Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Ujian Dari Ayah Mertua Mafia
Lima belas menit kemudian, suara dentuman pintu lift privat lantai teratas terbuka.
Seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan uban di pelipisnya melangkah keluar dengan aura intimidasi yang luar biasa pekat. Mengenakan setelan jas hitam klasik lengkap dengan tongkat bermata perak, Sebastian Blackwood—pensiunan pemimpin tertinggi sindikat Blackwood—menatap tajam ke sekeliling ruangan sebelum matanya jatuh pada sosok Aira.
Gabriel secara refleks langsung berdiri di depan Aira, merentangkan sebelah tangannya seolah-olah ia sedang melindungi sang istri dari predator berbahaya.
"Ayah! Kenapa datang tidak bilang-bilang? Mau inspeksi mendadak atau mau cari ribut?" protes Gabriel dengan nada tidak santai, alisnya berkerut tajam.
Sebastian mendengus keras. Ia menatap putranya dengan tatapan meremehkan. "Ck. Baru jadi suami beberapa hari saja, kamu sudah berani membentak ayahmu sendiri, Gabriel? Minggir! Aku datang bukan untukmu, tapi untuk menantu baruku."
Aira yang berdiri di balik punggung Gabriel menarik pelan lengan suaminya. Dengan anggun dan tenang, Aira melangkah maju, membungkuk hormat kepada Sebastian.
"Selamat pagi, Tuan Sebastian. Suatu kehormatan bisa menyambut Anda di kantor ini," sapa Aira dengan suara jernih dan senyum ramah yang sangat berkelas.
Sebastian mengamati Aira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Suasana di ruangan itu mendadak hening mencekam. Felix dan para pengawal di sudut ruangan bahkan menahan napas mereka, menunggu reaksi dari sang mantan ketua mafia senior yang terkenal sangat kejam dalam menilai orang.
Tiba-tiba, Sebastian mengangkat tongkatnya, mengetukulkannya ke lantai marmer dua kali.
"Dengar, Aira," kata Sebastian dengan suara beratnya. "Gabriel adalah ketua mafia yang memimpin ribuan anak buah berdarah dingin. Dia bodoh, keras kepala, dan hobi bertindak ceroboh kalau menyangkut keselamatanmu. Kenapa kamu mau menikah dengan monster seperti dia?"
Gabriel langsung panik di tempatnya. "Heh! Tua bangka! Kenapa malah jelek-jelekkan aku di depan istriku?!"
"Diam kamu, bocah tengik!" bentak Sebastian melirik putranya tajam, lalu kembali menatap Aira. "Jadi, apa jawabanmu, Nak?"
Alih-alih merasa takut atau ciut, Aira justru tersenyum tipis. Ia melirik Gabriel sekilas—pria yang semalam gemetaran takut dibenci olehnya, pria yang membangunkannya meja kerja rose gold karena takut istrinya kesepian.
Aira kembali menatap Sebastian dengan sorot mata yang sangat mantap.
"Anda benar, Tuan Sebastian. Gabriel memang keras kepala dan kadang bertingkah konyol seperti anak kecil," jawab Aira tenang. "Tapi di balik sisi gelap dunia yang dia jalani, dia adalah pria yang memberikan seluruh rasa aman, ketulusan, dan hatinya untuk melindungiku."
Aira meraih tangan Gabriel dan menggenggamnya erat-erat.
"Aku tidak peduli apakah dia disebut monster oleh dunia luar. Bagi ku, dia adalah rumah," lanjut Aira tulus.
Mendengar kata-kata itu, Gabriel terpaku. Mata cokelat gelapnya mengerjap beberapa kali, lalu berkaca-kaca menahan haru yang luar biasa. Ketahanan mental sang ketua mafia hancur seketika oleh kalimat manis sang istri.
Sementara itu, Sebastian terdiam seribu bahasa. Alis tebalnya naik turun. Detik berikutnya, pria paruh baya itu justru mendengus pelan sambil tersenyum miring.
"Hah... rupanya anak sialan ini benar-benar beruntung mendapatkan wanita secerdas dan seberani kamu," puji Sebastian, lalu melemparkan sebuah kotak kecil berlapis velvet merah ke pangkuan Gabriel.
Gabriel menangkap kotak itu dengan sigap. "Apa ini?"
"Hadiah pernikahan untuk menantuku! Jangan dikira aku pelit seperti kamu," ketus Sebastian. "Di dalamnya ada sertifikat kepemilikan pulau pribadi di Mediterania. Biar kalian kalau mau honeymoon tidak usah sembunyi-sembunyi lagi!"
Seketika itu juga, wajah Gabriel yang tadinya garang langsung berubah sumringah. Sikap dinginnya menguap, berganti dengan cengiran lebar penuh rasa bangga.
"Wah, Ayah ternyata tidak sepenuhnya menyebalkan! Makasih banyak ya, Pak Tua!" seru Gabriel girang, langsung melompat kecil sambil memamerkan kotak beludru itu ke Aira. "Sayang, lihat! Kita dapet pulau gratis dari Ayah!"
Felix di sudut ruangan kembali menepuk jidatnya, merasa pusing melihat perubahan kepribadian bosnya yang dari mode "Ketua Mafia Kejam" langsung berubah jadi "Anak Manis Minta Jajan" dalam waktu kurang dari lima detik.