Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jeda yang Menyadarkan
Pagi itu, Arka terbangun dengan satu kesadaran absolut di kepalanya: hari ini akan terasa sangat panjang.
Jadwal kuliahnya padat merayap. Ada presentasi kelompok penentu nilai yang harus diselesaikan, revisi bab skripsi yang jalan di tempat, dan satu tugas makalah dari dosen killer yang tenggat waktunya semakin mencekik.
Ia bahkan belum sempat membuka layar laptop ketika ponsel di atas nakas nya bergetar singkat.
Alya: Pagi.
Sebuah senyum tipis yang tak disadari langsung terbit di wajah Arka.
Arka: Pagi juga. Alya: Hari ini jadwal mu sibuk?
Arka melirik sticky notes jadwal yang menempel semrawut di dinding kamarnya. Sangat sibuk.
Arka: Lumayan. Ada tugas kelompok sama lanjut revisi skripsi.
Tidak lama kemudian balasan masuk.
Alya: Aku juga hari ini full syuting dari pagi sampai malam. Arka: Berarti kita sama-sama sibuk hari ini. Alya: Iya.
Tiga detik berlalu. Lalu satu pesan susulan muncul di layar Arka.
Alya: Tapi kalau sempat, kabarin aja ya.
Arka membaca kalimat itu. Sangat sederhana. Tidak ada paksaan. Tapi entah kenapa, deretan huruf itu sukses membuatnya terdiam sejenak, meresapi sebuah perasaan asing yang menghangat di dada.
Arka: Siap.
Setelah membalas, ia memasukkan ponselnya ke dalam saku. Hari yang panjang pun dimulai.
Pukul sembilan pagi. Ruang kelas sudah penuh sesak oleh mahasiswa yang panik.
Arka duduk berimpitan bersama Rendy dan beberapa anggota kelompok presentasinya. Laptop terbuka lebar. Slide presentasi yang belum sempurna terpampang di layar.
"Bagian lu udah kelar kan, Ka?" tanya Rendy menoleh panik.
"Sudah."
"Yakin lu?"
"Yakin."
Rendy memicingkan mata, lalu menarik paksa laptop Arka untuk melihat layarnya. Sedetik kemudian, ia menghela napas panjang seolah ingin pingsan. "Ini mah belum selesai, Bos!"
Arka menatapnya tenang. "Itu tinggal kurang bagian kecil aja penutupnya."
"Bagian kecil dari Hongkong?! Itu masih kurang setengah halaman analisis, Arka!"
Arka tertawa pelan. "Tenang aja."
"Lu tuh dari maba sampai mau lulus kerjaannya bilang tenang terus."
"Karena kenyataannya memang selalu bisa diselesaikan tepat waktu kan?"
Rendy menggeleng frustrasi. "Gue beneran heran sama sistem kerja otak lu."
Arka mengabaikan omelan itu dan kembali memfokuskan jarinya di atas keyboard. Namun, beberapa menit kemudian, getaran halus terasa di sakunya. Ia melirik layar ponselnya dari balik meja.
Alya: Sudah mulai masuk kelas?
Arka tersenyum. Ibu jarinya baru saja bersiap mengetik balasan ketika suara mikrofon berdengung di depan kelas.
"Selamat pagi, semuanya. Tutup semua laptop dan simpan ponsel kalian."
Seluruh mahasiswa langsung patuh. Arka membuang napas pelan, mengunci kembali layar ponselnya dan memasukkannya ke saku. Nanti saja ku balas, batinnya.
Di lokasi syuting yang sibuk, Alya sedang duduk tegang di depan meja rias.
Hari itu jadwalnya benar-benar menyiksa fisik. Pagi dihabiskan untuk reading dan latihan koreografi adegan. Siang untuk take adegan utama. Sore untuk take beberapa angle yang kurang dramatis. Dan malam harinya, masih ada sesi pengambilan gambar di lokasi luar ruangan.
Seorang asisten produksi menyembulkan kepalanya dari balik tirai. "Mbak Alya, lima belas menit lagi kita mulai take ya."
Alya mengangguk. "Oke, Mas."
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Layarnya gelap. Tidak ada balasan dari Arka.
Alya melirik jam digital. Sudah hampir satu jam sejak pesan terakhirnya terkirim.
"Pasti lagi sibuk di kelas," gumamnya pelan.
Ia menekan tombol daya, mencoba mengalihkan pikirannya ke naskah di pangkuan. Namun nyatanya, hanya berselang beberapa menit, tangannya tanpa sadar kembali meraih ponsel itu. Masih tidak ada pesan.
Alya menghela napas kasar. "Kenapa aku jadi nungguin balasan dia sih?"
Ia segera memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan gerakan sedikit kesal. Tidak ada alasan logis baginya untuk menunggu. Arka punya kesibukan akademisnya sendiri, dan Alya memiliki pekerjaan profesional yang menuntut fokus penuh. Selesai. Tidak perlu didramatisasi.
Siang hari yang terik.
Arka baru saja melangkah keluar dari ruang kelas yang pengap ketika Rendy langsung menepuk keras bahunya. "Makan ke kantin, ayo. Laper gila."
"Bentar," tahan Arka.
Ia merogoh sakunya dan menyalakan layar ponsel. Ada rentetan notifikasi yang menumpuk. Matanya langsung menangkap satu nama di antaranya.
Alya: Udah sempat makan siang?
Arka langsung mengetik balasan tanpa sadar langkahnya terhenti.
Arka: Ini baru mau jalan ke kantin. Arka: Kamu udah makan?
Pesan terkirim. Centang dua, namun tidak langsung berubah biru. Alya sedang tidak memegang ponselnya.
Arka memasukkan benda pipih itu kembali ke saku. Rendy yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya dari samping, menyilangkan kedua tangannya ke dada.
"Masih chat sama orang yang waktu itu?"
Arka menoleh dengan wajah datar. "Orang siapa?"
"Orang yang sukses bikin seorang Arka Pratama sekarang jadi rajin banget ngecek HP tiap turun kelas."
"Teman."
Rendy mendengus tertawa. "Teman terus alasannya dari zaman purba."
Arka memilih tuli dan melangkah lebih dulu menuju kantin. Namun baru lima langkah berjalan, ponselnya kembali bergetar.
Alya: Belum nih. Masih tertahan di set syuting.
Arka membalas kilat sambil terus berjalan.
Arka: Sempatkan makan. Jangan sampai telat. Alya: Iya, siap Ayah.
Arka mendengus tertawa membaca balasan usil itu.
Arka: Bercanda terus.
Alya: Biar enggak stres menghadapi sutradara, Ka.
Arka: Ya udah. Semoga lancar syutingnya sampai sore.
Di sebuah ruang tunggu produksi yang sumpek, Alya membaca pesan terakhir itu. Entah sihir macam apa yang terselip di balik ketikan baku seorang mahasiswa manajemen, kalimat sederhana itu sukses menerbitkan senyum hangat di bibir sang aktris.
Bersambung...
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!