Selama lima tahun, Bayu telah mengorbankan segalanya untuk merawat Vira dan membesarkan anak dari mantannya, namun ia justru diusir dan dicap sebagai sampah begitu Rama,pria kaya yang dulu mencampakkan Vira,kembali dengan jabatan mentereng sebagai manajer perusahaan besar.
Dihina habis-habisan di depan pintu keluar kantor catatan sipil usai meneken surat perceraian, hidup Bayu berputar 180 derajat saat sebuah Sistem Pengubah Jalur Hidup bangkit di kepalanya dan memberinya kartu-kartu kekayaan mutlak.
Dari seorang pria melarat berhati tulus, Bayu kini melangkah ke dunia para elite kota besar, siap membalas setiap tetes air mata dengan kekuasaan yang membuat orang-orang yang dulu merendahkannya berlutut memohon ampun.
Bantu Cherlly dengan LIKE,KOMENTAR & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Kami selalu balas komentar yang kaka pertanyakan🥰🥰💋
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Suasana di dalam apartemen sewa itu terasa begitu menyesakkan dada.
Hawa di ruangan itu terasa panas oleh amarah yang tertahan sejak pagi.
Rama mondar-mandir di ruang tamu yang sempit dengan langkah berat dan berisik.
Wajah pria itu tampak kusut, basah oleh keringat dingin yang terus mengucur.
Matanya berulang kali melirik jam dinding, sementara rasa cemas di dadanya kian memuncak.
"Mana wanita sialan itu?" gumam Rama dengan suara tertahan penuh emosi.
"Kenapa dari tadi dia belum juga kembali dari penthouse Bayu?"
Ceklek.
Pintu apartemen tiba-tiba berderit pelan, terbuka dari luar.
Rama langsung menoleh cepat ke arah pintu masuk.
Vira melangkah masuk dengan penampilan yang benar-benar berantakan.
Rambutnya kusut tak beraturan, matanya bengkak kemerahan, dan pakaiannya tampak kotor berdebu.
Sepatu hak tingginya yang patah sebelah ia genggam di tangan kiri.
"Vira?" tanya Rama dengan nada suara tinggi dan tajam. "Dari mana saja kamu, hah?"
Vira sama sekali tidak menggubris pertanyaan suaminya itu.
Ia berjalan tertatih ke arah sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan lemas.
Isak tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah kembali memenuhi ruangan.
"Hiks... hiks..." rintih Vira sambil memeluk lututnya erat-erat di sudut sofa.
"Hei! Jawab aku!" bentak Rama sambil mendekati Vira dengan langkah lebar.
"Apa yang terjadi di sana? Apakah kamu berhasil menemui Bayu?"
Vira mendongak perlahan, menatap wajah Rama yang memerah karena marah.
Tatapan mata Vira kosong, menyisakan kehampaan tanpa ada harapan lagi.
"Dia... dia menolak kita, Mas," bisik Vira dengan suara parau yang nyaris tak terdengar.
"Apa maksudmu menolak?" tanya Rama dengan urat leher yang menegang.
"Bukankah kamu bilang dia masih punya perasaan padamu?"
"Dia tidak mau menemui kita sama sekali," jawab Vira sambil terisak semakin kencang.
"Aku bahkan diusir dan diseret keluar oleh satpam di depan lobi."
Brak!
Rama memukul meja kecil di samping sofa dengan kepalan tangannya yang kuat.
"Sialan!" teriak Rama dengan kalap.
"Wanita tidak berguna!"
Vira terperanjat kaget mendengar umpatan kasar dari pria yang selama ini selalu memujanya.
"Kamu bilang apa, Mas?" tanya Vira dengan dada bergemuruh tak percaya.
"Aku bilang kamu tidak berguna, Vira!" bentak Rama tepat di depan wajah wanita itu.
"Datang merengek-rengek tapi hasilnya tetap nol besar!"
Emosi Rama yang sudah di ujung tanduk akhirnya meledak total tanpa bisa dicegah.
Segala tekanan dari pemecatan di kantor, tumpukan utang, dan hilangnya masa depan membuat kewarasannya runtuh seketika.
"Gaji dan tabunganku habis karena menuruti gaya hidup hedonmu!" lanjut Rama dengan napas memburu.
"Dan sekarang kita dibikin bangkrut total oleh mantan suamimu itu!"
Vira membelalakkan matanya lebar-lebar mendengar pengakuan egois tersebut.
"Jadi... selama ini kamu menyalahkanku, Mas?" tanya Vira dengan suara bergetar hebat.
"Bukankah kamu yang berjanji akan membahagiakanku setelah meninggalkan Bayu?"
"Janji?" Rama tertawa sinis, melontarkan nada mengejek yang terasa sangat kejam.
"Wanita bodoh! Mana mungkin aku menikahi wanita pembawa sial sepertimu secara serius?"
Deg!
Kalimat itu menghantam dada Vira seperti hantaman palu besi yang panas.
Seluruh tubuh Vira bergetar hebat, menahan rasa sakit yang teramat sangat di relung hatinya.
"Jadi... kamu cuma mempermainkan aku selama ini?" tanya Vira dengan air mata yang mengalir deras tanpa henti.
"Tentu saja!" jawab Rama tanpa rasa bersalah sedikit pun di wajahnya.
"Kalau tahu akhirnya kamu malah bikin aku kehilangan segalanya, aku tidak akan pernah melirikmu sejak lima tahun lalu!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Rama.
Vira mengerahkan sisa-sisa tenaga terakhirnya untuk memukul pria brengsek di hadapannya itu.
Wajah Rama terdorong ke samping akibat hantaman tersebut.
Rama perlahan menoleh kembali ke arah Vira, matanya menyala penuh amarah yang mengerikan.
"Berani sekali kamu memukulku, hah?" bentak Rama dengan suara menggelegar.
Rama langsung mencengkeram rambut panjang Vira dengan kasar.
"Aduh! Lepaskan, Mas!" rintih Vira kesakitan sambil mencoba melepaskan cengkeraman tangan Rama.
"Kamu pikir kamu siapa sekarang, hah? Wanita murahan yang hamil anak orang lain lalu menempel padaku!" maki Rama tanpa belas kasihan sedikit pun.
Pertengkaran fisik pun tak terelakkan lagi di dalam ruangan yang sempit itu.
Berbagai barang berserakan di lantai akibat hantaman dan lemparan dari emosi yang sudah tak terkendali.
Vira menangis histeris, baru menyadari bahwa pria yang ia bela setengah mati ternyata adalah monster berhati dingin.
"Cukup!" teriak Rama sambil melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Vira terjatuh ke lantai.
Rama berjalan cepat menuju kamar tidur kecil di sudut ruangan.
Ia langsung menyambar koper pakaian miliknya yang masih tersisa di lemari.
"Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Vira dengan napas tersengal-sengal di lantai.
"Aku mau pergi dari neraka ini!" jawab Rama ketus sambil menarik ritsleting tas kopernya.
"Aku tidak mau ikut hancur dan memikul utang gara-gara perempuan pembawa sial sepertimu!"
"Jangan tinggalkan aku sendiri, Mas!" rintih Vira sambil merangkak mencoba meraih kaki Rama.
"Jangan sentuh aku!" bentak Rama sambil menendang tangan Vira menjauh.
"Urus saja hidupmu sendiri dengan bayi dalam kandunganmu itu!"
Rama melangkah keluar kamar dengan langkah lebar tanpa menoleh ke belakang sekalipun.
Brak!
Pintu apartemen itu ditutup dengan bantingan yang sangat keras.
Suasana sunyi mendadak mencekam ruangan sempit yang berantakan itu.
Vira terdiam kaku di atas lantai keramik yang dingin, meratapi kebodohan fatal yang telah ia perbuat dalam hidupnya.
Ia telah kehilangan suami yang tulus, kehilangan masa depan, dan kini ditinggalkan seorang diri dalam kehancuran total.
Di tempat terpisah, sistem di kepala Bayu memberikan notifikasi singkat.
[Sistem Pengubah Jalur Hidup: Hubungan antara target Vira dan Rama telah hancur total.]
[Mendapatkan bonus poin kepuasan +25.]
Bayu menutup layar sistem dengan senyum tipis terukir di bibirnya.
Karma benar-benar datang dengan cara yang paling telak bagi orang-orang yang berkhianat.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰