NovelToon NovelToon
Sang Mafia dan Gadis Desa

Sang Mafia dan Gadis Desa

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Obsesi / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yingiola Macosay

Andrew Quintana menguasai dunia hitam tanpa belas kasihan. Bos kartel yang dijuluki "si iblis" ini punya segalanya—kekuasaan, kekayaan, dan sumpah untuk tidak pernah jatuh cinta pada siapa pun. Sampai suatu malam, di tengah baku tembak berdarah, seorang gadis berambut merah terjatuh dari mobil musuhnya.

Alondra hanyalah gadis desa yang menjual hasil kebun di pasar—sampai ia diculik, dijual, dan nyaris kehilangan nyawa. Kini ia terbangun di sebuah mansion mewah milik pria paling berbahaya yang pernah ia temui, sebagai sandera. Tapi Alondra bukan perempuan yang mudah ditundukkan. Ia melawan, membalas hinaan, dan sama sekali tak gentar pada sang bos mafia—sesuatu yang belum pernah dialami Andrew seumur hidupnya.

Dari pertengkaran sengit menjadi kesepakatan berbahaya, dari kebencian menjadi gairah yang tak bisa mereka bendung. Namun mencintai seorang mafioso berarti masuk ke dunia penuh peluru, pengkhianatan, dan musuh yang mengintai di setiap sudut. Ketika kecemburuan, kebohongan, dan rahasia mengancam menghancurkan segalanya, seberapa jauh keduanya rela bertaruh demi cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yingiola Macosay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Pulang ke Rumah

Beberapa detik aku hanya terpaku, tak percaya dengan apa yang kulihat. Aku berlari begitu melihatnya. Aku sempat berdiri diam menatapnya berjalan ke arahku, tapi kebahagiaanku begitu besar melihat sosok yang tak kunyana datang menghampiriku. Aku berlari dan memeluknya sambil berkata, "Syukurlah kau di sini, kau membuatku cemas."

Dia tersenyum, lalu mengangkatku. Kulingkarkan kedua kakiku di pinggangnya sementara ia menaiki tangga. Begitu kami masuk ke kamar, aku tak berhenti menciumnya. Kumulai dengan melepas jasnya, lalu membuka kancing kemejanya.

Aku Andrew. Saat aku tiba di mansionku, setelah hampir empat minggu tak pulang, begitu masuk kulihat semuanya sunyi. Namun beberapa detik kemudian kulihat si Merah kecilku berdiri terpaku begitu melihatku, lalu berlari ke arahku. Kupeluk ia, dan hal pertama yang ia katakan adalah bahwa ia merindukanku.

Kuangkat ia, kubawa ke kamar di sela-sela ciuman. Ia mulai melepas jasku, lalu membuka kancing kemejaku. Maka kubawa ia ke kamar mandi sambil menggendongnya, kunyalakan pancuran, dan kami berdiam di bawah guyuran air selama beberapa menit, satu per satu melucuti pakaian kami.

Hingga kami benar-benar telanjang. Hasratku untuk memilikinya begitu besar, sehingga dalam keadaan basah kuyup begitu kubawa ia ke tempat tidur. Entah sudah berapa kali kami melakukannya.

Tapi aku begitu kelelahan hingga tertidur. Ketika aku terbangun, si kecilku tak ada di sisiku. Maka aku berpakaian secepat mungkin, menuruni tangga tergesa-gesa, mencarinya, tapi ia tak ada. Lalu aku menuju dapur dan melihatnya keluar sambil membawa nampan berisi beberapa makanan.

Aku Alondra. Setelah bercinta dengan si sinting-ku berkali-kali, ia tertidur pulas. Aku turun untuk menyiapkan sesuatu supaya ada makanan begitu ia bangun.

Aku baru saja keluar dari dapur ketika kulihat ia datang menghampiriku. "Tapi, sayang, kau sudah bangun?"

"Ya, dan kau tak ada di sisiku."

"Aku cuma turun mengambil makanan untuk saat kau bangun nanti."

Ia memelukku dengan manja sambil berkata, "Baiklah kalau begitu, bawa saja ke atas, aku menyusul sebentar lagi."

Kusuruh si kecilku naik ke kamar, aku harus melakukan beberapa panggilan telepon.

Sementara menunggu Andrew, aku menelepon orang tuaku, sebab sudah beberapa hari aku tak menghubungi mereka. Papa dulu tak pernah suka ada telepon di rumah, sekarang mereka punya karena ingin tetap bisa berhubungan denganku. "Iya, Mama, aku baik-baik saja, aku belum sempat menelepon."

"Tapi, Nak, kami mencemaskanmu. Kami kira ada sesuatu yang menimpamu."

"Tidak, Mama, semuanya baik-baik saja, apa yang bisa terjadi padaku. Cuma saja Andrew tadi sedang pergi, dan itu membuatku cemas sampai lupa menelepon kalian."

"Semuanya baik-baik saja, Nak. Mama mau memberitahumu, pria tua yang dulu hendak menikahimu itu ditemukan tewas di rumahnya. Sepertinya ia mati karena serangan jantung."

Mendengar apa yang Mama katakan, tubuhku seperti membeku, sampai aku tergagap menjawabnya. "Ta, ta, tapi bagaimana itu bisa terjadi?"

"Yah, belum jelas juga, Nak." Setelah mengobrol dengan Mama sebentar, aku mulai merapikan kamar sedikit sambil memikirkan apa yang baru saja Mama katakan. Wah, si tua gendut itu mati. Aku melanjutkan membereskan seluruh kekacauan yang kami tinggalkan tadi, bahkan sampai harus mengganti seprai karena basah. Cukup dengan membayangkan cara Andrew membuatku gila, bulu kudukku sampai berdiri semua. Seperti kata orang di kampungku.

Aku Andrew. Ketika aku kembali ke kamar, kudapati si kecilku sedang merapikan tempat tidur. Aku masuk tanpa menimbulkan suara, lalu memeluknya dari belakang. Tapi aku tak menyangka ia akan terkejut. "Aduuh, hampir saja kau membuatku mati kaget."

Aku Alondra. Aku tak mendengar saat Andrew masuk ke kamar, aku terkejut setengah mati, semua gara-gara aku melamun. "Maaf, sayang, aku tak bermaksud membuatmu takut."

Sementara Alondra menikmati kepulangan Andrew, Luis ada di rumahnya, mondar-mandir dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan tak ada teman untuk diajak minum, sebab kini sahabatnya sudah punya kehidupan sendiri. Betapa sulitnya hidup sendirian. Andrew sudah menikah, dan aku di sini sendirian, padahal dulu kau bilang kau tak akan pernah menikah.

Karena aku tak punya tempat tujuan, baiklah Luis, kurasa kau harus berbuat sesuatu supaya tak sendirian sepanjang sisa hidupmu. Sekarang kurasa masa lajangmu sudah tiba di ujungnya.

Aku langsung mengeluarkan teleponku dan menelepon Andrew. Di ujung sana Andrew hanya mendengarkan. "Saudaraku, aku butuh kau meminjamkan salah satu jet padaku."

"Untuk apa memangnya kau menginginkannya?"

"Nanti kuceritakan, aku ada urusan mendesak."

"Baiklah, asal jangan berbuat bodoh, dan jangan pergi sendirian, bawa pengawal."

Aku Alondra. Aku menatap Andrew yang tampak sedikit kesal, jadi aku bertanya, "Ada apa, sayang?"

"Ini Luis, entah untuk apa dia ingin aku meminjamkan salah satu jet padanya. Sudah, lebih baik kau berdandan yang cantik, kita akan pergi keluar."

"Memang kita mau ke mana?"

"Itu kejutan, Nyonya Quintana."

Aku cuma mencibir karena ia tak mau memberitahuku ke mana kami pergi. "Baiklah. Aku cuma berharap itu bukan ke salah satu pesta aneh yang isinya cuma orang-orang sombong."

Maka aku pergi mandi. Ketika keluar, seperti biasa Andrew sudah tak ada di kamar. Kucari pakaian yang nyaman. Karena ia tak memberitahuku ke mana kami akan pergi, kukenakan celana jeans biru tua dan blus warna krem. Rambutku kubiarkan tergerai, begitu aku suka menatanya, lalu kuoleskan sedikit pengilap bibir.

Ketika hampir selesai, Andrew masuk. "Kau sudah siap, sayang?"

"Sudah."

Kami keluar dari kamar sambil berpegangan tangan. Andrew cuma berpesan pada Dianita bahwa kami akan kembali nanti, jadi aku sama sekali tak tahu ke mana kami akan pergi.

Aku Andrew. Aku tak memberitahu si kecilku ke mana kami akan pergi, padahal sebenarnya aku membawanya berbulan madu. Kami akan pergi setidaknya sebulan atau lebih. Ia pantas mendapatkan itu, bahkan lebih.

Dulu saat aku memberitahunya, aku tak sempat membawanya karena keadaan jadi rumit. Tapi sekarang aku punya seluruh waktu di dunia. Supaya kami bisa menikmati cinta yang kami rasakan satu sama lain.

Aku Alondra. Aku masih penasaran dengan apa yang Mama katakan tadi, jadi aku memutuskan untuk bertanya. "Sayang, Mama bilang mereka menemukan pria tua itu. Yang dulu hendak menikahiku. Katanya ia ditemukan tewas di rumahnya."

Kulihat Andrew menoleh ke arahku dengan cepat.

"Oh ya, lalu kenapa?"

Aku sampai tak bisa berkata apa-apa karena jawaban yang ia berikan. Beberapa saat kemudian aku menjawab, "Bukannya apa-apa, jangan marah, ini cuma sekadar ucapan." Meski begitu, karena aku bukan tipe yang bisa membiarkan rasa penasaran menggantung, aku pun berkata, "Atau jangan-jangan kau ada hubungannya dengan hal itu?"

Kulihat ia tertawa, lalu berkata, "Cuma sedikit kejutan yang diberikan salah satu anak buahku, dan dia tak kuat. Lalu mati."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!