Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!
Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengaduan di Aula Disiplin dan Misi ke Kota Awan Agung
Gerbang Utama Sekte Pedang Awan — Pagi Hari
Pagi menyelimuti kompleks Sekte Pedang Awan dengan sapuan kabut tipis.
Di halaman murid luar, ratusan murid sedang beraktivitas seperti biasa—suara dentingan pedang kayu beradu, teriakan instruktur, dan derap kaki memenuhi udara.
Di antara kerumunan itu, seorang pemuda bertopeng hitam separuh wajah berdiri tenang sambil memegang pedang latihan biasa.
Lu Mingseng.
Tidak ada seorang pun di sekte yang menduga bahwa pemuda berwajah separuh buruk yang dahulu menjadi bahan tertawaan dan hinaan itu kini telah mengalami metamorfosis mengerikan.
Di mata para tetua dan murid luar, ia dipandang sebagai seorang murid dengan kultivasi Pengumpulan Qi Tahap Puncak. Namun kenyataannya, ia telah menembus Ranah Pembukaan Meridian dan membuka meridian keduanya secara diam-diam. Rahasia itu hanya diketahui oleh tiga pembimbing agung di dalam jiwanya, yang bahkan ketiganya masih kebingungan menjelaskan anomali tubuh Mingseng.
Mingseng mengayunkan pedangnya dengan stabil.
Satu tebasan.
Dua tebasan.
Tiga tebasan.
Gerakannya tampak sederhana, namun setiap tebasan mengandung tenaga terkendali yang efisien. Ia tidak lagi membuang energi untuk gerakan mencolok. Berkat Teknik Tubuh Naga Darah, otot dan tulangnya bekerja serasi tanpa beban berlebih, sementara sirkulasi Qi-nya kian matang.
Di dalam kesadarannya, sang penjaga Balai Penempaan Darah mengangguk puas.
'Jauh lebih baik. Sekarang kau paham bahwa kekuatan sejati bukan soal seberapa keras kau memukul, melainkan bagaimana tenaga itu tersalur tanpa sisa.'
Kaisar Abadi menambahkan, 'Namun jangan terlalu percaya diri. Pengalaman bertarungmu masih minim. Jika berhadapan dengan master berpengalaman yang menguasai teknik tingkat tinggi, kekuatan fisik saja tidak cukup.'
Mingseng menyarungkan pedangnya ke pinggang. "Aku akan mengingatnya, Senior."
Wanita berjubah putih memandangnya lembut. 'Dan ingat, Mingseng, jangan pernah memamerkan seluruh kemampuanmu hanya untuk membuktikan dirimu pada orang-orang picik.'
Mingseng tersenyum tipis di balik topengnya. "Aku tidak perlu membuktikan apa pun kepada mereka."
Ia memastikan topeng hitam bergaris merahnya terpasang rapat, lalu melangkah meninggalkan halaman latihan. Hari ini, ada satu urusan kecil yang harus ia selesaikan sebelum meninggalkan sekte.
Fang Rui.
Pengaduan di Aula Disiplin
Belum jauh Mingseng melangkah, sebuah pengumuman bergema nyaring melalui perangkat pengeras suara spiritual ke seluruh kawasan murid luar:
"Lu Mingseng! Segera menghadap ke Aula Disiplin sekarang juga!"
Bisikan langsung menyebar di antara para murid yang mendengarnya.
"Lu Mingseng? Murid bertopeng itu?"
"Pasti gara-gara perkelahiannya dengan Fang Rui kemarin."
"Fang Rui punya kerabat di jajaran atas keluarga bangsawan. Kali ini si pemuda bertopeng pasti kena batunya."
Mingseng menghentikan langkahnya sejenak. Ia tidak terkejut sama sekali. Bangsawan arogan seperti Fang Rui tidak akan sudi dipermalukan di depan umum tanpa mencoba membalas lewat jalur aturan sekte.
"Sepertinya dia sudah bergerak," gumam Mingseng tenang.
Ia tidak berniat menghindar. Dengan langkah pasti, ia berjalan menuju Aula Disiplin. Jika Fang Rui ingin bermain aturan, Mingseng akan meladininya secara terbuka.
Begitu ia tiba, beberapa murid sudah berkerumun di luar aula. Di dalam ruangan, seorang tetua berwajah kaku duduk di balik meja utama, didampingi dua penjaga disiplin bersenjata.
Fang Rui berdiri di tengah ruangan dengan lengan yang masih digantung kain perban. Di sampingnya berdiri dua pengikut yang kemarin ikut babak belur.
Melihat Mingseng masuk, Fang Rui langsung menunjuknya penuh amarah. "Dialah orangnya, Tetua! Tanpa alasan yang jelas, dia menyerang kami dan meremukkan lengan saya!"
Mingseng melirik pergelangan tangan Fang Rui sekilas, lalu menatap sang tetua dengan tenang. "Apakah Tetua sudah mendengarkan keterangan dari semua pihak?"
Tetua berwajah kaku itu mengerutkan dahi. "Kau belum menjelaskan apa pun, tapi sudah berani memotong pembicaraan?"
"Saya hanya ingin memastikan keputusan diambil berdasarkan fakta yang adil, Tetua."
Fang Rui mendengus sinis. "Jangan berani-beraninya berlagak tenang! Kau menyerang kami di depan banyak saksi!"
"Benar, aku memang bertindak," jawab Mingseng jujur tanpa ragu, membuat Fang Rui tertegun sejenak karena mengira Mingseng akan langsung menyangkal.
Mingseng melanjutkan dengan suara datar, "Tetapi sebelum itu terjadi, dia mengancamku, mencoba menamparku lebih dulu, dan memerintahkan kedua orang ini mengeroyokku. Banyak murid lain yang melihatnya."
"Kau memutarbalikkan fakta, bajingan!" teriak Fang Rui panik.
"Kalau begitu, panggil para saksi mata," tantang Mingseng dingin.
Tetua di balik meja mengetukkan jarinya tiga kali. "Baik. Bawa masuk para saksi yang telah dipanggil."
Tak lama berselang, tiga orang murid luar yang kebetulan melintas di lorong kemarin dihadirkan ke hadapan tetua. Ketiganya memberikan keterangan terpisah yang isinya saling menguatkan: Fang Rui-lah yang memprovokasi duluan, melayangkan tangan untuk menyerang, dan kedua pengikutnya menyerang Mingseng setelahnya.
Fang Rui mencoba membantah dengan suara bergetar, namun bukti dan kesaksian sudah telak menjatuhkan posisinya.
Tetua disiplin itu memandang Fang Rui dengan dingin. "Fang Rui! Kau mengajukan pengaduan palsu dengan menyembunyikan pelanggaranmu sendiri. Ini bukan perilaku yang terpuji bagi seorang murid sekte!"
"Tetua, saya—"
"Cukup! Diam!" hardik tetua itu. Ia lalu beralih pada Mingseng. "Meskipun kau menggunakan kekuatan berlebih, tindakanmu murni bentuk pembelaan diri atas serangan pihak lain. Tidak ada aturan sekte yang kau langgar."
Mingseng membungkuk hormat. "Terima kasih atas keputusan yang adil, Tetua."
Akhirnya, Fang Rui dan kedua pengikutnya hanya dijatuhi sanksi peringatan resmi, diwajibkan membayar biaya pengobatan sendiri, dan diancam hukuman buang jika mengulangi aksi intimidasi.
Bukan hukuman yang meremukkan keluarga Fang, namun cukup untuk membuat muka Fang Rui hancur total di hadapan seluruh sekte.
Saat Mingseng hendak melangkah keluar, suara Fang Rui berbisik penuh dendam dari belakang: "Jangan merasa kau sudah menang, sialan!"
Mingseng berhenti, menoleh sedikit dari balik topengnya. "Aku tidak pernah menganggap ini sebuah kemenangan. Aku hanya menegaskan satu hal: aku tidak akan membiarkanmu menginjakku lagi."
Ia lalu melangkah pergi, meninggalkan Fang Rui yang mengepalkan tangan hingga kukunya menancap berdarah ke telapak tangannya.
Pengumuman Misi Besar ke Kota Awan Agung
Menjelang siang hari, lonceng besar Sekte Pedang Awan kembali berdentang tiga kali berturut-turut.
Seluruh murid dikumpulkan di alun-alun utama. Di atas panggung batu, Tetua Xu Jian berdiri tegap dengan tangan terlipat di belakang jubah birunya. Di sampingnya, terdapat beberapa peti kayu besar berukuran masif yang disegel jimat spiritual pelindung.
Xu Jian mengangkat tangannya, membuat ribuan murid sekte seketika hening.
"Dalam waktu tiga hari ke depan, Sekte Pedang Awan akan mengirim rombongan misi dagang dan pengawalan menuju Kota Awan Agung!"
Gempar! Sontak bisikan-bisikan takjub meledak di antara barisan murid.
Kota Awan Agung! Nama itu sangat melegenda di wilayah Qinghe dan sekitarnya. Kota tersebut adalah pusat perdagangan bebas terbesar yang dihuni berbagai aliansi keluarga besar, balai lelang raksasa, dan para kultivator pengembara dari seantero negeri.
Xu Jian melanjutkan, "Rombongan ini akan membawa pasokan herbal langka, bahan pemurni senjata, serta komoditas sekte. Kami membutuhkan murid-murid berbakat untuk mengawal perjalanan sekaligus mencari bahan kultivasi di sepanjang jalur pegunungan."
Sebuah proyeksi peta raksasa melayang di udara, memperlihatkan bentangan jalur perdagangan yang melintasi lembah, sungai, hingga kota-kota asing di luar wilayah kekuasaan sekte.
Mingseng menatap peta itu lekat-lekat. Selama ini, dunianya sempit—hanya sebatas Keluarga Lu di Qinghe dan kompleks Sekte Pedang Awan. Peta itu membuka matanya bahwa dunia di luar sana jauh lebih luas dan tak bertepi.
Kota Awan Agung adalah gerbang awal menuju dunia kultivasi yang sebenarnya. Di sana, ia bisa mencari teknik tingkat tinggi, bahan penempaan langka, dan merintis jalan kebebasannya sendiri.
Tanpa ragu, Mingseng mengangkat tangan kanannya. "Saya ingin mengikuti misi tersebut, Tetua!"
Xu Jian menatap pemuda bertopeng di barisan belakang. "Lu Mingseng?"
"Benar, Tetua."
Xu Jian teringat bagaimana Mingseng bertahan menghadapi Serigala Sisik Batu dan menyelamatkan rekan kelompoknya di hutan timur dulu. Pemuda ini punya ketenangan mental yang jarang dimiliki murid sebayanya.
"Baik. Namamu dicatat dalam daftar pengawal rombongan. Bersiaplah di gerbang utama tiga hari lagi."
"Terima kasih, Tetua."
Di sisi lain lapangan, Fang Rui menatap Mingseng dengan sorot mata penuh racun kebencian. Namun kali ini, ia tidak berani berbuat ulah di hadapan Tetua Xu Jian. Mingseng memilih mengabaikannya; Fang Rui bukan lagi fokus utamanya.
Kesepakatan dengan Tetua Agung Mo Canglan
Malam harinya, Mingseng menerima pesan mendadak untuk menghadap langsung ke Aula Tetua.
Begitu ia masuk, ia mendapati Tetua Agung Mo Canglan sedang duduk merenung di balik meja gioknya.
"Duduklah, Mingseng," ujar Mo Canglan tenang.
Mingseng duduk tanpa canggung. "Ada apa Tetua Agung memanggil saya?"
Mo Canglan mengamati topeng hitam yang melekat di wajah Mingseng. "Aku dengar kau mendaftarkan diri untuk misi pengawalan ke Kota Awan Agung."
"Benar, Tetua."
"Mengapa? Banyak murid butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan kesempatan misi besar seperti itu. Kenapa kau begitu terburu-buru?"
Mingseng menjawab jujur, "Saya ingin melihat dunia yang lebih luas dan menguji batas kemampuan saya di luar tembok sekte ini, Tetua Agung."
Mo Canglan terdiam beberapa saat, lalu bertanya dengan nada menguji, "Setelah misi ini selesai... apakah kau berniat kembali ke sekte?"
Pertanyaan itu menohok inti tujuan Mingseng. Ia menatap Mo Canglan lurus-lurus sebelum menjawab, "Saya berterima kasih karena sekte telah memberi saya tempat berlindung dan berlatih. Namun suatu hari nanti... saya ingin berjalan menempuh jalan hidup saya sendiri dengan pilihan saya."
"Kau ingin meninggalkan Sekte Pedang Awan?" mata Mo Canglan menyipit tajam.
"Saya ingin kebebasan mutlak untuk menentukan arah kultivasi saya."
Aula utama mendadak sunyi senyap. Mo Canglan tidak menunjukkan amarah; ia justru menilai kedewasaan mental pemuda di hadapannya.
"Kau sadar dunia luar jauh lebih kejam dari yang kau bayangkan? Di luar sana, orang bisa membunuhmu hanya demi sebutir pil atau batu spiritual murahan."
"Saya sadar sepenuhnya, Tetua Agung. Tapi saya tidak ingin hidup selamanya dalam kungkungan rasa takut."
Mo Canglan menghela napas panjang akhirnya. "Baiklah. Aku tidak akan menghalangimu."
Mingseng sedikit terkejut atas kelonggaran itu.
"Namun ada syaratnya," sambung Mo Canglan. "Selesaikan misi ini dengan baik, patuhi aturan rombongan, dan selesaikan semua urusan kontribusimu. Jika kau benar-benar ingin pergi setelah misi usai, lakukanlah secara resmi dan terhormat."
Mingseng segera membungkuk dalam-dalam. "Saya menyetujui syarat tersebut, Tetua."
"Satu hal lagi," pesan Mo Canglan sebelum Mingseng beranjak. "Kebebasan bukan berarti kau bisa hidup tanpa sekutu. Belajarlah membedakan siapa tulus membantumu dan siapa yang ingin memanfaatimu."
Setelah Mingseng mundur dan meninggalkan aula, Mo Canglan tetap duduk seorang diri dalam renungan. Ia masih tidak bisa membaca rahasia di balik meridian Mingseng, namun ia tahu pasti: pemuda itu tengah membangun takdirnya sendiri dari reruntuhan masa lalu.
Persiapan Akhir Menuju Gerbang Dunia Luar
Dua hari persiapan berlalu dengan cepat. Mingseng tidak menyia-nyiakan waktu untuk meladeni dendam tak berujung. Ia fokus memeriksa perbekalan, menukar poin kontribusinya dengan pil pemulihan standar, serta memantapkan penguasaan Teknik Tubuh Naga Darah dan sirkulasi Pembukaan Meridian Tahap Awal-nya.
Di dalam kesadarannya, ketiga pembimbing memberikan wejangan terakhir:
Penjaga Balai Penempaan Darah: "Jangan mudah percaya barang murah di pasar gelap Kota Awan Agung. Sering kali sampah dipoles jadi pusaka."
Kaisar Abadi: "Pelajari dinamika harga, peta kekuatan faksi, dan jaga kerahasiaan kultivasi ganda meridianmu."
Wanita Misterius: "Dan jangan lupa jaga kesehatan fisikmu di perjalanan, Mingseng."
Pagi hari ketiga pun tiba.
Rombongan besar Sekte Pedang Awan telah berbaris rapi di depan gerbang utama. Gerobak-gerobak logistik berjejer membawa peti persediaan, dikawal oleh para murid pilihan dan pendekar sekte berpengalaman.
Lu Mingseng berdiri di barisan belakang, mengenakan jubah murid luar dengan topeng hitam separuh wajahnya yang mencolok.
Ketika gerbang batu raksasa sekte perlahan ditarik terbuka, cahaya matahari pagi menyinari jalan setapak pegunungan yang membentang luas ke kaki langit.
Mingseng menoleh sekilas ke arah menara utama sekte. Ia tidak menganggap tempat itu sebagai rumah sejati, namun ia mengakui di sinilah titik balik kebangkitannya dimulai.
"Aku akan kembali suatu hari nanti," batinnya tegas. Bukan untuk memohon pengakuan, melainkan untuk menagih seluruh utang masa lalu pada pihak yang pernah merendahkannya.
Ia berbalik, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah maju bergabung dengan rombongan yang mulai bergerak menuruni gunung.
Dunia yang sesungguhnya—dengan segala bahaya, intrik, dan kesempatan tak terbatas—kini resmi menantinya di hadapan sana.
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳