Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Wajah Gladys merona merah padam. Ingin rasanya ia menenggelamkan diri ke dalam lantai keramik kafe saat itu juga akibat salah paham yang begitu memalukan.
"I-ish! Kenapa ngomongnya setengah-setengah sih!" gerutu Gladys salah tingkah, sambil membuang muka demi menyembunyikan rasa malunya.
Praduta masih menyisakan sisa-sisa tawanya. Ia melangkah lebih dekat ke arah pintu kaca, lalu mengambil alih kantong plastik belanjaan yang masih dibawa Kirana dari tangan gadis itu dengan gerakan sigap.
"Makanya, jangan berpikiran ngeres dulu, Gladys," goda Praduta dengan nada lembut namun jenaka.
Ia menatap Kirana dan Pak Minto yang berdiri di dekatnya.
"Kenalin, saya Praduta. Pelanggan baru kafe ini. Biar saya bantu beresin barang-barangnya ke dalam, ya?"
Kirana menatap bingung sekaligus kagum pada pria tinggi berpostur atletis di hadapannya, lalu melirik ke arah Gladys meminta persetujuan.
Gladys yang masih merasa salah tingkah hanya bisa menghela napas pasrah, melambaikan tangan pelan.
"Terserah kamu deh, Praduta. Tapi jangan bikin kekacauan lagi ya!" sahut Gladys ketus, meski sudut bibirnya sempat berkedut hendak tersenyum.
"Siap, Bos!" jawab Praduta dengan gestur hormat setengah bergurau.
Pria itu langsung melangkah masuk ke dalam kafe, membawa kantong-kantong perlengkapan dengan mudah berkat tubuh atletisnya.
Kehadiran Praduta yang penuh energi seketika mencairkan ketegangan pagi hari di DeGla Cafe.
Di dalam hati kecilnya, Gladys merasa heran. Di tengah hari-harinya yang terasa berat akibat tekanan pernikahan dingin dengan Raka, kehadiran pria asing yang menyebalkan ini justru mendadak memberi warna dan tawa kecil di hari pertama pembukaan kafenya.
Setelah hampir dua jam bahu-membahu merapikan interior, menata sudut-sudut estetis, serta memasang hiasan meja, akhirnya seluruh persiapan grand opening DeGla Cafe benar-benar tuntas.
Ruangan dua lantai itu kini memancarkan suasana yang hangat, harum, dan sangat nyaman.
Sebagai bentuk rasa terima kasih, Gladys berjalan ke balik meja bar.
Jemari lentiknya dengan terampil menyeduh secangkir kopi segar, lalu menyajikannya dengan senyuman tipis di hadapan Praduta yang sedang menyeka keringat di dahinya.
"Ini untuk kamu," ucap Gladys seraya meletakkan cangkir keramik itu di atas meja.
Praduta menyunggingkan senyum khasnya. Ia meraih cangkir hangat tersebut, mendekatkannya ke hidung untuk menghirup aromanya sejenak, lalu meminumnya perlahan.
Setelah menelan tegukan pertama, Praduta menatap cairan kopi manis bernuansa karamel di dalam cangkirnya, lalu mendongak menatap lurus ke dalam manik mata Gladys.
"Padahal aku minta Americano double shot yang pahit." ujar Praduta pelan.
Ia meletakkan cangkirnya, lalu menyandarkan kedua sikunya di atas meja bar, memajukan tubuhnya sedikit hingga jarak mereka bertambah dekat. Binar mata tajamnya menatap Gladys penuh pesona.
"Tapi ya sudahlah. Kopi sepahit apa pun memang bakal kalah manis kalau yang buat dan yang ada di depanku itu kamu, Gladys. Racikan kopi kamu ini berbahaya, sekali teguk bukan cuma bikin melek, tapi langsung bikin hatiku menetap di sini."
Gombalan maut yang meluncur begitu mulus dan tanpa beban dari bibir Praduta seketika memecah keheningan kafe.
Pak Minto yang sedang merapikan sapu di sudut ruangan tak sanggup lagi menahan tawanya.
Sopir paruh baya itu tertawa terbahak-bahak mendengar keberanian pria muda di depannya. Kirana pun ikut menutupi mulutnya, menahan kekehan geli.
Sementara itu, Gladys yang mendadak diserang gombalan bertubi-tubi langsung merona merah hingga ke ujung telinga.
Karena terlalu malu dan salah tingkah dengan tingkah percaya diri Praduta, Gladys refleks menepuk keningnya sendiri dengan telapak tangan.
Puk!
"Astaga, Praduta, bisa diam tidak, sih?" gerutu Gladys sambil membuang muka, berusaha keras menyembunyikan senyum geli dan detak jantungnya yang sempat berdesir kaget.
Gladys menghela napas panjang, mencoba menenangkan dada yang berdebar kencang menjelang momen krusial dalam hidupnya.
Ia membalikkan badan lalu memanggil asisten barunya yang sedang berdiri rapi di dekat meja bar.
"Kirana, tolong bantu saya buka pintu kaca depan lebar-lebar ya," panggil Gladys lembut dengan binar mata penuh harap.
"Semoga pembukaan DeGla Cafe hari ini berjalan lancar."
"Aamiin, Bu Gladys. Pasti lancar dan ramai!" sahut Kirana penuh semangat seraya melangkah cepat membukakan pintu utama.
Melihat pintu sudah terbuka lebar, Praduta yang sejak tadi menyimak langsung bertindak.
Tanpa ragu, pria itu mengambil mikrofon portabel milik kafe yang berada di atas meja bar, mengujinya sebentar, lalu melangkah keluar ruko dengan percaya diri tinggi.
Praduta berdiri di teras depan, menyunggingkan senyum tebar pesonanya ke arah pejalan kaki dan pengendara yang lalu lalang di sepanjang Jalan Ahmad Yani.
"Ayo, ayo! Kumpul semuanya!" seru Praduta lewat mikrofon, suaranya yang berat dan mantap menggema di jalanan.
"Hari ini Grand Opening DeGla Cafe! Tempat paling hits, paling nyaman, dan racikan kopinya dijamin paling mantap se-kota! Khusus hari pembukaan ini, ada promo diskon lima puluh persen dan bonus senyuman manis dari pemilik kafenya langsung! Buruan masuk sebelum kehabisan tempat!"
Aksi promosi yang spontan, heboh, dan penuh percaya diri dari Praduta itu seketika menarik perhatian orang-orang yang melintas.
Gaya serunya membuat banyak anak muda dan pekerja kantor di sekitar area ruko menengok penasaran.
Tak butuh waktu lama, dalam hitungan detik, beberapa pelanggan rombongan pertama langsung melangkah masuk memadati ruangan DeGla Cafe! Suasana kafe yang tadinya sepi seketika berubah riuh dan bernyawa.
Gladys dan Kirana sampai terperanjat kaget dibalik meja bar melihat gelombang pengunjung yang tiba-tiba berdata
Suasana di dalam DeGla Cafe seketika berubah menjadi hidup dan sibuk.
Denting cangkir keramik, suara mesin espresso yang mendesis, serta riuhnya obrolan para pengunjung pertama berpadu menjadi satu di ruangan berdesain estetis tersebut.
Gladys dan Kirana langsung bergerak cepat di balik meja bar.
Jemari Gladys dengan cekatan meracik pesanan kopi pertama, sementara Kirana dengan sigap mencatat menu dari para pelanggan yang sudah memenuhi meja-meja kayu di sudut ruangan.
Meski sempat terkejut dengan gelombang pengunjung yang datang secara tiba-tiba, Gladys berhasil menguasai diri, membiarkan aroma biji kopi segar dan rasa antusias mengambil alih pikirannya dari beban rumah tangga yang sempat mengganjal pagi tadi.
Melihat kedai yang mendadak kewalahan, Praduta tidak tinggal diam. Pria itu meletakkan mikrofon portabel yang tadi dipakainya, lalu melangkah masuk menghampiri area bar.
"Biar aku bantu antar pesanan ke meja, Gladys. Kalian urus saja pembuatan kopinya," ujar Praduta sigap, tanpa menunggu persetujuan ia langsung mengangkat nampan berisi tiga cangkir cappuccino hangat dan seporsi kue brownies.
Gladys sempat mendongak, menatap Praduta dengan alis terangkat karena heran sekaligus kagum melihat inisiatif pria itu.
"Eh, Praduta? Kamu tidak perlu repot-repot."
"Repot apa? Ini bentuk dukungan dari pelanggan setia sekaligus penggemar nomor satumu," balas Praduta dengan kedipan mata usil, lalu bergegas mengantarkan nampan tersebut ke meja pelanggan di dekat jendela.
Dengan postur tubuhnya yang atletis dan senyuman ramah yang mudah memikat orang, Praduta bergerak lincah membantu membersihkan meja yang kosong, mengambilkan tisu, hingga dengan santai menyapa para pengunjung yang baru datang seolah ia adalah manajer kafe tersebut.
Kehadirannya tidak hanya meringankan beban kerja Gladys dan Kirana, tetapi juga sukses mencairkan suasana, membuat para pelanggan merasa sangat disambut.
Dari balik mesin espresso, Gladys mencuri pandang ke arah Praduta.
Di tengah kesibukan yang luar biasa di hari pertamanya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tulus.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Gladys merasa benar-benar hidup dan menikmati jerih payahnya sendiri—jauh dari dinginnya bayang-bayang Raka di rumah.
Sementara itu, di sudut kota yang berbeda, suasana di dalam ruang rapat megah gedung Devandra Corp baru saja berangsur sepi.
Raka merapikan berkas-berkas di atas meja kerjanya setelah menyelesaikan meeting panjang yang melelahkan.
Namun, alih-alih kembali ke ruang kerjanya atau menanyakan kabar rumah, Raka meraih kunci mobilnya dan melangkah keluar menuju pelataran parkir.
Hatinya terasa begitu sesak dan kalut oleh bayang-bayang kelam yang tak kunjung usai.
Beberapa menit kemudian, mobil Raka berhenti di tepi area pemakaman yang tenang dan rimbun.
Pria bertubuh tinggi itu melangkah menyusuri deretan batu nisan, hingga langkah kakinya terhenti di hadapan sebuah makam yang tertata rapi dengan rumput hijau yang terawat.
Raka perlahan melepaskan jas mewahnya, lalu mendudukkan diri di samping pusara tersebut.
Jemari tangannya terulur mengusap batu nisan yang dingin dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa kerinduan mendalam sekaligus rasa bersalah yang mencengkeram.
Pria yang biasanya tampil kaku, dingin, dan tak tersentuh itu kini tampak begitu rapuh.
Ia duduk termenung cukup lama, membiarkan hembusan angin sore membelai wajahnya yang lesu.
"Dewi," suara Raka terdengar serak dan bergetar, memecah keheningan kompleks pemakaman.
Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas jemarinya sendiri di atas tanah.
"Kenapa kamu memintaku untuk menikahi wanita lain?" bisik Raka lirih, memuntahkan seluruh kepedihan hatinya yang selama ini terpendam rapat.
"Aku tidak bisa mencintai Gladys, Dewi. Aku tidak bisa."
Bagi Raka, janji terakhir yang ia ucapkan di hadapan Dewi sebelum kepergiannya adalah sebuah beban yang amat berat.
Ia menikahi Gladys semata-mata demi menjalankan amanah almarhumah istrinya, bukan karena cinta. Dan kini, setiap kali melihat Gladys, Raka hanya merasakan kepedihan dan rasa bersalah karena merasa telah mengkhianati kenangan bersama Dewi.