Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.
Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.
Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cassia Salah Paham
Malam semakin larut ketika Kirana perlahan membuka matanya. Perutnya terasa kosong sejak tadi, membuat wanita itu mengerutkan kening sambil duduk di atas kasur.
Ia menoleh ke sisi lain tempat tidur. Kendra yang sebelumnya berada di kamar ternyata tidak terlihat, membuat Kirana sempat bertanya-tanya ke mana pria itu pergi.
Terdengar uara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Kirana langsung menoleh. Kendra baru saja keluar dengan mengenakan jubah mandi, rambutnya masih sedikit basah setelah membersihkan diri.
“Kau sudah lapar?” tanya Kendra ketika melihat Kirana sudah duduk di kasur.
Kirana mengangguk.
Kendra tidak banyak bertanya. Ia segera mengambil interkom yang berada di meja samping tempat tidur dan menekan tombolnya.
“Bawakan makanan ke kamar,” perintahnya kepada pelayan. “Siapkan makanan yang cukup untuk dua orang.”
Setelah meletakkan kembali interkom, Kendra menatap Kirana. “Mulai sekarang kita tinggal bersama di kamar ini.”
Kirana mengangkat alis.
“Tidak mungkin kita tidur di kamar yang berbeda,” lanjut Kendra. “Apalagi kalau Mami tahu, dia pasti akan membuat masalah sendiri.”
Kendra menghela napas kecil. “Tenang saja, aku tidak akan mengganggumu. Aku juga tidak akan melakukan macam-macam.”
Kirana hanya mengangguk santai. Ia kemudian mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu. Setelah selesai, ia menunjukkan layar tersebut kepada Kendra.
‘Perlu bantuan?’
Kendra melihat tulisan itu, lalu menggeleng. “Tidak perlu.”
Pria itu kemudian mengarahkan kursi rodanya menuju ruang ganti. Namun, baru beberapa meter berjalan, Kirana tiba-tiba bangkit dari tempat tidur dan menghampirinya.
“Kirana?”
Tanpa menjawab, Kirana berdiri di belakang kursi roda Kendra. Ia langsung mendorong pria itu menuju ruang ganti yang cukup luas di dalam kamar mereka.
Kendra menoleh ke belakang dengan wajah bingung. “Aku bilang tidak perlu bantuan.”
Kirana tetap mendorong kursi rodanya tanpa peduli.
Sesampainya di dalam ruang ganti, Kirana melihat deretan pakaian Kendra yang sebagian besar berwarna hitam, abu-abu, dan warna-warna gelap lainnya. Ia mengambil satu set piyama berwarna hitam, lalu menyerahkannya kepada Kendra.
“Ini?”
Kirana mengangguk.
Kendra menerima pakaian tersebut. “Terima kasih.”
Kirana langsung berbalik dan keluar dari ruang ganti. Ia bahkan tidak menunggu Kendra mengatakan apa-apa lagi.
Kendra hanya bisa menghela napas panjang. Sepertinya ia harus mulai membiasakan diri dengan keberadaan Kirana di sekitarnya.
Selama ini, hampir semua keperluannya dibantu Marco. Bahkan untuk mengambil pakaian pun biasanya asistennya yang melakukannya, tetapi sekarang istrinya justru melakukannya tanpa banyak bicara.
“Benar-benar sulit ditebak,” gumam Kendra.
Beberapa menit kemudian, Kendra sudah berganti pakaian. Ia keluar dari ruang ganti dan langsung melihat Kirana sedang duduk di meja makan kecil yang berada di dalam kamar.
Makanan sudah tersaji cukup banyak di atas meja. Kirana makan dengan lahap seolah-olah sudah tidak mendapatkan makanan selama berhari-hari.
Kendra mengerutkan kening. “Kau lapar sekali?”
Kirana tidak menjawab. Ia hanya terus menikmati makanannya dengan tenang.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
Sebelum Kendra sempat menyahut, pintu terbuka dan Cassia masuk bersama seorang pelayan. Wanita itu rupanya datang untuk memastikan kedua pengantin baru tersebut sudah makan.
Begitu melihat Kirana makan dengan lahap, Cassia langsung tersenyum puas. “Nah, begitu dong, menantu Mami harus makan yang banyak.”
Kirana mengangguk sambil tetap menikmati makanannya.
Cassia kemudian menoleh kepada Kendra yang baru keluar dari ruang ganti. Tatapannya berubah seolah-olah baru saja menemukan seseorang yang melakukan kesalahan besar.
“Kendra!”
Kendra berhenti. “Ada apa, Mi?”
“Kau benar-benar keterlaluan!” seru Cassia.
Kendra mengerutkan kening. “Aku melakukan apa?”
Cassia menunjuk Kirana yang sedang makan. “Kau membuat menantu Mami sampai kelaparan begini.”
Kendra semakin bingung. “Kelaparan?”
“Lihat saja cara dia makan,” kata Cassia serius. “Pasti kau benar-benar menguras tenaganya.”
Kirana yang sedang mengambil makanan mendadak berhenti.
Cassia kemudian menepuk bahu Kendra. “Setidaknya pelan-pelan saja. Kalian masih punya banyak waktu.”
Wajah Kendra langsung berubah. “Mami, tunggu—”
“Kau terlalu bersemangat ingin memberikan Mami cucu, ya?” tanya Cassia bersemangat.
“Uhuk!”
Kirana langsung tersedak.
Kendra membeku.
Cassia pun panik dan segera mengambil gelas air di atas meja. “Aduh, Kirana! Minum dulu, Sayang.”
Kirana buru-buru menerima gelas tersebut dan meminumnya beberapa teguk. Wajahnya memerah karena tersedak sekaligus malu mendengar ucapan mertuanya.
Kendra mengusap wajahnya dengan satu tangan. “Mami salah paham. Kami hanya—”
“Sudah, sudah,” potong Cassia sambil melambaikan tangan. “Tidak perlu menjelaskan.”
“Tapi Mami—”
“Biarkan menantu Mami makan.”
Cassia kemudian menarik kursi dan duduk di dekat Kirana. “Kirana, makan saja dengan tenang. Jangan pedulikan Kendra.”
Kirana mengangguk pelan.
Kendra hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu percuma menjelaskan karena semakin ia berbicara, semakin jauh kesalahpahaman ibunya.
Sementara itu, Cassia justru tersenyum puas melihat Kirana kembali makan. “Nah, begitu. Menantu Mami memang harus banyak makan.”
Kendra hanya menggelengkan kepala. “Mami benar-benar tidak ada obatnya.”
Cassia tertawa kecil. “Kau saja yang terlalu kaku.”
Kirana melirik keduanya sebentar, lalu kembali fokus pada makanannya. Dalam hati, ia hanya berharap tidak ada lagi pembicaraan aneh seperti tadi.
Di tempat lain, suasana di rumah keluarga Lin jauh berbeda. Tidak ada tawa seperti di mansion keluarga Wu.
Arthur dan Sean baru saja tiba ketika Shania melihat keduanya masuk. Gadis itu langsung berdiri dari sofa, kemudian matanya berkaca-kaca.
“Kak Arthur, Kak Sean,” panggilnya pelan.
Arthur dan Sean berhenti. Mereka saling pandang sebelum akhirnya menoleh kepada Shania.
Shania menggenggam ujung bajunya. “Soal kejadian beberapa waktu lalu maafkan aku.”
Arthur menghela napas. “Shania.”
“Aku benar-benar minta maaf,” lanjut Shania dengan suara bergetar. “Aku hanya takut.”
Sean mengerutkan kening. “Takut apa?”
“Aku takut Kak Kirana akan mengambil semuanya dariku,” jawab Shania. “Aku takut kehilangan keluarga ini, tetapi aku tidak pernah benar-benar bermaksud menyakiti Kak Kirana.”
Arthur terdiam cukup lama.
Sean juga menghela napas sebelum berkata, “Kami mengerti kau mungkin takut.”
“Tapi lain kali, berpikirlah sebelum bertindak,” lanjut Arthur. “Jangan sampai rasa takut membuatmu melakukan sesuatu yang akhirnya menyakiti orang lain.”
Shania menundukkan kepala. “Aku mengerti, Kak.”
Sean menatapnya serius. “Kirana tidak pernah mengganggumu.”
Shania mengepalkan tangannya di balik tubuhnya, tetapi segera mengendurkannya kembali.
“Dia bahkan baru kembali ke keluarga ini,” lanjut Sean. “Seharusnya kita memberinya kesempatan untuk mengenal kita, bukan malah membuatnya merasa tidak diterima.”
Shania mengangguk pelan. “Aku akan berusaha.”
Arthur dan Sean kemudian berjalan melewatinya menuju ruang keluarga.
Shania tetap berdiri di tempatnya sambil menatap punggung kedua kakaknya. Wajah sedih yang tadi ia tunjukkan perlahan menghilang, digantikan tatapan yang sulit dibaca.
sat set tnpa drama
keren pojok nya
wuih jous gandos
aaahhh mboh lah mumet AQ sweeter
otornya lho bikin penasaran Mulu 🤣🤣🤣
🤭🤭🤭🤭