NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.

Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Malam Pertama, Aturan Pecah, dan Bayangan di Balik Kaca

Aira tidak menjawab. Dia hanya mengambil tas dan berjalan menuju koridor. Raka mengikutinya sampai depan pintu kamar.

“Aira.”

“Ya?”

“Saya serius. Di sini kamu aman. Saya tidak akan biarkan siapa pun mendekat.”

Aira menatapnya lama. “Kalau kamu serius, jangan terlalu sering berdiri sedekat ini. Saya bisa mengira kamu mau minta sesuatu.”

“Saya memang mau.”

“Apa?”

Raka menunduk sedikit. Suaranya turun. “Izin tertulis itu. Saya mau mulai kumpulin.”

Aira masuk ke kamar lalu menutup pintu di depan wajah Raka. Dari dalam, suaranya terdengar datar. “Kumpulin dulu uangnya. Izin tertulis saya jual mahal.”

Di sisi lain pintu, Raka tersenyum lebar sambil bersandar ke dinding. Dia mengeluarkan ponsel dan mengetik cepat ke grup yang berisi Reza dan Keenan.

Raka... "Dia sudah di rumah saya. Aturan ketat. Tapi dia tidak kabur."

Reza... "Pantau terus. Jangan lengah."

Keenan... "Saya datang sore ini untuk kontrol. Jangan ganggu pasien."

Raka membalas satu kalimat saja. "Saya tidak ganggu hanya mendekatinya."

Dia mengunci layar, lalu berjalan ke dapur untuk menyiapkan air hangat. Di luar jendela, kota terlihat tenang. Tapi di suatu tempat yang jauh dari gedung mewah ini, seorang pria bertato di leher menatap layar monitor yang menampilkan foto Aira dan alamat baru yang baru saja berhasil mereka lacak.

“Ketemu lagi,” gumamnya. “Bos akan senang.”

Sesaat kemudian, Aira terbangun karena suara detak jam yang terlalu pelan. Dan langkah kaki di koridor luar kamar. Terlalu hati-hati untuk orang yang tinggal di rumah sendiri. Dia duduk pelan, menahan nyeri di rusuk. Pakaian ganti yang disiapkan Raka terasa longgar di bahunya. Dia ambil pisau lipat dari bawah bantal lalu berdiri di balik pintu.

Ketukan terdengar. “Aira. Saya bawa air hangat dan obat,” suara Raka dari luar. “Boleh masuk?”

Aira menghembuskan napas. “Masuk. Tapi jangan lewat garis karpet.”

Pintu terbuka. Raka berdiri dengan nampan di tangan. Kaos hitamnya sederhana, rambut masih agak basah sehabis mandi. Bau sabun mahal langsung masuk ke kamar. Dia berhenti tepat di tepi karpet seperti yang diminta.

“Kamu tidak tidur?” tanyanya.

“Sulit. Tempat ini terlalu sunyi.” Aira menaruh pisau kembali ke bawah bantal. “Di kost, minimal ada tetangga yang ribut. Di sini cuma debu mahal.”

Raka tersenyum kecil. “Saya bisa nyalakan musik kalau kamu mau.”

“Tidak perlu. Buang listrik.”

Dia meletakkan nampan di meja kecil dekat tempat tidur, masih tanpa melangkah masuk lebih jauh. “Obatnya yang Keenan rekomendasikan. Sudah saya takar.”

Aira mendekat, mengambil gelas. Jarak mereka sekarang hanya selebar nampan. “Berapa harganya obat ini?”

“Tidak tahu. Saya bilang ke apoteker ambil yang terbaik.”

“Itu jawaban orang kaya. Orang kaya biasanya tidak cek harga.”

Raka menunduk sedikit. “Kamu selalu bilang begitu. Seolah saya salah karena punya uang.”

“Bukan salah. Hanya merepotkan. Karena orang yang punya uang biasanya ingin sesuatu sebagai gantinya.”

“Saya sudah bilang tidak minta apa-apa.”

Aira menatap matanya. “Semua orang bilang begitu sebelum mereka minta.”

Raka terdiam. Lalu dia mengangkat tangan pelan, menunjuk ke arah perban yang sedikit longgar di sisi tubuh Aira. “Boleh saya bantu kencangkan? Kelihatan longgar.”

“Tidak. Saya bisa sendiri.”

“Kamu akan menahan napas terus... nanti makin sakit.”

Aira ragu sejenak. Nyeri memang sudah mulai menusuk lagi. “…Baik. Tapi cepat. Dan tanganmu tidak boleh turun lebih rendah dari perban.”

Raka mengangguk. Dia melangkah masuk ke dalam garis karpet, berdiri di depan Aira. Jari-jarinya yang kapalan menyentuh tepi perban dengan sangat hati-hati. Hangat. Kasar di ujung, tapi gerakannya pelan sekali. Aira menahan napas saat jari itu menekan sedikit untuk merapikan kain kasa.

“Sakit?” bisik Raka.

“Sedikit.”

“Bilang kalau terlalu keras.”

“Sudah cukup.”

Tapi Raka tidak langsung melepas. Ibu jarinya tersisa di kulit tepat di atas perban, mengusap sekali sangat ringan seolah memastikan. Aira merasakan panas naik ke leher. Dia menatap dada Raka yang naik-turun di balik kaos.

“Raka.”

“Ya?”

“Tanganmu masih di situ.”

“Saya tahu.”

“Aturan nomor dua. Izin tertulis.”

Raka mengangkat wajah. Jarak bibir mereka sekarang terlalu dekat. “Saya belum minta cium. Saya hanya memegang.”

“Memegang juga perlu izin.”

“Kalau begitu… boleh?”

Aira menelan. Otaknya bilang tidak. Tubuhnya bilang diam saja. “Lima detik. Habis itu lepas.”

Raka mengangguk. Dia tidak bergerak mendekat. Hanya membiarkan jari-jarinya tetap di kulit Aira, menghitung pelan di mulut. “Satu… dua… tiga…”

Di hitungan keempat, Aira yang bergerak lebih dulu. Dia menunduk sedikit, kening menempel di bahu Raka. Bukan pelukan. Hanya sandaran sebentar karena tiba-tiba lelah.

Raka membeku. Lalu tangannya yang bebas naik pelan ke belakang kepala Aira, menahan dengan sangat ringan. “Kamu boleh sandar lebih lama.”

“Tidak. Ini sudah lebih dari lima detik.”

Aira menegakkan tubuh. Wajahnya datar lagi, tapi telinganya agak merah. “Terima kasih untuk obatnya. Sekarang keluar. Saya mau tidur.”

Raka menghela napas, lalu mundur ke luar garis karpet. “Baik. Pintu saya biarkan terbuka sedikit. Kalau sakit, panggil.”

“Tidak perlu.”

“Panggil.”

Dia keluar. Aira menunggu sampai langkahnya menjauh, lalu duduk di tepi tempat tidur. Jantungnya masih terlalu cepat. Dia menatap tangan yang tadi disentuh Raka.

"Lima detik. Sudah lebih dari yang saya izinkan. Besok harus buat aturan tambahan."

Tiba-tiba lampu di luar jendela berkedip sekali. Aira langsung berdiri. Bukan karena listrik. Melainkan karena bayangan yang bergerak di atap gedung seberang. Seseorang berdiri di sana. Tidak lama. Hanya beberapa detik. Lalu menghilang.

Aira meraih pisau lipat lagi. Napasnya kembali stabil. Insting lama yang sempat tertidur sekarang terbangun total. Dia berjalan ke jendela, berdiri di balik gorden, mengamati. Tidak ada orang. Tapi perasaan itu tidak hilang.

Di koridor, Raka yang belum tidur mendengar bunyi jendela yang digeser sedikit. Dia berdiri dari sofa, wajahnya berubah serius, lalu mengirim pesan cepat ke Reza.

Raka... "Ada yang mengawasi dari atap seberang apartemenku."

Reza... "Jangan panik. Saya kirim orang. Jaga dia."

Raka... "Sudah."

Aira kembali ke tempat tidur, tapi tidak memejamkan mata. Pisau tetap di bawah bantal. Aturan tentang tidak boleh bertarung tiba-tiba terasa mustahil. Di luar, jauh di bawah, seorang pria bertato menaiki mobil hitam. Dia tersenyum tipis sambil menatap layar ponsel yang menampilkan denah gedung Raka.

“Besok malam,” gumamnya. “Bos bilang jangan bunuh dulu. Ambil hidup-hidup.”

Aira tidak tidur. Jam menunjukkan pukul tiga pagi ketika dia mendengar bunyi sangat pelan di balkon luar. Bukan angin. Bukan daun. Melainkan gesekan sepatu di kaca yang terlalu hati-hati.

Dia sudah duduk di tepi tempat tidur, pisau lipat terbuka di tangan kanan. Perban di rusuknya terasa ketat setiap kali napas dalam. Dia berdiri tanpa bunyi, berjalan ke sisi pintu kamar, dan menunggu. Ketukan tidak datang. Yang datang adalah getaran sangat kecil di gagang pintu.

Aira menarik napas pendek. “Raka.” Suaranya rendah, hanya cukup terdengar di dalam kamar. “Kalau itu kamu, bilang sekarang.”

Tidak ada jawaban.

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 raka cemburu
falea sezi
suka cwek Badas gini 🤣🤣 sat sett gk menye 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!