu dari apapun," janji Cakra meyakinkan.
Mereka berdua pun ikut mengantri dan akhirnya masuk ke dalam salah satu kabin bianglala berbentuk bulat.
Kabin itu berdinding kaca transparan sehingga mereka bisa melihat pemandangan ke luar.
Mesin mulai bergerak dan kabin mereka perlahan naik ke udara dengan sangat mulus.
Semakin tinggi mereka naik, pemandangan taman hiburan dan kota Jakarta semakin terlihat indah dari atas.
Lula yang awalnya takut kini malah menempelkan wajahnya ke kaca kabin dengan takjub.
"Wah, orang-orang di bawah jadi kecil sekali seperti semut Kak!" seru Lula kagum.
Cakra duduk bersandar dengan santai sambil menikmati pemandangan matahari sore yang mulai berwarna jingga.
"Bagus kan? Ini adalah kencan rahasia paling sukses di dunia," bangga Cakra pada dirinya sendiri.
Namun kesombongan Cakra tidak bertahan lama.
Trang. Brak.
Terdengar suara gesekan besi yang sangat kasar dari arah poros mesin bianglala di luar sana.
Kabin yang mereka tumpangi tiba-tiba berguncang sangat keras lalu berhenti mendadak di ketinggian maksimal.
Lula terlempar ke belakang namun Cakra dengan cepat menangkap tubuh adiknya.
"Ada apa ini? Kenapa berhenti?" gumam Cakra mulai merasa panik.
Lampu di dalam kabin mereka tiba-tiba mati total.