Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Bianca diam mematung. Wajahnya yang tadi terlihat tenang seketika berubah pucat ketika tatapannya bertemu dengan Lorenzo. Tangannya yang memegang garpu perlahan turun ke atas meja.
Sejak kejadian tempo hari, dia sudah berkali-kali mencoba menghubungi Lorenzo. Pesannya tidak pernah dibalas dan teleponnya tidak pernah tersambung. Lorenzo sudah memblokir nomornya.
Bianca sama sekali tidak menyangka akan bertemu pria itu di tempat seperti ini, apalagi ketika Lorenzo datang bersama Alina.
Di sampingnya, Samuel juga terlihat kaku. Pria itu menelan ludah, kemudian mengusap tengkuknya sebelum akhirnya memasang senyum seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Hai, Lorenzo!" sapa Samuel.
Lorenzo menatapnya tanpa ekspresi. "Cih! Pasangan pengkhianatan," gumamnya pelan.
Samuel yang mendengar gumaman itu langsung kehilangan senyum. "Lo-Lorenzo, aku sebenarnya—"
Lorenzo mengangkat satu tangan. "Aku tidak sedang ingin mendengarkan penjelasan."
Samuel langsung terdiam.
Lorenzo kembali melirik Bianca dan Samuel. Anehnya, setelah diperhatikan lebih lama, dia justru merasa keduanya memang cocok.
Bianca suka bersenang-senang. Samuel juga sama. Bianca senang menjalani kehidupan bebas tanpa terlalu memikirkan batasan. Samuel pun tampaknya tidak jauh berbeda. Mereka seperti dua orang yang memiliki hobi sama dan akhirnya menemukan pasangan yang sama-sama menyukai kebebasan.
Alina mengembuskan napas melalui hidung.
Lebih baik aku diam, tak berkomentar apapun. Daripada nanti aku yang terus dibuat pusing oleh Lorenzo.
Tanpa memedulikan dua orang di belakangnya, Lorenzo berbalik. Namun, baru beberapa langkah berjalan, dia menyadari Alina sudah tidak ada di sampingnya.
"Ke mana dia?" Lorenzo mengernyit. Dia melihat ke depan. Kemudian ke belakang. Barulah dia menemukan istrinya sedang duduk santai di sebuah meja yang baru saja ditinggalkan pelanggan.
Alina bahkan sudah menarik kursi dan meletakkan tasnya. Dia sama sekali tidak terlihat terganggu oleh kehadiran Bianca dan Samuel. Perutnya sudah berbunyi sejak beberapa menit lalu. Baginya, itu jauh lebih penting.
Lorenzo menghampirinya sambil menggelengkan kepala. "Kamu ini ... kenapa meninggalkan aku?"
Alina mendongak. "Aku lapar."
Jawaban singkat itu membuat Lorenzo tidak bisa membantah. Akhirnya dia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Alina.
Seorang pelayan datang membawa buku menu. Lorenzo langsung memesankan makanan. Bukan satu atau dua hidangan. Dia memesan makanan pembuka, sup, pasta, daging, salad, roti, beberapa minuman, sampai makanan penutup.
Alina yang mendengar daftar pesanannya semakin lama semakin melotot. Ketika pelayan akhirnya pergi, dia menatap Lorenzo dengan dahi berkerut.
"Kenapa memesan makanan begitu banyak?"
Lorenzo menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dia menyeringai jahil
"Aku tahu kamu lagi kelaparan. Jangan sampai pingsan ketika bekerja nanti."
Alina langsung memanyunkan bibir. "Aku tidak akan pingsan hanya karena telat makan sedikit."
"Kemarin kamu sering buat kesalahan dan bilang mau pingsan."
Alina langsung terdiam. Wajahnya berubah sedikit merah. Dia segera mengambil gelas air dan meminumnya agar tidak perlu menjawab.
Lorenzo tersenyum tipis.
Beberapa detik kemudian, pandangan Alina tanpa sengaja bergerak ke meja Bianca. Mantan kekasih Lorenzo itu sedang melihat ke arah mereka. Tatapannya tidak lagi tertuju kepada Lorenzo saja. Sesekali matanya berpindah kepada Alina.
Alina mengangkat alis. Kenapa dia melihat ke sini terus?
Alina melirik Lorenzo. "Sepertinya Bianca ingin bicara sama kamu."
Lorenzo bahkan tidak menoleh. "Sudah tidak ada yang perlu kami bicarakan lagi." Jawabannya terdengar dingin dan tegas.
Alina mengangguk kecil. "Oh."
Namun, rasa penasaran di dalam kepalanya belum hilang.
Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan, kenapa dia terus melihat ke sini?
Lorenzo yang mendengar isi pikirannya hanya menghela napas.
Beberapa saat kemudian, makanan mulai berdatangan. Aroma pasta yang masih mengepul langsung membuat mata Alina berbinar. Dia mengambil garpu dan mulai makan tanpa banyak bicara.
Lorenzo yang melihatnya hanya tersenyum kecil. Setidaknya sekarang istrinya tidak sibuk memikirkan urusan orang lain.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Ponsel Alina bergetar di atas meja. Alina berhenti mengunyah. Dia mengambil ponselnya dan melihat layar.
Alisnya langsung berkerut. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
[Ada yang mau aku bicarakan denganmu. Ini penting! Temui aku besok siang di taman kota.]
Alina membaca pesan itu sekali. Dia menoleh kepada Lorenzo.
"Ada apa?" tanya Lorenzo.
Alina memperlihatkan layar ponselnya. "Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Tapi, sepertinya ini dari Bianca."
Tatapan Lorenzo langsung berubah. Dia membaca pesan tersebut. Rahangnya mengeras.
"Kenapa dia tidak menghubungimu? Malah menghubungi aku," tanya Alina
Lorenzo mengangkat bahu. "Mungkin karena nomornya sudah aku blokir."
Alina kembali menatap layar.
Kenapa harus bertemu di taman kota? Kalau cuma mau bicara, kenapa tidak bicara sekarang? Apa yang sebenarnya ingin dia katakan?
Rasa penasaran Alina semakin besar.
Lorenzo memperhatikannya. "Jangan pergi sendirian."
Alina mendongak. "Kenapa?"
"Karena aku bilang begitu."
Alina mengerutkan hidung.
Wah, mulai lagi. Mode suami galak.
Lorenzo menghela napas. "Aku serius."
Alina menatap wajahnya beberapa detik. Kemudian mengangguk.
"Baiklah."
Setelah makan selesai, Lorenzo dan Alina berniat kembali ke kantor. Mereka berjalan menuju area parkir. Namun, baru beberapa langkah mendekati mobil, seseorang sudah berdiri di dekat kendaraan mereka. Samuel.
Lorenzo langsung berhenti. Wajahnya kembali mengeras.
Samuel maju satu langkah. "Lorenzo, kita harus bicara."
"Aku lagi sibuk."
Lorenzo bahkan tidak berhenti untuk mendengarkan. Dia terus berjalan menuju mobil sambil mengeluarkan kunci dari saku.
Samuel mengikuti langkahnya. "Ini penting."
Lorenzo membuka pintu mobil. "Semua orang bilang urusannya penting."
"Lorenzo—"
"Aku tidak punya waktu." Lorenzo masuk ke sisi pengemudi, lalu menoleh ke arah Alina. "Alina, cepat masuk!"
Alina yang sejak tadi berdiri sedikit di belakang langsung bergegas masuk ke kursi penumpang di depan. Dia menutup pintu dan memasang sabuk pengaman.
Samuel masih berdiri di luar. Tangannya mengepal. "Lorenzo, setidaknya dengarkan aku!"
Lorenzo menyalakan mesin. "Kalau aku ingin mendengarkanmu, aku akan menghubungimu."
Mobil mulai bergerak. Alina menoleh ke belakang. Samuel semakin mengecil di kaca spion. Dia kemudian melirik Lorenzo.
Pria itu menggenggam kemudi dengan kedua tangan. Wajahnya dingin. Tatapannya lurus ke depan. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Bahkan auranya terasa beberapa kali lebih menakutkan daripada biasanya.
Alina menelan ludah. Dia langsung duduk tegak.
Lorenzo lagi mode devil! Kali ini sebaiknya aku jangan banyak bicara. Banyak-banyak berdoa saja supaya aku tidak ikut celaka.
Alina diam-diam menyatukan kedua tangannya di depan dada.
1. dia selingkuh selama pernikahan, berniat menceraikan istrinya demi menikahi wanita lain, membiarkan istrinya diperlakukan semena-mena dikeluarganya, tapi tidak dihargai dirumah, 2.Alin dibuat bertahan 3 tahun dengan suami yang dingin, tidak menghargai istri dan selingkuh dengan pacarnya, sekaligus tekanan dari keluarga suami, tidak punya Sandaran, mengurus rumah dan sekaligus masih bekerja dikantor suami yang mana entah itu privat / disembunyikan.
coba kesampingkan humor tentang membaca pikiran, yg aku tangkap dari rumah tangganya itu semua, rasanya terlalu mudah dimaafin, padahal untungnya cuma Alin gak cinta, dan Lorenzo gak celap celup. sisanya kalo dipikir sakit ya
nyesel lho klo beneran Lorenzo lari k wanita lain, apalagi dia skarang mulai menyukai kaaaamu....