Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 10. KUNJUNGAN MERTUA Part 1
Malam semakin larut ketika Vellano akhirnya tiba di rumah. Begitu membuka pintu, langkahnya terhenti saat melihat Alessia......
-tertidur di sofa, tepat di depan televisi yang masih menyala.
Alessia tampak begitu damai dalam tidurnya. Dahinya masih terbalut perban, sementara salah satu tangannya terpasang gips akibat kecelakaan beberapa waktu lalu. Namun semua itu tidak mengurangi kecantikannya sedikit pun.
Vellano berdiri cukup lama, memperhatikannya dalam diam.
“Bodoh…” gumamnya pelan. “Sudah tahu sedang terluka, masih saja menungguku.”
Tatapannya melembut tanpa ia sadari.
Ia sebenarnya ingin langsung membangunkan Alessia agar tidur di kamar. Namun melihat wajah istrinya yang terlihat begitu lelah, niat itu menghilang.
Vellano menghela napas.
“Kalau begini, bagaimana membangunkanmu?”
Alessia tiba-tiba bergerak kecil dalam tidurnya.
Vellano refleks mundur selangkah, seolah takut ketahuan sedang memperhatikannya.
Ia menggeleng pelan, lalu membungkuk dan mengangkat tubuh Alessia dengan hati-hati. Satu tangannya menopang punggung, sementara tangan lainnya menjaga tubuh Alessia agar tidak mengenai gipsnya.
Alessia hanya bergumam pelan tanpa terbangun.
Vellano membawa istrinya menaiki tangga menuju lantai dua, menuju kamar utama mereka.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Vellano merasa rumah yang biasanya terasa sunyi menjadi sedikit lebih hangat.
......................
Pagi itu adalah akhir pekan. Tidak ada jadwal kantor untuk Vellano, sehingga untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, ia dan Alessia bisa sarapan bersama tanpa terburu-buru.
Namun suasananya justru terasa canggung.
Alessia sibuk memainkan sendoknya, sementara Vellano menikmati kopi dalam diam. Tidak ada yang berbicara.
Hanya suara alat makan yang sesekali terdengar.
Alessia melirik Vellano sekilas.
Vellano mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
Keduanya langsung kembali melihat piring masing-masing.
“Kenapa suasananya seperti pemakaman?” gumam Alessia.
Vellano hampir tersedak kopinya.
Belum sempat ia menjawab, bel rumah berbunyi.
Ting Tong!
Alessia mengerutkan kening. “Siapa pagi-pagi begini?”
Beberapa saat kemudian, pelayan membuka pintu.
Suara seorang wanita langsung menggema dari ruang depan.
“ALESSIA!”
Alessia membeku.
Vellano menatapnya.
“Itu ibumu?”
Alessia mengangguk pasrah.
Nyonya Fabiola muncul sambil membawa beberapa kantong berisi buah tangan. Di belakangnya, sang ayah, Tuan Danielle, berjalan dengan tenang sambil menggelengkan kepala.
“Kau terluka dan tidak memberitahu Mama?!”
“Ma, aku—”
“Dahi diperban! Tangan di gips! Ya Tuhan!”
Fabiola langsung memeriksa Alessia dari kepala hingga kaki.
Tuan Danielle hanya menghela napas. “Fabiola, biarkan anakmu bernapas.”
“Aku ibunya!”
“Kau akan membuat dia sesak napas sebelum lukanya sembuh.”
Alessia hampir tertawa.
Nyonya Fabiola tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak.
“Ini Croissant kesukaanmu.”
Mata Alessia langsung berbinar.
“Mama terbaik!”
“Kau masih bisa memikirkan makanan?”
“Justru karena terluka, aku butuh nutrisi.”
Vellano yang sejak tadi diam akhirnya menyela, “Croissant bukan obat.”
Alessia menoleh tajam.
“Tidak ada yang bertanya padamu.”
Tuan Danielle tertawa kecil.
Setelah suasana sedikit tenang, Alessia akhirnya menjelaskan tentang kecelakaan yang dialaminya. Ia mengatakan bahwa dirinya sengaja tidak memberi tahu orang tuanya karena tidak ingin membuat mereka khawatir dan repot.
Nyonya Fabiola langsung memelototinya.
“Tidak mau merepotkan? Alessia, kalau anak sendiri terluka, orang tua mana yang merasa direpotkan?”
Alessia terdiam.
Vellano hanya menatap istrinya dari samping.
Untuk pertama kalinya pagi itu, ia melihat Alessia benar-benar kehabisan jawaban.
Tuan Danielle menghela napas, lalu menepuk bahu istrinya.
“Sudah. Yang penting sekarang dia baik-baik saja.”
Fabiola mengangguk, lalu tiba-tiba kembali bertanya,
“Tapi siapa yang merawatnya selama ini?”
Ruangan mendadak hening.
Alessia melirik Vellano.
Vellano menatap cangkir kopinya.
Tuan Danielle tersenyum tipis.
Fabiola langsung menyipitkan mata.
“Oh… jadi menantu Mama yang merawat mu?”
Alessia langsung tersedak croissant.
Vellano hanya tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, pria yang biasanya selalu punya jawaban untuk segala sesuatu itu justru tidak tahu harus menjawab apa.
Tatapan Nyonya Fabiola membuatnya semakin salah tingkah.
“Jadi, Vellano yang merawat mu selama ini?” ulang Fabiola.
Alessia cepat-cepat menyela, “Iya, Ma. Dia sangat perhatian.”
Vellano menoleh.
Alessia tersenyum kaku sambil menginjak kakinya di bawah meja.
Vellano menahan ekspresi.
“Ya,” jawabnya tenang. “Saya cukup perhatian.”
Tuan Danielle langsung tersenyum puas, sementara Fabiola terlihat semakin bahagia.
Sejak saat itu, situasinya berubah menjadi mimpi buruk bagi Alessia dan Vellano.
Mereka terpaksa duduk berdekatan, saling tersenyum, bahkan sesekali harus menunjukkan perhatian kecil agar tidak ada yang curiga bahwa pernikahan mereka sebenarnya masih terasa dingin dan canggung.
“Vellano, tolong ambilkan buah untuk Alessia,” ujar Fabiola.
Vellano menurut.
“Sayang, mau buah apa?” tanyanya dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
Alessia hampir tersedak.
“Apel.”
“Baik, sayang.”
Begitu membalikkan badan, Vellano berbisik, “Kita sedang bermain sandiwara.”
Alessia membalas pelan, “Diam dan teruskan.”
Namun belum selesai dengan satu masalah, Fabiola tiba-tiba bertanya dengan penuh semangat,
“Ngomong-ngomong, kalian sudah menentukan tempat bulan madu?”
Alessia dan Vellano langsung membeku.
“Bulan madu?” ulang mereka bersamaan.
Fabiola mengangguk antusias.
“Kalian kan masih pengantin baru!”
Alessia tersenyum kaku.
Vellano menatapnya.
Alessia menatap balik.
Keduanya sama-sama tidak punya jawaban.
Dalam benak mereka, jangankan bulan madu—rencana untuk menghabiskan satu hari bersama tanpa merasa canggung saja belum ada.
Tuan Danielle terkekeh melihat wajah keduanya.
“Sepertinya mereka belum pernah membicarakannya.”
Fabiola langsung menepuk meja.
“Kalau begitu, Mama yang pilihkan!”
Alessia langsung pucat.
Vellano menunduk sambil menahan tawa.
Sepertinya masalah mereka baru saja bertambah satu.
Alessia yang melihat wajah Fabiola semakin bersemangat langsung mencari cara untuk menghentikan rencana sang mama.
Ia tersenyum manis, lalu menggenggam tangan ibunya.
“Ma, jangan buru-buru. Aku sendiri yang akan memilih tempat bulan madu kami.”
Fabiola langsung berbinar.
“Benarkah?”
“Tentu. Tapi…” Alessia menunjuk tangannya yang masih di gips. “Lihat kondisiku. Aku bahkan belum bisa melakukan banyak hal dengan normal. Kalau bulan madu sekarang, bukannya romantis malah merepotkan.”
Fabiola terdiam.
Alessia melanjutkan dengan wajah memelas, “Setelah tanganku pulih total, aku ingin memilih tempat yang benar-benar nyaman. Aku juga ingin mempersiapkan semuanya sendiri.”
Vellano yang mendengar alasan itu hampir tersenyum.
Ia tahu Alessia sedang berusaha menyelamatkan mereka dari pertanyaan-pertanyaan berikutnya.
Fabiola akhirnya mengangguk.
“Baiklah. Mama percaya padamu.”
Alessia tersenyum lega.
Tuan Danielle hanya melirik putrinya dengan tatapan penuh curiga. Ia sepertinya tahu ada sesuatu yang disembunyikan Alessia.
Sementara itu, Vellano menatap istrinya diam-diam.
Dalam hati ia mengakui satu hal.
Alessia memang pandai sekali mencari jalan keluar.
Sayangnya, kali ini mereka hanya berhasil menunda masalah, bukan menghindarinya.
Sebelum benar-benar meninggalkan rumah, suasana sempat berubah serius ketika pembicaraan mengenai kejadian di Kamboja kembali disinggung.
Ayah Alessia menatap Vellano dengan wajah yang jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. “Kami sudah mendapat kabar dari orang-orang kami. Soal ancaman dan masalah kecelakaan Alessia di Kamboja... semuanya sudah diselesaikan, bukan?”
Vellano mengangguk singkat. “Sudah. Orang yang mencoba memanfaatkan kejadian itu tidak akan mengganggu Alessia lagi. Bukti yang ada juga sudah diamankan. Saya memastikan semuanya selesai tanpa membuat nama keluarga kalian terseret lebih jauh.”
Ibu Alessia menghela napas lega. Selama beberapa waktu terakhir, persoalan itu menjadi salah satu hal yang paling membuatnya cemas. “Syukurlah. Mama benar-benar tidak tahu harus bagaimana kalau masalah itu sampai muncul ke media.”
Ia kemudian menatap Vellano dengan tatapan penuh rasa terima kasih. “Terima kasih sudah membantu Alessia. Kami tahu ini bukan masalah kecil, apalagi sekarang kamu sendiri ikut terseret ke dalam kekacauan keluarga kami.”
Vellano terdiam sesaat sebelum menjawab tenang, “Alessia adalah istri saya. Apa pun yang menyangkut keselamatannya, saya akan bertanggung jawab.”
Ayah Alessia tersenyum tipis. “Itu yang membuat kami lega. Terima kasih, Vellano. Kami mungkin tidak bisa membalas semua bantuanmu, tapi kami sangat menghargainya.”
Dari tempatnya berdiri, Alessia hanya terdiam. Entah mengapa, mendengar suaminya mengatakan itu membuat dadanya terasa hangat.
Malam akhirnya tiba. Setelah cukup lama berbincang, orang tua Alessia pun pamit pulang. Rumah yang sebelumnya ramai kembali tenang.
Keheningan kembali terjadi.
......................
Malam akhirnya tiba. Setelah cukup lama berbincang, orang tua Alessia pun pamit pulang. Rumah yang sebelumnya ramai kembali tenang.
Di kamar utama, suasana canggung kembali menyelimuti mereka.
Alessia berdiri di depan cermin sambil berusaha mengancingkan piyamanya dengan satu tangan. Tangan satunya masih terpasang gips.
“Kenapa benda ini susah sekali?” gerutunya.
Vellano yang sedang melepas jam tangannya melirik.
“Biar aku bantu.”
“Tidak perlu.”
Alessia mencoba lagi.
Kancing pertama berhasil. Kancing kedua malah terlepas dan jatuh ke lantai.
Vellano menghela napas.
“Masih mau bilang tidak perlu?”
Alessia memelototinya. “Aku bisa!”
Lima detik kemudian, ia menyerah.
“…Baiklah. Cepat.”
Vellano mendekat dan membantu mengancingkan piyama Alessia dengan hati-hati agar tidak mengenai tangannya yang cedera.
Namun tanpa disadari, Alessia justru terpaku menatap wajah suaminya dari jarak dekat.
Wajah Vellano terlihat begitu tampan malam itu.
Alessia buru-buru mengalihkan pandangan ketika menyadari dirinya sudah terlalu lama memperhatikannya.
Wajahnya memerah.
“Sudah,” ujar Vellano.
“Oh… iya.”
Vellano berjalan menuju sofa dan duduk di sana, sementara Alessia naik ke tempat tidur, bersandar pada kepala ranjang sambil memainkan ponselnya.
Di tengah keheningan, ponsel Vellano tiba-tiba berdering.
...****************...
Hemm kira-kira siapa yang menelpon Vellano malam2 begitu?
William lagi kah?atau terkait masalah kecelakaan baru2 ini?
Stay tune ya!
Terimakasih,salam damai🥰🫶🏽