NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...

​Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.

Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.

​Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.

​Bagaimana kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Rabu, 19 Oktober 2016 — Queens, New York

Pukul 06.15 pagi, Arthur Sterling sudah duduk di depan laptop tuanya.

Di atas meja kecil apartemennya, secangkir kopi hitam mulai kehilangan kehangatan. Sebuah buku catatan terbuka di samping laptop, berisi angka-angka yang telah diperiksanya berulang kali selama beberapa hari terakhir.

Di layar, halaman informasi Aurelia Therapeutics masih belum menunjukkan pengumuman penting.

Arthur mengembuskan napas perlahan.

Dalam ingatannya dari kehidupan pertama, perusahaan itu akan mengumumkan hasil uji klinis tahap lanjut yang jauh lebih baik daripada perkiraan pasar. Pengumuman tersebut akan menarik perhatian investor dan mendorong perubahan besar pada harga sahamnya.

Namun, ada satu persoalan yang tidak bisa ia abaikan.

Ia mengingat hasil akhirnya, tetapi tidak mengingat setiap pergerakan harga, setiap transaksi, atau tanggal pasti ketika pasar mulai bereaksi. Bahkan jika hasil uji klinis benar-benar positif, keuntungan dari opsi beli yang dimilikinya tetap bergantung pada banyak faktor: harga saham, harga pelaksanaan, waktu kedaluwarsa, volatilitas, dan seberapa besar ekspektasi pasar telah tercermin dalam harga.

Ia mengerti mekanisme itu.

Akan tetapi, memahami risiko tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadapnya.

Arthur membuka dokumen analisis yang telah disiapkannya untuk Richard Coleman. Ia menambahkan satu paragraf mengenai risiko likuiditas dan kemungkinan bahwa pergerakan harga opsi akan menjadi tidak menguntungkan sekalipun saham perusahaan bergerak sesuai perkiraannya.

Setelah membaca ulang paragraf tersebut, ia menyimpan dokumennya.

"Kalau aku ingin orang lain mempercayai analisisku," gumamnya, "aku harus berani mengakui apa yang tidak kuketahui."

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari Daniel Brooks muncul di layar.

Daniel: Kau sudah bangun? Aku menemukan calon pelanggan baru. Pemiliknya mengelola dua toko kelontong kecil di Queens. Dia bersedia bertemu kita besok, tetapi hanya punya waktu dua puluh menit.

Arthur langsung membalas.

Arthur: Bagus. Apa masalah yang dia hadapi?

Daniel: Belum tahu. Dia hanya bilang penjualannya sedang tidak stabil.

Arthur: Kalau begitu, jangan langsung menawarkan paket pemasaran. Tanyakan bagaimana dia mengukur penjualannya, kapan tokonya paling sepi, dan apakah dia punya masalah dengan pelanggan yang tidak kembali.

Beberapa detik kemudian, Daniel menjawab.

Daniel: Kau benar-benar tidak bisa membiarkan orang menjual sesuatu tanpa terlebih dahulu melakukan interogasi bisnis, ya?

Arthur tersenyum.

Arthur: Aku sedang berusaha menyelamatkanmu dari menjadi penjual brosur seumur hidup.

Daniel: Baiklah. Besok kita interogasi pemilik toko.

Arthur meletakkan ponselnya.

Di kehidupan pertamanya, Daniel kelak menjadi salah satu pengusaha teknologi yang cukup berhasil. Ia memiliki naluri teknis yang kuat, kemampuan memahami kebutuhan pengguna, dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan orang lain.

Namun, bakat saja tidak cukup.

Daniel membutuhkan pengalaman, kesempatan, dan seseorang yang bersedia membantunya melihat kemungkinan yang belum terlihat.

Arthur tidak berniat mengambil alih masa depan sahabatnya. Ia hanya ingin memastikan Daniel memperoleh kesempatan untuk membangun masa depan itu dengan caranya sendiri.

Pukul 10.30, Arthur tiba di kampus.

Koridor gedung fakultas dipenuhi mahasiswa yang berjalan sambil membawa buku, berbicara melalui telepon, atau mengeluh tentang tugas yang harus diselesaikan sebelum akhir pekan.

Arthur berjalan melewati mereka dengan sebuah map tipis di tangan.

Ketika memasuki ruang kuliah, ia melihat Clara Vance duduk di baris ketiga.

Perempuan itu sedang membaca sesuatu di laptopnya. Rambut gelap sebahunya terurai rapi, sementara sebuah buku catatan terbuka di sampingnya.

Arthur menghampiri kursi kosong di sebelahnya.

"Pagi," sapanya.

Clara mengangkat kepala dan tersenyum.

"Pagi. Aku baru saja akan mengirimkan tabel keuangan yang kita bicarakan kemarin."

"Sudah selesai?"

"Versi pertama. Aku masih ingin memeriksa beberapa rumusnya."

Ia memutar laptop agar Arthur dapat melihat layar.

Tabel itu tampak sederhana, tetapi susunannya jauh lebih rapi daripada rancangan awal mereka. Clara telah menambahkan kolom untuk membedakan pengeluaran tetap dan pengeluaran yang berubah mengikuti jumlah penjualan. Ia juga membuat bagian khusus untuk mencatat promosi, sehingga Samuel Carter dapat membandingkan biaya kampanye dengan hasil yang diperoleh.

"Aku juga menambahkan ringkasan mingguan," jelas Clara. "Samuel tidak perlu membaca seluruh transaksi setiap hari untuk mengetahui apakah keadaan restorannya membaik."

Arthur mengamati lembar kerja tersebut.

"Ini bisa sangat membantu."

"Aku harap begitu. Tetapi kita harus memastikan Samuel bersedia menggunakannya. Kalau terlalu merepotkan, tabel ini hanya akan menjadi file yang disimpan di komputernya."

"Setuju. Kita perlu mengujinya dalam kondisi nyata."

Clara mengangguk, lalu menatap Arthur dengan ekspresi sedikit ragu.

"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan."

"Tanyakan saja."

"Bisnis kecil kalian ini baru dimulai, bukan?"

"Benar."

"Kalau begitu, mengapa kau begitu serius mengurus hal-hal seperti pencatatan biaya, pengukuran hasil promosi, dan analisis keuangan? Kalian bahkan belum memiliki banyak pelanggan."

Arthur terdiam sejenak.

Ia bisa saja menjawab bahwa ia tahu perusahaan yang gagal karena mengabaikan hal-hal tersebut. Ia juga bisa mengatakan bahwa sebagian besar bisnis yang kelak mendominasi industri telah melewati tahap awal yang jauh lebih sulit daripada yang terlihat dalam kisah sukses mereka.

Namun, ia tidak bisa mengungkapkan seluruh alasan sebenarnya.

"Aku pernah melihat orang bekerja sangat keras untuk membangun sesuatu, lalu kehilangan semuanya karena mereka tidak memahami apa yang sebenarnya mereka miliki," jawabnya akhirnya. "Mereka melihat penjualan meningkat dan mengira bisnisnya sehat. Mereka melihat uang masuk dan menganggap dirinya semakin kaya. Padahal, kadang-kadang mereka hanya sedang bergerak lebih cepat menuju masalah."

Clara memandangnya dengan saksama.

"Itu terdengar seperti pengalaman seseorang yang jauh lebih tua."

Arthur hampir tertawa.

"Anggap saja aku terlalu banyak membaca kisah kegagalan bisnis."

Clara tidak langsung menanggapi. Ia hanya tersenyum kecil, seolah menyimpan pertanyaan itu untuk kesempatan lain.

Sebelum percakapan mereka berlanjut, Profesor William Harris memasuki ruangan.

Hari itu, materi kuliah membahas bagaimana perusahaan memperoleh pendanaan dan bagaimana keputusan pendanaan memengaruhi nilai pemegang saham.

Arthur membuka buku catatannya.

Ia harus berhati-hati. Pengalaman enam puluh tahun dari kehidupan sebelumnya membuat banyak konsep terasa mudah baginya, tetapi ia tidak boleh membiarkan pengetahuannya berubah menjadi kebiasaan menjawab setiap pertanyaan.

Ia masih seorang mahasiswa.

Ia masih harus belajar.

Dan jika ia ingin membangun sesuatu yang nyata, ia harus mampu membedakan pengetahuan yang benar-benar dipahaminya dari ingatan yang hanya memberinya kesan bahwa ia mengetahui segalanya.

Menjelang akhir kuliah, Profesor Harris menampilkan sebuah studi kasus.

Sebuah perusahaan teknologi mengalami pertumbuhan pendapatan yang pesat, tetapi arus kas operasionalnya terus negatif. Perusahaan itu mempertimbangkan untuk mengumpulkan dana melalui penerbitan saham baru.

"Jika kalian menjadi investor," tanya sang profesor, "apakah kalian akan menganggap penerbitan saham baru sebagai pertanda buruk?"

Beberapa mahasiswa mengangkat tangan.

Seorang mahasiswa berpendapat bahwa penerbitan saham akan mengurangi kepemilikan pemegang saham lama dan karena itu harus dianggap negatif.

Mahasiswa lainnya mengatakan bahwa perusahaan yang berkembang membutuhkan modal, sehingga penerbitan saham baru dapat menjadi keputusan yang masuk akal.

Profesor Harris mengangguk.

"Kedua pendapat itu memiliki dasar. Namun, apa yang sebenarnya harus kita ketahui sebelum membuat keputusan?"

Arthur mengangkat tangan.

"Tujuan penggunaan dana, Pak. Kita perlu mengetahui apakah modal tambahan akan membiayai pertumbuhan yang menghasilkan nilai lebih besar daripada biaya modalnya, atau hanya menutup kerugian yang terus berulang."

"Bagus. Apa lagi?"

"Persyaratan penerbitan saham, valuasi perusahaan saat ini, kebutuhan kas untuk mempertahankan operasional, dan kemungkinan alternatif pendanaan. Kita juga perlu mengetahui apakah pemegang saham lama akan terdilusi secara wajar atau justru menanggung biaya yang tidak sebanding dengan manfaat yang diterima."

Profesor Harris mengangguk lagi.

"Benar. Pendanaan bukan sekadar persoalan mendapatkan uang. Pendanaan adalah keputusan tentang siapa yang menanggung risiko dan siapa yang memperoleh manfaat."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Namun, jangan lupa bahwa sebuah perusahaan bisa memiliki produk yang bagus dan pasar yang menjanjikan, tetapi tetap gagal jika kehabisan uang sebelum mencapai titik impas."

Arthur mencatat kalimat tersebut.

Di kehidupan pertamanya, ia pernah menyaksikan perusahaan dengan teknologi luar biasa bangkrut karena manajemennya salah memperkirakan kebutuhan modal. Ia juga pernah melihat bisnis yang tampak biasa-biasa saja tumbuh menjadi perusahaan besar karena para pendirinya disiplin mengelola arus kas.

Kesuksesan bukan hanya tentang melihat peluang.

Kesuksesan juga tentang bertahan cukup lama agar peluang itu dapat menghasilkan sesuatu.

Ketika kuliah berakhir, Nathan Brooks menghampirinya.

"Arthur, boleh bicara sebentar?"

Arthur menutup bukunya.

"Tentu."

Nathan adalah mahasiswa yang beberapa hari sebelumnya memperhatikan jawaban Arthur mengenai valuasi. Ia mengenakan kemeja biru muda dan membawa tas kerja yang terlihat lebih formal daripada tas mahasiswa pada umumnya.

"Aku mendengar jawabanmu tadi. Kau cukup memahami persoalan pendanaan perusahaan."

"Aku hanya mencoba melihatnya dari beberapa sisi."

Nathan tersenyum.

"Aku sedang magang di sebuah firma konsultasi keuangan di Manhattan. Kami sering membahas perusahaan teknologi dan perusahaan yang sedang mencari pendanaan. Kalau kau tertarik, mungkin suatu saat kau bisa berbagi pandangan dengan beberapa orang di sana."

Arthur memperhatikan tawaran tersebut.

Ia tidak memiliki alasan untuk menolaknya. Memperluas jaringan profesional dapat berguna, terutama jika ia ingin memahami bagaimana para pelaku pasar mengambil keputusan.

Namun, ia juga tidak ingin terlalu cepat membuka semua kartunya.

"Itu terdengar menarik," jawab Arthur. "Aku masih mahasiswa, jadi pengalamanku tentu terbatas. Tetapi aku senang berdiskusi mengenai valuasi dan strategi bisnis."

"Tidak masalah. Aku juga masih belajar."

Nathan mengeluarkan ponselnya.

"Boleh bertukar nomor?"

Arthur memberikan nomor teleponnya.

Setelah mereka berpisah, Arthur berjalan menuju pintu gedung dengan pikiran yang sedikit berbeda.

Nathan bersikap ramah dan tidak menunjukkan kecurigaan apa pun. Arthur tidak memiliki bukti bahwa mahasiswa itu berkaitan dengan email anonim mengenai aktivitas opsi Aurelia.

Ia tidak akan menyatukan dua hal yang belum terbukti berhubungan.

Tetapi ia mulai menyadari bahwa semakin sering ia menunjukkan kemampuan analisisnya, semakin besar kemungkinan orang-orang di sekitarnya akan tertarik untuk mengetahui latar belakangnya.

Ia harus belajar mengelola bukan hanya uang dan bisnis, melainkan juga reputasi.

Pukul 14.15, Arthur dan Clara tiba di restoran Samuel Carter.

Restoran itu tidak terlalu ramai. Beberapa pelanggan duduk di dekat jendela, sementara seorang pegawai membawa pesanan menuju meja di bagian belakang.

Samuel menyambut mereka dari balik meja kasir.

"Arthur! Clara! Senang melihat kalian lagi."

"Terima kasih sudah meluangkan waktu, Pak Carter," kata Arthur. "Clara sudah menyiapkan rancangan pencatatan keuangan sederhana yang mungkin bisa membantu Bapak memantau penjualan dan biaya operasional."

Samuel menoleh kepada Clara.

"Kalau begitu, mari kita lihat."

Clara membuka laptop dan menjelaskan cara kerja tabel tersebut. Ia tidak menggunakan istilah akuntansi yang rumit. Ia menunjukkan bagaimana Samuel dapat mencatat penjualan harian, memisahkan biaya bahan baku dari biaya tetap, dan membandingkan hasil promosi dengan pengeluaran yang diperlukan.

Samuel mendengarkan sambil sesekali mengajukan pertanyaan.

"Apakah aku harus memasukkan setiap transaksi satu per satu?" tanyanya.

"Tidak harus, Pak," jawab Clara. "Untuk tahap awal, Bapak bisa mencatat total penjualan harian dan pengeluaran utama. Kalau nanti ingin mengetahui produk mana yang paling menguntungkan, kita bisa membuat pencatatan yang lebih terperinci."

Samuel mengangguk.

"Ini jauh lebih sederhana daripada yang kubayangkan."

Arthur kemudian menjelaskan bahwa mereka tidak ingin mengubah sistem kerja restoran secara besar-besaran.

"Kita bisa mencobanya selama dua minggu," katanya. "Setelah itu, kita evaluasi bersama. Kalau tabelnya tidak membantu, kita perbaiki atau berhenti menggunakannya. Kami tidak ingin Bapak membayar untuk sesuatu yang tidak memberikan manfaat."

Samuel memandang keduanya.

"Berapa biaya untuk pekerjaan tambahan ini?"

Clara melirik Arthur, lalu menjawab dengan tenang.

"Untuk uji coba sederhana ini, saya belum mengusulkan biaya tambahan. Saya ingin melihat apakah formatnya benar-benar berguna bagi usaha kecil. Tetapi jika nantinya Bapak membutuhkan laporan yang lebih terperinci atau pekerjaan rutin, kita perlu membicarakan kompensasi dan ruang lingkupnya."

Samuel tersenyum.

"Jawaban yang jujur. Baiklah, kita coba."

Arthur merasa lega.

Mereka telah mendapatkan persetujuan tanpa membuat janji yang berlebihan. Samuel juga memahami bahwa uji coba tersebut bukan jaminan peningkatan keuntungan.

Sebelum mereka pergi, Samuel menyebutkan bahwa seorang pemilik toko kelontong di lingkungan sekitar mungkin tertarik menggunakan jasa pemasaran mereka.

"Namanya Peter Lawson," kata Samuel. "Dia mengelola dua toko kecil. Beberapa bulan terakhir, dia mengeluh bahwa pelanggan tetapnya mulai berkurang. Aku bisa memberikan nomor teleponnya jika kalian mau."

Arthur dan Daniel sudah memiliki calon pelanggan dengan nama yang sama.

Arthur menoleh kepada Daniel yang baru saja tiba setelah menyelesaikan urusan teknis di kampus.

"Kami sudah membuat janji dengannya untuk besok," kata Daniel.

Samuel tertawa.

"Bagus. Dunia memang tidak terlalu besar di lingkungan seperti ini."

Arthur mengucapkan terima kasih sebelum mereka meninggalkan restoran.

Di luar, Daniel berjalan di sampingnya sambil menggelengkan kepala.

"Kita mendapatkan calon pelanggan dari Samuel, Clara membantu kita membuat alat pencatatan keuangan, dan sekarang kita punya kesempatan menguji pendekatan baru."

"Jangan terlalu cepat merayakan sesuatu."

"Aku tidak merayakan. Aku hanya mengamati bahwa hari ini lebih baik daripada hari ketika enam calon pelanggan menolakku."

Arthur tertawa kecil.

"Itu pengamatan yang masuk akal."

Sore itu, setelah Daniel pergi, Arthur duduk sendirian di bangku dekat halte bus.

Ia membuka ponselnya untuk memeriksa email.

Tidak ada pesan baru dari analis anonim.

Tidak ada pengumuman dari Aurelia Therapeutics.

Namun, sebuah pemberitahuan pasar menunjukkan bahwa volume perdagangan pada beberapa kontrak opsi perusahaan tersebut meningkat dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Arthur menatap angka-angka itu tanpa segera mengambil tindakan.

Peningkatan volume tidak selalu berarti sesuatu yang luar biasa. Transaksi bisa berasal dari berbagai pihak dengan tujuan berbeda. Sebagian investor mungkin berspekulasi tentang hasil uji klinis, sementara yang lain menggunakan opsi untuk melindungi posisi saham mereka.

Ia tidak memiliki cara untuk mengetahui siapa yang berada di balik setiap transaksi.

Ia juga tidak akan menganggap setiap pergerakan sebagai konfirmasi bahwa ingatannya benar.

Arthur membuka catatan risikonya dan memeriksa kembali tanggal kedaluwarsa opsi yang dimilikinya.

Jika pengumuman datang terlambat, nilai waktunya dapat menyusut. Jika hasilnya buruk, seluruh premi yang dibayarkannya bisa hilang. Bahkan jika hasilnya positif, ia masih harus menghadapi persoalan likuiditas dan kemungkinan perubahan harga yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Ia mengunci ponselnya.

Untuk pertama kalinya sejak kembali ke tahun 2016, Arthur benar-benar merasakan bahwa dua dunia yang ingin dibangunnya mulai menuntut perhatian secara bersamaan.

Di satu sisi, ia sedang membangun bisnis kecil dari nol bersama Daniel dan Clara.

Di sisi lain, ia sedang mempertaruhkan sebagian besar modal investasinya pada sebuah peristiwa yang belum terjadi.

Keduanya membutuhkan kesabaran, tetapi keduanya juga membawa risiko yang berbeda.

Kesalahan dalam bisnis dapat merusak reputasi dan hubungan dengan pelanggan. Kesalahan dalam investasi dapat menghabiskan modal yang tidak mudah digantikan.

Ia tidak boleh membiarkan keberhasilan di satu bidang membuatnya ceroboh di bidang lain.

Sebuah bus berhenti di hadapannya. Arthur naik, mencari tempat duduk dekat jendela, lalu memandang gedung-gedung yang perlahan bergerak mundur ketika kendaraan itu melaju.

Ia teringat kata-kata Richard Coleman: kepercayaan harus dibangun melalui bukti, bukan keyakinan semata.

Arthur tidak tahu apakah Richard kelak akan menjadi mentor, rekan bisnis, atau sekadar seseorang yang memberinya pelajaran berharga.

Ia juga belum mengetahui siapa analis yang terus memperhatikan aktivitas Aurelia.

Yang ia tahu hanyalah bahwa langkah-langkah kecilnya mulai menghasilkan hubungan baru, dan hubungan baru selalu membawa kemungkinan yang tidak bisa sepenuhnya diprediksi.

Ketika bus memasuki jalan yang lebih ramai, ponselnya bergetar sekali lagi.

Sebuah email baru masuk.

Pengirimnya bukan Richard, bukan Michael, dan bukan analis anonim yang sebelumnya menghubunginya.

Nama pengirim itu belum pernah ia lihat.

Subjek: Pertanyaan Mengenai Aurelia Therapeutics

Arthur membuka pesan tersebut.

Isinya hanya beberapa kalimat.

Saya sedang meneliti aktivitas perdagangan Aurelia Therapeutics dan menemukan bahwa sejumlah posisi opsi menarik perhatian dalam beberapa hari terakhir. Saya tidak ingin membuat asumsi yang keliru, tetapi saya berharap dapat memahami apakah ada alasan publik tertentu yang menjelaskan aktivitas tersebut.

Jika Anda bersedia berbicara, saya akan menghargai kesempatan untuk bertukar pandangan.

Tidak ada tuduhan.

Tidak ada ancaman.

Hanya sebuah pertanyaan yang tampaknya wajar.

Namun, Arthur membaca pesan itu dua kali.

Ia tidak tahu apakah pengirim kedua ini mengenal analis pertama, bekerja untuk lembaga yang sama, atau bahkan mengetahui keberadaan satu sama lain.

Mungkin ini hanya kebetulan. Mungkin perhatian terhadap Aurelia memang meningkat karena pasar sedang menunggu perkembangan uji klinis.

Arthur tidak akan mengambil kesimpulan sebelum memiliki bukti.

Ia menyimpan pesan tersebut dan memandang keluar jendela.

Kota New York terus bergerak, seolah tidak ada sesuatu yang berubah.

Tetapi bagi Arthur, satu hal mulai terasa semakin jelas.

Ia telah kembali ke masa lalu dengan pengetahuan yang tidak dimiliki orang lain. Pengetahuan itu memberinya peluang, tetapi juga membuat setiap langkahnya berpotensi menimbulkan pertanyaan.

Dan ketika orang-orang mulai bertanya, ia harus memastikan bahwa jawabannya tidak hanya terdengar masuk akal, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk pertama kalinya sejak kebangkitannya, Arthur menyadari bahwa rahasia terbesar yang dimilikinya bukanlah seberapa banyak uang yang bisa ia hasilkan.

Melainkan bagaimana ia akan menjelaskan keberhasilannya kepada dunia tanpa mengungkapkan alasan sebenarnya.

Ia memasukkan ponsel ke saku.

Permainan baru saja dimulai.

Dan kali ini, ia harus memastikan bahwa ia tidak hanya mampu memenangkan permainan itu—tetapi juga sanggup menanggung akibat dari setiap langkah yang diambilnya.

1
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
saras
keren siiib ceritanya👍👍👍
saras
👍
saras
semangaaaaaat💪💪💪💪💪👍
saras
ssemangat tor
saras
🙏🙏💪
saras
👍
saras
👍💪
saras
👍
saras
novel yang bagus. lanjutkan tor semangat bikin cerita yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!