NovelToon NovelToon
Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:48.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.

Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.

Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.

Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.

Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pencuri Tak Tahu Malu

Langkah Mo Yuuran terhenti sejenak, namun ia tidak langsung menoleh. Ia sudah mengenali suara itu, suara yang terlalu sering ia dengar di masa lalu, penuh kepura-puraan dan penghinaan tersembunyi. Perlahan, ia memiringkan wajahnya, sorot matanya berubah dingin seperti es.

Dari arah gerbang luar, dua wanita berjalan cepat dengan wajah tegang. Hanfu mahal yang mereka kenakan berkilau di bawah sinar matahari, namun aura mereka dipenuhi amarah. Mereka adalah Lihua dan Mo Weiwei.

“Apa yang kau lakukan?!” bentak Lihua keras, suaranya menggema di seluruh halaman. “Siapa yang memberimu hak menyentuh harta keluarga Mo?!”

Mo Yuuran akhirnya menoleh sepenuhnya, menatap wanita itu tanpa emosi. Tatapannya datar, namun justru itu yang membuat suasana semakin mencekam. Ia sedikit mengangkat dagunya, memperlihatkan wibawa yang tak terbantahkan.

“Harta keluarga Mo?” ulangnya pelan, sudut bibirnya terangkat tipis. “Kau benar-benar berani mengatakan itu di hadapanku … bibi?”

Tubuh Lihua langsung menegang. Wajahnya berubah kaku, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Bahkan Mo Weiwei di sampingnya ikut membelalak.

“Bibi?” suara Lihua meninggi, penuh keterkejutan dan amarah. “Apa maksudmu? Apa aku salah dengar? Kau memanggilku bibi?!”

Mo Yuuran menaikkan satu alisnya dengan santai, lalu mengernyit ringan seolah bingung. Ia menatap Lihua dari atas ke bawah, tatapannya penuh sindiran dan hinaan.

“Lalu apa?” balasnya tenang. “Bukankah memang seharusnya begitu?”

Lihua dan Mo Weiwei saling pandang, jelas tidak menyangka perubahan sikap wanita di depannya ini. Mo Weiwei menggertakkan giginya, lalu melangkah maju dengan wajah penuh emosi.

“Yuuran, beraninya kau berbicara seperti itu pada ibu!” serunya tajam. “Ada apa denganmu? Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?! Apa karena kecelakaan itu membuatmu mengalami gangguan ingatan?”

Mo Yuuran hanya tersenyum tipis, tidak ada kehangatan di matanya seperti du. Ia lalu mengangkat tangannya, memperlihatkan gulungan lukisan yang sejak tadi ia bawa.

“Bukankah memang seperti ini?” ucapnya pelan.

Dengan satu gerakan, ia membuka lukisan itu. Wajah seorang wanita gagah dalam zirah emas terpampang jelas, Lingzhi.

“Dia memang bukan ibuku, bukan?” lanjut Mo Yuuran dingin. “Ibuku … adalah Lingzhi.”

Suasana seketika membeku. Lihua dan Mo Weiwei terdiam, wajah mereka berubah pucat.

Mata mereka terpaku pada lukisan itu. Ada kepanikan yang tidak bisa mereka sembunyikan, meski berusaha tetap tenang.

Dalam hati mereka berdua muncul pertanyaan yang sama, bagaimana mungkin Mo Yuuran mengetahui hal ini? Siapa yang memberitahunya?

“Kenapa diam?” tanya Mo Yuuran pelan, namun menekan. “Aku benar, bukan?”

Lihua menelan ludah, berusaha mengatur ekspresinya yang mulai goyah. Ia kemudian tertawa kecil, meski terdengar dipaksakan.

“Lalu kenapa jika itu benar?” balasnya, mencoba tetap tenang. “Bagaimanapun juga, akulah yang membesarkanmu. Saat ibumu meninggal karena sakit, akulah yang mengurus segalanya.”

Tatapan Mo Yuuran langsung berubah lebih dingin. Ia menatap wanita itu tanpa berkedip, tekanan di sekitarnya terasa semakin berat.

“Benarkah kau mengurusku?” tanyanya pelan. “Atau kau hanya memastikan aku tetap hidup agar bisa kau manfaatkan?”

Lihua terdiam sejenak. Napasnya tersendat, namun ia masih mencoba mempertahankan sikapnya.

“Apa yang kau bicarakan?” ujarnya dengan nada tidak senang. “Jangan menuduh sembarangan!”

Mo Yuuran melangkah mendekat satu langkah. Jarak di antara mereka kini sangat dekat, cukup untuk membuat Lihua merasakan tekanan yang menyesakkan.

“Benarkah ibuku meninggal karena sakit .…” ucapnya perlahan. “Atau karena dibunuh?”

Tubuh Lihua langsung menegang. Matanya melebar, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Mo Weiwei di sampingnya juga terlihat panik, meski berusaha menyembunyikannya. Tangannya mengepal erat, kukunya hampir menembus kulit.

“Itu tuduhan tidak berdasar!” Lihua akhirnya bersuara, nadanya sedikit bergetar meski berusaha keras terdengar tegas. “Kau tidak punya bukti!”

Mo Yuuran tersenyum tipis. Senyum itu justru lebih menakutkan daripada kemarahan.

“Tenang saja,” katanya ringan. “Aku tidak terburu-buru.”

Ia melirik sekilas ke arah peti-peti yang terus dibawa pergi. Lalu kembali menatap Lihua dengan sorot mata tajam.

“Satu per satu aku akan menemukan semuanya.”

Lihua menggertakkan giginya. Ia sadar pembicaraan ini semakin berbahaya jika dilanjutkan.

“Kau sudah keterlaluan hari ini!” bentaknya, mencoba mengalihkan situasi. “Mengambil harta keluarga, menuduh yang tidak-tidak, apa kau pikir status permaisuri membuatmu bisa bertindak sesuka hati?!”

Mo Yuuran tertawa kecil, pelan namun jelas terdengar. Ia menatap Lihua dengan penuh makna.

“Bukan karena aku permaisuri,” ujarnya tenang. “Tapi karena semua itu memang milikku. Kenapa kalian marah jika aku mengambil milikku?”

“Milikmu?” Lihua terkekeh kecil, meski senyumnya terasa dipaksakan. Di balik ekspresi tenangnya, pikirannya bergejolak hebat, tidak mengerti bagaimana Mo Yuuran bisa berubah sejauh ini dan lepas dari kendalinya.

“Jangan berlagak!” lanjutnya tajam, dagunya terangkat tinggi. “Meski kau sudah menjadi istri kaisar, ini tetap Kediaman keluarga Mo. Semua yang ada di sini berada di bawah kendali suamiku!”

“Benar!” sahut Mo Weiwei cepat, melangkah maju dengan penuh emosi. “Kau bahkan tidak tahu aturan, masuk tanpa izin lalu mencuri semua harta keluarga Mo. Apa kau tidak punya rasa malu?!”

Mo Yuuran terdiam sesaat. Lalu, tanpa peringatan, ia tertawa pelan.

Tawanya lembut, namun entah kenapa terdengar begitu menusuk. Ia menatap ibu dan anak itu dengan sorot mata penuh ejekan, seolah sedang melihat lelucon yang sangat konyol.

“Tidak tahu malu?” ulangnya perlahan, masih dengan sisa tawa di bibirnya. “Kalian … benar-benar berani mengatakan itu di depanku?”

Mo Weiwei menggertakkan giginya, jelas tersinggung dengan sikap itu. “Apa maksudmu?! Jangan memutarbalikkan keadaan!”

Mo Yuuran melangkah mendekat, satu langkah demi satu langkah. Setiap gerakannya tenang, namun membawa tekanan yang membuat napas orang di sekitarnya terasa berat.

“Aku hanya merasa lucu,” ucapnya ringan. “Orang yang hidup dari hasil curian justru menuduh pemilik aslinya sebagai pencuri.”

Wajah Lihua langsung berubah. Tangannya mengepal di balik lengan bajunya, berusaha menahan emosi yang mulai meluap.

“Jaga ucapanmu, Mo Yuuran!” bentaknya. “Kau tidak punya bukti untuk menuduh kami seperti itu!”

Mo Yuuran mengangkat alisnya tipis. Ia lalu mengeluarkan salah satu surat dari dalam lengan bajunya dan mengibaskannya pelan.

“Bukti?” katanya santai. “Kau ingin aku membacakannya sekarang juga? Tentang bagaimana seluruh harta ini diwariskan oleh Jenderal Lingzhi … kepadaku?”

Suasana langsung hening.

Mo Weiwei menatap surat itu dengan mata membelalak. Sementara Lihua, wajahnya perlahan kehilangan warna.

“Itu … itu bisa saja palsu!” sanggah Mo Weiwei cepat, meski suaranya terdengar tidak setegas sebelumnya.

Mo Yuuran tersenyum tipis. Ia memiringkan kepalanya, menatap Mo Weiwei seolah sedang mengasihani kebodohannya.

“Kalau begitu, kita bisa memastikan keasliannya di istana,” ujarnya ringan. “Aku yakin Yang Mulia Kaisar akan sangat tertarik dengan kasus perebutan warisan ini.”

Kalimat itu seperti petir di siang bolong.

Tubuh Lihua langsung menegang. Ia tahu, jika masalah ini sampai ke telinga kaisar, semuanya bisa berakhir buruk bagi mereka.

“Kau tidak perlu membawa-bawa istana!” katanya cepat, mencoba menahan situasi. “Ini urusan keluarga!”

“Urusan keluarga?” Mo Yuuran mengulang pelan. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan dingin yang menusuk.

“Sejak kapan kalian menganggapku keluarga?” tanyanya. “Saat aku dipaksa mengalah? Saat aku dijadikan alat? Atau saat kalian berharap aku mati diam-diam?”

Lihua terdiam.

Mo Weiwei juga tidak bisa berkata apa-apa. Untuk pertama kalinya, mereka benar-benar kehilangan kata.

Mo Yuuran menatap mereka beberapa detik, lalu menarik napas pelan. Ekspresinya kembali tenang, seolah emosi barusan tidak pernah ada.

“Sudahlah,” katanya singkat. “Aku tidak punya waktu untuk berdebat dengan orang-orang yang tidak tahu diri.”

Ia berbalik, melangkah pergi dengan anggun. Namun sebelum benar-benar menjauh, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.

“Dan satu hal lagi,” tambahnya dingin. “Mulai sekarang, jangan pernah lagi menyentuh apa yang menjadi milikku.”

Tanpa menunggu jawaban, ia kembali berjalan menuju gerbang.

Mo Weiwei yang sudah kehilangan kesabaran akhirnya berteriak keras, suaranya penuh ancaman dan kepanikan yang disembunyikan. “Aku akan melaporkan semua ini pada Ayah dan Kak Bo Wen!” bentaknya tajam. “Mereka pasti akan marah padamu, Mo Yuuran!”

1
tinie
kasian dia lu🤣
dia ketakutan
Maydian li Maydian
lanjut thor lebih banyak up nya
Fia Ayu
Akhirnya nongol jg, othor nya masih kecapean 😢🙏🏻
Atik Kiswati
next...
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Iih jangan janji 😅 siapa tau pas Zi Rui mamggil anda lagi ngadon 🤭
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Nah tusuk juga tu si bonteng Suri
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Iishh Xia Lu ini biarin aja jangan dibangunan, biar aja si bonteng suri nunggu sampe lumutan 🤣🤣
Mama Hasby
semakin seru thooor...😍😍
smngat terus buat up'y ya....💪💪
Icka Soesan
Alhamdulillah up juga terimakasih update nya Thor 🥰🙏🙏, semakin seru ceritanya.
Dew666
Lanjut dong
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣 Lucu kalian maling teriak maling /Facepalm/
Sekar
lanjut thor💪💪😍😍
Sekar
ckckck jalang teriak jalang
tinie
ya lagian jadi pelayan aja
belagu tidur nyenyak dikasur empuk
eeh justru anak kaisar malah dikasih kasur tikar
RheaAdelya
😍
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
ini siapa yg tak tau malu
mama_im
mantap👍👍🤣🤣🤣
FAISHAL GAMING
luar biasa
💟노르 아스마💟
whuuuhhhh...keren!!!👏👏👏👏
Allfa Rizky
suka sama cerita spt ini FL nya Badas keren banget gak menye-menye,, sar set eksekusi man taappp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!