NovelToon NovelToon
Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Enemy to Lovers / Cinta Istana/Kuno / Wanita perkasa
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: Laygraph

"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."

Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.

"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."

Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.

Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Panah Hitam

Ujung golok menembus celah sayatan lebih dulu, berkilat sekejap di bawah cahaya bara yang merembes dari luar.

Lalu tangan yang memegangnya. Lalu bahu. Lalu kepala bertopeng kain hitam, dengan dua lubang mata yang mencari-cari di dalam gelap tenda.

Lelaki itu menginjak garam kasar yang ditaburkan Dyah Ayu di sepanjang dinding belakang sejak senja. Kristal-kristal itu remuk di bawah telapak kakinya. Bunyinya kecil, renyah, seperti kerikil digilas roda.

Cukup untuk memberitahu Dyah Ayu di mana kaki kirinya berpijak.

Ia sudah berjongkok di sisi celah itu, merapat ke tiang tenda, sejak bunyi sayatan pertama. Begitu tubuh lelaki itu setengah masuk, ia bergerak. Rendah. Belati naga emas menyambar ke belakang lutut kiri yang baru saja menapak di garam.

Bilah itu tajam seperti yang dijanjikan. Ia merasakan perlawanan liat urat, lalu putus.

Lelaki itu menjerit tertahan. Lututnya terlipat dengan sendirinya. Ia ambruk ke depan, golok terayun liar ke arah tempat Dyah Ayu tadi berada, merobek kain tenda.

Dyah Ayu sudah tidak di sana.

Ia menendang anglo kecil di sudut tenda, tempat bara sisa menanak air tadi sore. Bara merah berhamburan ke wajah bertopeng itu. Kain hitam menyala di beberapa titik. Lelaki itu menjatuhkan goloknya untuk menampar wajahnya sendiri, dan pergelangan tangannya yang terbuka melintas di depan Dyah Ayu.

Belati menyayat sekali lagi. Di bagian dalam pergelangan, tempat urat-urat jari berkumpul.

Jemari lelaki itu berhenti bergerak. Ia meringkuk di lantai tenda, mengerang, satu kaki dan satu tangan tidak lagi menjawab perintahnya.

Bau darah hangat memenuhi tenda. Amis dan asin, bercampur bau kain terbakar.

Dyah Ayu mengusap bilah belati di kain jariknya. Tangannya tidak gemetar. Belum.

***

Di luar, seseorang berteriak. Bukan dalam bahasa Kagendra. Logat pesisir utara yang kasar.

Lalu bau minyak jarak.

Dyah Ayu menciumnya sepersekian tarikan napas sebelum api menyala. Dari empat sisi sekaligus. Kain tenda yang kering oleh kemarau menyala seperti daun lontar disulut, berderak keras, menjilat ke atas. Panas menghantam wajahnya. Asap hitam bergulung turun dari atap.

Ia menarik selendang perak menutupi hidung dan mulut. Lalu berlari keluar lewat celah sayatan yang tadi dibuat musuhnya sendiri.

Malam di luar menyala jingga.

Dalam cahaya tenda yang terbakar, ia melihat mereka. Bayangan-bayangan bertopeng hitam di antara batang-batang jati. Lima. Tujuh. Mungkin lebih. Golok, tombak pendek, jerat tali. Mereka bergerak melebar, membentuk setengah lingkaran yang menutup jalan ke utara, timur, dan barat.

Hanya satu arah yang dibiarkan terbuka.

Selatan. Tebing.

Dyah Ayu tahu ia sedang digiring. Seperti rusa. Tetapi tidak ada pilihan lain. Ia berlari ke selatan, menginjak rumput kering yang tajam, merasakan batu-batu kecil mengiris telapak kakinya yang telanjang.

Lima puluh langkah. Empat puluh. Debu kapur mulai beterbangan di sekitar kakinya.

Tanah berakhir.

Ia berhenti tepat di bibir tebing. Kerikil putih berguguran di bawah tumitnya, jatuh ke dalam gelap. Ia tidak mendengar bunyinya mendarat.

Ia berbalik.

Para pembunuh itu tidak lagi berlari. Mereka berjalan pelan, melebar, napas mereka terdengar berat di balik topeng kain. Tidak ada yang tergesa. Rusa yang terpojok di tepi jurang tidak perlu dikejar.

Dyah Ayu mengangkat belatinya. Angin panas dari jurang menerbangkan rambutnya yang terurai ke wajah.

Lalu ia melihat sesuatu bergerak di atas.

***

Di dahan pohon jati tua di kiri tebing, setinggi tiga kali tubuh manusia, seseorang berjongkok.

Sosoknya terlihat jelas sebagai bayangan hitam berlatar cahaya tenda yang terbakar. Lutut ditekuk di atas dahan. Busur panjang terentang di tangan kiri. Tali ditarik sampai ke telinga.

Ujung anak panahnya hitam. Mengilap basah di bawah cahaya api.

Dyah Ayu mengenali kilau itu dari cerita ibunya tentang para pemburu gajah di hutan timur. Getah Seta. Dioleskan berlapis-lapis sampai mengental seperti ter. Seekor gajah jantan yang tertembus satu anak panah akan terhuyung dalam seratus langkah dan roboh sebelum fajar.

Mata panah itu tertuju ke dadanya.

Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Di belakangnya jurang. Di depannya golok. Di atasnya panah.

Tali busur dilepaskan. Bunyinya berat dan dalam, seperti sabetan cambuk.

Dan di saat yang sama, semak-semak di sebelah kanan meledak.

***

Kuda hitam itu menerobos rerumputan kering dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Ranting-ranting patah. Dua pembunuh bertopeng terlempar ke samping oleh dadanya yang besar. Surainya yang dikepang berkibar, dan dari mulutnya keluar busa putih karena dipacu terlalu keras.

Penunggangnya tidak menunggu kuda itu berhenti.

Prabu Hayam Vira melompat dari pelana selagi kuda masih berlari. Tubuhnya yang berbalut zirah kulit kerbau melayang di udara, lalu menghantam Dyah Ayu dari samping.

Mereka berdua jatuh ke tanah berbatu, satu langkah dari bibir jurang.

Dyah Ayu mendengar bunyinya. Bukan desing, tetapi bunyi tumpul dan basah, seperti golok yang dihunjamkan ke batang pisang. Tubuh di atasnya tersentak keras.

Lalu diam.

Tubuh Raja menindihnya. Berat sekali, seperti tiang rumah yang roboh. Kepala Hayam Vira terkulai di samping lehernya. Bau cendana, keringat kuda, dan debu merah memenuhi napas Dyah Ayu.

Dari balik bahu Raja itu, menancap miring di bahu kiri belakangnya, sebatang anak panah bergetar pelan. Bulu-bulunya hitam. Separuh batangnya sudah tenggelam menembus zirah kulit kerbau, menembus daging di bawahnya.

"Gusti..."

Hayam Vira mengangkat kepalanya. Rahangnya terkunci. Urat-urat di lehernya menonjol seperti tali tambang.

Ia menekan tangannya ke tanah, mendorong tubuhnya bangkit dengan satu lutut. Matanya mencari ke atas, ke pohon jati di kiri, ke bayangan yang kini sedang mencabut anak panah kedua dari tabungnya.

Tangan kanan Raja mencabut pedang dari pinggangnya. Ia tidak membidik. Ia tidak menunggu. Seluruh tubuhnya berputar dari pinggang, dan pedang itu terlepas dari tangannya, berputar di udara, berkilat jingga memantulkan api.

Bilah itu menghantam dada penembak di atas dahan.

Bayangan hitam itu tersentak ke belakang. Busurnya jatuh lebih dulu. Lalu tubuhnya, terguling dari dahan, menghantam tanah di kaki pohon dengan bunyi tulang yang patah.

Para pembunuh lain berhenti. Untuk sesaat, tidak ada yang bergerak.

Hayam Vira masih berlutut. Napasnya keras dan berat.

Lalu ia ambruk ke samping.

***

Dyah Ayu merangkak ke arahnya.

Raja itu terbaring miring di atas tanah kapur, satu tangan mencakar tanah. Jari-jarinya mengejang. Ia mencoba bicara, tetapi yang keluar hanya bunyi napas yang tersendat, seperti udara yang dipaksa masuk melalui buluh bambu yang terlalu sempit.

Bibirnya mulai membiru di bagian tepi.

Dyah Ayu meraba bahu belakangnya. Kulit di sekitar anak panah itu sudah membengkak keras di bawah zirah, panas seperti batu yang dijemur. Darah yang merembes dari luka berwarna gelap, terlalu gelap, dan berbau aneh. Pahit, seperti getah pohon yang dipotong.

Ia memegang batang anak panah itu.

Jangan dicabut, kata ibunya, bertahun-tahun lalu, sambil menunjukkan mata panah pemburu gajah yang berduri balik. Durinya akan merobek daging lebih banyak dari saat masuk. Racunnya akan ikut terseret ke dalam darah.

Dyah Ayu mematahkan batang itu sejengkal di atas luka. Hayam Vira mengerang, tubuhnya melengkung. Lalu seluruh ototnya mengejang sekaligus. Punggungnya menegang seperti busur. Tumitnya menghentak-hentak tanah. Busa tipis muncul di sudut bibirnya.

Dyah Ayu menahan kepalanya agar tidak membentur batu. Telapak tangannya merasakan kulit wajah lelaki itu, yang kini dingin dan basah, berbeda sekali dengan panas di bahunya.

Kejang itu mereda. Napasnya kembali, pendek, dangkal, putus-putus.

Matanya terbuka. Pupilnya mengecil seperti ujung jarum.

"Ayu," desisnya. Suaranya hampir tidak terdengar. Lidahnya terdengar tebal, seperti bengkak. "Lari."

"Diam."

"Itu perintah." Jari-jarinya meraih pergelangan tangan Dyah Ayu. Cengkeraman yang dulu meninggalkan memar empat jari kini lemah, gemetar. "Jalan setapak kambing. Di ujung timur tebing. Turun ke jurang. Mereka tidak akan mengejar ke bawah."

Dyah Ayu menoleh ke timur. Dalam cahaya api, ia melihatnya. Celah sempit di bibir tebing, jalur berbatu yang menurun curam ke dalam gelap. Ia sudah memperhatikannya sore tadi. Jalan yang hanya bisa dilalui satu orang. Satu orang yang ringan dan bisa merayap.

Bukan seorang lelaki berzirah yang tidak bisa berdiri.

***

Di belakangnya, kuda hitam itu meringkik panjang.

Hewan itu berdiri di atas kaki belakangnya, matanya putih karena api dan bau darah. Lalu ia berbalik dan berlari, menerobos semak ke arah barat, menghilang ke dalam rimba jati yang gelap. Pelana kulit macannya terayun-ayun kosong.

Satu-satunya jalan keluar yang cepat baru saja pergi.

Lalu Dyah Ayu mendengar mereka.

Langkah kaki di atas daun jati kering. Bukan satu atau dua. Berderap, banyak, dari arah utara, dari arah perkemahan. Daun-daun rapuh hancur di bawah setiap pijakan, berbunyi seperti kertas lontar yang diremas. Semakin dekat. Semakin keras.

Para pembunuh bertopeng yang tadi berhenti kini mulai bergerak lagi. Pelan. Melebar. Mereka sudah melihat pedang Raja tergeletak jauh di kaki pohon jati.

Dyah Ayu menatap jalan setapak kambing di ujung timur tebing. Dua puluh langkah. Ia bisa mencapainya sebelum golok pertama tiba.

Ia menatap tubuh di pangkuannya. Raja yang membakar Watugaluh. Raja yang mengancam memenggal satu kepala untuk setiap senjata yang ia angkat. Berat tubuhnya, dengan zirah, tidak kurang dari dua kali berat tubuh Dyah Ayu sendiri.

Napas Hayam Vira tersendat lagi. Lalu berhenti sejenak. Lalu kembali, lebih lemah.

Langkah-langkah di atas daun jati kering itu kini hanya berjarak sepelemparan batu.

1
Agus Tina
Bagus ceritanya
Agus Tina
Sepertinya semua cerita tentang istana memang penuh dengan intrik dan kepalsuan
Laygraph: Iya kak, bahkan banyak sejahrawan mencatat banyak relief yang membuktikan Konspirasi sudah ada sejak zaman kerajaan kuno. bahkan sampai sekarang. 😄
total 1 replies
Agus Tina
Cerita, alur, cara menukis ceritq ini bagus semua ... kenapa yg like sedikit? Ayo pembaca
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..
Laygraph: Terimakasih masukannya kak, semoga setia sampai ceritanya selesai yah 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!