Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Bayi Revani Bisa Lihat Revan
Satu minggu setelah peti emas dikubur jadi museum di samping Tugu Revan dan bintang paling terang Revan hilang dari langit Langgur, Langgur benar-benar damai 100%, tidak ada lagi air mata pohon, tidak ada lagi pusaran air di laut, tidak ada lagi mimpi Revan.
Tapi ada satu keanehan kecil yang cuma disadari Dion dan Siti, orang tua bayi Revani.
Bayi Revani yang sekarang umur 7 bulan, sudah bisa merangkak dan sudah bisa ngomong sedikit, "Mama, Papa, Ara". Setiap sore jam lima, waktu matahari mau tenggelam, bayi Revani selalu merangkak sendiri dari rumah batu bata mereka menuju ke bawah Pohon Revan Baru, ke arah Tugu Revan dan museum peti emas yang setengah terkubur itu.
Di sana, bayi Revani selalu tertawa cekikikan sendiri, seperti ada yang ajak main, padahal tidak ada orang di sana. Tangan kecilnya melambai-lambai ke udara kosong, seperti melambai ke seseorang yang tidak terlihat.
Awalnya Dion dan Siti kira bayi Revani main sendiri, halusinasi bayi biasa.
Tapi semakin hari, kelakuan bayi Revani semakin aneh.
Suatu sore, Ara yang jadi Kepala Desa lagi keliling desa cek 30 rumah baru, melihat bayi Revani duduk sendiri di depan Tugu Revan batu hitam, tertawa dan tepuk tangan ke arah museum peti emas yang kosong.
"Revani, kamu main apa sayang? Sama siapa?" tanya Ara sambil gendong bayi Revani.
Bayi Revani menunjuk ke arah museum peti emas yang kosong itu dan bilang dengan bahasa bayi yang cadel, "A... A... Van! Van!"
Ara langsung merinding! Van! Nama Revan! Bayi 7 bulan bilang Van! Padahal tidak ada yang pernah ajari bayi itu nama Revan, Dion dan Siti sengaja tidak kasih tahu nama Revan itu dari mana, mereka cuma kasih nama Revani karena bagus.
Ara membawa bayi Revani ke Dion dan Siti yang lagi masak di dapur rumah baru.
"Dion, Siti, tadi Revani bilang 'Van' sambil nunjuk ke museum peti!"
Dion dan Siti kaget.
"Masa? Revani belum bisa bilang nama orang, baru bisa bilang Mama Papa Ara," kata Siti sambil gendong Revani.
Tapi bayi Revani yang digendong Siti, menunjuk lagi ke arah Pohon Revan Baru dari jendela dapur dan bilang lagi lebih jelas, "Van! Van di pohon!"
Dion dan Siti dan Ara langsung berlari keluar rumah menuju Pohon Revan Baru.
Di bawah Pohon Revan Baru yang rimbun 8 meter itu, tidak ada siapa-siapa, hanya ada Tugu Revan dan museum peti setengah terkubur.
Tapi bayi Revani yang digendong Siti, terus menunjuk ke atas pohon, ke dahan paling tinggi Pohon Revan Baru, dan tertawa, "Van! Van!"
Ara yang memegang kalung batu R dan A di lehernya, kalung itu tiba-tiba berkilau hangat! Berkilau emas pelan!
Ara ingat, dulu Revan pernah bilang di mimpi terakhir, "Aku ada di Pohon Revan Baru, di buah mangganya, di angin laut."
Apa mungkin... Revan masih ada tapi hanya bayi yang bisa lihat?
Malam itu, Ara, Dion, Siti, dan bayi Revani tidur bersama di bawah Pohon Revan Baru, gelar tikar, bawa kelambu, seperti kemping.
Jam dua belas malam, angin laut bertiup pelan, membawa wangi bunga mangga lagi, wangi yang sudah tidak ada seminggu ini sejak Revan pergi tenang.
Bayi Revani yang tidur di tengah-tengah mereka, tiba-tiba bangun dan duduk, menunjuk ke arah Tugu Revan dan tertawa keras, "Van! Van!"
Dion dan Siti dan Ara yang bangun juga, melihat ke arah Tugu Revan.
Di atas Tugu Revan batu hitam itu, ada bayangan tipis, bayangan seorang pemuda pakai jaket hitam! Bayangan itu transparan! Tidak jelas! Hanya terlihat kalau dilihat dari samping!
Bayangan itu melambaikan tangan ke arah bayi Revani dan tersenyum!
Itu Revan! Tapi bukan Revan hantu yang seram, tapi Revan yang seperti cahaya!
Ara langsung menangis pelan, "Van? Kamu masih di sini?"
Bayangan tipis Revan itu mengangguk pelan, lalu menunjuk ke arah bayi Revani, lalu menunjuk ke arah langit, lalu hilang pelan-pelan seperti kabut.
Siti yang melihat bayangan itu juga, karena ibu punya mata batin lebih kuat, langsung paham.
"Revan... Revan titip pesan lewat Revani... Dia bilang dia sudah tenang di langit, tapi kadang-kadang dia turun jenguk Revani, karena Revani namanya mirip dia, dan karena Revani masih bayi suci yang bisa lihat hantu baik."
Dion memeluk bayi Revani yang masih tertawa dan melambai ke arah Tugu Revan yang sudah kosong lagi.
"Jadi anakku... bisa lihat Revan? Hanya anakku?"
Ara mengangguk sambil usap air mata.
"Mungkin hanya bayi yang bisa lihat penjaga yang sudah tenang. Kita orang dewasa sudah tidak bisa lihat lagi, karena kita sudah terlalu sibuk dengan urusan desa, urusan rumah, urusan sekolah. Hanya bayi yang hatinya masih bersih yang bisa lihat Revan."
Sejak malam itu, setiap sore jam lima, bayi Revani selalu dibawa ke bawah Pohon Revan Baru untuk main sama Revan yang tidak terlihat oleh orang dewasa.
Dan setiap kali bayi Revani pulang dari main di bawah pohon, di tangan kecilnya selalu ada satu bunga mangga putih kecil, bunga dari Pohon Revan Baru yang jatuh, padahal Pohon Revan Baru lagi tidak berbunga, lagi berbuah.
Bunga putih kecil itu ditaruh bayi Revani di atas museum peti emas, sebagai persembahan untuk Revan.
Ara yang melihat itu, menulis di buku harian Kepala Desa,
"Hari ini aku tahu, Revan belum hilang 100%. Dia masih ada, tapi hanya bisa dilihat oleh bayi Revani yang hatinya bersih. Mungkin nanti kalau Revani sudah besar umur 5 tahun, dia juga tidak bisa lihat Revan lagi, karena hatinya sudah tidak sebersih bayi. Tapi tidak apa-apa, selama masih bayi, biar Revani main sama Paman Revan di bawah pohon. Itu hadiah untuk Dion yang sudah jadi orang baik dan untuk Langgur yang sudah merdeka."
Di bawah Pohon Revan Baru malam itu, bayi Revani tertidur di gendongan Siti, dengan satu bunga mangga putih kecil di genggaman tangannya yang kecil, dan di atas Tugu Revan, ada satu helai bulu burung putih yang jatuh pelan, entah dari mana datangnya, jatuh tepat di kening bayi Revani seperti ciuman.
Siti yang melihat bulu putih itu, berbisik, "Itu ciuman dari Paman Revan untuk Revani."
Langgur malam itu tidur sangat nyenyak, dengan penjaga yang hanya bisa dilihat bayi.