Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Lampu-lampu jalan berderet memanjang di sisi kiri dan kanan, berkilau samar saat Rafael melajukan mobilnya membelah keramaian malam. Di jok samping kemudi, kotak beludru berisi kalung permata berpendar setiap kali terkena cahaya lampu jalan, benda yang seharusnya ia berikan untuk Alina malam ini di Kafe Aruna.
Ponsel di dasbor bergetar. Bukan chat, tapi foto. Amara di lantai apartemen, pelipisnya berdarah. Pesan masuk sedetik kemudian.
'Raf, aku jatuh di kamar mandi tadi. Kepalaku pusing banget. Bisa kesini sebentar aja?'
Rafael mengerutkan kening, rahangnya mengeras. Jam di dashboard menunjukkan 19:42. Delapan belas menit lagi janji dengan Alina.
Ia seharusnya belok kiri ke Kafe Aruna. Tapi tangannya membanting setir ke kanan, ke arah District Residence. Pikirannya berisik, kalau Amara kenapa-napa sendirian di apartemen itu, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Sesampainya di lobi District Residence, ia memarkir mobil dengan tergesa-gesa. Ia keluar, berlari menuju lift, meninggalkan kotak beludru itu di jok samping kemudi.
Lift bergerak cepat menuju lantai dua puluh tiga tempat apartemen Amara berada. Jantung Rafael berdegup kencang, bayangan Amara yang terluka terus muncul di benaknya. Begitu pintu lift terbuka, ia berlari menuju pintu apartemen itu dan menekan bel berkali‑kali dengan suara nyaring.
Bunyi bel berulang memecah keheningan lorong malam.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka perlahan. Amara berdiri di baliknya, dahinya memang ada goresan kecil berdarah, tapi wajahnya tampak lebih tenang daripada yang terlihat di foto tadi. Ia langsung menyandarkan tubuhnya ke dada Rafael begitu pria itu masuk.
"Aku takut sendirian," bisiknya pelan.
Rafael terhenti sejenak, dengan ragu-ragu mengangkat tangannya dan mengusap punggung Amara untuk menenangkan.
"Jangan takut, aku disini."
Amara memejamkan mata, kepalanya terkulai ke bahu pria itu.
"Kepalaku… pusing sekali," bisiknya lemah, tangannya mencengkeram lengan kemeja Rafael erat.
Rafael panik. Refleks ia menahan bahu Amara, lalu dengan ragu-ragu ia melingkarkan satu lengan di punggungnya, satu lagi di bawah lututnya, mengangkat tubuh wanita itu. Langkahnya berat menuju kamar tidur. Begitu sampai di sisi ranjang, ia menurunkan tubuh Amara dengan lembut, membaringkannya di atas seprai berwarna krem.
Amara segera meraih pergelangan tangan Rafael sebelum pria itu sempat berbalik pergi. Jari‑jemarinya mencengkeram erat, matanya memandang dengan tatapan memohon.
"Jangan pergi… tinggallah sebentar saja," bisiknya pelan.
Rafael terdiam sejenak, rasa bersalah karena janji yang dilanggar bergejolak di dadanya, tapi ia tidak bisa menolak permintaan itu.
"Aku tidak akan pergi," jawabnya pelan.
Amara perlahan bangkit duduk di atas ranjang. Kedua tangannya terangkat, menangkup kedua sisi wajah Rafael dengan lembut. Ia mendekatkan wajahnya perlahan, hingga bibir mereka bersentuhan sebentar sebelum Rafael tiba‑tiba terkejut dan mundur sedikit ke belakang.
"Amara… kita tidak boleh melakukan ini," ucapnya dengan suara yang bergetar ragu‑ragu.
Amara tidak menghiraukan penolakan lemah Rafael tadi. Ia mendekatkan wajahnya lagi, menempelkan bibirnya perlahan. Rafael sempat mencoba menahan diri, tapi kenangan masa lima tahun silam perlahan menyeruak ke permukaan pikirannya. Perlahan‑lahan ia melepaskan pertahanannya, terhanyut dalam kerinduan yang sudah lama ia sembunyikan.
-
-
-
Di dalam Kafe Aruna, hiasan bunga krem dan lilin temaram tersusun rapi di sekeliling meja yang sudah disiapkan khusus untuk mereka. Di meja tengah, kue anniversary masih utuh, tulisan cokelat Happy Anniversary mulai meleleh karena panas lilin. Alina duduk sendirian di kursi menghadap pintu masuk, gaun malam keemasannya berkilau terkena cahaya lilin.
Jam dinding di sudut ruangan sudah menunjukkan pukul 21:12.
Ponselnya tergeletak di atas taplak meja, layarnya berkedip setiap kali ia menekan panggilan ke nomor Rafael. Nada tunggu berulang, panjang, lalu terputus sendiri. Sudah lebih dari satu jam sejak waktu janji mereka.
Alina memegang gelas airnya, jari-jemarinya gemetar. Bukan karena dingin AC yang sengaja ia minta disetel 18 derajat untuk dua orang, tapi karena ia menahan diri untuk tidak menangis di pesta yang ia siapkan sendiri.
Alina menghela napas panjang yang terasa sesak di dada. Ia tidak tahan lagi menunggu di antara cahaya lilin yang kini terasa dingin. Ia segera berdiri, meraih tas kecil dan ponsel yang tergeletak di atas meja, lalu melangkah cepat menuju pintu keluar kafe.
Di halaman luar, udara malam terasa sejuk. Revan bersandar diam pada bodi mobil hitam, tatapannya tertuju ke arah pintu masuk. Begitu mendengar suara langkah kaki yang tergesa‑gesa mendekat, ia mengangkat pandangannya, lalu berdiri tegak.
Alina berhenti beberapa langkah di depan mobil, matanya berkaca‑kaca, tapi tidak ada air mata yang jatuh.
"Kita pulang," ucapnya dengan suara rendah yang bergetar.
Revan mengangguk perlahan, lalu membukakan pintu penumpang untuk Alina. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi tatapannya penuh perhitungan yang sudah ia siapkan sejak lama.
Mesin mobil berderu pelan saat Revan menekan gas, kendaraan itu melaju membelah jalanan malam yang disinari lampu‑lampu jalan berderet. Di dalam kabin, suasana hening, hanya terdengar bunyi ban yang bergesek di aspal dan suara angin yang masuk samar dari celah kaca jendela.
Alina duduk menatap ke luar kaca, wajahnya tertutup bayangan malam. Jari‑jemarinya memegang erat ponsel yang layarnya masih menampilkan daftar panggilan tak terjawab ke nomor Rafael. Belum ada air mata yang menetes, tapi bahunya terlihat tegang, seolah menahan semua kekecewaan yang tertimbun di dada.
Revan mengemudi dengan tenang, sesekali melirik sekilas ke arahnya dari sudut mata. Ia tidak memulai percakapan, membiarkan Alina tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tapi sudut bibirnya terangkat sedikit, senyum perhitungan yang hanya terlihat sekejap sebelum hilang kembali.
Mobil terus melaju, meninggalkan lampu‑lampu kota di belakang mereka, menuju rumah besar yang malam ini terasa lebih sepi dari biasanya.
Begitu mobil berhenti di halaman rumah besar, Alina segera membuka pintu penumpang dan melangkah keluar tanpa menunggu Revan menolongnya. Langkahnya cepat, gaun malamnya bergerak mengikuti setiap langkah, ia langsung menuju pintu utama dan mendorongnya terbuka untuk masuk ke dalam.
Revan terkejut sejenak, lalu segera mematikan mesin dan bergegas turun dari sisi kemudi. Ia menyusul dengan langkah cepat, melewati pintu yang masih terbuka itu dan masuk ke dalam rumah yang disinari lampu‑lampu temaram.
Revan melangkah maju cepat, meraih pergelangan tangan Alina sebelum wanita itu sempat menapaki anak tangga pertama. Genggamannya kuat tapi tidak kasar, menariknya berbalik dan mendekat ke arahnya hingga jarak mereka hanya selangkah.
Cahaya lampu temaram ruang tengah menyinari wajah Alina yang masih tampak pucat dan lelah. Ia menatap Revan dengan mata yang berkaca‑kaca, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman pria itu.
"Revan... lepaskan," bisiknya lemah.
Revan menatapnya tajam, genggamannya masih di pergelangan, tapi tidak menarik lagi. Justru melonggar.
"Aku akan lepaskan. Tapi jawab dulu, sudah berapa lama kamu menunggu janji yang tidak pernah ditepati, Alina?"
Alina tidak menjawab. Air mata yang ia tahan sejak kafe akhirnya tumpah.
Revan perlahan melepaskan pergelangannya. Tangannya terbuka di udara, tidak menyentuh lagi.
"Kamu berhak tidak menunggu lagi."
Alina menatap tangan Revan yang terbuka itu. Bahunya terguncang. Lalu pelan, ragu-ragu, dia yang maju selangkah dan membenamkan wajahnya sendiri ke bahu jas hitam Revan.
Revan kaku sejenak, lalu baru melingkarkan lengan, tidak erat, memberi ruang untuk Alina mundur kapan pun dia mau.
"Kenapa..." batin Alina, "Aku masih istrinya, tapi cuma di pelukan ini aku tidak merasa sendirian."
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰