Setelah akar spiritual emasnya dirampas secara paksa oleh sepupunya sendiri dan tubuhnya dibuang ke Jurang Abu Api, Lin Xuan—seorang pemuda klan cabang yang sekarat—justru menyatu dengan Tungku Abu Takdir peninggalan zaman purba. Dari abu kehancuran, ia menempuh jalur kultivasi terlarang yang mampu melebur kutukan, meracik pil dari racun mematikan, dan menebas tatanan langit yang korup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Tungku Perunggu di Dasar Jurang
Rasa sakit yang membakar menjadi hal pertama yang menyadarkan Lin Xuan dari kegelapan.
Ia membuka matanya dengan napas tersengal-sengal. Alih-alih mendapati dirinya hancur lebur menjadi tulang-belulang, ia justru terbaring di atas hamparan batu obsidian hitam yang dikelilingi sungai lava merah menyala di kedalaman Jurang Abu Api.
Namun, kejutan sesungguhnya bukanlah fakta bahwa tubuhnya selamat dari kejatuhan ribuan tombak.
Ketika Lin Xuan memejamkan mata untuk memeriksa kondisi tubuh dalamnya, ia mendapati Dantian-nya yang semula hancur kini ditempati oleh sebuah tungku perunggu berkaki tiga yang tampak kuno dan dipenuhi goresan zaman. Di permukaan tungku itu, terukir empat aksara purba yang langsung terpatri di dalam benaknya begitu ia menatapnya:
Tungku Abu Takdir (Nièpán Huī Lú).
Saat itu juga, gelombang informasi kuno mengalir deras ke dalam kesadarannya.
"Langit dan Bumi berawal dari Kekacauan, dan segala sesuatu di alam semesta pada akhirnya akan kembali menjadi Abu. Emas dapat meleleh, giok dapat hancur, namun Abu adalah akhir sekaligus awal dari segala kehidupan..."
Tungku Abu Takdir berputar perlahan di dalam Dantian Lin Xuan. Dari mulut tungku tersebut, mengalir kabut kelabu tipis yang merayap ke seluruh pembuluh darah dan meridiannya yang telah putus. Kabut kelabu itu tidak memperbaiki meridian lamanya, melainkan melebur sisa-sisa jaringan yang rusak bersama hawa panas mematikan dari Jurang Abu Api, lalu menempanya kembali menjadi jalur meridian baru yang berwarna abu-abu kehitaman!
Krak! Krak!
Tulang-tulang di tubuh Lin Xuan berderak keras. Kotoran hitam pekat bercampur darah beku keluar dari pori-pori kulitnya, lalu seketika menguap menjadi debu oleh hawa panas jurang.
"Meridianku... tidak hanya pulih, tetapi lebarnya menjadi tiga kali lipat dari sebelumnya!" gumam Lin Xuan dengan mata terbelalak tak percaya.
Lebih dari itu, di tempat Akar Spiritual Emasnya dulu berada, kini tumbuh sebatang akar spiritual berwarna kelabu samar yang tampak menyatu dengan ruang hampa. Berdasarkan warisan ingatan dari Tungku Abu Takdir, ini adalah Akar Spiritual Abu Chaos—konstitusi legendaris yang tidak terikat pada lima elemen biasa, melainkan mampu menelan dan memurnikan segala jenis energi di dunia!
"Hahaha! Siapa sangka, setelah menunggu tiga ribu tahun di lubang neraka yang membosankan ini, aku akhirnya melihat seseorang yang membangkitkan artefak kuno tingkat langit!"
Sebuah suara tua yang serak namun penuh tawa tiba-tiba menggema di udara kosong.
Lin Xuan seketika melompat bangkit dalam posisi siaga. Matanya menyapu sekeliling batu obsidian hingga tertuju pada sebilah pedang hitam patah sepanjang setengah tombak yang tertancap di dekat aliran lava. Dari bilah pedang yang berkarat itu, melayang keluar sesosok bayangan kakek tua berambut acak-acakan dengan jubah alkemis kuno yang compang-camping.
"Siapa kau?!" tanya Lin Xuan waspada, tangannya mengepal erat.
Sosok transparan itu mengelus janggutnya sambil mengamati Lin Xuan dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Jangan tegang begitu, bocah. Kalau aku berniat merebut tubuhmu, aku sudah melakukannya saat kau pingsan tiga hari yang lalu. terlebih lagi, dengan tungku mengerikan yang bersemayam di Dantian-mu itu, jiwaku yang tinggal sehelai benang ini pasti langsung terbakar menjadi abu jika berani macam-macam."
Mendengar kata tiga hari, jantung Lin Xuan berdegup kencang. Ia sudah berada di dasar jurang selama tiga hari! Jika Lin Zhen dan Lin Tianhao mengira dirinya sudah mati, Wan'er yang berada di Paviliun Bambu bisa berada dalam bahaya sewaktu-waktu.
"Orang tua, siapa namamu dan mengapa kau berada di sini?" tanya Lin Xuan, menurunkan sedikit kewaspadaannya namun tetap menjaga jarak.
"Di masa lalu, para penguasa benua memanggilku Tetua Gu, Alkemis Puncak dari Lembah Obat Suci," jawab roh tua itu dengan nada bangga yang bercampur getir. "Tiga ribu tahun lalu aku dikepung oleh musuh-musuhku karena meracik Pil Nirwana Sembilan Putaran, hingga akhirnya tubuhku hancur dan sisa jiwaku jatuh ke jurang ini bersama pedang patah pelindungku."
Tetua Gu melayang mendekat, matanya berbinar menatap Lin Xuan. "Bocah, akar spiritualmu baru saja dicabut paksa, bukan? Kejam sekali. Tetapi musuhmu itu justru melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Akar Spiritual Emas Lapis Tujuh hanyalah bakat kelas menengah di mata dunia luar. Namun konstitusi Abu yang baru kau bangkitkan dari tungku itu... bahkan Kaisar Langit pun akan iri jika melihatnya!"
Lin Xuan menatap kedua telapak tangannya yang kini dialiri kekuatan baru. Meski kultivasinya sempat jatuh kembali ke titik nol, hanya dalam tiga hari saat ia tak sadarkan diri, penyerapan pasif dari Tungku Abu Takdir telah mendorongnya kembali ke Alam Pemurnian Tubuh Lapis Empat—dengan fondasi fisik yang jauh lebih kokoh daripada saat ia berada di Lapis Tujuh dulu!
Terlebih lagi, di dalam warisan ingatan Tungku Abu Takdir, terdapat sebuah kitab seni bela diri dan kultivasi bernama Kitab Pedang Abu Nirwana.
"Tetua Gu," ucap Lin Xuan dengan tatapan tajam yang sedingin es. "Aku harus keluar dari jurang ini secepat mungkin. Adikku sedang sendirian di Klan Lin, dan aku memiliki utang darah yang harus kutagih."
Tetua Gu menyeringai lebar. "Keluar dari Jurang Abu Api tidak bisa dilakukan dengan memanjat tebing, bocah. Dinding tebing di atas sana dipenuhi Ular Api Ekor Besi. Namun... jika kau menggunakan tungku di tubuhmu untuk melebur inti racun ular-ular itu menjadi abu energi murni, bukan mustahil kau bisa menembus Lapis Enam malam ini juga dan menebas jalan keluar menggunakan pedang hitam patahku itu!"
Lin Xuan melangkah maju, lalu mencengkeram gagang pedang hitam patah yang tertancap di batu obsidian. Meski bilahnya tumpul dan terpotong di bagian ujung, bobot pedang itu mencapai ratusan kati—sangat cocok untuk menyalurkan energi Qi Abu yang berat dan menghancurkan.
Trek!
Dengan satu tarikan kuat, Lin Xuan mencabut pedang hitam itu dari batu. Bara api di sekelilingnya bergetar mengikuti ayunan tangannya.
"Lin Tianhao, Lin Zhen," bisik Lin Xuan di tengah deru lava yang membara. "Nikmatilah sisa hari-hari tenang kalian. Saat aku kembali ke permukaan, Klan Lin akan membayar setiap tetes darah yang tumpah malam itu."