Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Pengakuan di Tengah Secangkir Kopi
Pagi berikutnya, suasana pos penjagaan kembali dipenuhi aktivitas. Para prajurit menyelesaikan apel pagi, memeriksa perlengkapan, dan menerima arahan mengenai tugas yang harus dijalankan hari itu. Udara masih terasa dingin, tetapi sinar matahari mulai menyentuh halaman pos yang berdebu.
Yanto, yang semalam mengeluhkan keputusan Kapten Reihan untuk memberinya jadwal tugas lebih awal, kini sudah kembali dengan wajah cerah. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa, ia berjalan menuju ruang makan sambil bersiul kecil.
Bagi Yanto, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan mengeluh. Selama tidak ada masalah besar, ia selalu berusaha menemukan sesuatu yang bisa membuatnya semangat menjalani hari.
Sayangnya, pagi itu ia menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar bahan lelucon.
Budi duduk sendirian di sudut ruang makan. Di hadapannya terdapat secangkir kopi dan sepiring makanan yang nyaris tidak disentuh. Biasanya, Budi termasuk anggota yang aktif dan tidak jaim. Namun, pagi itu wajahnya terlihat serius, bahkan sesekali ia mengembuskan napas panjang.
Yanto memperlambat langkah. Ia mengenal ekspresi semacam itu. Ekspresi seseorang yang sedang memikirkan sesuatu yang sangat dalam, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.
Dengan senyum khasnya, Yanto menghampiri meja tersebut.
"Selamat pagi, Sertu Budi. Wajahmu seperti orang yang baru menerima surat tagihan utang."
Budi mendongak, "Pergi sana, Yan."
"Wah, galak sekali. Kopimu pahit atau hidupmu yang sedang tidak manis?"
Budi tidak menjawab. Kegalauan tingkat dewa sedang melingkupi paginya.
Yanto menarik kursi dan duduk di hadapannya tanpa meminta izin, "Baiklah, aku tidak akan bercanda. Ada masalah apa?"
"Tidak ada."
"Kalau tidak ada masalah, kau tidak mungkin duduk di sini seperti sedang ber-muhasabah sebelum tidur."
Budi mendengkus.
Yanto mengambil sepotong roti dari piringnya sendiri, kemudian menggigitnya sambil memperhatikan wajah rekannya, "Jangan-jangan kau sedang memikirkan seseorang?"
Budi terdiam.
Yanto menghentikan kunyahannya. Matanya membesar, lalu perlahan bibirnya membentuk senyum penuh kemenangan, "Aha!"
"Apa?"
"Benar, kan?"
"Benar apa?"
"Kau sedang memikirkan perempuan."
Budi segera menegakkan tubuh, "Jangan berisik!"
Yanto justru tertawa, "Tenang. Aku belum menyebutkan nama siapa pun."
Budi menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada anggota lain yang memperhatikan mereka. Setelah merasa cukup aman, ia mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Yan, aku mau bicara sesuatu. Tapi kau jangan menertawakanku."
Yanto meletakkan rotinya, "Baik. Aku berjanji tidak akan menertawakanmu selama lima menit."
"Bisa serius sedikit tidak?"
"Baiklah. Aku dengarkan."
Budi menarik napas panjang. Beberapa saat ia tampak kesulitan menyusun kata-kata, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengatakannya secara langsung, “Aku menyukai bu Mita."
Yanto terdiam. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia benar-benar kehilangan bahan lelucon. Ia memandang Budi dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ada keterkejutan, ada rasa ingin tahu, dan ada sesuatu yang segera membuat pikirannya teringat pada percakapan bersama Kapten Reihan semalam.
Mita.
Nama yang sama. Perempuan yang beberapa waktu terakhir diam-diam mencuri perhatian sang kapten.
Yanto meneguk kopinya perlahan, mencoba menyembunyikan perubahan ekspresi di wajahnya, "Sejak kapan?" tanyanya akhirnya.
Budi mengusap tengkuk, “Tiba-tiba saja perasaan itu datang."
"Seberapa lama?"
"Sejak beberapa kali bertemu dengannya. Awalnya biasa saja. Aku hanya menganggapnya sebagai perempuan yang bias akita temui. Tetapi semakin sering memandangnya, semakin sulit bagiku untuk mengabaikannya."
Yanto mendengarkan dengan saksama.
Budi bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan perasaan. Selama ini, ia lebih sering menyimpan pikiran sendiri dan baru membicarakannya ketika merasa benar-benar membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.
"Apa yang membuatmu menyukainya?" tanya Yanto.
Budi tersenyum kecil, "Entahlah. Banyak hal."
"Jawaban yang sangat tidak membantu."
"Aku serius, Yan."
"Aku juga serius. Kalau kau ingin memenangkan hati seseorang, setidaknya kau harus tahu apa yang membuatmu tertarik kepadanya."
Budi terdiam sesaat, lalu memandang kopi di hadapannya, "Dia tidak seperti perempuan yang selalu berusaha menarik perhatian orang lain. Ada ketegaran dalam dirinya. Dia bisa menghadapi kesulitan tanpa mengeluh. Dan setiap kali berbicara dengannya, aku merasa nyaman."
Yanto tidak langsung menanggapi. Ia mulai memahami bahwa perasaan Budi bukan sekadar ketertarikan sesaat. Ada sesuatu yang tumbuh perlahan dan kini mulai memenuhi pikirannya.
"Aku ingin mengenalnya lebih dekat," lanjut Budi. "Aku ingin punya kesempatan untuk berbicara dengannya tanpa harus selalu mencari alasan. Kalau memungkinkan, aku ingin menjadi seseorang yang bisa dia percaya."
Yanto mengangguk pelan, "Itu niat yang bagus."
Budi menatapnya penuh harap, “Jadi, menurutmu aku punya kesempatan?"
Pertanyaan itu membuat Yanto teringat kembali pada Reihan. Ia membayangkan wajah sang kapten ketika ditanya mengenai Mita. Reihan tidak pernah benar-benar memberikan jawaban. Tetapi bagi Yanto, sikap diamnya sudah cukup menjelaskan bahwa perasaan itu bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele.
Yanto tahu dirinya berada dalam posisi sulit. Ia tidak ingin mematahkan semangat Budi, tetapi juga tidak ingin membiarkan rekannya itu melangkah tanpa mengetahui bahwa ia tidak sendiri menyukai Guru PJOK tersebut.
Akhirnya, ia meletakkan gelas kopi dan menatap Budi dengan lebih serius, "Aku tidak bisa menjamin kau punya kesempatan atau tidak. Perasaan seseorang bukan sesuatu yang bisa kita putuskan sendiri."
Budi mengangguk.
"Tapi ada satu hal yang harus kau ketahui."
"Apa?"
Yanto menghela napas, “Kalau kau benar-benar berniat mendekati bu Mita, kau harus siap menghadapi kenyataan bahwa mungkin ada orang lain yang memiliki keinginan sama."
Budi mengerutkan kening, “Maksudmu, bu Mita sudah punya seseorang?"
"Aku tidak mengatakan begitu."
"Lalu?"
Yanto mengusap dagunya, berusaha menentukan seberapa jauh ia boleh berbicara. Ia tidak ingin membocorkan percakapan pribadinya dengan Reihan. Namun, Budi juga merupakan rekannya sendiri. Jika ia mengetahui bahwa ada kemungkinan mereka berada dalam situasi yang sama, setidaknya Budi berhak mempertimbangkan langkahnya.
"Begini," kata Yanto akhirnya. "Di dunia ini, bukan hanya kau yang bisa melihat kelebihan seorang perempuan."
Budi tertawa kecil, "Itu aku tahu."
"Bagus. Berarti kau juga harus memahami bahwa orang yang menyukai bu Mita mungkin bukan orang sembarangan."
Budi mulai kehilangan senyumnya, "Siapa, Yan?”
Yanto tidak langsung menjawab.
Budi memperhatikan perubahan sikapnya, "Jangan bilang kau juga menyukainya."
Yanto spontan tersedak kopi.
"Apa-apaan kau ini? Gak lah. Aku udah bertunangan,” Yanto menjawab cepat.
Memang kehadiran Mita, cukup menarik dan menambah semangat bagi prajurit yang bertugas di perbatasan. Tapi Yanto memilih untuk menjaga komitmen yang telah ia buat bersama pacar SMA nya Ima.
"Kalau bukan kau, lalu siapa?"
Yanto menggeleng cepat, “Aku menyukai kedamaian hidupku sendiri. Itu sudah cukup."
Budi menatapnya curiga, tetapi Yanto segera mengalihkan pembicaraan.
"Yang jelas, aku hanya ingin kau tidak terburu-buru mengambil keputusan. Mantapkan hatimu. Kenali bu Mita lebih dekat. Jangan menganggap perasaanmu sendiri sebagai bukti bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama."
Budi terdiam cukup lama.
Kemudian, ia mengangguk, "Aku mengerti."
Yanto menepuk bahunya, "Kalau memang kau serius, tunjukkan melalui sikapmu. Jangan sekadar banyak bicara. Perempuan biasanya bisa melihat perbedaan antara orang yang hanya ingin mendapatkan perhatian dan orang yang benar-benar menghargainya."
Budi tersenyum tipis, “Sejak kapan kau ahli dalam masalah perasaan?"
Yanto langsung kembali ke karakter aslinya, “Sejak aku sadar bahwa menjadi prajurit tidak cukup hanya dengan kemampuan menembak. Kita juga harus memiliki kemampuan bertahan hidup dari persoalan hati."
Budi tertawa. Ketegangan yang sejak tadi menyelimuti wajahnya mulai berkurang. Namun, sebelum mereka melanjutkan percakapan, terdengar suara langkah kaki mendekat. Keduanya langsung menoleh.