Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 HP baru
"AAAAA HP KU!"
Pagi-pagi sekali suara Safa sudah terdengar melengking didapur.
Safa berdiri di tengah dapur, matanya membelalak melihat HP jadulnya yang tergeletak di lantai. Layarnya yang sudah retak dari dulu, kini retaknya tambah panjang dan layarnya menjadi hitam total, bahkan tidak mau menyala.
Safa mau memotret rendang buatanya dan foto itu mau dikirim ke ibunya di kampung. Dia naik ke kursi kecil biar angle fotonya bagus, eh kursinya goyang, HPnya terlempar dari tangan dan jatuh menghantam lantai marmer yang keras.
"HP ku... HP ku mati..." Safa turun dan memungut HP itu dengan tangan gemetar. Dia sudah menekan tombol power berkali-kali tapi tetap saja tidak bisa nyala.
Itu adalah HP satu-satunya. HP pemberian almarhum bapaknya dulu waktu dia lulus SD.Hp yang sudah 8 tahun menemaninya. Di dalam HP itu ada banyak foto-foto ibunya, nomor ibu dan semua kenangannya dikampung bersama ibunya.
Safa mencoba menghidupkan lagi dengan digoyang-goyang, ditiup-tiup, seperti saat ia sedang memperbaiki TV jadulnya dulu di kampung namun tetap saja tidak bisa menyala.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Mas Arga... Mas Arga..." Safa lari ke ruang kerja Arga dengan membawa HP rusak itu di tangannya.
Arga yang sedang video call meeting penting dengan klien Singapura langsung menoleh. Dia memberi isyarat tangan, tunggu sebentar.
Tapi Safa sudah tidak tahan dan airmatanya sudah jatuh berlinang.
"Mas, HP aku rusak,tadi jatuh nggak bisa dinyalain lagi." ucap Safa dengan terisak,ia tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.
Arga melihat Safa yang benar-benar menangis,bukan sedang bercanda ataupun dengan sengaja menggodanya.Arga kemudian mengatakan pada kliennya, "Sorry, meeting kita pause 10 menit."
Dia mematikan laptopnya dan mendekati Safa.
"Kenapa nangis,itu kan cuman HP jadul!" ucapnya tanpa tau apa arti dari sebuah hp jadul milik Safa.
"Ini bukan HP jadul biasa Mas, ini HP dari almarhum bapak,di dalamnya ada foto ibu.Ini sudah rusak mas,terus gimana caranya aku menghubungi ibu,satu hari saja tidak ada pesan atau telfon dari aku ibu pasti hawatir."
Safa sesenggukan seperti anak kecil yang mainannya hilang. Dia duduk di lantai ruang kerja Arga sambil memeluk HP retaknya.
Arga jadi bingung dan dia paling tidak bisa melihat orang menangis didepannya, apalagi Safa yang biasanya ceria ,ceplas ceplos dan berisik.Melihatnya seperti itu membuat hati Arga tersentuh.
"Ya sudah,nanti saya perbaiki di konter biar diservis sama orang konter,taruh disini nanti saya minta sopir untuk mengantarkan kesana untuk diperbaiki." ucap Arga untuk menenangkan Safa.
"Udah nggak bisa Mas, ini udah pernah diservis 3 kali. Tukang servis di kampung bilang kalau sampai jatuh lagi, udah nggak bisa selamat."
Arga menghela nafas panjang, dia mengambil HP jadul itu dari tangan Safa. Hp itu begitu ringan, cassingnya sudah mengelupas.
"Sudah, jangan nangis. Berisik!
"Aku nggak nangis mas,cuma mataku bocor." kata Safa sambil ngusap air mata dengan lengan gamisnya.
Arga kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke kamarnya. Sementara Safa masih duduk di lantai ruang kerja Arga,masih sesenggukan.
15 menit kemudian Arga masuk lagi. Wajahnya tetap datar seperti biasanya.
"Sudah, jangan nangis terus. Nih."
Arga meletakkan sebuah kotak kecil berwarna putih di atas meja kerjanya,kotak itu adalah Kotak iPhone.
Safa melongo, air matanya berhenti seketika.
"Apa ini Mas?"
"HP baru,buat kamu daripada nangis terus berisik, ganggu meeting penting saya!"
Safa membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada iPhone 15 Pro Max warna pink titanium yang masih mengkilap, lengkap dengan chargernya.
"Ya Allah Mas... ini... ini iPhone beneran? Asli? Yang kayak di iklan itu? Yang bisa buat foto bulan dan hasil jepretannya kelihatan jelas itu?"
"Iya."
"Buat aku? Beneran?"
"Ya, buat kamu. Kalau tidak mau ya sudah sini kembalikan."
Safa langsung memeluk kotak HP itu. "Mau! Mau banget! Makasih Mas Arga!"
" Mas,ko bisa si mas Arga punya iPhone baru.Mas ambil dari mana? Mas bisa sulap?" tanya Safa dengan konyol.
"Ya sulap!" jawab Arga datar.
Padahal memang Arga sudah membeli iPhone itu saat dia pergi ke Mall tapi memang Arga belum sempat memberikan itu untuk Safa.
Tapi 5 menit kemudian, masalah baru muncul.
Safa menatap iPhone itu seperti menatap alien.
"Mas ini cara nyalainnya gimana? Kok nggak ada tombolnya? Tombolnya di mana?"
Arga mendekat. "Tombolnya di samping,tekan ini."
Safa menekan tombolnya sesuai arahan dari Arga dan iPhonenya menyala dengan logo Apple.
"Wah nyala! Canggih! Keren!"
"Terus gimana cara buka kuncinya? Kok disuruh geser? HP aku dulu pakai pola gambar."
"Itu pakai Face ID, pakai muka kamu."
Safa mendekatkan wajahnya ke layar iPhone nya terlalu dekat sampai hidungnya hampir nempel layar.
"Gini Mas?"
"Bukan begitu, agak jauhan."
"Gini?"
Arga akhirnya tidak sabar, dia mengambil HP itu dan mengatur Face ID untuk Safa kemudian Wajah Safa di-scan.
"Sudah, sekarang coba buka."
Safa mencobanya dan iPhone itu terbuka lagi-lagi Safa dibuat kaget.
"Wah kebuka sendiri! Pintar banget HP nya bisa kenal muka aku! Mas, kalau aku pakai masker dia kenal nggak?"
"Kenal! Sudah sini, sekarang saya ajari cara pakainya!"
Pelajaran dimulai.
Rapat penting yang ditunda hanya 10 menit justru tertunda berjam-jam karna Arga sibuk mengajari Safa bagaimana cara menggunakan iPhone barunya.
Satu jam pertama adalah bencana.
Arga mengajari cara menelfon seseorang.
"Safa, kalau mau telepon ibu kamu, pencet ikon telepon ini, lalu ketik nomor ibu kamu."
Safa mengangguk serius, lalu dia mengetik nomor ibunya dengan satu jari, sangat pelan seperti anak TK.
Tanpa sengaja dia menyentuh logo video call.
Layar langsung menampilkan wajahnya yang besar.
"Wah Mas, kok ada wajah aku di sini! Apa aku jadi artis?"
"Itu kamera depan."
"Oh, jadi aku bisa ngeliat wajahku sendiri dan jerawatnya juga keliatan jelas banget ya mas!"
Arga menghela napas panjang.
Setelah memastikan Safa paham cara melakukan panggilan telfon dan telfon video kini Arga melanjutkan pelajaran cara menggunakan WhatsApp.
"Ini WhatsApp, aplikasi buat chat ibu kamu atau teman kamu atau siapapun yang ingin kamu chat.
Safa membuka aplikasi WhatsApp, lalu dia mengetik pesan untuk ibunya.
Dia mengetik: "ibu aku punya hp baru"
Tapi dia mengetik dengan huruf kapital semua dan tanpa spasi karena masih bingung.
"IBUAKUPUNYAHPBARU"
Arga mendengkus melihatnya.
" Astaga Safa,kasih sepasi!"
"Spasi itu yang mana Mas?"
"Yang tombol panjang di bawah."
"Oh yang kayak jembatan itu ya."
Kemudian Safa yang iseng sengaja memotret Arga secara diam-diam.
Cekrek.
Hasil fotonya miring, hanya kelihatan setengah dari bagian wajah Arga.
"Wah Mas Arga kelihatan ganteng kalau miring gini."
"Hapus!"
"Jangan dong buat kenang-kenangan, iPhone ini kan yang beli mas Arga masa iya aku ngga boleh nyimpen foto mas Arga." kilahnya.
Arga akhirnya hanya diam saja karna apapun yang dia ucapkan selalu saja Safa menjawabnya.
Latihan masih berlanjut dan puncaknya adalah saat Arga mengajari Safa cara membuat story.
Dipart itu Safa langsung bisa memahami setalah Safa benar-benar paham Arga kemudian mengatakan.
"Jangan buat story aneh-aneh ya."
Namun bukan Safa kalau tidak ada gebrakan baru yang membuat arga pusing.Safa membuat story dengan foto ruangan tempatnya duduk saat ini dengan caption.
"Halo guys, ini rumah aku sekarang, ada robot sapu yang bisa jalan sendiri, namanya Robi, kenalin ini Robi."
Melihat itu Arga lantas merebut kembali iPhonenya dan menghapus story tersebut padahal dalam iPhone tersebut belum ada nomor siapapun selain nomor ibunya yang baru saja dia masukan dan ditambah nomor Arga.
"Sudah, cukup! Nanti kamu spill semua isi penthouse!"
Safa tertawa sampai terpingkal sampai dia lupa beberapa jam lalu dia sudah menangis karna hp jadulnya rusak.Begitulah Safa,cepat sedih namun cepat kembali ceria dan hal itu yang terkadang membuat arga merasa sepi saat jauh dari Safa.
"Mas, makasih ya udah beliin aku HP. Maaf yaa mas karna aku terlalu gaptek,aku jadi ngerepotin Mas terus."
"Hem,tidak apa-apa ,kamu belajar pelan-pelan saja nanti juga lama-lama terbiasa dan kamu pasti bisa.Nanti kalau bingung tanya saya lagi." jawab Arga yang sedang duduk bersandar disofa,dia merasa sedikit lelah setelah mengajari Safa memakai iPhone.
Safa menatap Arga dengan mata berbinar. "Mas Arga baik banget hari ini,tumben loh hari ini galaknya ilang,juteknya juga ilang."
"Saya memang baik." celetuk Arga.
"Iya, baiknya kayak kulkas yang lagi dicairin, awalnya dingin, lama-lama anget."
Arga melirik. "Sudah sana chat ibu kamu,katanya kangen.Nanti ibu khawatir karna belum mendapatkan pesan dari kamu." titah Arga.
Safa langsung video call ibunya di kampung karna Ternyata Arga juga sudah mengirimkan hp android terbaru untuk ibunya dikampung pagi tadi.
"Hallo Bu assalamualaikum,Bu ini hp baru aku loh Bu mas Arga yang beliin,hp lamaku rusak Bu.Looh,hp ibu kan juga jadul ya ko bisa si dipake vdio call begini?" Safa juga terkejut sesaat dia lupa jika hp ibunya tidak bisa digunakan untuk video call.
" Wa'alaikumsalam,iya nak ibu juga baru dapat kiriman hp baru dari suami kamu."
Entah obrolan apa lagi yang terjadi diantara dua wanita beda usia itu,Arga hanya melihat dan memperhatikan dari jauh.Dilayar iPhone Safa wajah ibunya tampak lebih segar dan terlihat sehat tidak pucat seperti saat mereka menikah tempo hari.
Arga senang Safa tertawa bahagia sambil menunjukkan seluruh penthouse ke ibunya lewat video call.
Tanpa sadar, Arga tersenyum kecil, senyuman yang tulus.
Dia diam-diam mengambil HP jadul Safa yang rusak tadi, tidak dibuang namun masukkan ke laci mejanya.
Dia sudah berniat ingin mencoba membawanya ke tukang service hp dan mencoba menyelamatkan semua foto-foto dan data dalamnya. Agar Safa tidak kehilangan kenangan bersama almarhum ayahnya.
Setelah mendengar dan melihat bagaimana Safa sedih karna hp jadulnya rusak akhirnya Arga paham,bagi Safa HP jadul itu bukan cuma HP,tapi itu harta yang berharga dan dari situ juga Arga mulai paham, cara membahagiakan Safa bukan dengan barang mewah yang mahal, tapi dengan menjaga barang kecil yang berati dalam hidup Safa.
Bersambung